Tuesday, November 30, 2010

Pedang dan Tenung - Bagian II

Tamara berdiri dan memandang sekitar, mencari-cari Tabib Mahulae. Langkahnya kemudian diayunkan ke arah ayahnya yang sedang memberi obat pada seorang yang tampak seperti prajurit.

“Ayah” Tamara memanggil “ananda pamit pulang dulu”.

Tabib Mahulae membaringkan dan menyelimuti sang prajurit, kemudian berdiri memandang Tamara.

“Ya, Nak, pulanglah. Istirahatlah”

Tamara kemudian mencium tangan ayahandanya. Tabib Mahulae mencium kening anaknya. Tamara kemudian mengambil tas dan tongkat sihirnya dan melangkah keluar dari ruang perawatan. Sembari melangkah, tak lupa dia menyapa para tabib lain dan  pamit pada mereka. Tamara keluar bersamaan dengan dua tabib lain yang  juga menginginkan istirahat setelah malam yang panjang.

 “Selamat Pagi, Ravi, Kia” Tamara menyapa mereka ramah.

“Met pagi, Tam” jawab Ravinoosh pendek.

“Selamat Pagi, Tam” Tan Kia menjawab berbarengan dengan Ravinoosh.

Ravinoosh adalah seorang tabib laki-laki muda berambut jabrik coklat kemerahan, berkulit pucat dan mengenakan bandana kuning pertanda tabib pendekar di lehernya. Wajahnya tidak istimewa, matanya pun terlihat kuyu, tetapi genggamannya pada tongkat tabibnya menandakan seorang yang kuat. Tan Kia adalah tabib perempuan muda yang berperawakan menarik dengan rambut hitam yang panjang sepinggang, diikat dengan bandana kuningnya. Wajahnya cerah menarik dengan mata hitam yang sipit. Tan Kia juga seorang tabib petarung, dan dia membawa tongkatnya menyilang di punggungnya.  Mereka berdua adalah rekan satu angkatan Tamara.

“Kalian mau sarapan dulu?” tanya Ravinoosh, dengan gaya acuh tak acuh.

“Ide bagus, Ravi” timpal Kia “tempat biasa?”

Tamara hanya diam ketika Kia menatapnya, mencari persetujuannya. Tempat biasa mereka adalah sebuah warung makan yang cukup ramai, tidak jauh dari situ. Warung makan yang juga dekat dengan Madrasah Pertabiban Damarshkant. Tamara biasanya tidak menolak ajakan untuk makan bersama teman-temannya, tapi hari ini rasanya berbeda. Rasanya dia ingin sarapan di pantai.

“Aku ingin sarapan di kedai Pak Danu....” Tamara mengusulkan.

“Di tepi pantai dekat pelabuhan itu?” tanya Kia “uh....penuh kelasi kan?”

“Ide yang lumayan” jawab Ravinoosh. “sarapan di temani sinar matahari pagi langsung dan angin pantai.....”

“Iya” Tamara mulai berjalan ke arah pantai “rasanya ingin lebih banyak terkena sinar matahari pagi hari ini...”

“Ya ya” Kia mengikuti langkahnya dengan berat hati “oke lah kalau begitu...”

“Oke..oke...”  Ravi mengiringi langkah mereka berdua dari belakang. Genggamannya tetap kokoh di tongkatnya.

Mereka berjalan bertiga ke arah pelabuhan. Matahari sudah setengah tampak di ufuk, sinarnya sudah mulai menyemburat ke langit yang sedikit berawan. Pagi ini Damarshkant tampak hiruk-pikuk, lebih dari biasanya. Gerobak-gerobak berisikan tukang-tukang dan peralatan-peralatan mereka tampak lalu lalang dengan terburu-buru. Yang tampak mencolok adalah rombongan tukang kayu dan kayu-kayu mereka yang memenuhi jalan menuju pelabuhan. Prajurit-prajurit Damarshkant tampak mengawal mereka.

Kia mendehem begitu melihat para prajurit itu. Dia menyikut-nyikut Tamara.

“Apaan sih, Kia?” Tamara tampak tersenyum

“Itu tuuuh....Prajurit..”

“Emangnya kenapa dengan prajurit?” Tamara tampak berusaha mengacuhkan, tetapi wajahnya tampak memerah.

“Kaptenmu tersayang itu lo...” Kia cekikikan “dia ikut gak?”

“Ndak tau ya....” Tamara mesem-mesem.

“Daigan Virsom..” Ravi menimpali “bukan tugasnya Prajurit Pengawal Suci untuk mengawal hal-hal semacam ini..”

