Saturday, April 23, 2011

Anarki di Pelabuhan - Bagian II

Tudungnya yang tersibak menyingkapkan kengerian yang membentuk kepalanya. Yang bisa disebut sebagai bagian dari orang hanyalah wajahnya yang seperti menempel ke gundukan daging yang membentuk bagian belakang kepala dan lehernya. Gundukan daging tersebut berdenyut-denyut. Selang-selang berwarna merah darah menyeruak dari sela-sela gundukan daging tersebut, bak rambut yang menjijikkan, tumbuh ke arah punggungnya yang berupa gundukan besar bak punuk yang tertutup oleh jubah.

Makhluk tersebut lalu merobek jubahnya, membuat tubuh atasnya terlihat. Tubuh yang sama anehnya dengan kepalanya. Tubuhnya yang kurus dan kering dipenuhi oleh lempengan-lempengan logam misterius yang menutup bagian-bagian dada, perut, serta sisi-sisi tubuhnya. Kristal-kristal hijau gelap tersebar di tubuhnya. Punuknya tersebut adalah gundukan daging merah dengan pembuluh kehijauan yang berpendar-pendar. Tampak sinar hijau samar-samar membentuk perisai bagi punuknya itu. Lengannya semuanya terlihat terbuat dari logam misterius yang menutupi tubuhnya, dengan  dua buah kristal besar menyeruak dari lengan atasnya. Garis-garis hijau berpendar-pendar di logam misterius yang membentuk tubuh makhluk tersebut, bak pembuluh yang mengalirkan mana arkana ke seluruh tubuhnya. 

Beberapa orang langsung berdiri begitu melihat bentuk kepala makhluk tersebut dan menghunus senjata mereka masing-masing. Penyihir dan prajurit bayaran, anak buah kapal, kapten kapal.

“MONSTER!” seseorang berteriak dan melemparkan sebuah tombak ke arah makhluk tersebut. Beberapa orang lain secepat mungkin menarik Bu Ania menjauh dari monster tersebut, membuat mereka hampir terjatuh.

Monster tersebut secepat kilat menangkap tombak yang dilemparkan. Dia menatapnya sejenak dengan tatapan mengerikan, dan meremukkan tombak tersebut dengan kepalannya. Tombak tersebut lalu hancur total oleh ledakan mana kehijauan yang terlontar bak petir dari genggamannya.

“HAHAHAHA! PERCUMA!” tawa makhluk tersebut sangat mengerikan dan menusuk ke jantung para pengunjung. 

Ravinoosh tanpa basa-basi langsung mengayunkan tongkatnya dan melontarkan ledakan mana suci ke arah monster tersebut. Monster tersebut tampak goyah oleh ledakan mana suci Ravi.

“TAMARA! KIA!”

Tamara dan Kia pun mengikuti langkah Ravinoosh, tetapi sia-sia. Makhluk tersebut sudah menaikkan perisai mananya. Ledakan mana suci Tamara dan Kia hanya mengenai perisainya.

“PENYIHIR, BANTU KAMI!” Teriak Ravi. 

“HAHAHA!” makhluk tersebut tertawa dan melontarkan petir-petir kehijauan ke segala arah dengan jari-jarinya. Orang-orang lalu menghindar sebisanya. Beberapa orang terkena dan terjengkang pingsan. Meja-meja dan kursi-kursi berhamburan, pecahan-pecahan kayu, piring-piring, dan gelas-gelas beterbangan.

“KOTORAN PEMUJA TUHAN PALSU, HIDUP KALIAN PERCUMA!” teriak makhluk tersebut sambil menginjak lantai dengan kekuatan yang mengguncang rumah makan tersebut. Guncangan tersebut semakin membuat rumah makan tersebut semakin kacau balau.

Sebuah lontaran mana arkana mengarah ke makhluk tersebut dari seorang penyihir dan mengenai makhluk tersebut dan membuatnya goyah. Makhluk tersebut meringis, lalu tersenyum menyeringai. Mana arkana yang mengenainya tampak diserap dan membuat pembuluh-pembuluhnya berpendar.

“HAHAHA! MAKANAN!” teriaknya. Dia mengayunkan jarinya dan melontarkan bola api hijau ke arah penyihir tadi. Penyihir tadi pun menghindar.

Penyihir-penyihir lain tampak kebingungan. Mereka sudah hampir kehabisan mana setelah bekerja semalaman memperbaiki kapal-kapal dan makhlu ini sepertinya bisa menyerap mana.

Tamara berlindung di balik sebuah meja, terpisah dari Ravi dan Kia. Kia tampak mencoba menyembuhkan seorang yang terkena petir makhluk tadi.  Ravi tampak berkonsentrasi memandang makhluk tadi.

Tamara pun berkonsentrasi. Mana sucinya dikumpulkan. Dia pun berusaha menyerap mana suci yang ada di lingkungannya. Makhluk ini sepertinya takut dengan mana suci dan bisa menyerap mana arkana dengan mudah. Mana suci sepertinya akan dilontarkan oleh perisai mananya. Tapi seberapa kuat dan seberapa lama?

