Saturday, April 23, 2011

Anarki di Pelabuhan - Bagian II

Tudungnya yang tersibak menyingkapkan kengerian yang membentuk kepalanya. Yang bisa disebut sebagai bagian dari orang hanyalah wajahnya yang seperti menempel ke gundukan daging yang membentuk bagian belakang kepala dan lehernya. Gundukan daging tersebut berdenyut-denyut. Selang-selang berwarna merah darah menyeruak dari sela-sela gundukan daging tersebut, bak rambut yang menjijikkan, tumbuh ke arah punggungnya yang berupa gundukan besar bak punuk yang tertutup oleh jubah.

Makhluk tersebut lalu merobek jubahnya, membuat tubuh atasnya terlihat. Tubuh yang sama anehnya dengan kepalanya. Tubuhnya yang kurus dan kering dipenuhi oleh lempengan-lempengan logam misterius yang menutup bagian-bagian dada, perut, serta sisi-sisi tubuhnya. Kristal-kristal hijau gelap tersebar di tubuhnya. Punuknya tersebut adalah gundukan daging merah dengan pembuluh kehijauan yang berpendar-pendar. Tampak sinar hijau samar-samar membentuk perisai bagi punuknya itu. Lengannya semuanya terlihat terbuat dari logam misterius yang menutupi tubuhnya, dengan  dua buah kristal besar menyeruak dari lengan atasnya. Garis-garis hijau berpendar-pendar di logam misterius yang membentuk tubuh makhluk tersebut, bak pembuluh yang mengalirkan mana arkana ke seluruh tubuhnya. 

Beberapa orang langsung berdiri begitu melihat bentuk kepala makhluk tersebut dan menghunus senjata mereka masing-masing. Penyihir dan prajurit bayaran, anak buah kapal, kapten kapal.

“MONSTER!” seseorang berteriak dan melemparkan sebuah tombak ke arah makhluk tersebut. Beberapa orang lain secepat mungkin menarik Bu Ania menjauh dari monster tersebut, membuat mereka hampir terjatuh.

Monster tersebut secepat kilat menangkap tombak yang dilemparkan. Dia menatapnya sejenak dengan tatapan mengerikan, dan meremukkan tombak tersebut dengan kepalannya. Tombak tersebut lalu hancur total oleh ledakan mana kehijauan yang terlontar bak petir dari genggamannya.

“HAHAHAHA! PERCUMA!” tawa makhluk tersebut sangat mengerikan dan menusuk ke jantung para pengunjung. 

Ravinoosh tanpa basa-basi langsung mengayunkan tongkatnya dan melontarkan ledakan mana suci ke arah monster tersebut. Monster tersebut tampak goyah oleh ledakan mana suci Ravi.

“TAMARA! KIA!”

Tamara dan Kia pun mengikuti langkah Ravinoosh, tetapi sia-sia. Makhluk tersebut sudah menaikkan perisai mananya. Ledakan mana suci Tamara dan Kia hanya mengenai perisainya.

“PENYIHIR, BANTU KAMI!” Teriak Ravi. 

“HAHAHA!” makhluk tersebut tertawa dan melontarkan petir-petir kehijauan ke segala arah dengan jari-jarinya. Orang-orang lalu menghindar sebisanya. Beberapa orang terkena dan terjengkang pingsan. Meja-meja dan kursi-kursi berhamburan, pecahan-pecahan kayu, piring-piring, dan gelas-gelas beterbangan.

“KOTORAN PEMUJA TUHAN PALSU, HIDUP KALIAN PERCUMA!” teriak makhluk tersebut sambil menginjak lantai dengan kekuatan yang mengguncang rumah makan tersebut. Guncangan tersebut semakin membuat rumah makan tersebut semakin kacau balau.

Sebuah lontaran mana arkana mengarah ke makhluk tersebut dari seorang penyihir dan mengenai makhluk tersebut dan membuatnya goyah. Makhluk tersebut meringis, lalu tersenyum menyeringai. Mana arkana yang mengenainya tampak diserap dan membuat pembuluh-pembuluhnya berpendar.

“HAHAHA! MAKANAN!” teriaknya. Dia mengayunkan jarinya dan melontarkan bola api hijau ke arah penyihir tadi. Penyihir tadi pun menghindar.

Penyihir-penyihir lain tampak kebingungan. Mereka sudah hampir kehabisan mana setelah bekerja semalaman memperbaiki kapal-kapal dan makhlu ini sepertinya bisa menyerap mana.

Tamara berlindung di balik sebuah meja, terpisah dari Ravi dan Kia. Kia tampak mencoba menyembuhkan seorang yang terkena petir makhluk tadi.  Ravi tampak berkonsentrasi memandang makhluk tadi.

Tamara pun berkonsentrasi. Mana sucinya dikumpulkan. Dia pun berusaha menyerap mana suci yang ada di lingkungannya. Makhluk ini sepertinya takut dengan mana suci dan bisa menyerap mana arkana dengan mudah. Mana suci sepertinya akan dilontarkan oleh perisai mananya. Tapi seberapa kuat dan seberapa lama?

Yang penting sekarang adalah mengeluarkan makhluk ini dari rumah makan, mendorongnya dengan cara apapun. Yang ada di sini adalah para penyihir dan prajurit bayaran, anak buah kapal, dan kapten kapal. Semua mempunyai kekuatan masing-masing. Kekuatan yang kalau bisa digabungkan bisa saja dipergunakan untuk mendorong makhluk ini keluar dari kedai.

Keluar, diseret atau didorong. Diseret dengan rantai, tidak ada rantai, dan mantra miliknya belum ada yang berupa rantai. Didorong.

Ya, didorong!

Tamara pun memberanikan diri bergerak di antara lontaran petir-petir makhluk tadi yang semakin mengacaukan rumah makan, menuju ke Ravi. Dia pun membisikkan sesuatu ke Ravi. Ravi membelalakkan matanya dan mengangguk-angguk. Dia kemudian membisikkan sesuatu. Tamara menyetujuinya. Mereka pun kemudian bergerak merayap menuju posisi Kia, petir-petir berkilatan dan peluru-peluru mana beterbangan di atas mereka, dan tawa bengis makhluk itu terus membahana. Setelah sampai, mereka pun membisikkan rencana mereka ke Kia. Kia memandang mereka setengah tidak percaya, lalu tersenyum. Dia pun membisikkan sesuatu dan mereka pun berdiskusi sejenak. Akhirnya mereka semua pun mengangguk.

“Mari kita berdoa!” ajak Tamara pada kedua temannya. Mereka pun berdoa bersama. Memohon kepada Tuhan untuk kekuatan dan kemenangan mereka, memohon supaya mereka diberi konsentrasi, dan memohon untuk keluar dari masalah ini.

Selesai berdoa, Tamara memandang kedua temannya, dan mereka pun mengangguk.

Tamara pun berdiri dan menghentakkan tongkatnya di lantai sekuatnya. Ini membuat monster tersebut mengalihkan pandangannya ke arah Tamara. Tamara kemudian mengayunkan tongkatnya, melontarkan peluru-peluru mana suci kecil berkecapatan tinggi dengan jumlah yang banyak dan mengarah ke berbagai bagian tubuh monster tersebut. Monster itu mengayunkan tangannya ke sana kemari, sibuk menangkis peluru-peluru Tamara. Beberapa peluru luput dari tangkisannya dan mengenai tubuhnya, membuatnya terlihat kesal.

Dengan kecepatan tinggi, Kia dan Ravinoosh merangsek ke arah monster itu ketika dia sibuk menangkis peluru-peluru Tamara. Mereka mengayunkan tongkat mereka yang berkiluan putih keemasan dengan kecepatan tinggi. Sang monster terpaksa menangkis serangan mereka dan melepaskan pandangan dari serangan-serangan Tamara.

Kia dan Ravinoosh lalu menyerang monster tersebut dengan gerakan-gerakan yang berpadu apik. Kia menyerang kanan, Ravi menyerang kiri. Kia menyerang dari atas, Ravi dari belakang. Kia menghindari serangan, Ravi menyodok ke arah kepala. Monster itu terus menerus menghindar dan mengelak serangan. Kia dan Ravi terus menekan, dan monster itu terus meladeni, sampai tanpa sadar dia tak bisa bergerak.

Kakinya terkunci oleh mana suci Tamara yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya, tongkat sucinya diletakkan di antara telapak kaki monster itu. Monster itu terkejut dan mengibaskan tangannya ke belakang, tapi sia-sia. Dia juga mencoba merubah posisi, tetapi ikatan di kakinya tidak bisa dia lepaskan. Monster tersebut pun marah dan melepaskan petir-petir ke arah Tamara, tetapi kakinya yang terkunci membuat serangannya menghajar ruang kosong.

Kia dan Ravi langsung menyodorkan tongkat suci mereka masing-masing ke monster tersebut. Mana mereka langsung membentuk setengah bola yang mulai membungkus sang monster. Monster itu menarik-narik kakinya, menarik-narik badannya, panik dan mencoba melepaskan diri dari ikatan sekuat mungkin.

Tanpa dinyana, Tamara tiba-tiba melepaskan ikatannya. Ini membuat sang monster kehilangan kendali dan goyah. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Tamara yang langsung mengayunkan tongkatnya ke atas, mengenai selangkangan monster itu, dan dengan kekuatan mana sucinya mengangkatnya ke atas.

Ini memberikan kesempatan kepada Ravi dan Kia untuk menyempurnakan bola mana suci yang melingkupi monster tersebut. Tamara kemudian mengeluarkan tongkatnya dari dalam bola kerangkeng tersebut, menempelkannya ke dinding bola, dan mengalirkan mana suci untuk memperkuat bola itu dan membuatnya melayang.

Monster itu meronta-ronta di dalam bola, dan melontarkan petir-petirnya ke dinding-dinding bola. Dia terkejut ketika Petir-petir itu berbalik mengarah ke dirinya dan menyiksanya.

