“Bersiaplah, wahai prajurit suci!” Daigan meneriakkan perintahnya.
Sosok berjubah ungu itu pun kemudian menaikkan tangannya dan berteriak. Teriakannya bagaikan sembilu yang menyayat jiwa siapapun yang mendengarnya, kecuali para prajurit suci. Aura Suci mereka melindungi mereka dari serangan arkana tajam menusuk yang dilancarkan oleh teriakan sang sosok berjubah ungu.
“Penyihir arkana kematian, eh?” Alezan berdecak, Halberd diacungkan. Bahtra hanya berdiri tenang.
“Siapa kau, Penyihir!?” Daigan meneriakkan pertanyaannya kepada penyihir arkana kematian tersebut.
Penyihir tersebut tidak menjawab. Dia kemudian hanya tertawa terbahak-bahak dengan tawa mengerikan yang dingin menusuk tulang. Meskipun dilindungi oleh Aura Suci, mereka bisa merasakan kengerian yang dipancarkan penyihir ini.
Bahtra maju dan melewati kedua rekannya. “Biar aku yang melawan penyihir ini. Aku mengenalnya.”
Daigan dan Alezan terkejut dan langsung memandang Bahtra. Bahtra balik balas memandang Daigan. “Dia penyihir dari Altenung. Entah apa yang dia lakukan di kuil Jalalarot.”
Mata Daigan dan Alezan melotot. “Penyihir dari Altenung?” Alezan tanpa sadar berkata. “Ya, wakil komandan.”
“Kak Bahtra, kamu tahu cara menghadapinya?” Daigan bertanya
“Tentu saja” Bahtra menjawab “kami berlatih bersama. Namanya Manggun. Dia kawan mainku dulu.”
“Jangan bunuh dia,” Daigan berkata dengan nada memberi perintah “kita harus tahu apa kaitannya dengan Altenung!”
“Baiklah komandan!”
“Alezan, kita harus segera masuk ke dalam kuil!”
“Petualangan tiba-tiba nih, komandan...” Alezan tersenyum
“Sepertinya begitu. Menyenangkan bukan?”
Alezan mengangguk.
Dengan teriakan yang membahana, Daigan langsung berlari mengusung pedang besarnya di punggung. Alezan berlari di sampingnya. Bahtra di belakang.
Para prajurit berzirah ungu yang dari tadi hanya berdiri pun kemudian berlarian menyambut ketiga prajurit suci. Perkelahian pun tak terhindari. Para prajurit ungu itu menggunakan tombak bermata pedang yang membuat Alezan bergidik.
“Daigan, Naginata!”
Wajah Daigan sedikit menegang, meski tetap tenang. Naginata adalah nama tombak bermata pedang yang dipergunakan para prajurit berzirah ungu itu. Prajurit-prajurit yang dari tubuh mereka terpancar aura arkana kematian. Prajurit-prajurit yang bergerak dengan lincah, tetapi tidak selincah tiga prajurit suci yang melawan mereka. Daigan merunduk, menghindari satu serangan Naginata dan mengayunkan pedang besarnya dan membuat tiga prajurit lawan tersungkur. Dia kemudian mengayunkan pedangnya dan membelah helm salah satu prajurit dan terkejut.
“Apa-apaan ini!” Gigi Daigan menggeretak menahan amarah melihat apa yang ada dibalik helm yang terbelah. Sebuah wajah yang tak lebih dari kulit yang membusuk membungkus tulang. Seperti ada yang membangkitkan mayat prajurit dan menyuruh mereka mengenakan zirah dan senjata. Sekonyong-konyong, prajurit mayat hidup itu menggenggam kaki Daigan yang langsung geram dan mengayunkan pedangnya, memisahkan kepala dan badan prajurit tersebut. Dia lalu menghindar dari serangan prajurit lawan lain dan tanpa ampun mengayunkan pedang dan memisahkan kepala dan badan lawan. Dia kemudian mengayunkan pedangnya dan memisahkan kepala lawan-lawannya yang tersungkur pertama.
Alezan dan Bahtra pun melakukan hal yang sama. Lawan-lawan mereka tanpa ampun tersungkur tanpa kepala. Alezan tampak geram, wajah Bahtra menegang meski terlihat tenang.