Yang penting sekarang adalah mengeluarkan makhluk ini dari rumah makan, mendorongnya dengan cara apapun. Yang ada di sini adalah para penyihir dan prajurit bayaran, anak buah kapal, dan kapten kapal. Semua mempunyai kekuatan masing-masing. Kekuatan yang kalau bisa digabungkan bisa saja dipergunakan untuk mendorong makhluk ini keluar dari kedai.

Keluar, diseret atau didorong. Diseret dengan rantai, tidak ada rantai, dan mantra miliknya belum ada yang berupa rantai. Didorong.

Ya, didorong!

Tamara pun memberanikan diri bergerak di antara lontaran petir-petir makhluk tadi yang semakin mengacaukan rumah makan, menuju ke Ravi. Dia pun membisikkan sesuatu ke Ravi. Ravi membelalakkan matanya dan mengangguk-angguk. Dia kemudian membisikkan sesuatu. Tamara menyetujuinya. Mereka pun kemudian bergerak merayap menuju posisi Kia, petir-petir berkilatan dan peluru-peluru mana beterbangan di atas mereka, dan tawa bengis makhluk itu terus membahana. Setelah sampai, mereka pun membisikkan rencana mereka ke Kia. Kia memandang mereka setengah tidak percaya, lalu tersenyum. Dia pun membisikkan sesuatu dan mereka pun berdiskusi sejenak. Akhirnya mereka semua pun mengangguk.

“Mari kita berdoa!” ajak Tamara pada kedua temannya. Mereka pun berdoa bersama. Memohon kepada Tuhan untuk kekuatan dan kemenangan mereka, memohon supaya mereka diberi konsentrasi, dan memohon untuk keluar dari masalah ini.

Selesai berdoa, Tamara memandang kedua temannya, dan mereka pun mengangguk.

Tamara pun berdiri dan menghentakkan tongkatnya di lantai sekuatnya. Ini membuat monster tersebut mengalihkan pandangannya ke arah Tamara. Tamara kemudian mengayunkan tongkatnya, melontarkan peluru-peluru mana suci kecil berkecapatan tinggi dengan jumlah yang banyak dan mengarah ke berbagai bagian tubuh monster tersebut. Monster itu mengayunkan tangannya ke sana kemari, sibuk menangkis peluru-peluru Tamara. Beberapa peluru luput dari tangkisannya dan mengenai tubuhnya, membuatnya terlihat kesal.

Dengan kecepatan tinggi, Kia dan Ravinoosh merangsek ke arah monster itu ketika dia sibuk menangkis peluru-peluru Tamara. Mereka mengayunkan tongkat mereka yang berkiluan putih keemasan dengan kecepatan tinggi. Sang monster terpaksa menangkis serangan mereka dan melepaskan pandangan dari serangan-serangan Tamara.

Kia dan Ravinoosh lalu menyerang monster tersebut dengan gerakan-gerakan yang berpadu apik. Kia menyerang kanan, Ravi menyerang kiri. Kia menyerang dari atas, Ravi dari belakang. Kia menghindari serangan, Ravi menyodok ke arah kepala. Monster itu terus menerus menghindar dan mengelak serangan. Kia dan Ravi terus menekan, dan monster itu terus meladeni, sampai tanpa sadar dia tak bisa bergerak.

Kakinya terkunci oleh mana suci Tamara yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya, tongkat sucinya diletakkan di antara telapak kaki monster itu. Monster itu terkejut dan mengibaskan tangannya ke belakang, tapi sia-sia. Dia juga mencoba merubah posisi, tetapi ikatan di kakinya tidak bisa dia lepaskan. Monster tersebut pun marah dan melepaskan petir-petir ke arah Tamara, tetapi kakinya yang terkunci membuat serangannya menghajar ruang kosong.

Kia dan Ravi langsung menyodorkan tongkat suci mereka masing-masing ke monster tersebut. Mana mereka langsung membentuk setengah bola yang mulai membungkus sang monster. Monster itu menarik-narik kakinya, menarik-narik badannya, panik dan mencoba melepaskan diri dari ikatan sekuat mungkin.

Tanpa dinyana, Tamara tiba-tiba melepaskan ikatannya. Ini membuat sang monster kehilangan kendali dan goyah. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Tamara yang langsung mengayunkan tongkatnya ke atas, mengenai selangkangan monster itu, dan dengan kekuatan mana sucinya mengangkatnya ke atas.

Ini memberikan kesempatan kepada Ravi dan Kia untuk menyempurnakan bola mana suci yang melingkupi monster tersebut. Tamara kemudian mengeluarkan tongkatnya dari dalam bola kerangkeng tersebut, menempelkannya ke dinding bola, dan mengalirkan mana suci untuk memperkuat bola itu dan membuatnya melayang.

Monster itu meronta-ronta di dalam bola, dan melontarkan petir-petirnya ke dinding-dinding bola. Dia terkejut ketika Petir-petir itu berbalik mengarah ke dirinya dan menyiksanya.