Berhasil! Pikir Tamara. Mana monster ini memang tidak bisa dipergunakan untuk menyerang mana suci! Karena itulah dia selalu menjadikan mananya perisai ketika diserang mana suci!

Mosnter itu berkali-kali melakukannya, dan berkali-kali pula menyiksa dirinya sendiri, sampai akhirnya dia menyerah dan hanya memukul-mukul dinding bola dengan kesal.

“Baiklah, Kia, Ravi!” Tamara memberi isyarat anggukan kepada Kia dan Ravi. Kia dan Ravi balas mengangguk. Mereka mengangkat bola tersebut ke atas dengan tongkat suci mereka.

“Satu! Dua! TIGA!”

Dengan sekuat tenaga, Kia, Ravi, dan Tamara melempar bola mana suci tersebut keluar dari rumah makan. Bola melayang, menabrak dinding rumah makan yang terbuat dari kayu, mendarat di sisi pantai yang penuh karang, dan kemudian terguling-guling ke arah pantai berpasir.

Tamara memalingkan muka ke arah para pengunjung.

“Siapa saja yang merasa kuat dan ingin mengusir makhluk ini, bergabunglah dengan kami!”

Tanpa menunggu para pengunjung, tabib muda bertiga langsung merangsek keluar mengejar bola mana suci mereka.

Di pantai, monster tersebut tampak terdiam, berkonsentrasi. Ketika para tabib mendekat dengan diikuti oleh beberapa pengunjung rumah makan, dia memandang mereka dengan tatapan ganas dan senyuman mengerikan yang dipenuhi gigi-gigi tajam.

“PARA PEMUJA TUHAN PALSU! KALIAN PIKIR KALIAN TELAH MENANG? HA? MENANG?”

Tamara memandang ke sebelah kirinya dan melihat prajurit-prajurit Domarthia mendekat. Akhirnya! Pikir Tamara. Aku dan kawan-kawan bisa sedikit mengendurkan otot kami.

Tamara memandang ke monster yang terselubungi oleh bola mana suci mereka. Monster itu tampak duduk tenang di dalam bola suci. Tangannya mengapit kedua kakinya yang dilipat menempel ke perut dan dadanya. Wajahnya menengadah ke langit. Mulutnya seperti merapal sesuatu.

Par prajurit mendekat ke bola mana suci tersebut. Mereka membawa dua orang penyihir. Para prajurit dan penyihir kemudian mengambil posisi, bersiap-siap menghentikan segala gerak monster yang terkurung tersebut.

Para pengunjung warung dan orang-orang yang lewat melihat dari atas tepi pantai yang berbatu-batu. Di antara mereka, para prajurit bayaran, penyihir, dan kapten-kapten kapal semua sudah menghunus senjata mereka.

Monster tersebut tetap tenang dan merapal mantra. Para penyihir dan tabib suci mulai merasakan adanya gelombang sihir yang muncul dari tengah laut.

Sejurus kemudian, sekitar sepuluh lemparan tombak dari pantai, air laut meledak tinggi.

***

“Penyihir Merah berdiri di tepi teras Altenung, dua lemparan tombak dari atas permukaan laut. Matanya memandang ke tepi pantai dimana dia merasakan adanya energi sihir asing yang mengalir.

“Adinetra”  kaca kristal pelindung mata di helmnya berubah menyala kebiruan, memberikan tambahan pada pandangannya. Garis-garis bersilangan dan lingkaran-lingkaran muncul pada pandangannya. Sesaat kemudian mereke menyatu pada sumber sihir asing tersebut.

“Adinetra Beratusdepa” pandangan matanya membawanya mendekat menuju ke sumber sihir asing tersebut. Sesosok aneh yang menyerupai monster, terbungkus dalam bola magis mana suci. Dari sosok itu energi magis terpancar, alirannya menuju ke laut. Penyihir Merah mengikuti aliran magis itu, membawa pandangannya ke sepuluh lemparan tombak dari pantai. Rapalan magis itu berkumpul di sana.

Membuka sebuah gerbang dimensi.

“Adinetra mati” Pandangan Penyihir Merah berubah menjadi normal kembali. Dia kemudian melangkah cepat-cepat menuju Gerbang Altenung, membuat para penjaga gerbang yang ada di situ kaget dan secara refleks menghunuskan senjata magis mereka ke arah Penyihir Merah.

“Atas nama Raja, biarkan aku masuk!”

Para pengawal, begitu melihat siapa yang datang ternyata, menyingkirkan senjata mereka dan membiarkan Penyihir Merah mendekat.

Penyihir Merah mengarahkan kristal di kepala tongkatnya arah gerbang Altenung dan membuat gerbang terbuka paksa. Tanpa basa-basi, penyihir merah melangkah masuk ke dalam Altenung.

Penyihir Merah disambut oleh ruangan besar dengan pilar-pilar besar yang memancarkan cahaya-cahaya dari ranung-ranung yang terukir di permukaan mereka. Ranung-ranung yang terhubung dengan jalur-jalur energi mana yang terukir di semua pilar-pilar Altenung. Penyihir Merah berjalan dengan langkah pasti dan cepat. Seorang penyihir muda mendekatinya, tetapi Penyihir Merah terus berjalan seakan-akan tidak menghiraukan.

“Salam, Penyihir Merah, tolong horma-“ Penyihir yang mendekati memberinya salam dan mencoba mencegahnya melangkah lanjut.

“ Merding, Tidakkah sistem peringatan Altenung mendeteksi sesuatu di laut lepas?” tanya Penyihir Merah dengan kata-kata yang menyiratkan kemarahan, langkahnya terus diayun cepat tanpa kompromi.

“Kami baru saja mendapatkannya, tapi –“ Merding sang penyihir mencoba mengiringi kecepatan langkah Penyihir Merah

“Tidak ada tapi-tapian. Siagakan semua Meriam Mana Altenung.”

“Tapi aku hanya petugas jaga-“

Penyihir Merah berhenti tiba-tiba, Merding hampir menabraknya. Penyihir Merah berbalik badan dan mukanya didekatkan ke muka Merding. “Katakan pada pemimpinmu, sekarang juga, Penyihir Merah sedang mengambil alih Altenung!” Penyihir Merah mendorong penyihir itu, mulai melangkah sambil memberi telunjuknya ke Merding “SEKARANG, MERDING!”

Merding terdiam sejenak, matanya berkedip-kedip, dan kemudian seperti tersadar dari mimpi, dia pun menggeleng-gelengkan kepalanya dan berlari ke sebuah lorong.

Penyihir Merah terus berjalan dengan kecepatan tinggi, menyusuri lorong-lorong tinggi Altenung. Jembatan-jembatan antar ruangan lewat di atas kepalanya seiring langkahnya. Penyihir-penyihir, di atas jembatan, di lorong, maupun yang sedang melayang menuju jembatan, semua berpaling ke arahnya. Beberapa berhenti dan memberi salam. Penyihir Merah hanya mengangguk dan melambaikan tangannya pada mereka.

Setelah penyihir merah melangkah kurang lebih satu lemparan tombak,  enam penyihir berjubah dan berkudung merah dengan menunggangi tongkat-tongkat sihir mereka melayang mendekat ke Penyihir Merah.

“Penyihir Merah, empat Meriam Mana sudah disiapkan!” seru satu orang diantara mereka, seorang penyihir tua dengan kumis dan janggut panjang.

Penyihir Merah melempar tongkat miliknya ke depan, dan dia pun melompat, mendarat di tongkat sihirnya, dan melayang dengan berlandaskan tongkatnya, menelusuri lorong.

“Hanya empat, Tuan Varasshe?”

“Tolong dimengerti, Penyihir Merah, beberapa Meriam Mana mengalami gagal muatan ketika kami mengujinya beberapa hari lalu.”

“Baiklah, aku akan mengerti itu. Tapi Kerajaan akan tidak mengerti kenapa mereka bisa gagal muatan.”

“Laporan sudah kami kirimkan hari ini ke Perdana Mentri”

“Bagus. Terima kasih. Bagaimana dengan sembilan Meriam Mana lainnya?”

“Lima sudah hampir bisa dipergunakan. Empat lagi sedang mengalami perbaikan jalur dan pemurni mana.”

“Jantung?”

“Jantung dalam keadaan baik-baik saja. Tidak ada masalah dengan fungsinya”

“Baiklah.”

Penyihir Merah dan enam penyihir itu pun terus melesat menelusuri lorong-lorong Altenung.  Beberapa saat kemudian, tiga penyihir lain menyusul mereka. Penyihir Merah melihat ke arah mereka dan melihat Kunti Sedono diantara mereka. Dua penyihir lain adalah anggota Dewan Altenung. Tidak ada ketua dewan di antara mereka. Penyihir Merah mendesah. Ketua Dewan Pengaturan Altenung harus diberi peringatan.

Rombongan Penyihir Merah meneruskan perjalanan mereka menelusuri lorong-lorong Altenung, menuju lorong yang akan membawa mereka ke bagian atasnya. Lorong itu adalah lorong yang berakhir buntu. Hanya penyihir-penyihir terpilih dan terpercaya yang mengetahui rahasia lorong ini. Penyihir Merah dan rombongannya adalah penyihir-penyihir itu. Begitu mencapai ujung lorong, Penyihir Merah langsung dengan kakinya membelokkan tongkatnya ke atas, menembus plafon lorong, dan terbang menelusuri lorong rahasia yang membawa mereka tujuan mereka, Balai Meriam Mana, tempat di mana Meriam-Meriam Mana bersiap untuk ditembakkan.

Rombongan mendarat di Balai Meriam Mana yang merupakan ruangan melingkar yang besar, berlangit-langit tinggi, dan penuh alat-alat magis. Jalur-jalur energi mana melintas dan terhubung dengan ranung-ranung yang terukir dinding balai. Penyihir Merah langsung mengarah ke sebuah papan besar bercahaya. Di permukaan papan itu terdapat sebuah gambar yang menunjukkan rangkaian-rangkaian energi yang mengalir ke masing-masing meriam mana dan dari sana mengalir ke laras mereka di dinding-dinding luar  Menara Altenung. Empat meriam mana menyala hijau, lima yang lain berwarna kuning, dan sisa empat menyala merah.

