Tamara berdiri dan memandang sekitar, mencari-cari Tabib Mahulae. Langkahnya kemudian diayunkan ke arah ayahnya yang sedang memberi obat pada seorang yang tampak seperti prajurit.
“Ayah” Tamara memanggil “ananda pamit pulang dulu”.
Tabib Mahulae membaringkan dan menyelimuti sang prajurit, kemudian berdiri memandang Tamara.
“Ya, Nak, pulanglah. Istirahatlah”
Tamara kemudian mencium tangan ayahandanya. Tabib Mahulae mencium kening anaknya. Tamara kemudian mengambil tas dan tongkat sihirnya dan melangkah keluar dari ruang perawatan. Sembari melangkah, tak lupa dia menyapa para tabib lain dan pamit pada mereka. Tamara keluar bersamaan dengan dua tabib lain yang juga menginginkan istirahat setelah malam yang panjang.
“Selamat Pagi, Ravi, Kia” Tamara menyapa mereka ramah.
“Met pagi, Tam” jawab Ravinoosh pendek.
“Selamat Pagi, Tam” Tan Kia menjawab berbarengan dengan Ravinoosh.
Ravinoosh adalah seorang tabib laki-laki muda berambut jabrik coklat kemerahan, berkulit pucat dan mengenakan bandana kuning pertanda tabib pendekar di lehernya. Wajahnya tidak istimewa, matanya pun terlihat kuyu, tetapi genggamannya pada tongkat tabibnya menandakan seorang yang kuat. Tan Kia adalah tabib perempuan muda yang berperawakan menarik dengan rambut hitam yang panjang sepinggang, diikat dengan bandana kuningnya. Wajahnya cerah menarik dengan mata hitam yang sipit. Tan Kia juga seorang tabib petarung, dan dia membawa tongkatnya menyilang di punggungnya. Mereka berdua adalah rekan satu angkatan Tamara.
“Kalian mau sarapan dulu?” tanya Ravinoosh, dengan gaya acuh tak acuh.
“Ide bagus, Ravi” timpal Kia “tempat biasa?”
Tamara hanya diam ketika Kia menatapnya, mencari persetujuannya. Tempat biasa mereka adalah sebuah warung makan yang cukup ramai, tidak jauh dari situ. Warung makan yang juga dekat dengan Madrasah Pertabiban Damarshkant. Tamara biasanya tidak menolak ajakan untuk makan bersama teman-temannya, tapi hari ini rasanya berbeda. Rasanya dia ingin sarapan di pantai.
“Aku ingin sarapan di kedai Pak Danu....” Tamara mengusulkan.
“Di tepi pantai dekat pelabuhan itu?” tanya Kia “uh....penuh kelasi kan?”
“Ide yang lumayan” jawab Ravinoosh. “sarapan di temani sinar matahari pagi langsung dan angin pantai.....”
“Iya” Tamara mulai berjalan ke arah pantai “rasanya ingin lebih banyak terkena sinar matahari pagi hari ini...”
“Ya ya” Kia mengikuti langkahnya dengan berat hati “oke lah kalau begitu...”
“Oke..oke...” Ravi mengiringi langkah mereka berdua dari belakang. Genggamannya tetap kokoh di tongkatnya.
Mereka berjalan bertiga ke arah pelabuhan. Matahari sudah setengah tampak di ufuk, sinarnya sudah mulai menyemburat ke langit yang sedikit berawan. Pagi ini Damarshkant tampak hiruk-pikuk, lebih dari biasanya. Gerobak-gerobak berisikan tukang-tukang dan peralatan-peralatan mereka tampak lalu lalang dengan terburu-buru. Yang tampak mencolok adalah rombongan tukang kayu dan kayu-kayu mereka yang memenuhi jalan menuju pelabuhan. Prajurit-prajurit Damarshkant tampak mengawal mereka.
Kia mendehem begitu melihat para prajurit itu. Dia menyikut-nyikut Tamara.
“Apaan sih, Kia?” Tamara tampak tersenyum
“Itu tuuuh....Prajurit..”
“Emangnya kenapa dengan prajurit?” Tamara tampak berusaha mengacuhkan, tetapi wajahnya tampak memerah.
“Kaptenmu tersayang itu lo...” Kia cekikikan “dia ikut gak?”
“Ndak tau ya....” Tamara mesem-mesem.
“Daigan Virsom..” Ravi menimpali “bukan tugasnya Prajurit Pengawal Suci untuk mengawal hal-hal semacam ini..”
Tan Kia pun menimpuk Ravinoosh. “Dasar gak asik!”
Ravi hanya mengusap-usap kepalanya sembari menatap Kia datar.
Ketika mereka semakin mendekati pantai, tampak semburat sinar-sinar magis berseliweran dari arah pelabuhan. Kayu-kayu tampak beterbangan.
