“Kenapa, anak muda, ini pertama kalinya kamu melihat cara Orc melatih renang anak-anak mereka?” Tanya pengawal Orc.
“Sepertinya…” Jawab Mythgarr sembari tetap bengong.
“Ayo anak muda, sekarang kita harus terus berjalan. Waktu sudah hampir habis”
Mythgarr terus mengikuti Pengawal Orc sembari terus melihat ke kanan-kiri dengan hati-hati. Dia tidak pernah melihat Orc, tentu saja Dia terkejut dengan banyaknya Orc di Benteng Penantang Nasib.
“Ayah selalu berkata Orc adalah biang perang “ lamunnya “tapi di kota manusia ini kok banyak Orc?”
Mythgarr mengesampingkan pikirannya dan terus berjalan mengikuti sang Pengawal Orc sambil terus melihat-lihat kanan-kiri. Melihat jembatan-jembatan besar yang terbentang menghubungkan pohon-pohon raksasa yang ada. Tampak Elf-elf ramping berlalu-lalang di jembatan-jembatan itu, saling mengunjungi rumah mereka yang dibangun menempel dengan pohon-pohon, seakan-akan rumah mereka bak benalu yang tumbuh dari pohon.
“Mengagumkan!”
Tiba-tiba Mythgarr merasakan ada yang menatapnya tajam. Sambil tetap berjalan, dia pun mencari-cari dan menemukan seorang elf perempuan muda menatapnya lekat-lekat dari sebuah jembatan di antara pohon-pohon. Dia menatap balik tapi kemudian menabrak Pengawal Orc yang berhenti berjalan.
“Hati-hati, anak muda. Menabrak seorang Orc bisa berbahaya di kota ini.” Kata Pengawal Orc dengan tatapan tajam.
“Eh, hehehe” Mythgarr hanya bisa nyengir sambil mengusap-ngusap kepalanya “maaf”
“Kita sudah sampai!” Kata pengawal Orc.
“Sampai?”
“Ini tujuan kita” pengawal Orc menunjuk sebuah bangunan di depan mereka.
Mythgarr memandang sekeliling dan menyadari bahwa mereka berada tepat di bawah landasan dinding besar yang mengelilingi kota. Dia kemudian menatap bangunan yang ditunjukkan oleh Pengawal Orc.
Sebuah bangunan besar yang menempel tepat ke dinding kota dan seakan-akan menjadi satu dengan gerbang besar yang menjadi penghubung antara kota dan dunia luar. Bukan, bukan menjadi satu, bangunan ini lah gerbang itu sendiri. Bangunan sendiri terdiri atas 5 lantai yang masing-masing lantai setinggi 10 kaki. Di tengah-tengah bangunan adalah pintu gerbang kota yang menjulang tinggi, setinggi puluhan kaki. Di atas gerbang sendiri ada 2 lantai bangunan tersebut yang tampak seperti bangunan pos penjaga gerbang. Bangunan itu sendiri tampak tumbuh dari dinding sekitar 10 kaki ke depan, dan selain gerbang hanya mempunyai satu buah pintu dengan daun pintu besar di mana orang lalu lalang.
“Selamat datang di Gerbang Utama Kota Damarshkant, anak muda” kata pengawal Orc “seharusnya kamu mengantri di sana”
Mythgarr mengalihkan pandangan ke arah yang ditunjuk pengawal Orc dan melihat antrian orang-orang.
“Tapi kamu adalah tamu seorang yang terhormat di kota ini, jadi ikuti aku!” kata pengawal Orc sambil mendekati pintu bangunan tersebut. Seorang Elf mencegah mereka masuk dan menyuruh mereka mengantri. Pengawal Orc kemudian menyapa Elf tersebut seakan-akan mereka berkawan baik dan kemudian membisikkan sesuatu. Elf yang mencegah mereka memandang Mythgarr sembari mendengarkan bisian pengawal Orc. Dia kemudian memandang pengawal Orc dengan tatapan tidak percaya, tetapi pengawal Orc tetap terus berbicara. Sang Elf kemudian mengangkat bahunya, mengatakan sesuatu pada pengawal Orc, dan kemudian berbalik arah.