Tan Kia pun menimpuk Ravinoosh. “Dasar gak asik!”

Ravi hanya mengusap-usap kepalanya sembari menatap Kia datar.

Ketika mereka semakin mendekati pantai, tampak semburat sinar-sinar magis berseliweran dari arah pelabuhan. Kayu-kayu tampak beterbangan. 

Friday, November 26, 2010

Pedang dan Tenung - Bagian I

Tamara Kamil menghela nafas dan mengeluarkannya. Rasa lelah mulai menghampiri tubuhnya. Daya penyembuhannya mulai berkurang. Meskipun demikian, tangannya tetap cekatan membalut luka-luka nelayan yang sedang ditanganinya. 

“Tamara” Tabib Mahulate berdiri di belakangnya “Istirahatlah setelah kau menangani yang satu ini. Hanya tertinggal 6 korban lagi, biarkan aku dan tabib-tabib lain yang menangani”

“Baiklah, Ayah” Tamara berkata sembari menyelesaikan simpul pembalut serapi dan seerat mungkin.

Tengah malam tadi, dua belas kapal nelayan kembali dari usaha mereka memancing ikan di perairan selatan Damarshkant. Sebagian besar dari kapal-kapal tersebut mengalami kerusakan berat. Layar mereka tercabik-cabik. Badan-badan kapal terkoyak-koyak di sana-sini. Delapan puluh tiga nelayan, empat penyihir, dan enam petarung yang ikut bersama mereka terluka ringan dan berat. Dua belas  nelayan, dua penyihir, dan  lima petarung tewas di laut. Dari tujuh puluh kapal nelayan yang berlayar dari seluruh pantai-pantai Kerajaan Domarthia malam itu, hanya empat puluh tiga kapal nelayan yang kembali. Puluhan orang terluka, puluhan lain tewas di laut.

Pagi harinya, Para nelayan yang selamat dan bisa bercerita menunjukkan raut muka ketakutan dan keputusasaan. Dari kalimat-kalimat mereka yang terbata-bata menceritakan, para Tabib Petarung dan Pengawal Kerajaan menyimpulkan bahwa ada gerombolan monster laut yang menyerang mereka. Tidak ada kapal-kapal dari negeri lain yang menyerang mereka. Para penyihir dan petarung bayaran yang sudah sering mengawal para nelayan mengatakan bahwa mereka tidak pernah melihat monster-monster yang menyerang mereka. Laporan tentang gurita raksasa yang mampu meremukkan sebuah kapal dan mengeluarkan api dari paruhnya, tentang makhluk setinggi Troll yang berkepala hiu, bertangan barakuda, dan mampu melawan semua petarung yang terhebat, dan tentang makhluk raksasa setinggi tembok kota Damarshkant yang tidak mempan oleh serangan mantra-mantra para penyihir dan peluru-peluru meriam. Tentang betapa mereka harus mengerahkan seluruh kekuatan kristal arkana di mesin kapal mereka untuk melarikan diri. Dan tentang betapa monster-monster itu tampak melepaskan mereka ketika Kuil Arkana Altenung sudah tampak di depan mata.

Para penjaga pelabuhan malam pun tak ayal lagi langsung membunyikan kentongan dan memanggil para prajurit penjaga kota dan para tabib dan tabib petarung. Bahu-membahu mereka menurunkan para awak kapal dari kapal mereka masing-masing dan sesegera mungkin mencoba menyembuhkan mereka. Mereka yang terluka ringan dan berat tetapi masih bisa hidup hanya diberikan pembalut luka dan tablet penyembuh. Mereka yang terancam nyawanya langsung diangkat ke kereta-kereta melayang khusus pasien dan langsung dibawa ke kuil para tabib. Berkat tangan cekatan para prajurit dan para tabib, semua yang pulang malam itu bisa terselamatkan. Bencana di laut tidak berulang di daratan.

Tamara memandang pasien-pasiennya. Enam orang awak kapal terdiri atas manusia dan orc, seorang prajurit sewaan Orc, dan seorang penyihir Elf.

“Terima kasih, anak muda” penyihir Elf tersebut berkata pada Tamara ketika dia menatap “terima kasih sudah menyembuhkan Elf ini. Terima kasih sudah melepaskan diri ini dari mimpi buruk.”

Tamara tersenyum “Sama-sama, Tuan Elf. Namaku Tamara, siapa nama anda?” Tamara bertanya dengan penuh hormat. Bukan hanya karena Elf yang tampak seusia manusia berumur tiga puluhan hampir pasti mempunyai umur lebih dari seratus dua puluh tahun, tetapi memang karena para tabib dan tabib petarung diharuskan bersikap sopan. Itu bagian dari tugas mereka.

