Sunday, January 31, 2010

Damarshkant - Bagian III

Daigan Virsom, pendekar, komandan kesatuan, prajurit pengawal suci, lelaki.  Tubuh tinggi tegap mengayun pedang raksasa, menebas udara seakan-akan ingin membunuhnya. Zirah besi ungu-hitam melindungi tubuh tegapnya, siap menerima hantaman dari musuh-musuhnya. Langkah kakinya dan gerak tubuhnya mantap dan lincah, seakan-akan zirah tersebut adalah kulit keduanya. Rambut pirang keemasan melambai di udara, pedang panjang nan tajam melewati kepalanya. Matanya yang biru tajam melihat peluang yang muncul, kakinya yang tegak menapak kukuh di tanah, mendorongnya dengan cepat, menabrakkan bahunya ke dada lawannya.

Lawannya pun kehilangan kuda-kuda dan melayang di udara Daigan Virsom bergerak cepat, gagang pedangnya diayunkan menghantam pelindung kepala musuhnya. Musuh terjengkang ke tanah, Daigan pun langsung mengangkat kakinya, menginjakkanya ke dada musuhnya. Pedang pun langsung diayunkan, ujungnya cepat diarahkan ke leher musuh.

“Kamu harusnya sudah mati sekarang, Saudara Alezan!” Daigan Virsom tersenyum, menjauhkan pedangnya dari sang lawan, memindahkan kakinya, dan menawarkan tangannya ”harus berlatih lagi, sepertinya!”

 Pertarungan itu pun selesai.

Alezan pun menyambut uluran tangan Daigan, yang kemudian menariknya berdiri.

”Saudara Daigan, kekuatanmu tetap bagaikan seorang Dwarf” sembari tersenyum Alezan menepuk bahu Daigan yang sedang mengelap pedang besarnya ”meski janggutmu tidak sepanjang mereka”

Memang Daigan memiliki janggut yang tidak panjang, meliputi seluruh dagu dan bersambung dengan cambang lebatnya.

”Aku juga tidak berkumis” sambut Daigan ”tidak seperti kamu, Saudara Alezan!”

”Memang kita pasangan serasi. Kamu berjenggot, aku berkumis. Dan aku selalu berpikir” kata Alezan yang berwajah tampan, berkumis lebat, dan berkulit kecoklatan, sembari memandang ke satu titik dengan penuh perhatian ”bahwa janggutmu itu lah yang menarik perhatian dia”

”Dia?” tanya Daigan sembari menengok ke arah tatapan Alezan. Terkejutlah Daigan ketika memandang siapa yang dimaksud, matanya membelalak sembari wajahnya memerah. Dia tampak berusaha untuk meluruskan dan menegakkan tubuhnya.

Dia yang dilihatnya adalah seorang perempuan muda berambut coklat sebahu, berbando kuning, mengenakan seragam dan zirah Tabib Petarung. Perempuan muda itu  berjalan dengan langkah cepat dan pasti menyusuri jembatan keluar dari perpustakaan. Hati Daigan tercekat ketika perempuan muda itu menengok dan memandang tepat ke arahnya. Mata mereka saling bertemu, dan keduanya pun bertingkah aneh setelahnya. Wajah Daigan mendadak tersenyum kaku, sedangkan sang perempuan muda tiba-tiba tersandung dan terjatuh.

”Wah wah wah...” Alezan menggeleng-geleng ”bagaimana ini, Kapten Pasukan Tempur dan  Tabib Petarung kok sama-sama kikuk..”

Daigan hanya terdiam. Dia terus kaku, sementara perempuan muda tadi cepat-cepat berdiri dan berjalan dengan menutup muka.

”Sepertinya Tamara dan kamu harus cepat-cepat dipertemukan, Saudara Daigan” Alezan berkata sambil menyengir. Daigan tetap mematung sembari tersenyum. Alezan pun menendang pantatnya. ”Woi, cukup sudah gilanya. Ayo bertarung lagi!”

Monday, January 25, 2010

Damarshkant - Bagian II

”Tuan Pengawal, Mythgarr inilah yang berjasa besar menaklukkan belasan Orc ini!” puji Carno sambil menepuk-nepuk pundak Mythgarr ”dia berhasil menaklukkan sebagian besar bandit-bandit ini, tidak hanya Orc, sendirian!”

