Friday, November 26, 2010

Pedang dan Tenung - Bagian I

Tamara Kamil menghela nafas dan mengeluarkannya. Rasa lelah mulai menghampiri tubuhnya. Daya penyembuhannya mulai berkurang. Meskipun demikian, tangannya tetap cekatan membalut luka-luka nelayan yang sedang ditanganinya. 

“Tamara” Tabib Mahulate berdiri di belakangnya “Istirahatlah setelah kau menangani yang satu ini. Hanya tertinggal 6 korban lagi, biarkan aku dan tabib-tabib lain yang menangani”

“Baiklah, Ayah” Tamara berkata sembari menyelesaikan simpul pembalut serapi dan seerat mungkin.

Tengah malam tadi, dua belas kapal nelayan kembali dari usaha mereka memancing ikan di perairan selatan Damarshkant. Sebagian besar dari kapal-kapal tersebut mengalami kerusakan berat. Layar mereka tercabik-cabik. Badan-badan kapal terkoyak-koyak di sana-sini. Delapan puluh tiga nelayan, empat penyihir, dan enam petarung yang ikut bersama mereka terluka ringan dan berat. Dua belas  nelayan, dua penyihir, dan  lima petarung tewas di laut. Dari tujuh puluh kapal nelayan yang berlayar dari seluruh pantai-pantai Kerajaan Domarthia malam itu, hanya empat puluh tiga kapal nelayan yang kembali. Puluhan orang terluka, puluhan lain tewas di laut.

Pagi harinya, Para nelayan yang selamat dan bisa bercerita menunjukkan raut muka ketakutan dan keputusasaan. Dari kalimat-kalimat mereka yang terbata-bata menceritakan, para Tabib Petarung dan Pengawal Kerajaan menyimpulkan bahwa ada gerombolan monster laut yang menyerang mereka. Tidak ada kapal-kapal dari negeri lain yang menyerang mereka. Para penyihir dan petarung bayaran yang sudah sering mengawal para nelayan mengatakan bahwa mereka tidak pernah melihat monster-monster yang menyerang mereka. Laporan tentang gurita raksasa yang mampu meremukkan sebuah kapal dan mengeluarkan api dari paruhnya, tentang makhluk setinggi Troll yang berkepala hiu, bertangan barakuda, dan mampu melawan semua petarung yang terhebat, dan tentang makhluk raksasa setinggi tembok kota Damarshkant yang tidak mempan oleh serangan mantra-mantra para penyihir dan peluru-peluru meriam. Tentang betapa mereka harus mengerahkan seluruh kekuatan kristal arkana di mesin kapal mereka untuk melarikan diri. Dan tentang betapa monster-monster itu tampak melepaskan mereka ketika Kuil Arkana Altenung sudah tampak di depan mata.

Para penjaga pelabuhan malam pun tak ayal lagi langsung membunyikan kentongan dan memanggil para prajurit penjaga kota dan para tabib dan tabib petarung. Bahu-membahu mereka menurunkan para awak kapal dari kapal mereka masing-masing dan sesegera mungkin mencoba menyembuhkan mereka. Mereka yang terluka ringan dan berat tetapi masih bisa hidup hanya diberikan pembalut luka dan tablet penyembuh. Mereka yang terancam nyawanya langsung diangkat ke kereta-kereta melayang khusus pasien dan langsung dibawa ke kuil para tabib. Berkat tangan cekatan para prajurit dan para tabib, semua yang pulang malam itu bisa terselamatkan. Bencana di laut tidak berulang di daratan.

Tamara memandang pasien-pasiennya. Enam orang awak kapal terdiri atas manusia dan orc, seorang prajurit sewaan Orc, dan seorang penyihir Elf.

“Terima kasih, anak muda” penyihir Elf tersebut berkata pada Tamara ketika dia menatap “terima kasih sudah menyembuhkan Elf ini. Terima kasih sudah melepaskan diri ini dari mimpi buruk.”

Tamara tersenyum “Sama-sama, Tuan Elf. Namaku Tamara, siapa nama anda?” Tamara bertanya dengan penuh hormat. Bukan hanya karena Elf yang tampak seusia manusia berumur tiga puluhan hampir pasti mempunyai umur lebih dari seratus dua puluh tahun, tetapi memang karena para tabib dan tabib petarung diharuskan bersikap sopan. Itu bagian dari tugas mereka.

“Namaku Retess” kata sang Elf tersebut pelan. Dia kemudian menatap ke arah lain, menatap dengan pandangan yang kosong dan berkata “Retess dari hutan Vanima.......”

“Baiklah Tuan Retess, beristirahatlah. Tenangkanlah tubuh anda dan kumpulkan kembali mana anda. Pengawal Kota akan mulai menanyai mereka-mereka yang selamat dan sudah sehat kembali nanti siang.”

“Selamat......ya...aku selamat....”

“Beristirahatlah, Tuan Retess”

“Baiklah, Tabib Tamara” Retess pun memejamkan mata “selamat tidur”

Retess pun tampak langsung terlelap.

No comments:

Post a Comment