Berhasil! Pikir Tamara. Mana monster ini memang tidak bisa dipergunakan untuk menyerang mana suci! Karena itulah dia selalu menjadikan mananya perisai ketika diserang mana suci!

Mosnter itu berkali-kali melakukannya, dan berkali-kali pula menyiksa dirinya sendiri, sampai akhirnya dia menyerah dan hanya memukul-mukul dinding bola dengan kesal.

“Baiklah, Kia, Ravi!” Tamara memberi isyarat anggukan kepada Kia dan Ravi. Kia dan Ravi balas mengangguk. Mereka mengangkat bola tersebut ke atas dengan tongkat suci mereka.

“Satu! Dua! TIGA!”

Dengan sekuat tenaga, Kia, Ravi, dan Tamara melempar bola mana suci tersebut keluar dari rumah makan. Bola melayang, menabrak dinding rumah makan yang terbuat dari kayu, mendarat di sisi pantai yang penuh karang, dan kemudian terguling-guling ke arah pantai berpasir.

Tamara memalingkan muka ke arah para pengunjung.

“Siapa saja yang merasa kuat dan ingin mengusir makhluk ini, bergabunglah dengan kami!”

Tanpa menunggu para pengunjung, tabib muda bertiga langsung merangsek keluar mengejar bola mana suci mereka.

Di pantai, monster tersebut tampak terdiam, berkonsentrasi. Ketika para tabib mendekat dengan diikuti oleh beberapa pengunjung rumah makan, dia memandang mereka dengan tatapan ganas dan senyuman mengerikan yang dipenuhi gigi-gigi tajam.

“PARA PEMUJA TUHAN PALSU! KALIAN PIKIR KALIAN TELAH MENANG? HA? MENANG?”

Tamara memandang ke sebelah kirinya dan melihat prajurit-prajurit Domarthia mendekat. Akhirnya! Pikir Tamara. Aku dan kawan-kawan bisa sedikit mengendurkan otot kami.

Tamara memandang ke monster yang terselubungi oleh bola mana suci mereka. Monster itu tampak duduk tenang di dalam bola suci. Tangannya mengapit kedua kakinya yang dilipat menempel ke perut dan dadanya. Wajahnya menengadah ke langit. Mulutnya seperti merapal sesuatu.

Par prajurit mendekat ke bola mana suci tersebut. Mereka membawa dua orang penyihir. Para prajurit dan penyihir kemudian mengambil posisi, bersiap-siap menghentikan segala gerak monster yang terkurung tersebut.

Para pengunjung warung dan orang-orang yang lewat melihat dari atas tepi pantai yang berbatu-batu. Di antara mereka, para prajurit bayaran, penyihir, dan kapten-kapten kapal semua sudah menghunus senjata mereka.

Monster tersebut tetap tenang dan merapal mantra. Para penyihir dan tabib suci mulai merasakan adanya gelombang sihir yang muncul dari tengah laut.

Sejurus kemudian, sekitar sepuluh lemparan tombak dari pantai, air laut meledak tinggi.

***

“Penyihir Merah berdiri di tepi teras Altenung, dua lemparan tombak dari atas permukaan laut. Matanya memandang ke tepi pantai dimana dia merasakan adanya energi sihir asing yang mengalir.

“Adinetra”  kaca kristal pelindung mata di helmnya berubah menyala kebiruan, memberikan tambahan pada pandangannya. Garis-garis bersilangan dan lingkaran-lingkaran muncul pada pandangannya. Sesaat kemudian mereke menyatu pada sumber sihir asing tersebut.

“Adinetra Beratusdepa” pandangan matanya membawanya mendekat menuju ke sumber sihir asing tersebut. Sesosok aneh yang menyerupai monster, terbungkus dalam bola magis mana suci. Dari sosok itu energi magis terpancar, alirannya menuju ke laut. Penyihir Merah mengikuti aliran magis itu, membawa pandangannya ke sepuluh lemparan tombak dari pantai. Rapalan magis itu berkumpul di sana.

Membuka sebuah gerbang dimensi.

“Adinetra mati” Pandangan Penyihir Merah berubah menjadi normal kembali. Dia kemudian melangkah cepat-cepat menuju Gerbang Altenung, membuat para penjaga gerbang yang ada di situ kaget dan secara refleks menghunuskan senjata magis mereka ke arah Penyihir Merah.

“Atas nama Raja, biarkan aku masuk!”

Para pengawal, begitu melihat siapa yang datang ternyata, menyingkirkan senjata mereka dan membiarkan Penyihir Merah mendekat.

Penyihir Merah mengarahkan kristal di kepala tongkatnya arah gerbang Altenung dan membuat gerbang terbuka paksa. Tanpa basa-basi, penyihir merah melangkah masuk ke dalam Altenung.

Penyihir Merah disambut oleh ruangan besar dengan pilar-pilar besar yang memancarkan cahaya-cahaya dari ranung-ranung yang terukir di permukaan mereka. Ranung-ranung yang terhubung dengan jalur-jalur energi mana yang terukir di semua pilar-pilar Altenung. Penyihir Merah berjalan dengan langkah pasti dan cepat. Seorang penyihir muda mendekatinya, tetapi Penyihir Merah terus berjalan seakan-akan tidak menghiraukan.