Mata Pengawal Orc yang besar jadi terlihat semakin besar. Dia seakan-akan melotot memandang Mythgarr. ”Benarkah anak muda?”

”Yah..tidak seperti itu sih, tuan pengawal” kata Mythgarr sambil tersipu-sipu dan memegang belakang kepalanya ”Tuan Garnos dan kawan-kawan pengawal lain juga berjasa”

Pengawal Orc mengernyitkan alisnya ”Baiklah, tidak usah kita bicarakan lebih banyak lagi” Pengawal Orc berkata ”kamu akan punya banyak waktu untuk membuktikannya nanti”

Mythgarr terkejut ”Membuktikan?”

Pengawal Orc sepertinya tidak memperdulikan pertanyaan Mythgarr dan langsung berkata kepada Carno ”Tuan Carno, seperti lazimnya peraturan di Damarshkan, urusan Para Orc ini akan diambil alih oleh mereka dari Pengatur Urusan-urusan Sipil. Mengenai hadiahnya nanti akan diurus oleh mereka. Beberapa bulan lagi mungkin mereka-mereka ini akan bisa Tuan Wayne sewa untuk mengawal dia, tapi itu tergantung kesadaran mereka sendiri.”

”Terima kasih, Tuan Pengawal” Carno berkata ”bagaimana pun, kami senang sekali bisa membantu Domarthia membersihkan bandit-bandit ini dari jalan.”

”Baiklah, Tuan Carno, terima kasih atas usaha rombongan Karavan kalian” kata pengawal dwarf ”tapi apakah ini semua bandit yang ada?”

”Yah, tidak semua, tuan pengawal” jawab Carno ”ada beberapa Troll, tapi mereka semua sudah hangus dibakar Waty”

Pengawal dwarf mendengus dan tersenyum sinis ”Troll tidak akan mati dibakar kalau kepala mereka tidak mati. Mungkin mereka akan bangkit lagi nanti...”

”Tapi saya yakin Troll tidak akan menyerang rombongan kami lagi” kata Carno ”mereka menyerang kami pun terasa aneh, bukan begitu tuan pengawal?”

Pengawal Dwarf hanya bisa terdiam.

“Baiklah Tuan Carno, ikuti kami untuk mengurus ijin masuk para bandit ini dan juga untuk Mythgarr Chromehands.” Kata pengawal Orc yang kemudian memandang Tuan Wayne “Maaf Tuan Wayne, sepertinya rombongan Tuan harus menunggu beberapa lama lagi!”

“Tidak apa-apa, Tuan Pengawal!” sahut Tuan Wayne ”jangan minta maaf ke saya, minta maaflah ke Nona Waty!”

Pengawal Orc pun tersenyum “Permisi Tuan Wayne!”

Para pengawal dan Carno serta Mythgarr pun beranjak melangkah ke pos pengawal di mulut jembatan.

Saturday, January 23, 2010

Damarshkant - Bagian I

Karavan pun terus berjalan, tak lama kemudian mereka pun sampai di gerbang pertama di tepi sungai besar yang mengelilingi kota. Carno terlihat turun dari kereta kuda dan berjalan membawa beberapa lembar gulungan surat, menuju ke pos pemeriksaaan yang dijaga dua orang Orc, dua orang Manusia, dua orang Elf, dua orang Dwarf, dan dua orang Goblin. Carno pun menyapa mereka. Satu dari masing-masing ras kemudian mendekat ke Carno. Carno membuka satu gulungan surat dan memperlihatkan isinya kepada masing-masing pengawal dan memberikannya pada mereka. Dia pun membuka gulungan surat berikutnya, kemudian dengan setengah berteriak memanggil Garnos. Garnos pun turun dari kudanya dan mendekat ke mereka.

”Garnos” Carno berkata ”apakah anak buahmu masih ada semua?”

”Masih, Tuan Carno!” Garnos menjawab ”Meskipun dua orang cedera ringan dan satu cedera berat, mereka semua masih hidup!”