Bayangan-bayangan hitam melayang keluar dari jasad-jasad yang tersungkur. Daigan, Bahtra, dan Alezan menyalurkan mana suci ke senjata mereka dan mengejar bayangan-bayangan itu. Daigan menebas satu bayangan dan terdengar teriakan menusuk dari bayangan tersebut sebelum terbakar dan menghilang. Dia pun menebas satu lagi dan teriakan pun menusuk sebelum terbakar dan menghilang. Teriakan dan nyala api memenuhi medan pertarungan mereka seiring ayunan dan hantaman tiga prajurit suci itu ke bayangan-bayangan yang melesat.
Beberapa bayangan yang luput dari serangan mereka mengarah ke penyihir berjubah ungu yang langsung tertawa kegirangan dengan penuh kegilaan ketika bayangan-bayangan itu merasuki tubuhnya. Wajahnya perlahan-lahan berubah; dari wajah manusia yang berjanggut hitam dan pucat perlahan-lahan berubah menjadi bentuk tengkorak bermata ungu yang menyala-nyala. Tubuhnya pun meninggi dan membongkok dan jari-jarinya memanjang dan menjadi setajam belati.
“Daigan, Alezan, biarkan aku yang menghadapi makhluk ini. Kalian masuklah ke dalam kuil dan melihat apa yang dilakukan para penyihir arkana kematian ini.”
Daigan memandang Bahtra yang sangat serius. “Kak Bahtra, engkau yakin akan hal ini?”
Bahtra hanya mengangguk dan mengangkat gadanya.
“Alezan!” Daigan berteriak mengangkat pedang besarnya.
“Baiklah!”
Mereka bertiga pun langsung berlari ke arah sang penyihir berjubah ungu yang langsung menyambut mereka dengan satu sabetan cakarnya yang menyebarkan aura energi kematian ke arah mereka. Daigan mengayunkan pedangnya dan merunduk, begitu pula dengan Alezan. Api menyebar dari ayunan pedang mereka, membakar arkana kematian yang terkena aura suci mereka. Bahtra melompat melewati aura kematian yang tersebar, gadanya terayun di atas kepala. Alezan dan Daigan terus berlari melewati sang penyihir yang tidak berhasil menyabet mereka dengan cakarnya dan tidak melihat gada Bahtra yang mengayun cepat ke arah mukanya.
“Manggun Viday! Aku lawanmu!” Gada Bahtra tak pelak lagi menghajar muka sang penyihir yang dia panggil Manggun Viday. Daigan dan Alezan menengok ketika Bahtra memanggil nama sang penyihir, lalu mereka pun saling memandang. Mereka mengerti; Bahtra mengenal sang penyihir.
Sang penyihir terhentak, tapi tidak terjatuh. Wajahnya melesak masuk karena pukulan gada Bahtra. Darah memuncrat. Sang penyihir tidak menampakkan kesakitan.
“Bahtraa.....” Suara sang penyihir dingin dan terdengar seperti gelas pecah yang menyayat-nyayat udara.
“Manggun Viday...kawan lamaku....bangkit dari kematian!” Bahtra berteriak sembari merangsek ke arah Manggun dengan gadanya.
***
Mythgarr hampir tersandung sesuatu di ruangan bawah tanah Warung Dwarf Girang. “Gelap sekali di sini...” katanya sembari matanya menyesuaikan dengan kegelapan ruangan yang hanya diterangi oleh beberapa jamur yang tumbuh di dinding dan sudut2 ruangan.
“Baiklah.....makhluk hidup..makhluk hidup...tikus atau apa ya?Oh, tikus!” Mythgarr langsung melesat menangkap tikus yang melesat di ruang bawah tanah tersebut. Dia memukul kepala tikus tersebut sehingga tidak bergerak lagi dan melemparnya ke tangga menuju ruang tersebut. Lalu dia pun mendengar ada satu tikus lagi , dan satu tikus lagi, dan satu lagi.
“Banyak sekali” Dia pun terus melesat ke sana kemari menangkap dan memingsankan para tikus itu.