Penyihir Merah berdiri di depan papan itu dan matanya langsung menangkap informasi-informasi yang tertera di layar. Empat meriam siap ditembakkan.

“Netraluas”. Informasi-informasi yang tertera di papan berubah menjadi sebuah peta dengan Altenung sebagai pusatnya dan Damarshkant berada di bagian utara dari peta. Ratusan titik hijau tertera di peta tersebut. Sebagaian besar dari mereka bergerak – gerak. Di bagian barat laut dan barat daya tampak sebuah titik merah yang berkedap-kedip.

“Kunti, Tuan Varasshe, Mana asing yang menyeruak masuk dari titik ini, apakah kalian sudah mengidentifikasinya!”  

“Kami sudah mendeteksinya dari tadi, Penyihir Merah” Kunti Sedono menjawab “dari polanya, itu adalah Mana yang dipergunakan untuk merobek paksa dimensi.”

“Merobek paksa....sesuatu yang besar sedang dipanggil” Penyihir Merah menyentuh papan tersebut di titik merah dan titik tersebut. Sekarang di titik tersebut terdapat angka-angka yang menunjukkan tingkat energi magis yang berkumpul dan garis-garis putus-putus yang muncul dari beberapa tempat. Satu tempat adalah titik di pantai dimana monster tersebut berada, tempat lain berada jauh dari Damarshkant.

Energi magis ini.... Penyihir Merah berpikir, lalu menggeleng, nanti saja  

 “Energi magis yang meledak ketika dia masuk ke dimensi ini bisa berbahaya untuk kestabilan jaringan mana sekitar Damarshkant!”

“Benar seka-“ belum selesai Varasshe berucap, para penyihir merasakan adanya ledakan energi yang mengguncang ether di sekitar mereka. Papan tersebut mengeluarkan suara peringatan yang keras.

“Siapkan empat laras untuk menembak,” Penyihir Merah memberi perintah dan membalikkan badan ke arah para penyihir “apa kalian sudah menyiapkan Jarungu?”

Varasshe, Kunti Sedono, dan para penyihir lain mengangguk, mereka semua mengeluarkan sebuah alat berupa cakram sebesar genggaman tangan dengan kristal lingkaran di tengah-tengahnya dengan beberapa tombol di sekelilingnya. Mereka menekan kristal tersebut dan mana mengalir dari kristal ke telinga mereka.

Penyihir Merah lalu berdiri di atas tongkatnya dan mulai melayang berdiri di atas tongkatnya dan mulai melayang

“Baiklah, Tuan Varasshe, Kunti Sedono, sekarang mari kita keluar menyambut tamu besar ini!”

Penyihir Merah terbang ke langit-langit

“Jarod, Kathwyz, Rethano, Kianat, kalian tinggal di sini menunggu aba-aba dari kami untuk menembakkan meriam,” Varasshe memberikan perintah kepada para penyihir.

“Erona, tolong beritahu anggota Dewan yang lain apa yang kami lakukan sekarang. Semoga mereka bisa membantu!” 

Penyihir bernama Erona pun memegang tongkatnya dan melompat ke dalam lorong yang menuju ke bawah.

“Baiklah, mari kita bantu Tuan Penyihir Merah menghadapi monster itu!”

Lima penyihir pun melesat mengikut Penyihir Merah, menuju ledakan energi magis yang mengancam Domarthia.

Sunday, April 3, 2011

Anarki di Pelabuhan - Bagian I

Mythgarr duduk menyimak. Di depannya, di balik meja warung Dwarf Girang, duduk Thellrye Symthee dan Vontus Mauler. Thellrye mengajaknya duduk di meja ini karena Sang Ratu Prajurit Sewaan ingin memberikan petunjuk bagaimana cara menjadi pendekar di Damarshkant.

 “Baiklah, anak muda, karena kamu baru saja memasuki Damarshkant dan tidak mempunyai siapa yang bisa menjamin keberadaanmu di sini, satu-satunya pilihanmu adalah bergabung dengan tentara kerajaan, itu pun kalau kamu lulus tes –“

“dan tahan didoktrin...” kata Vontus sambil lalu.

“Vontus, jangan menyerobot pembicaraan orang!” Thellrye Symthee menatap Vontus Mauler dengan kesal, lalu menatap Mythgarr kembali “Baiklah, kita teruskan. Mythgarr, seperti kataku tadi, kamu bisa bergabung dengan tentara kerajaan, atau menjual jasamu menjadi prajurit sewaan.”

“...sebenarnya aku mungkin punya seseorang yang bisa menjamin keberadaanmu di sini...”

“Wayne Pierce?” tanya Thellrye.

“Ya, Tuan Wayne Pierce,” jawab Mythgarr “dia menawarkan bergabung dengan rombongannya.”

“Lalu kamu menolaknya?”

Mythgarr mengangguk. “Sesuai pesan Ayah, Aku harus berusaha untuk bertemu tuan Vontus Mauler dan menjadi muridnya dulu sebelum melakukan hal lain.”

“Heh” Vontus tersenyum mengejek.

Mythgarr memandang Vontus Mauler dan menelan ludah, mengambil jeda, lalu berkata “Sepertinya setengah tujuanku kemari tercapai dan setengahnya lagi akan gagal.”

“Maaf Nak, sudah kukatakan, aku tidak mengambil murid!”

“Tapi..”

“Tidak ada tapi-tapian...” Vontus mengambil minumnya, menenggaknya, dan lalu berdiri.

“Hei, Vontus, kemana ka-“ Thellrye mencoba mencegah Vontus berdiri. Vontus tidak menghiraukannya dan melangkah ke arah Mythgarr dan secepat mungkin mencoba menggenggam gagang pedang Mythgarr. Mythgarr secepat kilat menampik tangan Vontus, menggagalkan usaha Vontus menggenggam pedangnya. Vontus tampak terkejut sebentar, lalu dia pun hanya mengangkat bahu “Nak, nak, jangan khawatir, aku hanya ingin melihat hasil karya elf yang membuat Sengat Kembar Sang Kalajengking yang bertengger di bahumu!”

“Tapi Tuan, maaf, itu lancang!” Mythgarr tidak percaya akan apa yang baru saja dilakukan oleh Vontus Mauler. Bagaimana mungkin dia bisa begitu saja mencoba mengambil senjata milik orang lain?

“Vontus, pergilah kamu kalau ingin pergi!” Thellrye berkata kepada Vontus sembari mengibaskan tangannya, memberi isyarat pergi.

Vontus hanya mengangkat bahu dan membelokkan badannya, mengambil langkah keluar. Tapi baru tiga langkah, dia membalikkan wajah dan berkata ke arah Mythgarr “Maaf Nak,” dia lalu terdiam dan memandang Mythgarr “carilah aku di tempat penempaanku kalau kamu butuh sesuatu!”

Vontus lalu melangkah pergi, diiringi tatapan Mythgarr yang masih heran akan perbuatannya.

“Cih, orang itu, sudah makin berumur kelakuannya masih seperti anak kecil.”

Mythgarr menghela nafasnya. “Nona Thellrye dan Tuan Vontus kawan lama?”

Thellrye mengangkat bahunya “Mungkin sejak kami kecil. Tapi entah apakah dia sudah menganggap kami teman dari dulu. Kami sering bertualang bersama, aku dan para saudariku, Vontus, gurumu. Tapi itu cerita untuk nanti, sekarang bagaimana kalau kita kembali ke pembicaraan kita semula.”

“Tentang apa yang ingin kulakukan di sini?””

“Benar sekali,  tentang ingin menjadi apa kamu di sini.”

Mythgarr terdiam sejenak dan memandang mata Thellrye. “Bagaimana caranya seseorang menjadi prajurit bayaran?”

Sekarang giliran Thellrye yang terdiam dan memandang wajah Mythgarr serius “Kenapa kamu ingin menjadi Prajurit bayaran?”

“Aku....senang ketika bertarung, Nona. Tapi bukan sembarang bertarung, bukan pula berkelahi,” Mythgarr mengepalkan tangan dan mengangkatnya ke depan dada dan memandangnya “rasanya aku tidak pernah sesenang ketika menghajar para bandit-bandit yang menyerang rombongan tuan Wayne Pierce.”

Mythgarr kemudian memandang Thellrye dengan tatapan serius “Aku ingin menjadi prajurit bayaran supaya aku bisa membantu orang-orang dengan menghajar para bandit!”

Thellrye tersenyum geli dan menggeleng-gelengkan kepala.

“Mythgarr, menjadi prajurit bayaran bukan berarti kamu akan menghajar para bandit saja. Ada saatnya prajurit bayaran hanya disewa sebagai kuli ke pelayaran-pelayaran jauh. Ada saatnya pula prajurit bayaran disewa sebagai tukang pukul yang dipergunakan untuk menekan lawan, meskipun itu dilakukan dengan sembunyi-sembunyi.”

“Aku....pasti akan menolak pekerjaan-pekerjaan semacam itu.”

“Benarkah?” Thellrye bertanya sembari tersenyum dan memandang Mythgarr tajam “prajurit bayaran harus bergabung dengan sebuah serikat prajurit bayaran, itu sudah peraturan kerajaan ini. Dan kebanyakan serikat prajurit bayaran tidak pandang bulu dalam menerima pekerjaan, dan tidak semua pekerjaan melibatkan menghajar bandit.”

“…”

“Dan tidak semua prajurit bayaran pulang dari mengerjakan pekerjaannya.”

“Maksudnya?”

“Beberapa dari mereka pulang tinggal nama….”

Mythgarr terdiam. Dia baru menyadari bahwa ada resiko seperti yang diutarakan oleh Thellrye.

“Bagaimana anak muda?” Thellrye menyeruput minumannya dan menaruhnya kembali “masih tertarik?”

 Mythgarr tidak menjawab. Tangannya mengepal di atas meja. Dia menundukkan wajahnya. Cukup lama dia terdiam sampai akhirnya Mythgarr mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Thellrye. Tatapan itu membuat Thellrye terkejut.

