Saturday, March 27, 2010

Damarshkant - Bagian VI

“Hey Manusia! Jangan bengong di tengah jalan!” sebuah suara berat berteriak dari balik gerobak “orang lagi ramai di sini!”

Mythgarr pun menoleh sambil tersenyum kikuk dan memegang kepalanya sambil agak merunduk “Maaf, Tuan, Maaf” katanya. Sebuah mata garang menatapnya. Wajahnya tersebut tampak jelas penuh meski penuh ditutupi oleh alis, kumis dan janggut tebal. Rambut hitam panjangnya dikepang tiga di belakang dengan bondol-bondol besar.  Janggutnya pun demikian, dikepang tiga dengan bondol-bondol yang lebih kecil. Rambut di kanan-kiri wajahnya hanya diikat biasa. Cincin-cincin emas besar tampak ada di antara bondol-bondol di kepang dan ikatan rambutnya. Sebuah kapak hitam besar tergantung di punggungnya.

“Hgh” Dwarf tersebut mendengus berlalu mendorong gerobaknya.

Mythgarr terbengong sejenak, sebelum dia menghindar dari Orc yang menenteng-nenteng bawaan di pikulan dan elf yang membawa panah-panah dan busur-busur di rombong besar terbuat dari kayu. Lalu Pengawal Orc menepuk bahunya.

“Jangan terlalu terpaku, anak muda!” katanya “di kota besar ini kita harus terus bergerak atau terlindas! Ayo kita harus mengambil jalan pintas kalau ingin tepat waktu!” katanya sambil kemudian melompat tinggi ke atap sebuah rumah.

Mythgarr pun mengikutinya melompat meski penuh tanya. Pengawal Orc pun kemudian melompat jauh, melayang ke sebuah atap rumah lain sambil menyebrangi sungai. Mythgarr pun ikut melompat dan melayang. Pengawal Orc kemudian melayang melewati jembatan yang tergantung dari pohon ke pohon, dan Mythgarr pun mengikutinya. Pengawal Orc kemudian melayang dan mendarat di jalan besar di pinggir sungai yang tidak seramai yang alin, dan Mythgarr pun mengikutinya.

Pengawal Orc hanya terdiam dan memandang Mythgarr yang mendarat. Dia pun kemudian berjalan kembali, dan Mythgarr pun mengikutinya. Dia lalu melanjutkan melihat kanan-kiri, melihat-lihat ke tepi sungai, ke bangunan-bangunan yang terbuat dari batu dan tanah di kanan-kiri jalan, ke pohon-pohon besar dan sosok-sosok ramping yang berjalan dari pohon ke pohon melalu jembatan-jembatan, dan Orc-orc besar yang menyeret-nyeret anak-anak mereka ke tepi sungai dan melemparnya ke aliran yang deras.

“HEEEEEEEEEE???”

Tuesday, March 2, 2010

Damarshkant - Bagian V

“Hee....” kata Mythgarr sambil ikut menyusup dan berkelit “kampung prajurit bayaran? Maksudmu orang-orang sewaan?”

“Pendekar-pendekar dan penyihir-penyihir tertangguh se-Domarthia” kata pengawal orc sambil terus merangsek maju dan sekali-kali menengok ke arah Mythgarr “tidak, mungkin sedunia, berkumpul di Benteng Penantang Nasib ini”

Benteng Penantang Nasib?”

“Kamu akan tahu sendiri nanti!” kata pengawal orc sambil terus menerobos kerumunan orang-orang di pasar yang sedang hilir mudik. Meski masih penasaran, Mythgarr mengikut pengawal Orc tanpa bertanya-tanya lagi.

Mythgarr harus mengeluarkan keahliannya menapak dan menghindar dari gerakan orang-orang yang gegas di perkampungan orang bayaran ini kalau tidak mau tersandung di sana-sini. Itu pun harus sembari memacu kecepatan langkahnya untuk mengimbangi grak pengawal Orc. Dia kagum akan gerak tubuh pengawal Orc itu. Dengan badannya yang besar dan terlihat kaku, orang yang baru kenal tidak akan berpikir bahwa pengawal orc yang menuntun Mythgarr melewati Benteng Penantang Nasib memiliki gerak tubuh yang luwes dan gegas. Gerakannya bak penari dengan gerak tubuh dan langkah kaki yang sempurna. Mereka berdua pun terus menyusuri pasar orang bayaran sampai akhirnya sampai ke bagian dari jalan yang lebih terlihat sepi. Pengawal Orc pun melambatkan langkahnya, diikuti oleh Mythgarr yang kemudian terpana.

Dia terpana oleh adanya satu sungai besar lagi yang memisahkan antara Benteng Penantang Nasib dan tempat setelahnya. Dia terpana oleh adanya dua jalan besar yang terpisah oleh sebuah sungai besar yang bersumber dari sungai besar induk. Dia terpana oleh adanya pemukiman yang sama dengan yang ada di Benteng Penantang Nasib, tapi dengan bangunan-bangunan dan pohon-pohon besar yang lebih tinggi.Yang paling membuatnya terpana adalah sebuah tembok tinggi besar yang seakan-akan menembus langit yang ada di belakang pemukiman itu. Dan sepertinya itu bukan sekedar tembok. Dari jauh sudah tampak orang berlalu lalang di jalan-jalan yang menempel di tembok dan ditopang oleh pilar-pilar. Ada terliaht ada tujuh lapis jalan-jalan tersebut. Di tembok pun terlihat adanya jendela-jendela dan pintu-pintu. Tembok raksasa tersebut sepertinya juga merangkap tempat tinggal.

Tanpa sadar Mythgarr menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba. Sebuah gerobak pun menabraknya.

“Ow!”