“Salam, Penyihir Merah, tolong horma-“ Penyihir yang mendekati memberinya salam dan mencoba mencegahnya melangkah lanjut.

“ Merding, Tidakkah sistem peringatan Altenung mendeteksi sesuatu di laut lepas?” tanya Penyihir Merah dengan kata-kata yang menyiratkan kemarahan, langkahnya terus diayun cepat tanpa kompromi.

“Kami baru saja mendapatkannya, tapi –“ Merding sang penyihir mencoba mengiringi kecepatan langkah Penyihir Merah

“Tidak ada tapi-tapian. Siagakan semua Meriam Mana Altenung.”

“Tapi aku hanya petugas jaga-“

Penyihir Merah berhenti tiba-tiba, Merding hampir menabraknya. Penyihir Merah berbalik badan dan mukanya didekatkan ke muka Merding. “Katakan pada pemimpinmu, sekarang juga, Penyihir Merah sedang mengambil alih Altenung!” Penyihir Merah mendorong penyihir itu, mulai melangkah sambil memberi telunjuknya ke Merding “SEKARANG, MERDING!”

Merding terdiam sejenak, matanya berkedip-kedip, dan kemudian seperti tersadar dari mimpi, dia pun menggeleng-gelengkan kepalanya dan berlari ke sebuah lorong.

Penyihir Merah terus berjalan dengan kecepatan tinggi, menyusuri lorong-lorong tinggi Altenung. Jembatan-jembatan antar ruangan lewat di atas kepalanya seiring langkahnya. Penyihir-penyihir, di atas jembatan, di lorong, maupun yang sedang melayang menuju jembatan, semua berpaling ke arahnya. Beberapa berhenti dan memberi salam. Penyihir Merah hanya mengangguk dan melambaikan tangannya pada mereka.

Setelah penyihir merah melangkah kurang lebih satu lemparan tombak,  enam penyihir berjubah dan berkudung merah dengan menunggangi tongkat-tongkat sihir mereka melayang mendekat ke Penyihir Merah.

“Penyihir Merah, empat Meriam Mana sudah disiapkan!” seru satu orang diantara mereka, seorang penyihir tua dengan kumis dan janggut panjang.

Penyihir Merah melempar tongkat miliknya ke depan, dan dia pun melompat, mendarat di tongkat sihirnya, dan melayang dengan berlandaskan tongkatnya, menelusuri lorong.

“Hanya empat, Tuan Varasshe?”

“Tolong dimengerti, Penyihir Merah, beberapa Meriam Mana mengalami gagal muatan ketika kami mengujinya beberapa hari lalu.”

“Baiklah, aku akan mengerti itu. Tapi Kerajaan akan tidak mengerti kenapa mereka bisa gagal muatan.”

“Laporan sudah kami kirimkan hari ini ke Perdana Mentri”

“Bagus. Terima kasih. Bagaimana dengan sembilan Meriam Mana lainnya?”

“Lima sudah hampir bisa dipergunakan. Empat lagi sedang mengalami perbaikan jalur dan pemurni mana.”

“Jantung?”

“Jantung dalam keadaan baik-baik saja. Tidak ada masalah dengan fungsinya”

“Baiklah.”

Penyihir Merah dan enam penyihir itu pun terus melesat menelusuri lorong-lorong Altenung.  Beberapa saat kemudian, tiga penyihir lain menyusul mereka. Penyihir Merah melihat ke arah mereka dan melihat Kunti Sedono diantara mereka. Dua penyihir lain adalah anggota Dewan Altenung. Tidak ada ketua dewan di antara mereka. Penyihir Merah mendesah. Ketua Dewan Pengaturan Altenung harus diberi peringatan.

Rombongan Penyihir Merah meneruskan perjalanan mereka menelusuri lorong-lorong Altenung, menuju lorong yang akan membawa mereka ke bagian atasnya. Lorong itu adalah lorong yang berakhir buntu. Hanya penyihir-penyihir terpilih dan terpercaya yang mengetahui rahasia lorong ini. Penyihir Merah dan rombongannya adalah penyihir-penyihir itu. Begitu mencapai ujung lorong, Penyihir Merah langsung dengan kakinya membelokkan tongkatnya ke atas, menembus plafon lorong, dan terbang menelusuri lorong rahasia yang membawa mereka tujuan mereka, Balai Meriam Mana, tempat di mana Meriam-Meriam Mana bersiap untuk ditembakkan.

Rombongan mendarat di Balai Meriam Mana yang merupakan ruangan melingkar yang besar, berlangit-langit tinggi, dan penuh alat-alat magis. Jalur-jalur energi mana melintas dan terhubung dengan ranung-ranung yang terukir dinding balai. Penyihir Merah langsung mengarah ke sebuah papan besar bercahaya. Di permukaan papan itu terdapat sebuah gambar yang menunjukkan rangkaian-rangkaian energi yang mengalir ke masing-masing meriam mana dan dari sana mengalir ke laras mereka di dinding-dinding luar  Menara Altenung. Empat meriam mana menyala hijau, lima yang lain berwarna kuning, dan sisa empat menyala merah.