“Tunjukkan caranya, Nona Thellrye!”

Mythgarr menatap Thellrye dengan tatapan penuh keyakinan.  Keyakinan yang tidak pernah dia lihat sebelumnya sepanjang seratus tahun hidupnya. Thellrye tersenyum. Mythgarr Chromehands, kamu benar-benar ingin menantang hidup ya?

“Baiklah kalau begitu. Aku akan menunjukkan padamu caranya.”

“Baiklah!” Mythgarr tanpa tedeng aling-aling langsung berdiri, memandang pintu keluar,  dan mulai melangkah.

“Tapi kamu harus sarapan dulu!” perintah Thellrye dengan tegas.

“Oh, iya ya..” Mythgarr lalu kembali duduk “umm...bagaimana cara memesan makanan?”

***

Penyihir itu berdiri di satu sisi teras terbuka di atas Kuil Arkana Altenung, memandang ke lautan lepas.  Jubah merah dan rambut coklat panjangnya berkibar-kibar ditiup angin laut yang bertiup kencang. Tongkat sihirnya berdiri tegak dalam genggamannya. Tongkat yang panjang, dengan ujung atasnya melengkung dan berukir membentuk kepala Naga yang mempunyai sepasang tanduk panjang. Tanduk-tanduknya menjadi semacam mata pedang melenkung yang panjang, membuat tongkat sihirnya  menjadi berbentuk seperti sabit besar. Di bawah kepala naga tersebut ada dua buah kristal bulat berwarna merah dan biru yang berpendar-pendar. Di sepanjang tongkat terukir Ranung-ranung yang berpendar-pendar redup kuning kehijauan. Wajahnya tertutup topeng Merah bergaris kuning. Matanya tertutup oleh dua pasang lensa berwarna hijau. Hanya mulut dan dagunya yang tegang tampak terlihat.

“Penyihir Merah!” suara seorang perempuan berteriak memanggil. Sang penyihir tidak bergerak, tidak berbalik, tetap berdiri  di tempatnya.

"Tetap terlalu serius, seperti biasa." sang perempuan bergerak mendekat ke sampingnya "Apa kita punya masalah?"

"Apa kita punya masalah, Kunti Sedono? Kapal-kapal pedagang Domartha dikejar-kejar oleh monster-monster dari lautan dan  Altenung tidak menembakkan meriam-meriam Mana untuk mengusir monster-monster itu.  Apa itu bukan masalah? Apa yang dikatakan oleh para petinggi Altenung? Rangkaian-rangkaian jaringan Mana sedang dalam perawatan malam itu dan tidak dalam kondisi yang  bisa dipergunakan untuk mengisi meriam-meriam Mana. Kapan kalian melaporkan akan melakukan itu? Sang Penyihir memarahi perempuan tadi.

“Tenanglah, Penyihir Merah,” Perempuan tadi tersenyum dengan sedikit menaruh kesal. “Anda tahu sendiri bahwa kebanyakan para penyihir Altenung bukanlah orang-orang yang bisa mengatur dan mengkoordinasi.”

“Perdana Mentri dan Dewan Pengaturan Kerajaan sudah menaruh curiga pada penurunan kemampuan Altenung mengorganisir diri. Kejadian ini akan membuat Altenung lebih disorot! Kamu lihat di bawah sana, Kunti Sedono, bahwa Perdana Mentri sendiri yang mengawasi pekerjaan para penyihir memperbaiki dan membuat kapal-kapal, supaya jalur perdagangan ke selatan tetap bisa berjalan! Mana para anggota Dewan Pengaturan Altenung?”

“Guru Agung Palanca Praree mengatakan bahwa dia tidak ingin bertemu dengan pihak kerajaan sekarang. Dia sedang sibuk menelusuri gelombang magis aneh yang dia rasakan di sekitar kerajaan.”

“Tapi dia Pemimpin Dewan Pengaturan Altenung! Dia yang paling bertanggung jawab atas kegagalan Altenung semalam, dan bertanggung jawab atas banyaknya korban yang jatuh di laut!”

“Selain anda, Penyihir Merah, dan aku Kunti Sedono, penyihir-penyihir lain Dewan Pengaturan Altenung yang lain kebanyakan tidak peduli tentang kejadian di luar sana.”

“Hngh!” Penyihir Merah menggeram marah.  “Sudah tidak bisa dibiarkan. Baiklah, Kunti Sedono, aku akan menunggu di sini sampai para anggota Dewan memutuskan untuk mengurus rumah mereka sendiri dan menemui Perdana Mentri di bawah sana!”

Kunti Sedono tersenyum, merundukkan kepalanya dengan sedikit enggan. “Baiklah, Kunti Sedono akan memberitahukan kepada yang lain.”

“Apakah Jantung Altenung masih berjalan dengan baik?”

“Jantung masih berjalan dengan baik, Penyihir Merah.”

“Terima kasih, Kunti. Sekarang carilah para penyihir lain dan kembalilah dengan kabar dari mereka!”

“Kunti mohon diri, Penyihir Merah.”

Penyihir Merah mengangguk. Kunti berbalik badan dan melangkah ke dalam Altenung, diiringi oleh pandangan kesal Penyihir Merah.

Pria yang disebut Penyihir Merah adalah anggota Dewan Pengawas Sumber Daya Kerajaan yang diberi tugas mengatur dan mengarahkan para penyihir kerajaan, yang kebanyakan berpusat di Altenung. Dia yang menjadi jembatan komunikasi antara Istana dan Altenung.

Altenung yang tidak menembakkan Meriam-meriam Mana karena alasan yang seharusnya diberi tahu sebelumnya tetapi tidak diberi tahu telah membuat pihak Kerajaan kesal. Penyihir Merah diberi mandat untuk mengetahui apa masalahnya dan memberi peringatan kepada petinggi-petinggi Altenung untuk lebih berkoordinasi.

Penyihir Merah menggeleng-gelengkan kepala. Altenung sudah berdiri hampir 50 tahun tetapi para petingginya masih saja tidak bisa berkoordinasi dengan baik.

“Sekumpulan kutu buku...” pikir Penyihir Merah.

Penyihir Merah berjalan ke arah sebuah tembok dan bersandar di sana. Dari posisi itu dia bisa melihat lautan di sebelah kanannya dan pintu masuk ke Altenung di sisi kirinya. Dengan ini dia bisa sedikit bersantai mengawasi apapun yang datang dari Altenung. Dia tidak ingin masuk ke dalam Altenung sebelum Palanca Praree dan Kunti Sedono menemuinya.

Tiba-tiba raungan terdengar dari kepala naga di ujung tongkatnya, menandakan adanya aktivitas magis besar yang muncul.

***

Tamara, Ravi, dan Kia sedang menghabiskan sarapan mereka masing-masing ketika orang itu muncul di kedai. Naluri Tamara langsung membuatnya melihat orang tersebut dan menatapnya tajam-tajam. Ada yang berbahaya dari orang ini.

Dia adalah seorang yang berjubah hitam yang menyelimuti seluruh tubuhnya dan bertudung  ungu. Kulitnya hitam legam kusam. Tubuhnya kurus kering, kulit membalut tulang. Matanya jalang dan menatap sekeliling dengan tatapan seekor hewan pemburu yang lapar.

Orang itu kemudian menatap Tamara yang menatapnya balik dengan tatapan tajam.

“KAU!” teriak orang itu dengan suara yang aneh. Parau, dan terdengar seperti suara dua orang yang bergema dan saling bertautan. Satu suara yang berat, dan satu lagi suara yang melengking yang berayun.  “KAU PELAYANNYA!!” sambil jarinya menunjuk Tamara. Jari yang kurus dan aneh. Ujungnya lebih mirip cakar panjang dan tajam daripada ujung jari manusia.

“Hei orang gila! Pelayannya itu di sana! HA HA HA!” sahut seorang pengunjung rumah makan yang kemudian disambut tawa pengunjung-pengunjung lain.

Orang itu kemudian menatap pengunjung yang menyahut tadi.  Pengunjung tadi langsung bertanya tanpa takut “Kenapa Bung? Kalo lapar duduk dan pesan makanan!”

“KAU! KAU HINA!”


“Hei, bung! Orang gila dilarang masuk ke sini!” kata pengunjung tadi “Orang gila kok bisa dilepas sama kerajaan begini sih?”

“Penyihir stress kali! Otaknya kebanyakan baca buku jadi gila!” sahut pengunjung lain.

“Bukan! Dia orang negeri selatan yang keseret ama kapal kita semalam sampe otaknya doyong kali” kata seorang pengunjung lain.

Tubuh orang berjubah hitam itu tiba-tiba tampak menegang. Dia kemudian meluruskan badannya dan menaikkan tangannya. Wajahnya pun menengadah.

“OOOO, BAGINDA! BAGINDA! BAGINDA!” Tamara makin menatap orang itu tajam. Dia seperti bernyanyi.

“Hei, Tamara, orang gila ini tampaknya berbahaya” Kia berbisik padanya. Ravi tampak tegang dan menggenggam tongkatnya yang dia tegakkkan sedari tadi.

“OOO, BAGINDA! BAGINDA! BAGINDA!” orang tersebut tetap pada posisi semula dan terus meracau.

“Tuan, tuan! Kalau tidak ingin makan, tolong keluar!” Bu Ania berteriak kepada orang itu sembari mengibas-ngibaskan tangannya, memberi isyarat mengusir “Tolong keluar dan jangan ganggu tempat ini!”

Orang itu tiba-tiba menatap Bu Ania dengan tatapan tajam. Gerakannya yang tiba-tiba menyebabkan tudungnya terlepas dari kepalanya, jatuh ke pundaknya. Ini menyebabkan kepalanya jelas terlihat. Bu Ania langsung diam di tempat begitu melihat kepala orang itu.

Kalau dia masih bisa disebut orang.

