Dia berjalan cepat-cepat menyusuri rak-rak buku yang bak labirin dan melangkah ke tempat Zer’Halinn berada.
” Sudah selesai, Bunda Zer’Halinn” Tamara melapor sembari tersenyum.
”Heee...bagus lah kalau begitu, lancar! Apa Tuan Rloum masi cuek seperti biasa?”
”Begitu lah Bunda” Tamara mencemberutkan wajah ”kalau seperti itu terus, bisa-bisa siswa-siswa se-Damarshkant malas ke perpustakaan ini...”
”Hehehe, yah begitulah Tuan Rloum dari dulu. Dingin dan hanya suka bermeditasi mengumpulkan Mana. Dia mengambil pekerjaan penyalin buku pun bukan karena dia penyihir rendahan, sama sekali bukan! Menyalin buku memerlukan tingkat pemahaman Sihir Arkana yang lumayan tinggi, karena memerlukan beberapa pengubahan materi dari udara. Tuan Rloum itu mengambil pekerjaan ini karena dia tidak suka keramaian di Kuil Arkana Altenung, dan di sini dia bisa bermeditasi banyak-banyak.”
Tamara pun mendelik sambil tersenyum ”Hebat dong....”
Zer’Halinn pun mengerling ”Begitulah, Nona Tabib yang manis!”
”Kalau begitu Tamara permisi dulu, Bunda!” Tamara pun merundukkan kepala tanda permisi.
”Silahkan, Nona Tabib. Tagihan akan kukirim ke Tuan Mahulae ya!?”
Tamara pun cengar-cengir sambil berlalu.