Penyihir Merah berdiri di depan papan itu dan matanya langsung menangkap informasi-informasi yang tertera di layar. Empat meriam siap ditembakkan.

“Netraluas”. Informasi-informasi yang tertera di papan berubah menjadi sebuah peta dengan Altenung sebagai pusatnya dan Damarshkant berada di bagian utara dari peta. Ratusan titik hijau tertera di peta tersebut. Sebagaian besar dari mereka bergerak – gerak. Di bagian barat laut dan barat daya tampak sebuah titik merah yang berkedap-kedip.

“Kunti, Tuan Varasshe, Mana asing yang menyeruak masuk dari titik ini, apakah kalian sudah mengidentifikasinya!”  

“Kami sudah mendeteksinya dari tadi, Penyihir Merah” Kunti Sedono menjawab “dari polanya, itu adalah Mana yang dipergunakan untuk merobek paksa dimensi.”

“Merobek paksa....sesuatu yang besar sedang dipanggil” Penyihir Merah menyentuh papan tersebut di titik merah dan titik tersebut. Sekarang di titik tersebut terdapat angka-angka yang menunjukkan tingkat energi magis yang berkumpul dan garis-garis putus-putus yang muncul dari beberapa tempat. Satu tempat adalah titik di pantai dimana monster tersebut berada, tempat lain berada jauh dari Damarshkant.

Energi magis ini.... Penyihir Merah berpikir, lalu menggeleng, nanti saja  

 “Energi magis yang meledak ketika dia masuk ke dimensi ini bisa berbahaya untuk kestabilan jaringan mana sekitar Damarshkant!”

“Benar seka-“ belum selesai Varasshe berucap, para penyihir merasakan adanya ledakan energi yang mengguncang ether di sekitar mereka. Papan tersebut mengeluarkan suara peringatan yang keras.

“Siapkan empat laras untuk menembak,” Penyihir Merah memberi perintah dan membalikkan badan ke arah para penyihir “apa kalian sudah menyiapkan Jarungu?”

Varasshe, Kunti Sedono, dan para penyihir lain mengangguk, mereka semua mengeluarkan sebuah alat berupa cakram sebesar genggaman tangan dengan kristal lingkaran di tengah-tengahnya dengan beberapa tombol di sekelilingnya. Mereka menekan kristal tersebut dan mana mengalir dari kristal ke telinga mereka.

Penyihir Merah lalu berdiri di atas tongkatnya dan mulai melayang berdiri di atas tongkatnya dan mulai melayang

“Baiklah, Tuan Varasshe, Kunti Sedono, sekarang mari kita keluar menyambut tamu besar ini!”

Penyihir Merah terbang ke langit-langit

“Jarod, Kathwyz, Rethano, Kianat, kalian tinggal di sini menunggu aba-aba dari kami untuk menembakkan meriam,” Varasshe memberikan perintah kepada para penyihir.

“Erona, tolong beritahu anggota Dewan yang lain apa yang kami lakukan sekarang. Semoga mereka bisa membantu!” 

Penyihir bernama Erona pun memegang tongkatnya dan melompat ke dalam lorong yang menuju ke bawah.

“Baiklah, mari kita bantu Tuan Penyihir Merah menghadapi monster itu!”

Lima penyihir pun melesat mengikut Penyihir Merah, menuju ledakan energi magis yang mengancam Domarthia.

Sunday, April 3, 2011

Anarki di Pelabuhan - Bagian I

Mythgarr duduk menyimak. Di depannya, di balik meja warung Dwarf Girang, duduk Thellrye Symthee dan Vontus Mauler. Thellrye mengajaknya duduk di meja ini karena Sang Ratu Prajurit Sewaan ingin memberikan petunjuk bagaimana cara menjadi pendekar di Damarshkant.

 “Baiklah, anak muda, karena kamu baru saja memasuki Damarshkant dan tidak mempunyai siapa yang bisa menjamin keberadaanmu di sini, satu-satunya pilihanmu adalah bergabung dengan tentara kerajaan, itu pun kalau kamu lulus tes –“

“dan tahan didoktrin...” kata Vontus sambil lalu.

“Vontus, jangan menyerobot pembicaraan orang!” Thellrye Symthee menatap Vontus Mauler dengan kesal, lalu menatap Mythgarr kembali “Baiklah, kita teruskan. Mythgarr, seperti kataku tadi, kamu bisa bergabung dengan tentara kerajaan, atau menjual jasamu menjadi prajurit sewaan.”

“...sebenarnya aku mungkin punya seseorang yang bisa menjamin keberadaanmu di sini...”

“Wayne Pierce?” tanya Thellrye.

“Ya, Tuan Wayne Pierce,” jawab Mythgarr “dia menawarkan bergabung dengan rombongannya.”

“Lalu kamu menolaknya?”