“Anak muda” pengawal Orc memberi isyarat pada Mythgarr untuk masuk “ayo masuk!”
“Hey!” seorang manusia yang mengantri terdepan tampak marah “apa-apaan ini, Orc? Mau kurang ajar kamu? Ikut mengantri dong!”
Sejurus kemudian belasan yang mengantri pun ikut-ikutan mengamuk. Elf yang tadi mencegah mereka pun kemudian berteriak “Tamu kerajaan, tamu kerajaan, saudara-saudara, jadi tenanglah! Dia tamu kerajaan!”
Pengawal Orc menarik Mythgarr dan memaksanya masuk, tidak menghiraukan mereka-mereka yang mengantri.
“Apa maksudnya....tamu kerajaan.....” tanya Mythgarr
“PENGAWAL ORC!” teriak seseorang “APA-APAAN KAMU INI??”
“Tuan Lurga!” pengawal Orc tampak tersenyim melihat yang berteriak “senang bertemu denganmu!”
Seseorang yang dipanggil Lurga adalah seorang Dwarf yang sedang bergegas setengah berlari menuju mereka. Langkahnya tegas dan keras; seakan-akan seluruh gedung bergetar karenanya. Wajahnya yang keras itu terlihat tidak bersahabat karena marah yang jelas terlihat di wajahnya. Ketika mendekati pengawal Orc, dia tiba-tiba melompat dan mendorong pengawal Orc sampai jatuh. Kakinya pun dijejakkan di atas dada pengawal Orc, dan telunjuknya menuding-nuding di wajah pengawal yang jatuh itu.
“SUDAH KUKATAKAN BERKALI-KALI PADA KALIAN ORC!” telunjuknya bergoyang hebat di wajah Pengawal Orc “TIDAK ADA PENGECUALIAN”
Mythgarr bersumpah bahwa dia melihat hujan di wajah Pengawal Orc yang tetap tersenyum.
Lurga kemudian nampak mulai tenang
“Pengawal Orc” katanya “Aku mengetahui bahwa kamu adalah Orc paling berdedikasi di seantero Damarshkant ini!”
“Terima kasih, Tuan Lurga”
“Katakan alasanmu!” wajah Lurga seakan-akan ingin mengiris Pengawal Orc dengan matanya.
Pengawal Orc memberi isyarat dengan jari-jarinya supaya Lurga mendekat. Lurga melihat sejenak, kemudian mendekatkan wajahnya ke Pengawal Orc yang kemudian membisikkan sesuatu.
Mythgarr melihat Lurga menoleh kepadanya, matanya membelalak, kemudian menatap Pengawal Orc kembali. Kemudian dia melangkah ke arah Mythgarr. Pengawal Orc berdiri dengan melentingkan tubuhnya dan mendarat di kakinya dengan mulus.
“Anak muda” Lurga berkata padanya “apakah kamu putra dari Finchgarr Chromehands?”
“Benar, Tuan Dwarf”
“Panggil aku Lurga”
“Baik, Tuan Lurga”
“Apakah kamu kenal dan ikut menyelamatkan Tuan Wayne Pierce?”
Mythgarr pun mengangguk “Benar Tuan Lurga”
Lurga kemudian menggeram kecil dan mendesah.
“Ikut aku, Mythgarr putra Finchgarr”
“Baiklah, anak muda” Pengawal Orc menepuk pundak Mythgarr “sampai di sini dulu. Tuan Lurga akan mengurusmu sekarang”
Mythgarr pun menjulurkan tangannya dan berjabat tangan dengan Pengawal Orc “Terima kasih sudah membawaku berjalan-jalan di kota, Tuan Pengawal”
“Sama-sama” Pengawal Orc tersenyum dan melepaskan jabatannya “sekarang, ikutilah Tuan Lurga”
Mythgarr mengangguk, membalikkan badan, kemudian mengikuti Tuan Lurga ke mejanya.
Pengawal Orc membalikkan badan, melangkah, kemudian menggumam
“Sudah dimulai”

No comments:
Post a Comment