Thursday, January 13, 2011

Perubahan Hati - Bagian III

Tentu saja perintah itu langsung disambut dengan kebingungan oleh para prajurit dan pesuruh. Para prajurit suci yang lain langsung mengelilingi Alezan, bertanya apakah mereka harus mengikuti Daigan. Alezan hanya terdiam sejenak untuk selanjutnya langsung mengkomando mereka untuk naik ke singa bastgrad masing-masing dan mengikuti Daigan.


“Corral,” Alezan menunjuk kepada salah seorang prajurit suci wanita “Singa betinamu lebih cepat dari singa-singa bastgrad kami yang lain. Naiki Rellon dan susul Daigan secepat mungkin. Aku tidak ingin dia melabrak musuh sendirian.” Corral mengangguk dan menaiki Rellon, singa bastgrad betina berwarna hitam miliknya. Mereka langsung melesat

“Bahtra, Guntur, Kirrian, kita susul Daigan secepat mungkin.” Alezan melanjutkan komandonya “Tabib! Kami butuh dua orang dari kalian.Guntur, Kirrian, para tabib ini akan menunggangi singa-singa kalian!”  Para prajurit suci yang lain langsung menaiki singa-singa mereka. Guntur dan Kirrian memberi bantuan pada dua orang tabib untuk menaiki singa-singa mereka.

“Susul Daigan! Pergilah!” Alezan meneriakkan komando pada para prajurit suci. Mereka pun langsung melesat. Alezan lalu mendekati kepala pasukan kerajaan yang ditugaskan dan memberikan komandonya “Komandan Akbar, tolong bawa prajurit-prajurit kerajaan, prajurit bayaran, dan para tabib yang tersisa langsung menuju pos satu. Kami akan bertemu kalian di sana!”

“Siap, laksanakan, Wakil Komandan!” Kepala prajurit kerajaan memberi hormat pada Alezan. Alezan pun membalas hormat dan mengulurkan tangannya kepada komandan Akbar “Semoga Tuhan memberikan keselamatan kepada kita semua.” Komandan Akbar membalas uluran tangan “Semoga Tuhan memberikan keselamatan kepada kita semua!”
Alezan melepaskan genggamannya, merunduk memberi hormat kepada rombongan, berbalik badan dan langsung menaiki Margashing, singa bastgrad miliknya.

“Ayo Margashing, kita susul Alderran!” Margashing pun langsung melesat cepat.Singa bastgrad bernama Margashing yang menjadi tunggangan Alezan adalah singa bastgrad berkulit kuning kecoklatan berloreng hitam. Surainya berwarna campuran kuning, coklat, dan hitam yang berpadu indah serasi dengan corak loreng di badannya. Besar tubuhnya tidak sebesar Alderran dan kekuatannya tidak sebanding, tetapi terkadang Margashing menunjukkan kecerdasan yang lebih dari Alderran.

Tidak seperti Alderran yang selalu liar, Margashing adalah singa muda yang bersiap-siap merebut kepemimpian sebuah kawanan singa sebelum ditaklukkan Alezan. Mereka berdua adalah saudara satu ayah dari kawanan yang singa yang sama.

Alezan menaklukkan Margashing setelah Daigan menaklukkan Alderran. Alezan memilih Margashing setelah mengamati bahwa singa loreng itu mempunyai kekuatan dan bakat kepemimpinan yang bagus. Alderran sang petarung perkasa mengikuti pemimpin Prajurit Suci, Alezan menaiki singa bastgrad yhang berbakat memimpin. Sebuah kombinasi yang bagus di Regu Tujuh Prajuri Suci Domarthia.

Corral, satu dari delapan prajurit suci wanita  Domarthia, memilih Rellon karena keberaniannya berada di dekat Alderran. Singa betina biasanya menjauh dari singa-singa jantan. Singa betina milik Corral adalah satu-satunya singa betina yang berani melawan Alderran dan Margashing, meski selalu kalah. Kecepatan Rellon menjadi paduan yang bagus bagi gaya bertarung Corral yang mengandalkan kecepatan dengan dua pedang pendek kembarnya.

Bahtra, prajurit suci tertua di regu Daigan, mempunyai singa bastgrad bernama Gazzer, seekor singa loreng putih-hitam petarung veteran yang diwariskan dari prajurit suci atasan Bahtra yang gugur di medan perang. Gazzer selalu tenang di medan perang. Tidak sulit bagi Bahtra menaklukkan Gazzer, tetapi sulit bagi Bahtra untuk mengikuti kemauan Gazzer.

Singa bastgrad Guntur bernama Lintar, singa bastgrad jantan berkulit coklat kemerahan dan berwarna kekuningan. Lintar adalah singa bastgrad termuda bersemangat tarung tinggi, sesuai dengan semangat Guntur yang merupakan prajurit termuda di regu ini.

Enam prajurit suci di atas enam singa bastgrad melesat keluar dari Barak Prajurit Suci yang terletak di sebuah bagian Istana Kerajaan di bukit yang menjadi bagian kota Damarshkant. Daigan memacu Alderra secepat mungkin. Dia hanya berpikir bahwa Alderran telah mencium adanya sihir-sihir kegelapan yang berada di dekat Istana Kerajaan. Daigan ingin secepatnya melihat dan menumpas pelaku-pelakunya dan menghentikan perbuatan mereka sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di Damarshkant. Lima ratus tombak setelah melesat dari barak, Daigan mulai merasakan sesuatu: energi magis Arkana. Energi suci yang memenuhi tubuh seorang prajurit suci  membuat mereka peka akan energi magis, baik Arkana maupun Kudus.