“Ada lagi?” tanya Mythgarr pada dirinya sendiri setelah melemparkan tikus-tikus sudah pingsan ke arah tangga. Dia melangkah masuk lebih dalam ke ruangan bawah tanah yang disebut sebagai gudang oleh pemilik warung. Tiba-tiba Mythgarr terkejut begitu merasakan adanya pergerakan yang lain. Dari arah dinding , atau lebih tepatnya dari balik dinding. Mythgarr merasakan gerakan tersebut menjauh dari dinding, berlari. Mythgarr ingin tahu apa yang terjadi, tetapi dia berbalik badan dan memungut tikus-tikus yang dipingsankan tadi dan naik keluar dari ruangan bawah tanah melalui tangga. Dia sudah ditunggu oleh pemilik warung.
“Bagaimana anak muda, apakah kamu sudah menangkap semua yang hidup di bawah sana?”
Mythgarr tersenyum dan mengangkat tikus-tikus tersebut.
“Apa kamu yakin ini benar-benar sudah semua?”
“Aku merasakan ada pergerakan lain. Tapi dari balik tembok.”
Pemilik warung makan menatap Mythgarr tajam, alisnya bertaut. “Dan kamu tidak menangkapnya?”
“Eh? Apakah aku boleh menjebol tembok tuan?”
Sang pemilik warung tersenyum. “Pekerjaan harus dituntaskan, anak muda.”
***
Bahtra dan Manggun berlari-lari di jalan, menuju balai desa. Ada petugas pemantau dari kerajaan yang datang dan ingin melihat kemampuan para pemuda desa. Dia ingin mengambil para pemuda berbakat untuk menjadi petugas kerajaan, apakah itu bakat magis, bakat tarung, ataupun bakat kecerdasan. Bahtra sudah lama ingin menjadi prajurit kerajaan, dia adalah murid paling berbakat dari padepokan silat yang ada di desa. Manggun sendiri sudah lama ingin mengembangkan ilmu magis yang perlahan-lahan mulai dipelajarinya dari penyihir-penyihir yang bertugas di desa.
Bahtra dan Manggun adalah dua orang sahabat baik yang sudah saling berteman sejak kecil. Mereka bertetangga dan sama-sama mempunyai ayah yang masing-masing sudah pernah mengikuti perang. Ayah Manggun adalah seorang pensiunan kapten yang sekarang menjadi peternak sapi yang menjual susu dan daging sapi ke tentara. Ayah Bahtra adalah seorang pensiunan penyihir kerajaan yang sekarang menjadi guru sihir di sekolahan di desa itu. Ayah Bahtra juga menjual jamu-jamu kesehatan dan pengobatan yang diramu sendiri. Bahtra dan Manggun sering diminta oleh ayah-ayah mereka untuk mengantarkan susu dan daging dan mencari bahan-bahan jamu ke kota.
Bahtra dan Manggun adalah dua orang sahabat baik. Tapi itu sebelum mereka pindah ke Damarshkant dan menjalani kehidupan yang terpisah. Ya, mereka lulus ujian di lapangan balai desa dan langsung diperintahkan menuju ke Damarshkant untuk pendidikan lanjut. Bahtra menjadi prajurit yang berbakti dan soleh. Pada akhirnya dia ditugaskan ke kesatuan prajurit suci. Manggun menjadi penyihir yang cukup dikenal oleh masyarakat kota dan akhirnya bertugas di Altenung menjadi peneliti arkana kehidupan.
***
Bahtra terus menekan sosok yang tadinya dikenal dengan nama Manggun. Gadanya terus menerus merangsek sihir pertahanan sosok menjijikkan itu. Sosok itu terus menerus tertawa dengan tawa yang bisa menusuk jiwa yang mendengarnya.
“Maggun! Apa yang terjadi padamu?!”
“Hehehehehehheh Hahahahahaha! Bahtra! Aku menjadi BEBAAAAAASSSSSSSSSSSS!! Sebebas-bebasnya!”
“Arkana kehidupan, Manggun! Kamu adalah penyihir arkana kehidupan! Arkana yang mampu memberi kesembuhan!”
“Bahtraaaaaaaaaa! KEHIDUPAN PASTI BERAKHIR! Ehehehehehehheh!”
“Lalu apa ini? Bukankah kamu ini sekarang hidup?” Bahtra terus menerus menekan
“BAHTRAAAAA! BAHTRAAAAAAAA!” Manggun mengayunkan cakarnya ke arah perut Bahtra yang terbuka. Bahtra dengan cepat menghindar dan menangkap tangan Manggun dan menggenggamnya kencang
“Hidup, ini hidup bukan??” tulang Manggun tampak berderak ditekan genggaman Bahtra
“Ah, Bahtra.........kamu tahu bukan......aku sudah MATI!” Manggun berteriak, suaranya berubah menjadi cahaya yang tajam dan mengarah tepat ke wajah Bahtra.