“Namaku Retess” kata sang Elf tersebut pelan. Dia kemudian menatap ke arah lain, menatap dengan pandangan yang kosong dan berkata “Retess dari hutan Vanima.......”

“Baiklah Tuan Retess, beristirahatlah. Tenangkanlah tubuh anda dan kumpulkan kembali mana anda. Pengawal Kota akan mulai menanyai mereka-mereka yang selamat dan sudah sehat kembali nanti siang.”

“Selamat......ya...aku selamat....”

“Beristirahatlah, Tuan Retess”

“Baiklah, Tabib Tamara” Retess pun memejamkan mata “selamat tidur”

Retess pun tampak langsung terlelap.

Damarshkant - Bagian VII

“Kenapa, anak muda, ini pertama kalinya kamu melihat cara Orc melatih renang anak-anak mereka?”  Tanya pengawal Orc.

“Sepertinya…” Jawab Mythgarr sembari tetap bengong.

“Ayo anak muda, sekarang kita harus terus berjalan. Waktu sudah hampir habis”

Mythgarr terus mengikuti Pengawal Orc sembari terus melihat ke kanan-kiri dengan hati-hati. Dia tidak pernah melihat Orc, tentu saja Dia terkejut dengan banyaknya Orc di Benteng Penantang Nasib.

“Ayah selalu berkata Orc adalah biang perang “ lamunnya “tapi di kota manusia ini kok banyak Orc?”

Mythgarr mengesampingkan pikirannya dan terus berjalan mengikuti sang Pengawal Orc sambil terus melihat-lihat kanan-kiri. Melihat jembatan-jembatan besar yang terbentang menghubungkan pohon-pohon raksasa yang ada. Tampak Elf-elf ramping berlalu-lalang di jembatan-jembatan itu, saling mengunjungi rumah mereka yang dibangun menempel dengan pohon-pohon, seakan-akan rumah mereka bak benalu yang tumbuh dari pohon.

“Mengagumkan!”

Tiba-tiba Mythgarr merasakan ada yang menatapnya tajam. Sambil tetap berjalan, dia pun mencari-cari dan menemukan seorang elf perempuan muda menatapnya lekat-lekat dari sebuah jembatan di antara pohon-pohon. Dia menatap balik tapi kemudian menabrak Pengawal Orc yang berhenti berjalan.

“Hati-hati, anak muda. Menabrak seorang Orc bisa berbahaya di kota ini.” Kata Pengawal Orc dengan tatapan tajam.

“Eh, hehehe” Mythgarr hanya bisa nyengir sambil mengusap-ngusap kepalanya “maaf”

“Kita sudah sampai!” Kata pengawal Orc.

“Sampai?”

“Ini tujuan kita” pengawal Orc menunjuk sebuah bangunan di depan mereka.

Mythgarr memandang sekeliling dan menyadari bahwa mereka berada tepat di bawah landasan dinding besar yang mengelilingi kota. Dia kemudian menatap bangunan yang ditunjukkan oleh Pengawal Orc.  

Sebuah bangunan besar yang menempel tepat ke dinding kota dan seakan-akan menjadi satu dengan gerbang besar yang menjadi penghubung antara kota dan dunia luar. Bukan, bukan menjadi satu, bangunan ini  lah gerbang itu sendiri. Bangunan sendiri terdiri atas 5 lantai yang masing-masing lantai setinggi 10 kaki. Di tengah-tengah bangunan adalah pintu gerbang kota yang menjulang tinggi, setinggi puluhan kaki. Di atas gerbang sendiri ada 2 lantai bangunan tersebut yang tampak seperti bangunan pos penjaga gerbang. Bangunan itu sendiri tampak tumbuh dari dinding sekitar 10 kaki ke depan, dan selain gerbang hanya mempunyai satu buah pintu dengan daun pintu besar di mana orang lalu lalang.

“Selamat datang di Gerbang Utama Kota Damarshkant, anak muda” kata pengawal Orc “seharusnya kamu mengantri di sana”

Mythgarr mengalihkan pandangan ke arah yang ditunjuk pengawal Orc dan melihat antrian orang-orang.

