Daigan Virsom, pendekar, komandan kesatuan, prajurit pengawal suci, lelaki. Tubuh tinggi tegap mengayun pedang raksasa, menebas udara seakan-akan ingin membunuhnya. Zirah besi ungu-hitam melindungi tubuh tegapnya, siap menerima hantaman dari musuh-musuhnya. Langkah kakinya dan gera k tubuhnya mantap dan lincah, seakan-akan zirah tersebut adalah kulit keduanya. Rambut pirang keemasan melambai di udara, pedang panjang nan tajam melewati kepalanya. Matanya yang biru tajam melihat peluang yang muncul, kakinya yang tegak menapak kukuh di tanah, mendorongnya dengan cepat, menabrakkan bahunya ke dada lawannya.
Lawannya pun kehilangan kuda-kuda dan melayang di udara Daigan Virsom bergerak cepat, gagang pedangnya diayunkan menghantam pelindung kepala musuhnya. Musuh terjengkang ke tanah, Daigan pun langsung mengangkat kakinya, menginjakkanya ke dada musuhnya. Pedang pun langsung diayunkan, ujungnya cepat diarahkan ke leher musuh.
“Kamu harusnya sudah mati sekarang, Saudara Alezan!” Daigan Virsom tersenyum, menjauhkan pedangnya dari sang lawan, memindahkan kakinya, dan menawarkan tangannya ”harus berlatih lagi, sepertinya!”
Pertarungan itu pun selesai.
Alezan pun menyambut uluran tangan Daigan, yang kemudian menariknya berdiri.
”Saudara Daigan, kekuatanmu tetap bagaikan seorang Dwarf” sembari tersenyum Alezan menepuk bahu Daigan yang sedang mengelap pedang besarnya ”meski janggutmu tidak sepanjang mereka”
Memang Daigan memiliki janggut yang tidak panjang, meliputi seluruh dagu dan bersambung dengan cambang lebatnya.
”Aku juga tidak berkumis” sambut Daigan ”tidak seperti kamu, Saudara Alezan!”
”Memang kita pasangan serasi. Kamu berjenggot, aku berkumis. Dan aku selalu berpikir” kata Alezan yang berwajah tampan, berkumis lebat, dan berkulit kecoklatan, sembari memandang ke satu titik dengan penuh perhatian ”bahwa janggutmu itu lah yang menarik perhatian dia”
”Dia?” tanya Daigan sembari menengok ke arah tatapan Alezan. Terkejutlah Daigan ketika memandang siapa yang dimaksud, matanya membelalak sembari wajahnya memerah. Dia tampak berusaha untuk meluruskan dan menegakkan tubuhnya.
Dia yang dilihatnya adalah seorang perempuan muda berambut coklat sebahu, berbando kuning, mengenakan seragam dan zirah Tabib Petarung. Perempuan muda itu berjalan dengan langkah cepat dan pasti menyusuri jembatan keluar dari perpustakaan. Hati Daigan tercekat ketika perempuan muda itu menengok dan memandang tepat ke arahnya. Mata mereka saling bertemu, dan keduanya pun bertingkah aneh setelahnya. Wajah Daigan mendadak tersenyum kaku, sedangkan sang perempuan muda tiba-tiba tersandung dan terjatuh.
”Wah wah wah...” Alezan menggeleng-geleng ”bagaimana ini, Kapten Pasukan Tempur dan Tabib Petarung kok sama-sama kikuk..”
Daigan hanya terdiam. Dia terus kaku, sementara perempuan muda tadi cepat-cepat berdiri dan berjalan dengan menutup muka.
”Sepertinya Tamara dan kamu harus cepat-cepat dipertemukan, Saudara Daigan” Alezan berkata sambil menyengir. Daigan tetap mematung sembari tersenyum. Alezan pun menendang pantatnya. ”Woi, cukup sudah gilanya. Ayo bertarung lagi!”