***
Setelah lebih dari dua tahun tidak bertemu, Bahtra akhirnya bersua juga dengan Manggun dalam persiapan sebuah pasukan yang akan diberangkatkan mempertahankan sebuah benteng di perbatasan. Bahtra memeluk Manggun ketika mereka bertemu dan mengkomentari betapa kurus dan bongkoknya Manggun. Manggun mengkomentari betapa tuanya wajah Bahtra. Bahtra lalu mencukur kumis dan jenggotnya dan Manggun mencoba membawa tas punggung Bahtra supaya lebih tegap. Mereka berdua kemudian terbahak-bahak akan kelakuan mereka. Mereka berdua berusia tujuh belas tahun dan tidak mengetahui apa yang akan mereka hadapi.
***
Bahtra menghindar, tetapi tombak mantera teriakan Manggun berhasil menembus aura pelindungnya dan melukai pipinya. Manggun pun tertawa-tawa dengan tawanya yang mengerikan. Bahtra mengayunkan gadanya yang penuh Mana Suci ke arah perut Manggun dengan kekuatan maksimal tanpa ampun. Manggun terdorong ke belakang dengan hebatnya, melayang jauh, perutnya menganga lebar. Meskipun begitu, Manggun tetap mendarat dengan sempurna dengan kedua kakinya.
“Tidak akan bisa, Bahtra! Kamu tidak akan bisa membuatku mati lagi! Hwahahahaahhh, huehehehehehehh!”
Bahtra hanya diam dan tidak menghiraukan tawa Manggun. Dia mengayun-ayunkan gadanya di tangannya, memikirkan cara menaklukkan Manggun. Manggun sudah pasti dihidupkan kembali oleh Arkana Kematian, pikirnya. Arkana Kematian adalah lawan dari Arkana Kehidupan. Arkana Kehidupan yang diselewengkan, digabungkan dengan Arkana kegelapan, dan diolah dengan hati yang dipenuhi oleh niatan untuk menghina Tuhan. Hati yang penuh kejahatan. Hati yang membusuk lalu perlahan mati.
***
“Bahtra, Arkana Kehidupan yang kupelajari dan Mana Suci penyembuhan yang dimiliki para Prajurit Suci dan Tabib petarung memiliki kemiripan, tetapi berbeda.” Manggun menjelaskan pada Bahtra ketika karavan mereka beristirahat
“Mana Suci memiliki kemampuan memulihkan satu bagian tubuh menjadi seperti sedia kala, menyembuhkan luka-luka dan penyakit dengan cepat. Arkana Kehidupan pun memiliki kemampuan seperti itu, tetapi berbeda. Arkana Kehidupan tidak memulihkan luka, tetapi mengganti bagian yang luka dengan bagian yang baru. Orang yang disembuhkan dengan Arkana Kehidupan memiliki resiko kehilangan kontrol atas bagian yang disembuhkan apabila penyihir arkana yang menyembuhkannya masih amatir.”
Bahtra hanya menyimak. Dia hanyalah seorang prajurit biasa, tidak berkaitan dengan Arkana maupun Mana Suci. Meskipun begitu, dia menikmati penjelasan Manggun.
“Belum bosan kan?” Manggun bertanya sembari terkekeh.
Bahtra menggelengkan kepala.
“Seperti yang sudah kukatakan, Arkana Kehidupan sendiri memiliki kemampuan menumbuhkan bagian-bagian tertentu dari makhluk hidup. Penyihir yang sudah memiliki tingkat pemahaman yang tinggi bahkan bisa merubah bagian-bagian dari makhluk hidup dan membuatnya lebih baik!”
“Karena itulah kita memiliki panen padi, gandung, dan kentang yang makin lama makin baik?”
“Benar sekali! Benar sekali!” Manggun tersenyum lebar sembari menunjuk-nunjuk Bahtra.
Bahtra ikut tersenyum.
“Sekarang kamu mengerti kan, kenapa aku tertarik mempelajari Arkana Kehidupan?”