Mythgarr mengangguk. “Sesuai pesan Ayah, Aku harus berusaha untuk bertemu tuan Vontus Mauler dan menjadi muridnya dulu sebelum melakukan hal lain.”

“Heh” Vontus tersenyum mengejek.

Mythgarr memandang Vontus Mauler dan menelan ludah, mengambil jeda, lalu berkata “Sepertinya setengah tujuanku kemari tercapai dan setengahnya lagi akan gagal.”

“Maaf Nak, sudah kukatakan, aku tidak mengambil murid!”

“Tapi..”

“Tidak ada tapi-tapian...” Vontus mengambil minumnya, menenggaknya, dan lalu berdiri.

“Hei, Vontus, kemana ka-“ Thellrye mencoba mencegah Vontus berdiri. Vontus tidak menghiraukannya dan melangkah ke arah Mythgarr dan secepat mungkin mencoba menggenggam gagang pedang Mythgarr. Mythgarr secepat kilat menampik tangan Vontus, menggagalkan usaha Vontus menggenggam pedangnya. Vontus tampak terkejut sebentar, lalu dia pun hanya mengangkat bahu “Nak, nak, jangan khawatir, aku hanya ingin melihat hasil karya elf yang membuat Sengat Kembar Sang Kalajengking yang bertengger di bahumu!”

“Tapi Tuan, maaf, itu lancang!” Mythgarr tidak percaya akan apa yang baru saja dilakukan oleh Vontus Mauler. Bagaimana mungkin dia bisa begitu saja mencoba mengambil senjata milik orang lain?

“Vontus, pergilah kamu kalau ingin pergi!” Thellrye berkata kepada Vontus sembari mengibaskan tangannya, memberi isyarat pergi.

Vontus hanya mengangkat bahu dan membelokkan badannya, mengambil langkah keluar. Tapi baru tiga langkah, dia membalikkan wajah dan berkata ke arah Mythgarr “Maaf Nak,” dia lalu terdiam dan memandang Mythgarr “carilah aku di tempat penempaanku kalau kamu butuh sesuatu!”

Vontus lalu melangkah pergi, diiringi tatapan Mythgarr yang masih heran akan perbuatannya.

“Cih, orang itu, sudah makin berumur kelakuannya masih seperti anak kecil.”

Mythgarr menghela nafasnya. “Nona Thellrye dan Tuan Vontus kawan lama?”

Thellrye mengangkat bahunya “Mungkin sejak kami kecil. Tapi entah apakah dia sudah menganggap kami teman dari dulu. Kami sering bertualang bersama, aku dan para saudariku, Vontus, gurumu. Tapi itu cerita untuk nanti, sekarang bagaimana kalau kita kembali ke pembicaraan kita semula.”

“Tentang apa yang ingin kulakukan di sini?””

“Benar sekali,  tentang ingin menjadi apa kamu di sini.”

Mythgarr terdiam sejenak dan memandang mata Thellrye. “Bagaimana caranya seseorang menjadi prajurit bayaran?”

Sekarang giliran Thellrye yang terdiam dan memandang wajah Mythgarr serius “Kenapa kamu ingin menjadi Prajurit bayaran?”

“Aku....senang ketika bertarung, Nona. Tapi bukan sembarang bertarung, bukan pula berkelahi,” Mythgarr mengepalkan tangan dan mengangkatnya ke depan dada dan memandangnya “rasanya aku tidak pernah sesenang ketika menghajar para bandit-bandit yang menyerang rombongan tuan Wayne Pierce.”

Mythgarr kemudian memandang Thellrye dengan tatapan serius “Aku ingin menjadi prajurit bayaran supaya aku bisa membantu orang-orang dengan menghajar para bandit!”

Thellrye tersenyum geli dan menggeleng-gelengkan kepala.

“Mythgarr, menjadi prajurit bayaran bukan berarti kamu akan menghajar para bandit saja. Ada saatnya prajurit bayaran hanya disewa sebagai kuli ke pelayaran-pelayaran jauh. Ada saatnya pula prajurit bayaran disewa sebagai tukang pukul yang dipergunakan untuk menekan lawan, meskipun itu dilakukan dengan sembunyi-sembunyi.”

“Aku....pasti akan menolak pekerjaan-pekerjaan semacam itu.”

“Benarkah?” Thellrye bertanya sembari tersenyum dan memandang Mythgarr tajam “prajurit bayaran harus bergabung dengan sebuah serikat prajurit bayaran, itu sudah peraturan kerajaan ini. Dan kebanyakan serikat prajurit bayaran tidak pandang bulu dalam menerima pekerjaan, dan tidak semua pekerjaan melibatkan menghajar bandit.”

“…”

“Dan tidak semua prajurit bayaran pulang dari mengerjakan pekerjaannya.”

“Maksudnya?”

“Beberapa dari mereka pulang tinggal nama….”

Mythgarr terdiam. Dia baru menyadari bahwa ada resiko seperti yang diutarakan oleh Thellrye.

“Bagaimana anak muda?” Thellrye menyeruput minumannya dan menaruhnya kembali “masih tertarik?”