Tuesday, February 15, 2011

Perubahan Hati - Bagian IV


“Bersiaplah, wahai prajurit suci!” Daigan meneriakkan perintahnya.

Sosok berjubah ungu itu pun kemudian menaikkan tangannya dan berteriak. Teriakannya bagaikan sembilu yang menyayat jiwa siapapun yang mendengarnya, kecuali para prajurit suci. Aura Suci mereka melindungi mereka dari serangan arkana tajam menusuk yang dilancarkan oleh teriakan sang sosok berjubah ungu.

“Penyihir arkana kematian, eh?” Alezan berdecak, Halberd diacungkan. Bahtra hanya berdiri tenang.

“Siapa kau, Penyihir!?” Daigan meneriakkan pertanyaannya kepada penyihir arkana kematian tersebut.

Penyihir tersebut tidak menjawab. Dia kemudian hanya tertawa terbahak-bahak dengan tawa mengerikan yang dingin menusuk tulang. Meskipun dilindungi oleh Aura Suci, mereka bisa merasakan kengerian yang dipancarkan penyihir ini.

Bahtra maju dan melewati kedua rekannya. “Biar aku yang melawan penyihir ini. Aku mengenalnya.”

Daigan dan Alezan terkejut dan langsung memandang Bahtra. Bahtra balik balas memandang Daigan. “Dia penyihir dari Altenung. Entah apa yang dia lakukan di kuil Jalalarot.”

Mata Daigan dan Alezan melotot. “Penyihir dari Altenung?” Alezan tanpa sadar berkata. “Ya, wakil komandan.”

“Kak Bahtra, kamu tahu cara menghadapinya?” Daigan bertanya

“Tentu saja” Bahtra menjawab “kami berlatih bersama. Namanya Manggun. Dia kawan mainku dulu.”

“Jangan bunuh dia,” Daigan berkata dengan nada memberi perintah “kita harus tahu apa kaitannya dengan Altenung!”

“Baiklah komandan!”

“Alezan, kita harus segera masuk ke dalam kuil!”

“Petualangan tiba-tiba nih, komandan...” Alezan tersenyum

“Sepertinya begitu. Menyenangkan bukan?”

Alezan mengangguk.

Dengan teriakan yang membahana, Daigan langsung berlari mengusung pedang besarnya di punggung. Alezan berlari di sampingnya. Bahtra di belakang. 

Para prajurit berzirah ungu yang dari tadi hanya berdiri pun kemudian berlarian menyambut ketiga prajurit suci. Perkelahian pun tak terhindari. Para prajurit ungu itu menggunakan tombak bermata pedang yang membuat Alezan bergidik. 

“Daigan, Naginata!”

Wajah Daigan sedikit menegang, meski tetap tenang. Naginata adalah nama tombak bermata pedang yang dipergunakan para prajurit berzirah ungu itu. Prajurit-prajurit yang dari tubuh mereka terpancar aura arkana kematian. Prajurit-prajurit yang bergerak dengan lincah, tetapi tidak selincah tiga prajurit suci yang melawan mereka. Daigan merunduk, menghindari satu serangan Naginata  dan mengayunkan pedang besarnya dan membuat tiga prajurit lawan tersungkur. Dia kemudian mengayunkan pedangnya dan membelah helm salah satu prajurit dan terkejut.

“Apa-apaan ini!” Gigi Daigan menggeretak menahan amarah melihat apa yang ada dibalik helm yang terbelah. Sebuah wajah yang tak lebih dari kulit yang membusuk membungkus tulang. Seperti ada yang membangkitkan mayat prajurit dan menyuruh mereka mengenakan zirah dan senjata. Sekonyong-konyong, prajurit mayat hidup itu menggenggam kaki Daigan yang langsung geram dan mengayunkan pedangnya, memisahkan kepala dan badan prajurit tersebut. Dia lalu menghindar dari serangan prajurit lawan lain dan tanpa ampun mengayunkan pedang dan memisahkan kepala dan badan lawan. Dia kemudian mengayunkan pedangnya dan memisahkan kepala lawan-lawannya yang tersungkur pertama. 

Alezan dan Bahtra pun melakukan hal yang sama. Lawan-lawan mereka tanpa ampun tersungkur tanpa kepala. Alezan tampak geram, wajah Bahtra menegang meski terlihat tenang.

Bayangan-bayangan hitam melayang keluar dari jasad-jasad yang tersungkur. Daigan, Bahtra, dan Alezan menyalurkan mana suci ke senjata mereka dan mengejar bayangan-bayangan itu. Daigan menebas satu bayangan dan terdengar teriakan menusuk dari bayangan tersebut sebelum terbakar dan menghilang. Dia pun menebas satu lagi dan teriakan pun menusuk sebelum terbakar dan menghilang. Teriakan dan nyala api memenuhi medan pertarungan mereka seiring ayunan dan hantaman tiga prajurit suci itu ke bayangan-bayangan yang melesat.

Beberapa bayangan yang luput dari serangan mereka mengarah ke penyihir berjubah ungu yang langsung tertawa kegirangan dengan penuh kegilaan ketika bayangan-bayangan itu merasuki tubuhnya. Wajahnya perlahan-lahan berubah; dari wajah manusia yang berjanggut hitam dan pucat perlahan-lahan berubah menjadi bentuk tengkorak bermata ungu yang menyala-nyala. Tubuhnya pun meninggi dan membongkok dan jari-jarinya memanjang dan menjadi setajam belati.

“Daigan, Alezan, biarkan aku yang menghadapi makhluk ini. Kalian masuklah ke dalam kuil dan melihat apa yang dilakukan para penyihir arkana kematian ini.”

Daigan memandang Bahtra yang sangat serius. “Kak Bahtra, engkau yakin akan hal ini?”

Bahtra hanya mengangguk dan mengangkat gadanya.

“Alezan!” Daigan berteriak mengangkat pedang besarnya.

“Baiklah!”

Mereka bertiga pun langsung berlari ke arah sang penyihir berjubah ungu yang langsung menyambut mereka dengan satu sabetan cakarnya yang menyebarkan aura energi kematian ke arah mereka. Daigan mengayunkan pedangnya dan merunduk, begitu pula dengan Alezan. Api menyebar dari ayunan pedang mereka, membakar arkana kematian yang terkena aura suci mereka. Bahtra melompat melewati aura kematian yang tersebar, gadanya terayun di atas kepala. Alezan dan Daigan terus berlari melewati sang penyihir yang tidak berhasil menyabet mereka dengan cakarnya dan tidak melihat gada Bahtra yang mengayun cepat ke arah mukanya.

“Manggun Viday! Aku lawanmu!” Gada Bahtra tak pelak lagi menghajar muka sang penyihir yang dia panggil Manggun Viday. Daigan dan Alezan menengok ketika Bahtra memanggil nama sang penyihir, lalu mereka pun saling memandang. Mereka mengerti; Bahtra mengenal sang penyihir.   

Sang penyihir terhentak, tapi tidak terjatuh.         Wajahnya melesak masuk karena pukulan gada Bahtra. Darah memuncrat. Sang penyihir tidak menampakkan kesakitan.

“Bahtraa.....” Suara sang penyihir dingin dan terdengar seperti gelas pecah yang menyayat-nyayat udara.

“Manggun Viday...kawan lamaku....bangkit dari kematian!” Bahtra berteriak sembari merangsek ke arah Manggun dengan gadanya.

***

Mythgarr hampir tersandung sesuatu di ruangan bawah tanah Warung Dwarf Girang. “Gelap sekali di sini...” katanya sembari matanya menyesuaikan dengan kegelapan ruangan yang hanya diterangi oleh beberapa jamur yang tumbuh di dinding dan sudut2 ruangan.

“Baiklah.....makhluk hidup..makhluk hidup...tikus atau apa ya?Oh, tikus!” Mythgarr langsung melesat menangkap tikus yang melesat di ruang bawah tanah tersebut. Dia memukul kepala tikus tersebut sehingga tidak bergerak lagi dan melemparnya ke tangga menuju ruang tersebut. Lalu dia pun mendengar ada satu tikus lagi , dan satu tikus lagi, dan satu lagi.

“Banyak sekali” Dia pun terus melesat ke sana kemari menangkap dan memingsankan para tikus itu.

“Ada lagi?” tanya Mythgarr pada dirinya sendiri setelah melemparkan tikus-tikus sudah pingsan ke arah tangga. Dia melangkah masuk lebih dalam ke ruangan bawah tanah yang disebut sebagai gudang oleh pemilik warung. Tiba-tiba Mythgarr terkejut begitu merasakan adanya pergerakan yang lain. Dari arah dinding , atau lebih tepatnya dari balik dinding. Mythgarr merasakan gerakan tersebut menjauh dari dinding, berlari. Mythgarr ingin tahu apa yang terjadi, tetapi dia  berbalik badan dan memungut tikus-tikus yang dipingsankan tadi dan naik keluar dari ruangan bawah tanah melalui tangga. Dia sudah ditunggu oleh pemilik warung.

“Bagaimana anak muda, apakah kamu sudah menangkap semua yang hidup di bawah sana?”

Mythgarr tersenyum dan mengangkat tikus-tikus tersebut.

“Apa kamu yakin ini benar-benar sudah semua?”

“Aku merasakan ada pergerakan lain. Tapi dari balik tembok.”

Pemilik warung makan menatap Mythgarr tajam, alisnya bertaut. “Dan kamu tidak menangkapnya?”

“Eh? Apakah aku boleh menjebol tembok tuan?”

Sang pemilik warung tersenyum. “Pekerjaan harus dituntaskan, anak muda.”

***

Bahtra dan Manggun berlari-lari di jalan, menuju balai desa. Ada petugas pemantau dari kerajaan yang datang dan ingin melihat kemampuan para pemuda desa. Dia ingin mengambil para pemuda berbakat untuk menjadi petugas kerajaan, apakah itu bakat magis, bakat tarung, ataupun bakat kecerdasan. Bahtra sudah lama ingin menjadi prajurit kerajaan, dia adalah murid paling berbakat dari padepokan silat yang ada di desa. Manggun sendiri sudah lama ingin mengembangkan ilmu magis yang perlahan-lahan mulai dipelajarinya dari penyihir-penyihir yang bertugas di desa.

