Saturday, February 13, 2010

Damarshkant - Bagian IV

”Baiklah Mythgarr putra Vinchgarr Chromehands, di sini kita berpisah” kata Wayne Pierce seraya menjabat tangan Mythgarr “rombongan kami akan meneruskan perjalanan menuju kantor Syarikat Pedagang Domarthia. Aku menyesal sekali kamu tidak bisa langsung bersama kami!”

”Sama-sama Tuan Wayne Pierce” Mythgarr menjabat tangan tuan Wayne erat ”kalau peraturan di Damarhskant ini mengharuskan saya mendaftarkan diri di kantor kependudukan...saya harus mengikutinya bukan?”

Wayne Pierce menepuk bahu Mythgarr dan menggenggamnya ”Baiklah anak muda, kamu permisi dulu!”

Carno pun menyalami Mythgarr, lalu Waty yang kemudian mengerling genit, lalu Garnos.  Mereka kemudain pergi berombongan meninggalkan Mythgarr sendirian bersama pengawal Orc.

”Jadi tuan pengawal, saya harus ke mana?” tanya Mythgarr

”Ikuti aku, Mythgarr anak Vinchgarr Chromehands!”

Mythgarr pun tersenyum dan mengikuti langkah pengawal Orc.

”Tuan Orc” tanya Mythgarr ”apakah saya boleh mengetahui nama anda?”

”Tak perlu lah nama ku kau ketahui, Mythgarr” jawab sang pengawal Orc dengan nada tenang

”Wah, tuan pengawal” sang anak muda memegang belakang kepalanya ”rasanya kok aneh...saya nanti tidak tahu pada siapa saya harus berterima kasih..”

”Aku hanya menjalankan tugas, Mythgarr” kata pengawal Orc ”tugas mengawal kota yang megah ini.”

Mythgarr tersenyum sambil menggaruk-garuk pipinya. Sebenarnya dari tadi dia sudah menengok kanan-kiri. Meskipun baru di pintu kota, orang-orang di Damarshkant sepertinya sudah jauh lebih banyak dari seluruh kampungnya. Rumah-rumah dari batu berbentuk kotak berderet-deret di dekat jembatan masuk kota. Di antara rumah-rumah dari batu terdapat pohon-pohon raksasa. Jembatan-jembatan terbuat dari akar-akar gantung pohon dan papan-papan kayu membentang menghubungkan pohon-pohon raksasa tersebut. Tampak sosok-sosok langsing berambut panjang dan berkuping lancip berjalan-jalan menyusuru jembatan-jembatan tersebut.

“Elf banyak juga ya di sini...” pikir Mythgarr “jadi kangen dengan Guru Kalajengking...”

Pengawal Orc berhenti mendadak, membuat Mythgarr hampir menabraknya ketika dia berjalan sambil memandang seorang Elf perempuan.

“Ada apa tuan pengawal?”

“Tidak apa-apa” kata pengawal Orc “biasa, sore-sore begini saatnya para pedagang menutup pasar”

“Pasar?” tanya Mythgarr sembari melongok-longok.

“Pasar prajurit bayaran, anak muda!”

“He?”


“Bagian Damarshkant yang ini adalah pemukiman para orang bayaran, mereka-mereka yang hidup dari berkelana dan bertarung, anak muda” kata pengawal Orc sambil meneruskan perjalanan dengan menyusup dan berkelit di antara para orang-orang yang sibuk berkeliling dan membawa barang-barang.

“Hee....” kata Mythgarr sambil ikut menyusup dan berkelit “ini kampung prajurit bayaran?”

“Pendekar-pendekar dan penyihir-penyihir tertangguh se-Domarthia” kata pengawal orc sambil terus merangsek maju dan sekali-kali menengok ke arah Mythgarr “tidak, mungkin sedunia, berkumpul di Benteng Penantang Nasib ini”

No comments:

Post a Comment