Bahtra mengangguk. Arkana Kehidupan sepertinya menarik. Manggun tampak berseri-seri dan penuh energi ketika menjelaskan tentang Arkana Kehidupan. Mungkin memang itulah jalan hidup bagi Manggun
“Kalau ada Arkana Kehidupan, apakah ada Arkana Kematian?” Bahtra bertanya sembari mengangkat kedua alisnya. Dia hanya bertanya sekenanya, tidak mengharapkan jawaban.
“Ada, Bahtra, ada!” jawab Manggun dengan penuh semangat “Arkana Kematian adalah lawan dari Arkana Kehidupan, tentu saja. Arkana Kematian adalah ilmu arkana yang paling dijaga ketat oleh para penyihir senior di Altenung. Tidak ada diantara kami penyihir muda yang boleh mempelajarinya. Aku sendiri tidak tahu lengkapnya, tetapi yang kutahu dari guruku: Arkana Kematian sejatinya adalah Arkana Kehidupan yang diselewengkan. Arkana Kematian tidak dipergunakan untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas makhluk hidup. Dia dipergunakan untuk pembusukkan atau penghancuran makhluk hidup dari dalam.” Manggun lalu menarik nafas dan terdiam sejenak. Bahtra menunggu sambil memandang Manggun. Manggun kemudian melanjutkan. “Arkana Kematian bahkan bisa dipergunakan untuk membangkitkan mayat dan membuatnya bergerak sendiri!”
***
Gazzer terdiam, nafasnya memburu. Singa Bastgrad kepercayaan Bahtra ini sedari tadi bertarung melawan goblin-goblin yang muncul ketika Bahtra melawan Manggun. Mayat-mayat Goblin bergelimpangan di sekitarnya. Mereka tidak kabur meskipun Gazzer bisa menebas leher mereka dalam sekali ayun ataupun mengoyak perut mereka dalam sekali gigit. Mereka terus menyerang Gazzer meskipun tidak berguna, dan akhirnya Gazzer pun berdiri dalam kemenangan tanpa luka sedikitpun.
Sekarang matanya menatap tajam ke arah pertarungan Bahtra dan lawannya. Tuannya yang kedua sedang bertarung melawan sesosok makhluk yang mengerikan, sebuah monster yang terlihat berbeda dari sosok yang tadi dilihatnya sebelum tuannya melompat dan menyerang sosok itu. Sosok yang ini lebih mengerikan, lebih menjijikkan, dan terasa lebih kuat. Gazzer melangkah mendekat perlahan-lahan ke medan pertarungan mereka. Nalurinya mengatakan dia harus membantu Bahtra dan harus mencari celah menaklukkan lawannya. Gazzer pun perlahan-lahan mendekat ke arena pertarungan dengan terus memandang lekat pergerakan Bahtra dan lawannya.
Bahtra terlihat merangsek lawannya jurus demi jurus, tetapi lawannya tetap tidak tergoyahkan. Wajahnya sudah hancur, perutnya sudah terkoyak, tetapi lawannya terus berdiri, terus menyerang, dan terus mengeluarkan suara-suara mengerikan yang membuat bulu kuduk Gazzer merinding. Gazzer terus melangkah mantap, dituntun oleh nalurinya yang dibentuk oleh latihan bertahun-tahun untuk bertarung membela tuannya. Bahtra sekarang terlihat terdesak oleh lawannya yang mengayunkan tangannya yang panjang dan berkuku tajam dengan gerakan yang rapat dan cepat, hampir tidak menyisakan ruang gerak.
Setelah melangkah dan mengamati cermat-cermat, akhirnya Gazzer menemukan celah. Lawan terlalu berkonsentrasi mengurung ruang gerak Bahtra sehingga punggungnya terbuka lebar. Gazzer pun mempercepat langkahnya, perlahan-lahan, lalu ketika sudah mendekat dia pun berlari.
Ketika sudah mencapai jarak terjangan, Gazzer pun melompat sekuat-kuatnya menerjang leher musuh dan menggigitnya sekuat mungkin, menancapkan taring-rating kokohnya sedalam mungkin.