“Arkana yang terasa busuk,” bulu kuduk Daigan merinding “berbau kematian!”

“KOMANDAN!”  

Corral dan Rellon berhasil menyusul Daigan. Corral sudah menyiapkan dua belati pajangnya. Dia memandang Daigan dengan pandangan tajam.

“Arkana menjijikkan!”

Daigan mengangguk “Kita telusuri, Corral. Jangan menjauh dari sisiku dan Alderran. Siapkan Aura Pelindungmu!”

“Baik, Komandan!”

Alezan, Bahtra, dan Guntur menyusul mereka beberapa saat kemudian. Bahtra mengambil posisi di depan, Alezan dan Guntur di belakang. Daigan menatap mata Bahtra, dan prajurit suci yang sudah banyak pengalaman tarung itu menatapnya balik dengan tatapan tajam yang mengisyaratkan pengertiannya tentang situasi yang sedang mereka hadapi. Bahtra mengangguk. Daigan mengalihkan matanya ke Alezan yang kemudian langsung menarik nafas panjang dan mengangguk. Terakhir dia memandang ke Guntur yang memandangnya balik dengan tatapan penuh determinasi.

“Naikkan aura pelindung kalian!” Daigan memberi perintah pada mereka.

 Daigan lalu menarik nafas panjang dan mengalihkan pandangannya ke depan, ke arah ke mana Alderran menuntunnya.

Selama beberapa saat mereka menyusuri Jalan Prajurit, jalan yang dipergunakan oleh para prajurit yang keluar dari barak ketika dikirim ke kota-kota lain. Tak lama kemudian Alderran tiba-tiba membelokkan arahnya masuk ke perbukitan yang dipenuhi pohon-pohon. Singa Bastgrad itu menuntun mereka menyusuri pohon-pohon dan rumput-rumput yang tumbuh liar. Menyusuri sisi bukit yang terus menurun landai, lalu tiba-tiba naik kembali.

“Daigan!” Bahtra memanggilnya “hati-hati, ini menuju reruntuhan kuil penyembah Jalalarot yang sudah lama ditinggalkan!”

Daigan mengkerenyitkan dahinya. Jalalarot: penyihir perkasa, raja lalim, dan bagi sebagian orang adalah dewa. Sudah ratusan tahun lamanya nama Jalalarot tidak muncul. Pertanyaan-pertanyaan muncul di benak Daigan. Apakah benar pengikut Jalalarot yang ada di depan? Apa yang mereka lakukan di kuil itu? Apa yang-

Belum lama mereka menaiki bukit yang dipenuhi pepohonan dan belum sempat Daigan melanjutkan pikirannya, tiba-tiba terdengar teriakan kencang yang berubah menjadi sebuah lengkingan yang  menyayat hati. Daigan merasa jantungnya hampir tertusuk oleh sebuah kekuatan magis yang dimentalkan oleh aura sucinya. Lengkingan itu terus keluar, dan terus dimentalkan. Setelah beberapa lama, lengkingan itu berhenti.
Digantikan oleh puluhan sosok yang berkelebat dari atas pohon yang turun menyerang mereka dengan tiba-tiba. Para Singa Bastgrad langsung dihentikan para penunggang masing-masing yang terpaksa meladeni para penyerang.

Daigan menangkis dua serangan dengan pelindung tangannya dan mencengkram salah seorang penyerangnya di leher. “Goblin!” Daigan membanting sosok penyerangnya itu “bukan ancaman. Tapi bisa merepotkan! Corral, Guntur, ladeni mereka! Hentikan mereka di sini, jangan sampai ada yang menyusul kita. Alezan, Bahtra, ikuti aku! Kita teruskan perjalananan”

Alderran melempar seekor goblin dengan rahangnya, menghempaskannya ke goblin lain yang kemudian sama-sama terpelanting. Dia pun langsung melesat ketika Daigan memberi aba-aba untuk maju. Tiga Prajurit Suci dan tiga singa bastgrad pun melesat meninggalkan Corral dan Guntur yang menghentikan para goblin satu per satu dengan keahlian tarung mereka masing-masing.

Alderran, Margashing, dan Gazzer melesat secepat mungkin menyusuri jejak Arkana Kematian yang makin pekat mereka rasakan. Alderran menyeringai ganas. Daigan merasa singa bastgradnya  siap meledak. Margashing melesat di samping mereka bersama Alezan. Alderran melirik ke arah Margashing yang menatapnya tajam tapi penuh ketenangan. Alderran meraung dan kemudian diam. Gazzer di belakang mereka tetap tenang.

Sejurus kemudian Daigan pun menghunus pedang besarnya, diikuti oleh Alezan yang menghunus Halberdnya dan Bahtra yang menghunus gadanya. Di depan mereka reruntuhkan kuil penyembah Jalalarot mulai terlihat. Dan di depannya berkumpul belasan prajurit berzirah ungu dan satu sosok yang mengenakan jubah ungu berhiaskan motif-motif kehijauan.

“Bersiaplah, wahai prajurit suci!” Daigan meneriakkan perintahnya.