Sunday, April 3, 2011

Anarki di Pelabuhan - Bagian I

Mythgarr duduk menyimak. Di depannya, di balik meja warung Dwarf Girang, duduk Thellrye Symthee dan Vontus Mauler. Thellrye mengajaknya duduk di meja ini karena Sang Ratu Prajurit Sewaan ingin memberikan petunjuk bagaimana cara menjadi pendekar di Damarshkant.

 “Baiklah, anak muda, karena kamu baru saja memasuki Damarshkant dan tidak mempunyai siapa yang bisa menjamin keberadaanmu di sini, satu-satunya pilihanmu adalah bergabung dengan tentara kerajaan, itu pun kalau kamu lulus tes –“

“dan tahan didoktrin...” kata Vontus sambil lalu.

“Vontus, jangan menyerobot pembicaraan orang!” Thellrye Symthee menatap Vontus Mauler dengan kesal, lalu menatap Mythgarr kembali “Baiklah, kita teruskan. Mythgarr, seperti kataku tadi, kamu bisa bergabung dengan tentara kerajaan, atau menjual jasamu menjadi prajurit sewaan.”

“...sebenarnya aku mungkin punya seseorang yang bisa menjamin keberadaanmu di sini...”

“Wayne Pierce?” tanya Thellrye.

“Ya, Tuan Wayne Pierce,” jawab Mythgarr “dia menawarkan bergabung dengan rombongannya.”

“Lalu kamu menolaknya?”

Mythgarr mengangguk. “Sesuai pesan Ayah, Aku harus berusaha untuk bertemu tuan Vontus Mauler dan menjadi muridnya dulu sebelum melakukan hal lain.”

“Heh” Vontus tersenyum mengejek.

Mythgarr memandang Vontus Mauler dan menelan ludah, mengambil jeda, lalu berkata “Sepertinya setengah tujuanku kemari tercapai dan setengahnya lagi akan gagal.”

“Maaf Nak, sudah kukatakan, aku tidak mengambil murid!”

“Tapi..”

“Tidak ada tapi-tapian...” Vontus mengambil minumnya, menenggaknya, dan lalu berdiri.

“Hei, Vontus, kemana ka-“ Thellrye mencoba mencegah Vontus berdiri. Vontus tidak menghiraukannya dan melangkah ke arah Mythgarr dan secepat mungkin mencoba menggenggam gagang pedang Mythgarr. Mythgarr secepat kilat menampik tangan Vontus, menggagalkan usaha Vontus menggenggam pedangnya. Vontus tampak terkejut sebentar, lalu dia pun hanya mengangkat bahu “Nak, nak, jangan khawatir, aku hanya ingin melihat hasil karya elf yang membuat Sengat Kembar Sang Kalajengking yang bertengger di bahumu!”

“Tapi Tuan, maaf, itu lancang!” Mythgarr tidak percaya akan apa yang baru saja dilakukan oleh Vontus Mauler. Bagaimana mungkin dia bisa begitu saja mencoba mengambil senjata milik orang lain?

“Vontus, pergilah kamu kalau ingin pergi!” Thellrye berkata kepada Vontus sembari mengibaskan tangannya, memberi isyarat pergi.

Vontus hanya mengangkat bahu dan membelokkan badannya, mengambil langkah keluar. Tapi baru tiga langkah, dia membalikkan wajah dan berkata ke arah Mythgarr “Maaf Nak,” dia lalu terdiam dan memandang Mythgarr “carilah aku di tempat penempaanku kalau kamu butuh sesuatu!”

Vontus lalu melangkah pergi, diiringi tatapan Mythgarr yang masih heran akan perbuatannya.

“Cih, orang itu, sudah makin berumur kelakuannya masih seperti anak kecil.”

Mythgarr menghela nafasnya. “Nona Thellrye dan Tuan Vontus kawan lama?”

Thellrye mengangkat bahunya “Mungkin sejak kami kecil. Tapi entah apakah dia sudah menganggap kami teman dari dulu. Kami sering bertualang bersama, aku dan para saudariku, Vontus, gurumu. Tapi itu cerita untuk nanti, sekarang bagaimana kalau kita kembali ke pembicaraan kita semula.”