Bahtra dan Manggun adalah dua orang sahabat baik yang sudah saling berteman sejak kecil. Mereka bertetangga dan sama-sama mempunyai ayah yang masing-masing sudah pernah mengikuti perang. Ayah Manggun adalah seorang pensiunan kapten yang sekarang menjadi peternak sapi yang menjual susu dan daging sapi ke tentara. Ayah Bahtra adalah seorang pensiunan penyihir kerajaan yang sekarang menjadi guru sihir di sekolahan di desa itu. Ayah Bahtra juga menjual jamu-jamu kesehatan dan pengobatan yang diramu sendiri. Bahtra dan Manggun sering diminta oleh ayah-ayah mereka untuk mengantarkan susu dan daging dan mencari bahan-bahan jamu ke kota.

Bahtra dan Manggun adalah dua orang sahabat baik. Tapi itu sebelum mereka pindah ke Damarshkant dan menjalani kehidupan yang terpisah. Ya, mereka lulus ujian di lapangan balai desa dan langsung diperintahkan menuju ke Damarshkant untuk pendidikan lanjut. Bahtra menjadi prajurit yang berbakti dan soleh. Pada akhirnya dia ditugaskan ke kesatuan prajurit suci. Manggun menjadi penyihir yang cukup dikenal oleh masyarakat kota dan akhirnya bertugas di Altenung menjadi peneliti arkana kehidupan.

***

Bahtra terus menekan sosok yang tadinya dikenal dengan nama Manggun. Gadanya terus menerus merangsek sihir pertahanan sosok menjijikkan itu. Sosok itu terus menerus tertawa dengan tawa yang bisa menusuk jiwa yang mendengarnya.

“Maggun! Apa yang terjadi padamu?!”

“Hehehehehehheh Hahahahahaha! Bahtra! Aku menjadi BEBAAAAAASSSSSSSSSSSS!! Sebebas-bebasnya!”

“Arkana kehidupan, Manggun! Kamu adalah penyihir arkana kehidupan! Arkana yang mampu memberi kesembuhan!”

“Bahtraaaaaaaaaa! KEHIDUPAN PASTI BERAKHIR! Ehehehehehehheh!”

“Lalu apa ini? Bukankah kamu ini sekarang hidup?” Bahtra terus menerus menekan

“BAHTRAAAAA! BAHTRAAAAAAAA!” Manggun mengayunkan cakarnya ke arah perut Bahtra yang terbuka. Bahtra dengan cepat menghindar dan menangkap tangan Manggun dan menggenggamnya kencang

“Hidup, ini hidup bukan??” tulang Manggun tampak berderak ditekan genggaman Bahtra

“Ah, Bahtra.........kamu tahu bukan......aku sudah MATI!” Manggun berteriak, suaranya berubah menjadi cahaya yang tajam dan mengarah tepat ke wajah Bahtra.

***

Setelah lebih dari dua tahun tidak bertemu, Bahtra akhirnya bersua juga dengan Manggun dalam persiapan sebuah pasukan yang akan diberangkatkan mempertahankan sebuah benteng di perbatasan. Bahtra memeluk Manggun ketika mereka bertemu dan mengkomentari betapa kurus dan bongkoknya Manggun. Manggun mengkomentari betapa tuanya wajah Bahtra. Bahtra lalu mencukur kumis dan jenggotnya dan Manggun mencoba membawa tas punggung Bahtra supaya lebih tegap. Mereka berdua kemudian terbahak-bahak akan kelakuan mereka. Mereka berdua berusia tujuh belas tahun dan tidak mengetahui apa yang akan mereka hadapi.

***

Bahtra menghindar, tetapi tombak mantera teriakan Manggun berhasil menembus aura pelindungnya dan melukai pipinya. Manggun pun tertawa-tawa dengan tawanya yang mengerikan. Bahtra mengayunkan gadanya yang penuh Mana Suci ke arah perut Manggun dengan kekuatan maksimal tanpa ampun. Manggun terdorong ke belakang dengan hebatnya, melayang jauh, perutnya menganga lebar. Meskipun begitu, Manggun tetap mendarat dengan sempurna dengan kedua kakinya. 

“Tidak akan bisa, Bahtra! Kamu tidak akan bisa membuatku mati lagi! Hwahahahaahhh, huehehehehehehh!”

Bahtra hanya diam dan tidak menghiraukan tawa Manggun. Dia mengayun-ayunkan gadanya di tangannya, memikirkan cara menaklukkan Manggun. Manggun sudah pasti dihidupkan kembali oleh Arkana Kematian, pikirnya. Arkana Kematian adalah lawan dari Arkana Kehidupan. Arkana Kehidupan yang diselewengkan, digabungkan dengan Arkana kegelapan, dan diolah dengan hati yang dipenuhi oleh niatan untuk menghina Tuhan. Hati yang penuh kejahatan. Hati yang membusuk lalu perlahan mati.

***

“Bahtra, Arkana Kehidupan yang kupelajari dan Mana Suci penyembuhan yang dimiliki para Prajurit Suci dan Tabib petarung memiliki kemiripan, tetapi berbeda.” Manggun menjelaskan pada Bahtra ketika karavan mereka beristirahat

“Mana Suci memiliki kemampuan memulihkan satu bagian tubuh menjadi seperti sedia kala, menyembuhkan luka-luka dan penyakit dengan cepat. Arkana Kehidupan pun memiliki kemampuan seperti itu, tetapi berbeda. Arkana Kehidupan tidak memulihkan luka, tetapi mengganti bagian yang luka dengan bagian yang baru. Orang yang disembuhkan dengan Arkana Kehidupan memiliki resiko kehilangan kontrol atas bagian yang disembuhkan apabila penyihir arkana yang menyembuhkannya masih amatir.”

Bahtra hanya menyimak. Dia hanyalah seorang prajurit biasa, tidak berkaitan dengan Arkana maupun Mana Suci. Meskipun begitu, dia menikmati penjelasan Manggun.

“Belum bosan kan?” Manggun bertanya sembari terkekeh.

Bahtra menggelengkan kepala.

“Seperti yang sudah kukatakan, Arkana Kehidupan sendiri memiliki kemampuan menumbuhkan bagian-bagian tertentu dari makhluk hidup. Penyihir yang sudah memiliki tingkat pemahaman yang tinggi bahkan bisa merubah bagian-bagian dari makhluk hidup dan membuatnya lebih baik!”

“Karena itulah kita memiliki panen padi, gandung, dan kentang yang makin lama makin baik?”

“Benar sekali! Benar sekali!” Manggun tersenyum lebar sembari menunjuk-nunjuk Bahtra.

Bahtra ikut tersenyum.

“Sekarang kamu mengerti kan, kenapa aku tertarik mempelajari Arkana Kehidupan?”

Bahtra mengangguk. Arkana Kehidupan sepertinya menarik. Manggun tampak berseri-seri dan penuh energi ketika menjelaskan tentang Arkana Kehidupan. Mungkin memang itulah jalan hidup bagi Manggun

“Kalau ada Arkana Kehidupan, apakah ada Arkana Kematian?” Bahtra bertanya sembari mengangkat kedua alisnya. Dia hanya bertanya sekenanya, tidak mengharapkan jawaban.

“Ada, Bahtra, ada!” jawab Manggun dengan penuh semangat “Arkana Kematian adalah lawan dari Arkana Kehidupan, tentu saja. Arkana Kematian adalah ilmu arkana yang paling dijaga ketat oleh para penyihir senior di Altenung. Tidak ada diantara kami penyihir muda yang boleh mempelajarinya. Aku sendiri tidak tahu lengkapnya, tetapi yang kutahu dari guruku: Arkana Kematian sejatinya adalah Arkana Kehidupan yang diselewengkan. Arkana Kematian tidak dipergunakan untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas makhluk hidup. Dia dipergunakan untuk pembusukkan atau penghancuran makhluk hidup dari dalam.” Manggun lalu menarik nafas dan terdiam sejenak. Bahtra menunggu sambil memandang Manggun. Manggun kemudian melanjutkan. “Arkana Kematian bahkan bisa dipergunakan untuk membangkitkan mayat dan membuatnya bergerak sendiri!”

***
Gazzer terdiam, nafasnya memburu. Singa Bastgrad kepercayaan Bahtra ini sedari tadi bertarung melawan goblin-goblin yang muncul ketika Bahtra melawan Manggun. Mayat-mayat Goblin bergelimpangan di sekitarnya. Mereka tidak kabur meskipun Gazzer bisa menebas leher mereka dalam sekali ayun ataupun mengoyak perut mereka dalam sekali gigit. Mereka terus menyerang Gazzer meskipun tidak berguna, dan akhirnya Gazzer pun berdiri dalam kemenangan tanpa luka sedikitpun.

Sekarang matanya menatap tajam ke arah pertarungan Bahtra dan lawannya. Tuannya yang kedua sedang bertarung melawan sesosok makhluk yang mengerikan, sebuah monster yang terlihat berbeda dari sosok yang tadi dilihatnya sebelum tuannya melompat dan menyerang sosok itu. Sosok yang ini lebih mengerikan, lebih menjijikkan, dan terasa lebih kuat. Gazzer melangkah mendekat perlahan-lahan ke medan pertarungan mereka. Nalurinya mengatakan dia harus membantu Bahtra dan harus mencari celah menaklukkan lawannya. Gazzer pun perlahan-lahan mendekat ke arena pertarungan dengan terus memandang lekat pergerakan Bahtra  dan lawannya.

Bahtra terlihat merangsek lawannya jurus demi jurus, tetapi lawannya tetap tidak tergoyahkan. Wajahnya sudah hancur, perutnya sudah terkoyak, tetapi lawannya terus berdiri, terus menyerang, dan terus mengeluarkan suara-suara mengerikan yang membuat bulu kuduk Gazzer merinding. Gazzer terus melangkah mantap, dituntun oleh nalurinya yang dibentuk oleh latihan bertahun-tahun untuk bertarung membela tuannya. Bahtra sekarang terlihat terdesak oleh lawannya yang mengayunkan tangannya yang panjang dan berkuku tajam dengan gerakan yang rapat dan cepat, hampir tidak menyisakan ruang gerak.