Musuh tuannya itu langsung berteriak meradang. Tangannya berayun ganas kearah kepala Gazzer. Gazzer menghindar. Lalu sebuah hantaman berkekuatan besar menerjang musuhnya. Tak goyah, Gazzer terus mempertahanankan cengkraman gigi-giginya dan dengan bertumpu pada kaki belakang menekan lawannya. Hantaman-hantaman keras terus menghujam lawannya. Tuannya, Bahtra, sedang berusaha melemahkan lawan. Gazzer mencoba menggulingkan makhluk mengerikan yang terus-menerus berteriak dan tertawa-tawa mengerikan ini.
Satu hantaman keras ke kaki lawan membuatnya goyah sehingga Gazzer dengan mudahnya menyeret lawan dengan rahangnya dan menggulingkannya. Dia pun kemudian dengan cepatnya beralih ke leher lawan dan menggigitnya sekencang mungkin. Tuannya berdiri menginjakkan satu kaki di dada lawannya. Dia memegang satu tangan lawan dan kemudian dengan satu gerakan cepat dan kuat dia mematahkan dan memutus tangan itu dan melemparnya jauh-jauh. Lawannya berteriak keras dan mengayunkan satu tangan lagi. Bahtra menangkapnya dan mematahkan satu tangan itu.
Gazzer kemudian merasakan tuannya membelai surainya. “Sobat, lepaskan dia”
Gazzer memandang mata tuannya yang memberikan pandangan tegas menyuruh. Dia kemudian melepaskan cengkramannya di leher lawan.
***
Manggun terengah-engah. Pasukan mereka terdesak oleh kekuatan mengerikan dari lawan. Pasukan-pasukan lawan yang sudah tewas tiba-tiba bangkit kembali setelah penyihir utama dari pasukan lawan melepaskan mantra sihir yang melepaskan sinar hitam ke seluruh penjuru medan pertempuran. Para prajurit Domarthia langsung bingung dan terdesak. Kekuatan mereka tinggal sepertiga semula dan tiba-tiba harus menghadapi kekuatan lawan yang bangkit kembali utuh. Mereka semakin kalut ketika kawan-kawan mereka yang gugur ikut bangkit kembali dan menyerang mereka. Para prajurit suci tetap tenang dan terus melakukan perlawanan meskipun digempur pasukan lawan yang baru bangkit yang menyerang dengan tanpa henti meski terluka parah. Para penyihir Domarthia ikut menahan serangan lawan dengan melepaskan mantra-mantra pelontar api ke arah para prajurit-prajurit lawan yang bersiaga di garis belakang.
Manggun bagaikan terlempar ke dalam sebuah mimpi buruk ketika melihat mayat-mayat kawannya terbangun dan membabi buta menyerang dengan segala senjata yang ada. Dia termangu dan bingung. Hampir kehabisan Mana Arkananya dan terjebak di antara prajurit bersama tiga penyihir lain yang bertugas di garis depan dan tidak sempat mundur ketika lawan tiba-tiba bangkit dari kematian, Manggun bingung dan termangu. Mereka terjepit antara prajurit lawan yang mendesak dan prajurit kawan yang terdesak mundur. Kakinya tidak bisa digerakkan, seribu pikiran berkecamuk di otaknya.
Dalam kekalutan itulah, dia tidak menyadari ketika sebuah tombak menembus perutnya.
Manggun merasakan nyeri dan panas yang luar biasa ketika sang penombak mencabut paksa tombaknya. Tubuhnya langsung lulai dan terjerembab seketika. Pikirannya langsung buyar. Tak lama kemudian matanya berkunang-kunang. Manggun merasakan ketakutan luar biasa. Rasa dingin merasuki tubuhnya, bercampur dengan rasa nyeri dan takut. Manggun merasakan kesadarannya perlahan-lahan mulai menghilang, kegelapan mulai menyelimutinya.
Kematian mulai merenggutnya.
Ketika itulah dia merasakan tubuhnya diangkut secara kasar oleh seseorang dan dibawa lari. Lalu dia merasakan seperti dibawa terbang. Dia mendengar suara-suara seperti “penyihir ini masih hidup, bawa dia, bisa berguna” “kita bangkitkan nanti” “cuci otak” sejak diangkut sampai terbang.