“Tapi kamu adalah tamu seorang yang terhormat di kota ini, jadi ikuti aku!” kata pengawal Orc sambil mendekati pintu bangunan tersebut. Seorang Elf mencegah mereka masuk dan menyuruh mereka mengantri. Pengawal Orc kemudian menyapa Elf tersebut seakan-akan mereka berkawan baik dan kemudian membisikkan sesuatu. Elf yang mencegah mereka memandang Mythgarr sembari mendengarkan bisian pengawal Orc. Dia kemudian memandang pengawal Orc dengan tatapan tidak percaya, tetapi pengawal Orc tetap terus berbicara. Sang Elf kemudian mengangkat bahunya, mengatakan sesuatu pada pengawal Orc, dan kemudian berbalik arah.

“Anak muda” pengawal Orc memberi isyarat pada Mythgarr untuk masuk “ayo masuk!”

“Hey!” seorang manusia yang mengantri terdepan tampak marah “apa-apaan ini, Orc? Mau kurang ajar kamu? Ikut mengantri dong!”

Sejurus kemudian belasan yang mengantri pun ikut-ikutan mengamuk. Elf yang tadi mencegah mereka pun kemudian berteriak “Tamu kerajaan, tamu kerajaan, saudara-saudara, jadi tenanglah! Dia tamu kerajaan!”

Pengawal Orc menarik Mythgarr dan memaksanya masuk, tidak menghiraukan mereka-mereka yang mengantri. 

“Apa maksudnya....tamu kerajaan.....” tanya Mythgarr

“PENGAWAL ORC!” teriak seseorang “APA-APAAN KAMU INI??”

“Tuan Lurga!” pengawal Orc tampak tersenyim melihat yang berteriak “senang bertemu denganmu!”

Seseorang yang dipanggil Lurga adalah seorang Dwarf yang sedang bergegas setengah berlari menuju mereka. Langkahnya tegas dan keras; seakan-akan seluruh gedung bergetar karenanya. Wajahnya yang keras itu terlihat tidak bersahabat karena marah yang jelas terlihat di wajahnya. Ketika mendekati pengawal Orc, dia tiba-tiba melompat dan mendorong pengawal Orc sampai jatuh. Kakinya pun dijejakkan di atas dada pengawal Orc, dan telunjuknya menuding-nuding di wajah pengawal yang jatuh itu.

“SUDAH KUKATAKAN BERKALI-KALI PADA KALIAN ORC!” telunjuknya bergoyang hebat di wajah Pengawal Orc “TIDAK ADA PENGECUALIAN”

Mythgarr bersumpah bahwa dia melihat hujan di wajah Pengawal Orc yang tetap tersenyum.

Lurga kemudian nampak mulai tenang

“Pengawal Orc” katanya “Aku mengetahui bahwa kamu adalah Orc paling berdedikasi di seantero Damarshkant ini!”

“Terima kasih, Tuan Lurga”

“Katakan alasanmu!” wajah Lurga seakan-akan ingin mengiris Pengawal Orc dengan matanya.

Pengawal Orc memberi isyarat dengan jari-jarinya supaya Lurga mendekat. Lurga melihat sejenak, kemudian mendekatkan wajahnya ke Pengawal Orc yang kemudian membisikkan sesuatu.

Mythgarr melihat Lurga menoleh kepadanya, matanya membelalak, kemudian menatap Pengawal Orc kembali. Kemudian dia melangkah ke arah Mythgarr. Pengawal Orc berdiri dengan melentingkan tubuhnya dan mendarat di kakinya dengan mulus.

“Anak muda” Lurga berkata padanya “apakah kamu putra dari Finchgarr Chromehands?”

“Benar, Tuan Dwarf”

“Panggil aku Lurga”

“Baik, Tuan Lurga”


“Apakah kamu kenal dan ikut menyelamatkan Tuan Wayne Pierce?”

Mythgarr pun mengangguk “Benar Tuan Lurga”

Lurga kemudian menggeram kecil dan mendesah.

“Ikut aku, Mythgarr putra Finchgarr”

“Baiklah, anak muda” Pengawal Orc menepuk pundak Mythgarr “sampai di sini dulu. Tuan Lurga akan mengurusmu sekarang”

Mythgarr pun menjulurkan tangannya dan berjabat tangan dengan Pengawal Orc “Terima kasih sudah membawaku berjalan-jalan di kota, Tuan Pengawal”

“Sama-sama” Pengawal Orc tersenyum dan melepaskan jabatannya “sekarang, ikutilah Tuan Lurga”

Mythgarr mengangguk, membalikkan badan, kemudian mengikuti Tuan Lurga ke mejanya.

Pengawal Orc membalikkan badan, melangkah, kemudian menggumam

“Sudah dimulai”