 Mythgarr tidak menjawab. Tangannya mengepal di atas meja. Dia menundukkan wajahnya. Cukup lama dia terdiam sampai akhirnya Mythgarr mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Thellrye. Tatapan itu membuat Thellrye terkejut.

“Tunjukkan caranya, Nona Thellrye!”

Mythgarr menatap Thellrye dengan tatapan penuh keyakinan.  Keyakinan yang tidak pernah dia lihat sebelumnya sepanjang seratus tahun hidupnya. Thellrye tersenyum. Mythgarr Chromehands, kamu benar-benar ingin menantang hidup ya?

“Baiklah kalau begitu. Aku akan menunjukkan padamu caranya.”

“Baiklah!” Mythgarr tanpa tedeng aling-aling langsung berdiri, memandang pintu keluar,  dan mulai melangkah.

“Tapi kamu harus sarapan dulu!” perintah Thellrye dengan tegas.

“Oh, iya ya..” Mythgarr lalu kembali duduk “umm...bagaimana cara memesan makanan?”

***

Penyihir itu berdiri di satu sisi teras terbuka di atas Kuil Arkana Altenung, memandang ke lautan lepas.  Jubah merah dan rambut coklat panjangnya berkibar-kibar ditiup angin laut yang bertiup kencang. Tongkat sihirnya berdiri tegak dalam genggamannya. Tongkat yang panjang, dengan ujung atasnya melengkung dan berukir membentuk kepala Naga yang mempunyai sepasang tanduk panjang. Tanduk-tanduknya menjadi semacam mata pedang melenkung yang panjang, membuat tongkat sihirnya  menjadi berbentuk seperti sabit besar. Di bawah kepala naga tersebut ada dua buah kristal bulat berwarna merah dan biru yang berpendar-pendar. Di sepanjang tongkat terukir Ranung-ranung yang berpendar-pendar redup kuning kehijauan. Wajahnya tertutup topeng Merah bergaris kuning. Matanya tertutup oleh dua pasang lensa berwarna hijau. Hanya mulut dan dagunya yang tegang tampak terlihat.

“Penyihir Merah!” suara seorang perempuan berteriak memanggil. Sang penyihir tidak bergerak, tidak berbalik, tetap berdiri  di tempatnya.

"Tetap terlalu serius, seperti biasa." sang perempuan bergerak mendekat ke sampingnya "Apa kita punya masalah?"

"Apa kita punya masalah, Kunti Sedono? Kapal-kapal pedagang Domartha dikejar-kejar oleh monster-monster dari lautan dan  Altenung tidak menembakkan meriam-meriam Mana untuk mengusir monster-monster itu.  Apa itu bukan masalah? Apa yang dikatakan oleh para petinggi Altenung? Rangkaian-rangkaian jaringan Mana sedang dalam perawatan malam itu dan tidak dalam kondisi yang  bisa dipergunakan untuk mengisi meriam-meriam Mana. Kapan kalian melaporkan akan melakukan itu? Sang Penyihir memarahi perempuan tadi.

“Tenanglah, Penyihir Merah,” Perempuan tadi tersenyum dengan sedikit menaruh kesal. “Anda tahu sendiri bahwa kebanyakan para penyihir Altenung bukanlah orang-orang yang bisa mengatur dan mengkoordinasi.”

“Perdana Mentri dan Dewan Pengaturan Kerajaan sudah menaruh curiga pada penurunan kemampuan Altenung mengorganisir diri. Kejadian ini akan membuat Altenung lebih disorot! Kamu lihat di bawah sana, Kunti Sedono, bahwa Perdana Mentri sendiri yang mengawasi pekerjaan para penyihir memperbaiki dan membuat kapal-kapal, supaya jalur perdagangan ke selatan tetap bisa berjalan! Mana para anggota Dewan Pengaturan Altenung?”

“Guru Agung Palanca Praree mengatakan bahwa dia tidak ingin bertemu dengan pihak kerajaan sekarang. Dia sedang sibuk menelusuri gelombang magis aneh yang dia rasakan di sekitar kerajaan.”

“Tapi dia Pemimpin Dewan Pengaturan Altenung! Dia yang paling bertanggung jawab atas kegagalan Altenung semalam, dan bertanggung jawab atas banyaknya korban yang jatuh di laut!”

“Selain anda, Penyihir Merah, dan aku Kunti Sedono, penyihir-penyihir lain Dewan Pengaturan Altenung yang lain kebanyakan tidak peduli tentang kejadian di luar sana.”

“Hngh!” Penyihir Merah menggeram marah.  “Sudah tidak bisa dibiarkan. Baiklah, Kunti Sedono, aku akan menunggu di sini sampai para anggota Dewan memutuskan untuk mengurus rumah mereka sendiri dan menemui Perdana Mentri di bawah sana!”

Kunti Sedono tersenyum, merundukkan kepalanya dengan sedikit enggan. “Baiklah, Kunti Sedono akan memberitahukan kepada yang lain.”

“Apakah Jantung Altenung masih berjalan dengan baik?”

“Jantung masih berjalan dengan baik, Penyihir Merah.”