Penglihatannya yang mulai kabur menangkap pemandangan medan perang yang mulai menjauh seiring dengan dibawa terbangnya dia. Dia melihat seekor naga yang jauh lebih besar dari yang pernah dia lihat merangsek medan pertempuran dan membakar ratusan prajurit-prajurit mayat hidup dalam sekali sembur. Dia juga melihat beberapa lingkaran cahaya yang tampak seperti aura Mana Suci menyebar ke segala arah dan memusnahkan para mayat hidup.
Tak lama kemudian, Manggun kehilangan kesadaran.
***
Bahtra memegang kepala makhluk yang tadinya bernama Manggun dan sekarang entah harus dipanggil apa. Dia memejamkan matanya dan mulai merapal doa, tak peduli akan teriakan-teriakan makhluk ini yang tangannya sudah putus dan kakinya ditahan oleh Gazzer sehingga
Wahai Dia yang memegang jiwa ini
Yang Kuasa atas segala kehidupan
Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan
Yang Mencipta dan Yang Menghancurkan
Yang Memberi dan Yang Mengambil
Ya Tuhan Pencipta Langit dan Bumi dan Segala Isinya
Ya Tuhan Penganugrah Segala
Anugrahkanlah Pengampunan kepada hamba
Anugrahkanlah Cahaya Suci-Mu kepada hamba
Anugrahkanlah Cahaya Kehidupan kepada teman hamba
Jadikanlah hamba penyalur Cahaya Kehidupan-Mu kepadanya
Bahtra merapal bagian terakhir berulang-ulang dengan penuh konsentrasi. Perlahan-lahan, cahaya mulai berpendar di tangan Bahtra seiring bangkitnya Mana Suci. Bahtra lalu berkonsentrasi menyalurkan Mana Sucinya ke tubuh Manggun melalui kepalanya.
Manggun terus menerus berteriak dan meronta ketika Mana Suci mulai merasuki tubuhnya, bentrok dengan Arkana Kematian yang memenuhi tubuhnya. Arkana Kematian terdesak, wajahnya yang hitam menampakkan retak-retak cahaya dan tak lama kemudian cahaya mendesak keluar dan menghancurkan Arkana Kematian. Teriakan-teriakannya berkurang. Cahaya tersebut terus mendesak ke seluruh tubuhnya, meretakkan tubuh yang dipenuhi Arkana Kematian dan menghancurkannya perlahan-lahan, menguapkan gabian tubuh yang tersokong oleh Arkana Kematian tersebut menjadi asap hitam yang lama kelamaan pudar. Tak lama kemudian seluruh tubuh Manggun dipenuhi Mana Suci dan Arkana Kematian terbuang seluruhnya dari tubuh Manggun.
Manggun kini tinggallah sosok kulit terbalut tulang dengan dua tangan yang putus. Teriakannya berhenti. Bahtra membuka matanya dan menatap wajah Manggun. Dia meneteskan air mata.
“Bahtra....”
“Beristirahatlah, kawan...”
“Terima kasih...”
“...”
“Bahtra..berhati-hatilah...” Manggun memberikan peringatan dengan suara yang pelan “mereka....sekongkol....Jalalarot....negeri selatan...”
“Terima kasih kawan. Bertobatlah dan sebutkan nama Tuhan”
“...goblin...orc...troll....Ogre....”
“sebutkanlah nama Tuhan!”
“berhati-hatilah....Tuhan.....maafkanlah aku.....selamatkanlah aku...”
Manggun pun terkulai dan menghembuskan nafas terakhir dengan wajahnya dalam genggaman Bahtra.
Bahtra pun mengheningkan cipta dan berdoa demi arwah Manggun. Tak lama kemudian dia pun bangkit dan melihat ke belakang. Corral dan Guntur berdiri di belakangnya.
“Urusan kalian sudah selesai rupanya...”
“Sudah, Kak Bahtra...” ucap Guntur “Turut berduka cita atas kematian kawanmu.”
“Turut berduka cita, Kak Bahtra” Corral menunduk memberi hormat kepada Bahtra.
“Sudahlah, sudah berlalu.” Bahtra menampakkan wajah tegar “Goblin-goblin itu sudah kabur?”
“Sudah, Kak Bahtra. Seperti biasa, Goblin akan kembali ke akal sehat kalau mereka terpisah satu sama lain.....” jawab Guntur.
Bahtra memandang reruntuhkan kuil Jalalarot.
“Kenapa Daigan dan Alezan lama sekali?”