“Tentang apa yang ingin kulakukan di sini?””

“Benar sekali,  tentang ingin menjadi apa kamu di sini.”

Mythgarr terdiam sejenak dan memandang mata Thellrye. “Bagaimana caranya seseorang menjadi prajurit bayaran?”

Sekarang giliran Thellrye yang terdiam dan memandang wajah Mythgarr serius “Kenapa kamu ingin menjadi Prajurit bayaran?”

“Aku....senang ketika bertarung, Nona. Tapi bukan sembarang bertarung, bukan pula berkelahi,” Mythgarr mengepalkan tangan dan mengangkatnya ke depan dada dan memandangnya “rasanya aku tidak pernah sesenang ketika menghajar para bandit-bandit yang menyerang rombongan tuan Wayne Pierce.”

Mythgarr kemudian memandang Thellrye dengan tatapan serius “Aku ingin menjadi prajurit bayaran supaya aku bisa membantu orang-orang dengan menghajar para bandit!”

Thellrye tersenyum geli dan menggeleng-gelengkan kepala.

“Mythgarr, menjadi prajurit bayaran bukan berarti kamu akan menghajar para bandit saja. Ada saatnya prajurit bayaran hanya disewa sebagai kuli ke pelayaran-pelayaran jauh. Ada saatnya pula prajurit bayaran disewa sebagai tukang pukul yang dipergunakan untuk menekan lawan, meskipun itu dilakukan dengan sembunyi-sembunyi.”

“Aku....pasti akan menolak pekerjaan-pekerjaan semacam itu.”

“Benarkah?” Thellrye bertanya sembari tersenyum dan memandang Mythgarr tajam “prajurit bayaran harus bergabung dengan sebuah serikat prajurit bayaran, itu sudah peraturan kerajaan ini. Dan kebanyakan serikat prajurit bayaran tidak pandang bulu dalam menerima pekerjaan, dan tidak semua pekerjaan melibatkan menghajar bandit.”

“…”

“Dan tidak semua prajurit bayaran pulang dari mengerjakan pekerjaannya.”

“Maksudnya?”

“Beberapa dari mereka pulang tinggal nama….”

Mythgarr terdiam. Dia baru menyadari bahwa ada resiko seperti yang diutarakan oleh Thellrye.

“Bagaimana anak muda?” Thellrye menyeruput minumannya dan menaruhnya kembali “masih tertarik?”

 Mythgarr tidak menjawab. Tangannya mengepal di atas meja. Dia menundukkan wajahnya. Cukup lama dia terdiam sampai akhirnya Mythgarr mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Thellrye. Tatapan itu membuat Thellrye terkejut.

“Tunjukkan caranya, Nona Thellrye!”

Mythgarr menatap Thellrye dengan tatapan penuh keyakinan.  Keyakinan yang tidak pernah dia lihat sebelumnya sepanjang seratus tahun hidupnya. Thellrye tersenyum. Mythgarr Chromehands, kamu benar-benar ingin menantang hidup ya?

“Baiklah kalau begitu. Aku akan menunjukkan padamu caranya.”

“Baiklah!” Mythgarr tanpa tedeng aling-aling langsung berdiri, memandang pintu keluar,  dan mulai melangkah.

“Tapi kamu harus sarapan dulu!” perintah Thellrye dengan tegas.

“Oh, iya ya..” Mythgarr lalu kembali duduk “umm...bagaimana cara memesan makanan?”

***

Penyihir itu berdiri di satu sisi teras terbuka di atas Kuil Arkana Altenung, memandang ke lautan lepas.  Jubah merah dan rambut coklat panjangnya berkibar-kibar ditiup angin laut yang bertiup kencang. Tongkat sihirnya berdiri tegak dalam genggamannya. Tongkat yang panjang, dengan ujung atasnya melengkung dan berukir membentuk kepala Naga yang mempunyai sepasang tanduk panjang. Tanduk-tanduknya menjadi semacam mata pedang melenkung yang panjang, membuat tongkat sihirnya  menjadi berbentuk seperti sabit besar. Di bawah kepala naga tersebut ada dua buah kristal bulat berwarna merah dan biru yang berpendar-pendar. Di sepanjang tongkat terukir Ranung-ranung yang berpendar-pendar redup kuning kehijauan. Wajahnya tertutup topeng Merah bergaris kuning. Matanya tertutup oleh dua pasang lensa berwarna hijau. Hanya mulut dan dagunya yang tegang tampak terlihat.