“Terima kasih, Kunti. Sekarang carilah para penyihir lain dan kembalilah dengan kabar dari mereka!”

“Kunti mohon diri, Penyihir Merah.”

Penyihir Merah mengangguk. Kunti berbalik badan dan melangkah ke dalam Altenung, diiringi oleh pandangan kesal Penyihir Merah.

Pria yang disebut Penyihir Merah adalah anggota Dewan Pengawas Sumber Daya Kerajaan yang diberi tugas mengatur dan mengarahkan para penyihir kerajaan, yang kebanyakan berpusat di Altenung. Dia yang menjadi jembatan komunikasi antara Istana dan Altenung.

Altenung yang tidak menembakkan Meriam-meriam Mana karena alasan yang seharusnya diberi tahu sebelumnya tetapi tidak diberi tahu telah membuat pihak Kerajaan kesal. Penyihir Merah diberi mandat untuk mengetahui apa masalahnya dan memberi peringatan kepada petinggi-petinggi Altenung untuk lebih berkoordinasi.

Penyihir Merah menggeleng-gelengkan kepala. Altenung sudah berdiri hampir 50 tahun tetapi para petingginya masih saja tidak bisa berkoordinasi dengan baik.

“Sekumpulan kutu buku...” pikir Penyihir Merah.

Penyihir Merah berjalan ke arah sebuah tembok dan bersandar di sana. Dari posisi itu dia bisa melihat lautan di sebelah kanannya dan pintu masuk ke Altenung di sisi kirinya. Dengan ini dia bisa sedikit bersantai mengawasi apapun yang datang dari Altenung. Dia tidak ingin masuk ke dalam Altenung sebelum Palanca Praree dan Kunti Sedono menemuinya.

Tiba-tiba raungan terdengar dari kepala naga di ujung tongkatnya, menandakan adanya aktivitas magis besar yang muncul.

***

Tamara, Ravi, dan Kia sedang menghabiskan sarapan mereka masing-masing ketika orang itu muncul di kedai. Naluri Tamara langsung membuatnya melihat orang tersebut dan menatapnya tajam-tajam. Ada yang berbahaya dari orang ini.

Dia adalah seorang yang berjubah hitam yang menyelimuti seluruh tubuhnya dan bertudung  ungu. Kulitnya hitam legam kusam. Tubuhnya kurus kering, kulit membalut tulang. Matanya jalang dan menatap sekeliling dengan tatapan seekor hewan pemburu yang lapar.

Orang itu kemudian menatap Tamara yang menatapnya balik dengan tatapan tajam.

“KAU!” teriak orang itu dengan suara yang aneh. Parau, dan terdengar seperti suara dua orang yang bergema dan saling bertautan. Satu suara yang berat, dan satu lagi suara yang melengking yang berayun.  “KAU PELAYANNYA!!” sambil jarinya menunjuk Tamara. Jari yang kurus dan aneh. Ujungnya lebih mirip cakar panjang dan tajam daripada ujung jari manusia.

“Hei orang gila! Pelayannya itu di sana! HA HA HA!” sahut seorang pengunjung rumah makan yang kemudian disambut tawa pengunjung-pengunjung lain.

Orang itu kemudian menatap pengunjung yang menyahut tadi.  Pengunjung tadi langsung bertanya tanpa takut “Kenapa Bung? Kalo lapar duduk dan pesan makanan!”

“KAU! KAU HINA!”


“Hei, bung! Orang gila dilarang masuk ke sini!” kata pengunjung tadi “Orang gila kok bisa dilepas sama kerajaan begini sih?”

“Penyihir stress kali! Otaknya kebanyakan baca buku jadi gila!” sahut pengunjung lain.

“Bukan! Dia orang negeri selatan yang keseret ama kapal kita semalam sampe otaknya doyong kali” kata seorang pengunjung lain.

Tubuh orang berjubah hitam itu tiba-tiba tampak menegang. Dia kemudian meluruskan badannya dan menaikkan tangannya. Wajahnya pun menengadah.

“OOOO, BAGINDA! BAGINDA! BAGINDA!” Tamara makin menatap orang itu tajam. Dia seperti bernyanyi.

“Hei, Tamara, orang gila ini tampaknya berbahaya” Kia berbisik padanya. Ravi tampak tegang dan menggenggam tongkatnya yang dia tegakkkan sedari tadi.

“OOO, BAGINDA! BAGINDA! BAGINDA!” orang tersebut tetap pada posisi semula dan terus meracau.

“Tuan, tuan! Kalau tidak ingin makan, tolong keluar!” Bu Ania berteriak kepada orang itu sembari mengibas-ngibaskan tangannya, memberi isyarat mengusir “Tolong keluar dan jangan ganggu tempat ini!”

Orang itu tiba-tiba menatap Bu Ania dengan tatapan tajam. Gerakannya yang tiba-tiba menyebabkan tudungnya terlepas dari kepalanya, jatuh ke pundaknya. Ini menyebabkan kepalanya jelas terlihat. Bu Ania langsung diam di tempat begitu melihat kepala orang itu.

Kalau dia masih bisa disebut orang.