”Bagus!” Carno tersenyum kemudian berbicara kepada pengawal Orc ”kami juga membawa belasan bandit Orc yang menyerang kami di jalan tadi. Mereka kami ikat dan kami bawa kemari. Silahkan tuan pengawal memeriksa mereka”

Pengawal Orc mengernyitkan alisnya pertanda heran ”Benarkah yang barusan ak udengar,  Tuan Carno, rombongan kalian menaklukkan belasan bandit Orc?”

Garnos pun menghela nafas, wajahnya berubah kesal tapi dia diam saja.


”Benar, tuan pengawal. Silahkan melihatnya”

Pengawal Orc kemudian menepuk pundak pengawal Goblin dan Pengawal Dwarf. Mereka mengangguk. ”Silahkan pandu kami, Tuan Carno!”

Carno pun berjalan diiringi Garnos dan para pengawal kota. Tak berapa lama kemudian mereka pun sampai ke belakang karavan. Wajah para pengawal pun terkejut melihat belasan Orc terikat dan tampak seperti boneka dengan tatapan kosong mereka.

”Sihir Arkana sialan!” pengawal Dwarf terdengar menggerutu ”selalu saja membautku kesal!”

”Sihir yang luar biasa, tuan pengawal”  Tuan Wayne berkata.

Pengawal Orc, Pengawal Dwarf, dan Pengawal Goblin pun menundukkan kepala, menghormat ke Tuan Wayne.

”Maafkan saya, Tuan Wayne, saya tidak melihat anda!” pengawal Orc berkata ”saya terlalu terkesima melihat Orc-orc ini tertaklukkan. Pengawal-pengawal Anda luar biasa kali ini!”

”Begitulah, tuan pengawal!” Tuan Wayne berkata sembari tersenyum ”kali ini kami mendapatkan tenaga muda yang luar biasa!” sembari tetap tersenyum, Tuan Wayne pun memandang ke arah Mythgarr ”Mythgarr, perkenalkan dirimu!”

Para pengawal pun memandang ke yang dipanggil oleh Tuan Wayne dan mendapati seorang anak muda yang sedang tersipu-sipu. ”Jangan malah malu-malu, anak muda. Perkenalkan dirimu kepada pengawal-pengawal kota Damarshkant yang perkasa ini!” ajak Carno.

Mythgarr pun mendekat dan mengulurkan tangannya kepada pengawal Orc ”Mythgarr Chromehands, tuan pengawal”

Mata Pengawal dwarf terkejut mendengar nama pemuda di depannya itu. Setelah berslaman dan menyebutkan namanya, dia pun memandang ke Tuan Wayne dan Tabib Mahulae sembari berkata tanpa suara dan menunjukkan sorot bertanya ”...Chromehands?”

Tuan Wayne hanya tersenyum, sedangkan Tuan Mahulae hanya diam seribu bahasa.

Tuesday, January 12, 2010

Sihir dan Satria - Bagian IV

Karavan Wayne Pierce terus berjalan pelan beriringan menuju Damarshkant. Wayne Pierce berada di kereka kuda paling terakhir, duduk di atas sadel kereta kuda yang dihadapkan ke belakang. Dia memandang para Orc yang digiring dengan tali yang diikat ke pergelangan tangan mereka. Mereka berjalan dengan patuh dan tanpa protes. Mata mereka kosong. Di bahu mereka masing-masing terkulai bandit-bandit manusia yang juga terikat dan terdiam.

Tabib Mahulae duduk di samping Wayne Pierce. Mythgarr berjalan di sisi para bandit bersama Garnoss yang berjalan di sisi sebaliknya. Waty berkuda seiring dengan para Orc sambil menundukkan kepala dan memejamkan mata. Dahinya bersinar. Tangannya di letakkan di depan dada, telapak tangan kanan diatas telapak tangan kiri. Jari-jarinya terbuka lebar. Ujung-ujung jarinya bersinar tak terlalu terang. Apabila diperhatikan seksama, tampang benang-benang cahaya kecil menari-nari di jarinya.

Mantra Babenang Jiwa.

Mythgarr menatap salah satu Orc.

”Benar-benar seperti boneka tanpa nyawa...sihir nona Waty hebat juga....bisa menguasai Orc sebanyak ini sepanjang perjalanan...”