Setelah melangkah dan mengamati cermat-cermat, akhirnya Gazzer menemukan celah. Lawan terlalu berkonsentrasi mengurung ruang gerak Bahtra sehingga punggungnya terbuka lebar. Gazzer pun mempercepat langkahnya, perlahan-lahan, lalu ketika sudah mendekat dia pun berlari.

Ketika sudah mencapai jarak terjangan, Gazzer pun melompat sekuat-kuatnya menerjang leher musuh dan menggigitnya sekuat mungkin, menancapkan taring-rating kokohnya sedalam mungkin.

Musuh tuannya itu langsung berteriak meradang. Tangannya berayun ganas kearah kepala Gazzer. Gazzer menghindar. Lalu sebuah hantaman berkekuatan besar menerjang musuhnya. Tak goyah, Gazzer terus mempertahanankan cengkraman gigi-giginya dan dengan bertumpu pada kaki belakang menekan lawannya. Hantaman-hantaman keras terus menghujam lawannya. Tuannya, Bahtra, sedang berusaha melemahkan lawan. Gazzer mencoba menggulingkan makhluk mengerikan yang terus-menerus berteriak dan tertawa-tawa mengerikan ini.

Satu hantaman keras ke kaki lawan membuatnya goyah sehingga Gazzer dengan mudahnya menyeret lawan dengan rahangnya dan menggulingkannya. Dia pun kemudian dengan cepatnya beralih ke leher lawan dan menggigitnya sekencang mungkin. Tuannya berdiri menginjakkan satu kaki di dada lawannya. Dia memegang satu tangan lawan dan kemudian dengan satu gerakan cepat dan kuat dia mematahkan dan memutus tangan itu dan melemparnya jauh-jauh. Lawannya berteriak keras dan mengayunkan satu tangan lagi. Bahtra menangkapnya dan mematahkan satu tangan itu.

Gazzer kemudian merasakan tuannya membelai surainya. “Sobat, lepaskan dia”

Gazzer memandang mata tuannya yang memberikan pandangan tegas menyuruh. Dia kemudian melepaskan cengkramannya di leher lawan.

***

Manggun terengah-engah. Pasukan mereka terdesak oleh kekuatan mengerikan dari lawan. Pasukan-pasukan lawan yang sudah tewas tiba-tiba bangkit kembali setelah penyihir utama dari pasukan lawan melepaskan mantra sihir yang melepaskan sinar hitam ke seluruh penjuru medan pertempuran. Para prajurit Domarthia langsung bingung dan terdesak. Kekuatan mereka tinggal sepertiga semula dan tiba-tiba harus menghadapi kekuatan lawan yang bangkit kembali utuh. Mereka semakin kalut ketika kawan-kawan mereka yang gugur ikut bangkit kembali dan menyerang mereka. Para prajurit suci tetap tenang dan terus melakukan perlawanan meskipun digempur pasukan lawan yang baru bangkit yang menyerang dengan tanpa henti meski terluka parah. Para penyihir Domarthia ikut menahan serangan lawan dengan melepaskan mantra-mantra pelontar api ke arah para prajurit-prajurit lawan yang bersiaga di garis belakang.
Manggun bagaikan terlempar ke dalam sebuah mimpi buruk ketika melihat mayat-mayat kawannya terbangun dan membabi buta menyerang dengan segala senjata yang ada. Dia termangu dan bingung. Hampir kehabisan Mana Arkananya dan terjebak di antara prajurit bersama tiga penyihir lain yang bertugas di garis depan dan tidak sempat mundur ketika lawan tiba-tiba bangkit dari kematian, Manggun bingung dan termangu. Mereka terjepit antara prajurit lawan yang mendesak dan prajurit kawan yang terdesak mundur. Kakinya tidak bisa digerakkan, seribu pikiran berkecamuk di otaknya.

Dalam kekalutan itulah, dia tidak menyadari ketika sebuah tombak menembus perutnya.

Manggun merasakan nyeri dan panas yang luar biasa ketika sang penombak mencabut paksa tombaknya. Tubuhnya langsung lulai dan terjerembab seketika. Pikirannya langsung buyar. Tak lama kemudian matanya berkunang-kunang. Manggun merasakan ketakutan luar biasa. Rasa dingin  merasuki tubuhnya, bercampur dengan rasa nyeri dan takut. Manggun merasakan kesadarannya perlahan-lahan mulai menghilang, kegelapan mulai menyelimutinya.

Kematian mulai merenggutnya.

Ketika itulah dia merasakan tubuhnya diangkut secara kasar oleh seseorang dan dibawa lari. Lalu dia merasakan seperti dibawa terbang. Dia mendengar suara-suara seperti “penyihir ini masih hidup, bawa dia, bisa berguna” “kita bangkitkan nanti” “cuci otak” sejak diangkut sampai terbang.

Penglihatannya yang mulai kabur menangkap pemandangan medan perang yang mulai menjauh seiring dengan dibawa terbangnya dia. Dia melihat seekor naga yang jauh lebih besar dari yang pernah dia lihat merangsek medan pertempuran dan membakar ratusan prajurit-prajurit mayat hidup dalam sekali sembur. Dia juga melihat beberapa lingkaran cahaya yang tampak seperti aura Mana Suci menyebar ke segala arah dan memusnahkan para mayat hidup.

Tak lama kemudian, Manggun kehilangan kesadaran.

***

Bahtra memegang kepala makhluk yang tadinya bernama Manggun dan sekarang entah harus dipanggil apa. Dia memejamkan matanya dan mulai merapal doa, tak peduli akan teriakan-teriakan makhluk ini yang tangannya sudah putus dan kakinya ditahan oleh Gazzer sehingga

Wahai Dia yang memegang jiwa ini
Yang Kuasa atas segala kehidupan
Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan
Yang Mencipta dan Yang Menghancurkan
Yang Memberi dan Yang Mengambil
Ya Tuhan Pencipta Langit dan Bumi dan Segala Isinya
Ya Tuhan Penganugrah Segala
Anugrahkanlah Pengampunan kepada hamba
Anugrahkanlah Cahaya Suci-Mu kepada hamba
Anugrahkanlah Cahaya Kehidupan kepada teman hamba
Jadikanlah hamba penyalur Cahaya Kehidupan-Mu kepadanya


Bahtra merapal bagian terakhir berulang-ulang dengan penuh konsentrasi. Perlahan-lahan, cahaya mulai berpendar di tangan Bahtra seiring bangkitnya Mana Suci. Bahtra lalu berkonsentrasi menyalurkan Mana Sucinya ke tubuh Manggun melalui kepalanya.

Manggun terus menerus berteriak dan meronta ketika Mana  Suci mulai merasuki tubuhnya, bentrok dengan Arkana Kematian yang memenuhi tubuhnya. Arkana Kematian terdesak, wajahnya yang hitam menampakkan retak-retak cahaya dan tak lama kemudian cahaya mendesak keluar dan menghancurkan Arkana Kematian. Teriakan-teriakannya berkurang. Cahaya tersebut terus mendesak ke seluruh tubuhnya, meretakkan tubuh yang dipenuhi Arkana Kematian dan menghancurkannya perlahan-lahan, menguapkan gabian tubuh yang tersokong oleh Arkana Kematian tersebut menjadi asap hitam yang lama kelamaan pudar. Tak lama kemudian seluruh tubuh Manggun dipenuhi Mana Suci dan Arkana Kematian terbuang seluruhnya dari tubuh Manggun.

Manggun kini tinggallah sosok kulit terbalut tulang dengan dua tangan yang putus. Teriakannya berhenti. Bahtra membuka matanya dan menatap wajah Manggun. Dia meneteskan air mata.

“Bahtra....”

“Beristirahatlah, kawan...”

“Terima kasih...”

“...”

“Bahtra..berhati-hatilah...” Manggun memberikan peringatan dengan suara yang pelan “mereka....sekongkol....Jalalarot....negeri selatan...”

“Terima kasih kawan. Bertobatlah dan sebutkan nama Tuhan”

“...goblin...orc...troll....Ogre....”

“sebutkanlah nama Tuhan!”

“berhati-hatilah....Tuhan.....maafkanlah aku.....selamatkanlah aku...”

Manggun pun terkulai dan menghembuskan nafas terakhir dengan wajahnya dalam genggaman Bahtra.
Bahtra pun mengheningkan cipta dan berdoa demi arwah Manggun. Tak lama kemudian dia pun bangkit dan melihat ke belakang. Corral dan Guntur berdiri di belakangnya.

“Urusan kalian sudah selesai rupanya...”

“Sudah, Kak Bahtra...” ucap Guntur “Turut berduka cita atas kematian kawanmu.”

“Turut berduka cita, Kak Bahtra” Corral menunduk memberi hormat kepada Bahtra.

“Sudahlah, sudah berlalu.” Bahtra menampakkan wajah tegar “Goblin-goblin itu sudah kabur?”

“Sudah, Kak Bahtra. Seperti biasa, Goblin akan kembali ke akal sehat kalau mereka terpisah satu sama lain.....” jawab Guntur.

Bahtra memandang reruntuhkan kuil Jalalarot.

“Kenapa Daigan dan Alezan lama sekali?”

Thursday, January 13, 2011

Perubahan Hati - Bagian III

Tentu saja perintah itu langsung disambut dengan kebingungan oleh para prajurit dan pesuruh. Para prajurit suci yang lain langsung mengelilingi Alezan, bertanya apakah mereka harus mengikuti Daigan. Alezan hanya terdiam sejenak untuk selanjutnya langsung mengkomando mereka untuk naik ke singa bastgrad masing-masing dan mengikuti Daigan.