“Penyihir Merah!” suara seorang perempuan berteriak memanggil. Sang penyihir tidak bergerak, tidak berbalik, tetap berdiri  di tempatnya.

"Tetap terlalu serius, seperti biasa." sang perempuan bergerak mendekat ke sampingnya "Apa kita punya masalah?"

"Apa kita punya masalah, Kunti Sedono? Kapal-kapal pedagang Domartha dikejar-kejar oleh monster-monster dari lautan dan  Altenung tidak menembakkan meriam-meriam Mana untuk mengusir monster-monster itu.  Apa itu bukan masalah? Apa yang dikatakan oleh para petinggi Altenung? Rangkaian-rangkaian jaringan Mana sedang dalam perawatan malam itu dan tidak dalam kondisi yang  bisa dipergunakan untuk mengisi meriam-meriam Mana. Kapan kalian melaporkan akan melakukan itu? Sang Penyihir memarahi perempuan tadi.

“Tenanglah, Penyihir Merah,” Perempuan tadi tersenyum dengan sedikit menaruh kesal. “Anda tahu sendiri bahwa kebanyakan para penyihir Altenung bukanlah orang-orang yang bisa mengatur dan mengkoordinasi.”

“Perdana Mentri dan Dewan Pengaturan Kerajaan sudah menaruh curiga pada penurunan kemampuan Altenung mengorganisir diri. Kejadian ini akan membuat Altenung lebih disorot! Kamu lihat di bawah sana, Kunti Sedono, bahwa Perdana Mentri sendiri yang mengawasi pekerjaan para penyihir memperbaiki dan membuat kapal-kapal, supaya jalur perdagangan ke selatan tetap bisa berjalan! Mana para anggota Dewan Pengaturan Altenung?”

“Guru Agung Palanca Praree mengatakan bahwa dia tidak ingin bertemu dengan pihak kerajaan sekarang. Dia sedang sibuk menelusuri gelombang magis aneh yang dia rasakan di sekitar kerajaan.”

“Tapi dia Pemimpin Dewan Pengaturan Altenung! Dia yang paling bertanggung jawab atas kegagalan Altenung semalam, dan bertanggung jawab atas banyaknya korban yang jatuh di laut!”

“Selain anda, Penyihir Merah, dan aku Kunti Sedono, penyihir-penyihir lain Dewan Pengaturan Altenung yang lain kebanyakan tidak peduli tentang kejadian di luar sana.”

“Hngh!” Penyihir Merah menggeram marah.  “Sudah tidak bisa dibiarkan. Baiklah, Kunti Sedono, aku akan menunggu di sini sampai para anggota Dewan memutuskan untuk mengurus rumah mereka sendiri dan menemui Perdana Mentri di bawah sana!”

Kunti Sedono tersenyum, merundukkan kepalanya dengan sedikit enggan. “Baiklah, Kunti Sedono akan memberitahukan kepada yang lain.”

“Apakah Jantung Altenung masih berjalan dengan baik?”

“Jantung masih berjalan dengan baik, Penyihir Merah.”

“Terima kasih, Kunti. Sekarang carilah para penyihir lain dan kembalilah dengan kabar dari mereka!”

“Kunti mohon diri, Penyihir Merah.”

Penyihir Merah mengangguk. Kunti berbalik badan dan melangkah ke dalam Altenung, diiringi oleh pandangan kesal Penyihir Merah.

Pria yang disebut Penyihir Merah adalah anggota Dewan Pengawas Sumber Daya Kerajaan yang diberi tugas mengatur dan mengarahkan para penyihir kerajaan, yang kebanyakan berpusat di Altenung. Dia yang menjadi jembatan komunikasi antara Istana dan Altenung.

Altenung yang tidak menembakkan Meriam-meriam Mana karena alasan yang seharusnya diberi tahu sebelumnya tetapi tidak diberi tahu telah membuat pihak Kerajaan kesal. Penyihir Merah diberi mandat untuk mengetahui apa masalahnya dan memberi peringatan kepada petinggi-petinggi Altenung untuk lebih berkoordinasi.