Wayne menatap Mythgarr. Matanya menangkap keluguan di wajah Mythgarr. Dia pun berpaling ke arah Tabib Mahulae.

”Lihatlah keluguan pendekar muda yang satu ini, Tuan Tabib” Wayne berkata kepada tabib Mahulae ”Lugu dan mempunyai kekuatan dan keahlian yang hebat. Belum lagi nama itu. Mythgarr anak Vinchgarr dari keluarga Chromehands. Tuan Tabib, tentunya Tuan Tabib mengetahui arti nama Chromehands di kerajaan Domarthia, bukan?”

Tabib Mahulae mengangguk dan terdiam.

”Tuan Tabib, Tuan dan saya sudah berkawan selama 15 tahun lebih, mulai sejak kita menginjakkan kaki di Damarshkant. Tentunya Tuan Tabib Mahulae sudah mengetahui kelebihan dan kekurangan saya.”

Tabib Mahulae berpaling ke arah Wayne Pierce. Ada pertanyaan di matanya.

”Bagaimana menurut Tuan Tabib kalau Tuan Tabib menjadi saksi saya dalam merekrut anak muda ini, Mythgarr Chromehands ini ke dalam rombongan karavan saya?”

Tabib Mahulae tersenyum, lalu menggaruk-garuk rambutnya.

”Tuan Wayne ingin merekrut Mythgarr Chromehands, seorang anak muda yang baru saja keluar dari desanya. Tidak biasanya salah seorang pedagang terbesar di Domarthia langsung ingin merekrut seorang pemuda seperti itu”

Wayne Pierce pun tersenyum, menatap ke arah Mythgarr, dan berkata
”Sejujurnya, Tuan Tabib, nama Chromehands itu membuatku amat tertarik. Tuan Tabib tahu arti nama itu, bukan?”

Tuan Wayne” Tabib Mahulae berkata, senyum tipis tersungging di bibirnya ”pertama-tama terima kasih masih menganggapku kawan. Kawan sangat berarti di dunia ini. Kawan baik yang dekat lebih berharga daripada saudara yang jauh. Itu yang sudah kupelajari selama hidupku. Itu juga yang perlu dipelajari oleh Mythgarr anak Vinchgarr Chromehands. Dia perlu mempelajari siapa kawan dan siapa lawan. Siapa saudara dan siapa yang perlu dijauhi.”

Wayne Pierce menatap Tabib Mahulae dalam-dalam. Tabib Mahulae pun menatap balik sembari tersenyum

”Sudah lama kita tidak mendengar nama Chromehands terucap dari sang pemilik nama. Nama itu mengandung arti yang luar biasa bagi mereka-mereka yang mengetahuinya” Tabib Mahulae berkata ”Yang bisa memegang nama itu bagaikan mempunyai harta luar biasa.”

Wayne Pierce tetap menatap Tabib Mahulae. Tatapannya sedikit berkurang keramahannya sekarang.

”Tuan telah mengajak Mythgarr Chromehands bersama karavan anda setelah dia mengatakan namanya. Saya tahu Wayne Pierce tidak akan segampang itu percaya.”

”Aku melihat zirahnya, Tuan Tabib. Aku merasakan tenaga dalamnya ketika dia berteriak meneriakkan namanya. Aku melihat kedua pedang di bahunya. Dan aku melihat wajahnya.” Wayne Pierce tersenyum lebar ”Jangan bilang Tuan Tabib tidak mengenali garis-garis wajahnya!”

Tabib Mahulae sedikit mengangkat dagunya dan menatap Wayne Pierce.

”Aku mengenali garis-garis di wajahnya, Tuan Wayne.” Tabib Mahulae berkata ”karena itulah aku berkata Mythgarr Chromehands perlu mengenal kawan dan lawan lebih baik lagi. Bebaskan dia dari keinginan anda, Tuan Wayne Pierce, itu akan lebih baik dan lebih memberikan manfaat untuk anda nantinya!”

Wayne Pierce menatap Tabib Mahulae, menarik nafas dalam-dalam, dan mengeluarkannya.

”Baiklah kalau begitu” Wayne Pierce pun tersenyum kembali ”kita lihat saja bagaimana nantinya Mythgarr anak Vinchgarr Chromehands ini!”