“Corral,” Alezan menunjuk kepada salah seorang prajurit suci wanita “Singa betinamu lebih cepat dari singa-singa bastgrad kami yang lain. Naiki Rellon dan susul Daigan secepat mungkin. Aku tidak ingin dia melabrak musuh sendirian.” Corral mengangguk dan menaiki Rellon, singa bastgrad betina berwarna hitam miliknya. Mereka langsung melesat

“Bahtra, Guntur, Kirrian, kita susul Daigan secepat mungkin.” Alezan melanjutkan komandonya “Tabib! Kami butuh dua orang dari kalian.Guntur, Kirrian, para tabib ini akan menunggangi singa-singa kalian!”  Para prajurit suci yang lain langsung menaiki singa-singa mereka. Guntur dan Kirrian memberi bantuan pada dua orang tabib untuk menaiki singa-singa mereka.

“Susul Daigan! Pergilah!” Alezan meneriakkan komando pada para prajurit suci. Mereka pun langsung melesat. Alezan lalu mendekati kepala pasukan kerajaan yang ditugaskan dan memberikan komandonya “Komandan Akbar, tolong bawa prajurit-prajurit kerajaan, prajurit bayaran, dan para tabib yang tersisa langsung menuju pos satu. Kami akan bertemu kalian di sana!”

“Siap, laksanakan, Wakil Komandan!” Kepala prajurit kerajaan memberi hormat pada Alezan. Alezan pun membalas hormat dan mengulurkan tangannya kepada komandan Akbar “Semoga Tuhan memberikan keselamatan kepada kita semua.” Komandan Akbar membalas uluran tangan “Semoga Tuhan memberikan keselamatan kepada kita semua!”
Alezan melepaskan genggamannya, merunduk memberi hormat kepada rombongan, berbalik badan dan langsung menaiki Margashing, singa bastgrad miliknya.

“Ayo Margashing, kita susul Alderran!” Margashing pun langsung melesat cepat.Singa bastgrad bernama Margashing yang menjadi tunggangan Alezan adalah singa bastgrad berkulit kuning kecoklatan berloreng hitam. Surainya berwarna campuran kuning, coklat, dan hitam yang berpadu indah serasi dengan corak loreng di badannya. Besar tubuhnya tidak sebesar Alderran dan kekuatannya tidak sebanding, tetapi terkadang Margashing menunjukkan kecerdasan yang lebih dari Alderran.

Tidak seperti Alderran yang selalu liar, Margashing adalah singa muda yang bersiap-siap merebut kepemimpian sebuah kawanan singa sebelum ditaklukkan Alezan. Mereka berdua adalah saudara satu ayah dari kawanan yang singa yang sama.

Alezan menaklukkan Margashing setelah Daigan menaklukkan Alderran. Alezan memilih Margashing setelah mengamati bahwa singa loreng itu mempunyai kekuatan dan bakat kepemimpinan yang bagus. Alderran sang petarung perkasa mengikuti pemimpin Prajurit Suci, Alezan menaiki singa bastgrad yhang berbakat memimpin. Sebuah kombinasi yang bagus di Regu Tujuh Prajuri Suci Domarthia.

Corral, satu dari delapan prajurit suci wanita  Domarthia, memilih Rellon karena keberaniannya berada di dekat Alderran. Singa betina biasanya menjauh dari singa-singa jantan. Singa betina milik Corral adalah satu-satunya singa betina yang berani melawan Alderran dan Margashing, meski selalu kalah. Kecepatan Rellon menjadi paduan yang bagus bagi gaya bertarung Corral yang mengandalkan kecepatan dengan dua pedang pendek kembarnya.

Bahtra, prajurit suci tertua di regu Daigan, mempunyai singa bastgrad bernama Gazzer, seekor singa loreng putih-hitam petarung veteran yang diwariskan dari prajurit suci atasan Bahtra yang gugur di medan perang. Gazzer selalu tenang di medan perang. Tidak sulit bagi Bahtra menaklukkan Gazzer, tetapi sulit bagi Bahtra untuk mengikuti kemauan Gazzer.

Singa bastgrad Guntur bernama Lintar, singa bastgrad jantan berkulit coklat kemerahan dan berwarna kekuningan. Lintar adalah singa bastgrad termuda bersemangat tarung tinggi, sesuai dengan semangat Guntur yang merupakan prajurit termuda di regu ini.

Enam prajurit suci di atas enam singa bastgrad melesat keluar dari Barak Prajurit Suci yang terletak di sebuah bagian Istana Kerajaan di bukit yang menjadi bagian kota Damarshkant. Daigan memacu Alderra secepat mungkin. Dia hanya berpikir bahwa Alderran telah mencium adanya sihir-sihir kegelapan yang berada di dekat Istana Kerajaan. Daigan ingin secepatnya melihat dan menumpas pelaku-pelakunya dan menghentikan perbuatan mereka sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di Damarshkant. Lima ratus tombak setelah melesat dari barak, Daigan mulai merasakan sesuatu: energi magis Arkana. Energi suci yang memenuhi tubuh seorang prajurit suci  membuat mereka peka akan energi magis, baik Arkana maupun Kudus.

“Arkana yang terasa busuk,” bulu kuduk Daigan merinding “berbau kematian!”

“KOMANDAN!”  

Corral dan Rellon berhasil menyusul Daigan. Corral sudah menyiapkan dua belati pajangnya. Dia memandang Daigan dengan pandangan tajam.

“Arkana menjijikkan!”

Daigan mengangguk “Kita telusuri, Corral. Jangan menjauh dari sisiku dan Alderran. Siapkan Aura Pelindungmu!”

“Baik, Komandan!”

Alezan, Bahtra, dan Guntur menyusul mereka beberapa saat kemudian. Bahtra mengambil posisi di depan, Alezan dan Guntur di belakang. Daigan menatap mata Bahtra, dan prajurit suci yang sudah banyak pengalaman tarung itu menatapnya balik dengan tatapan tajam yang mengisyaratkan pengertiannya tentang situasi yang sedang mereka hadapi. Bahtra mengangguk. Daigan mengalihkan matanya ke Alezan yang kemudian langsung menarik nafas panjang dan mengangguk. Terakhir dia memandang ke Guntur yang memandangnya balik dengan tatapan penuh determinasi.

“Naikkan aura pelindung kalian!” Daigan memberi perintah pada mereka.

 Daigan lalu menarik nafas panjang dan mengalihkan pandangannya ke depan, ke arah ke mana Alderran menuntunnya.

Selama beberapa saat mereka menyusuri Jalan Prajurit, jalan yang dipergunakan oleh para prajurit yang keluar dari barak ketika dikirim ke kota-kota lain. Tak lama kemudian Alderran tiba-tiba membelokkan arahnya masuk ke perbukitan yang dipenuhi pohon-pohon. Singa Bastgrad itu menuntun mereka menyusuri pohon-pohon dan rumput-rumput yang tumbuh liar. Menyusuri sisi bukit yang terus menurun landai, lalu tiba-tiba naik kembali.

“Daigan!” Bahtra memanggilnya “hati-hati, ini menuju reruntuhan kuil penyembah Jalalarot yang sudah lama ditinggalkan!”

Daigan mengkerenyitkan dahinya. Jalalarot: penyihir perkasa, raja lalim, dan bagi sebagian orang adalah dewa. Sudah ratusan tahun lamanya nama Jalalarot tidak muncul. Pertanyaan-pertanyaan muncul di benak Daigan. Apakah benar pengikut Jalalarot yang ada di depan? Apa yang mereka lakukan di kuil itu? Apa yang-

Belum lama mereka menaiki bukit yang dipenuhi pepohonan dan belum sempat Daigan melanjutkan pikirannya, tiba-tiba terdengar teriakan kencang yang berubah menjadi sebuah lengkingan yang  menyayat hati. Daigan merasa jantungnya hampir tertusuk oleh sebuah kekuatan magis yang dimentalkan oleh aura sucinya. Lengkingan itu terus keluar, dan terus dimentalkan. Setelah beberapa lama, lengkingan itu berhenti.
Digantikan oleh puluhan sosok yang berkelebat dari atas pohon yang turun menyerang mereka dengan tiba-tiba. Para Singa Bastgrad langsung dihentikan para penunggang masing-masing yang terpaksa meladeni para penyerang.

Daigan menangkis dua serangan dengan pelindung tangannya dan mencengkram salah seorang penyerangnya di leher. “Goblin!” Daigan membanting sosok penyerangnya itu “bukan ancaman. Tapi bisa merepotkan! Corral, Guntur, ladeni mereka! Hentikan mereka di sini, jangan sampai ada yang menyusul kita. Alezan, Bahtra, ikuti aku! Kita teruskan perjalananan”

Alderran melempar seekor goblin dengan rahangnya, menghempaskannya ke goblin lain yang kemudian sama-sama terpelanting. Dia pun langsung melesat ketika Daigan memberi aba-aba untuk maju. Tiga Prajurit Suci dan tiga singa bastgrad pun melesat meninggalkan Corral dan Guntur yang menghentikan para goblin satu per satu dengan keahlian tarung mereka masing-masing.

Alderran, Margashing, dan Gazzer melesat secepat mungkin menyusuri jejak Arkana Kematian yang makin pekat mereka rasakan. Alderran menyeringai ganas. Daigan merasa singa bastgradnya  siap meledak. Margashing melesat di samping mereka bersama Alezan. Alderran melirik ke arah Margashing yang menatapnya tajam tapi penuh ketenangan. Alderran meraung dan kemudian diam. Gazzer di belakang mereka tetap tenang.

Sejurus kemudian Daigan pun menghunus pedang besarnya, diikuti oleh Alezan yang menghunus Halberdnya dan Bahtra yang menghunus gadanya. Di depan mereka reruntuhkan kuil penyembah Jalalarot mulai terlihat. Dan di depannya berkumpul belasan prajurit berzirah ungu dan satu sosok yang mengenakan jubah ungu berhiaskan motif-motif kehijauan.

“Bersiaplah, wahai prajurit suci!” Daigan meneriakkan perintahnya.