Penyihir Merah menggeleng-gelengkan kepala. Altenung sudah berdiri hampir 50 tahun tetapi para petingginya masih saja tidak bisa berkoordinasi dengan baik.

“Sekumpulan kutu buku...” pikir Penyihir Merah.

Penyihir Merah berjalan ke arah sebuah tembok dan bersandar di sana. Dari posisi itu dia bisa melihat lautan di sebelah kanannya dan pintu masuk ke Altenung di sisi kirinya. Dengan ini dia bisa sedikit bersantai mengawasi apapun yang datang dari Altenung. Dia tidak ingin masuk ke dalam Altenung sebelum Palanca Praree dan Kunti Sedono menemuinya.

Tiba-tiba raungan terdengar dari kepala naga di ujung tongkatnya, menandakan adanya aktivitas magis besar yang muncul.

***

Tamara, Ravi, dan Kia sedang menghabiskan sarapan mereka masing-masing ketika orang itu muncul di kedai. Naluri Tamara langsung membuatnya melihat orang tersebut dan menatapnya tajam-tajam. Ada yang berbahaya dari orang ini.

Dia adalah seorang yang berjubah hitam yang menyelimuti seluruh tubuhnya dan bertudung  ungu. Kulitnya hitam legam kusam. Tubuhnya kurus kering, kulit membalut tulang. Matanya jalang dan menatap sekeliling dengan tatapan seekor hewan pemburu yang lapar.

Orang itu kemudian menatap Tamara yang menatapnya balik dengan tatapan tajam.

“KAU!” teriak orang itu dengan suara yang aneh. Parau, dan terdengar seperti suara dua orang yang bergema dan saling bertautan. Satu suara yang berat, dan satu lagi suara yang melengking yang berayun.  “KAU PELAYANNYA!!” sambil jarinya menunjuk Tamara. Jari yang kurus dan aneh. Ujungnya lebih mirip cakar panjang dan tajam daripada ujung jari manusia.

“Hei orang gila! Pelayannya itu di sana! HA HA HA!” sahut seorang pengunjung rumah makan yang kemudian disambut tawa pengunjung-pengunjung lain.

Orang itu kemudian menatap pengunjung yang menyahut tadi.  Pengunjung tadi langsung bertanya tanpa takut “Kenapa Bung? Kalo lapar duduk dan pesan makanan!”

“KAU! KAU HINA!”


“Hei, bung! Orang gila dilarang masuk ke sini!” kata pengunjung tadi “Orang gila kok bisa dilepas sama kerajaan begini sih?”

“Penyihir stress kali! Otaknya kebanyakan baca buku jadi gila!” sahut pengunjung lain.

“Bukan! Dia orang negeri selatan yang keseret ama kapal kita semalam sampe otaknya doyong kali” kata seorang pengunjung lain.

Tubuh orang berjubah hitam itu tiba-tiba tampak menegang. Dia kemudian meluruskan badannya dan menaikkan tangannya. Wajahnya pun menengadah.

“OOOO, BAGINDA! BAGINDA! BAGINDA!” Tamara makin menatap orang itu tajam. Dia seperti bernyanyi.

“Hei, Tamara, orang gila ini tampaknya berbahaya” Kia berbisik padanya. Ravi tampak tegang dan menggenggam tongkatnya yang dia tegakkkan sedari tadi.

“OOO, BAGINDA! BAGINDA! BAGINDA!” orang tersebut tetap pada posisi semula dan terus meracau.

“Tuan, tuan! Kalau tidak ingin makan, tolong keluar!” Bu Ania berteriak kepada orang itu sembari mengibas-ngibaskan tangannya, memberi isyarat mengusir “Tolong keluar dan jangan ganggu tempat ini!”

Orang itu tiba-tiba menatap Bu Ania dengan tatapan tajam. Gerakannya yang tiba-tiba menyebabkan tudungnya terlepas dari kepalanya, jatuh ke pundaknya. Ini menyebabkan kepalanya jelas terlihat. Bu Ania langsung diam di tempat begitu melihat kepala orang itu.

Kalau dia masih bisa disebut orang.

No comments:

Post a Comment