Damarshkant adalah kota ilmu pengetahuan di mana ilmu sihir dan sains dipelajari secara seksama. Kedua ilmu tersebut diajarkan di dua tempat berbeda. Ilmu Sihir dipelajari di Kuil Arkana Altenung dan Ilmu Sains dipelajari di Akademi Filosofi Suaralima.
Selain tempat menuntut ilmu sihir, Kuil Arkana Altenung merupakan pusat kekuatan magis di Domarthia. Kuil ini sendiri merupakan bukti kekuatan magis yang besar, karena dibangun oleh langsung oleh para penyihir yang menyusun batu demi batu, kayu demi kayu, dan besi demi besi untuk menjadi sebuah kuil besar yang kokoh. Di fondasi kuil ini terdapat sebuah bola kristal raksasa yang diletakkan di dalam kerangkeng yang terbuat dari campuran logam Mythrill. Bola kristal raksasa ini dibuat untuk menyerap sinar matahari dari langit dan uap air dari samudra di bawahnya untuk kemudian dijadikan sumber energi magis. Energi magis ini kemudian dialirkan ke seluruh kuil dan melalui Rantai Pusar dialirkan ke seluruh Damarshkant untuk dijadikan sumber energi. Energi magis ini juga diperlukan untuk mendukung satu hal yang pasti membuat orang yang pertama kali melihat Kuil Arkana Altenung tercengang: Kuil Arkana Altenung, dengan energi magis yang luar biasa, dibuat melayang di atas samudra!
Di dalam kuil yang melayang di udara ini lah para penyihir dan murid-murid penyihir dari seluruh Domarthia berkumpul dan belajar sihir. Di dalam kuil ini pula lah mereka tinggal selama menuntut ilmu.
Dan di dalam kuil ini pula lah, sebuah rencana hitam sedang disusun.
***
Karavan Wayne Pierce terus bergerak menyusuri Jalan Emas Maut. Wayne, Carno, dan Waty terus bercakap-cakap sementara Mythgarr hanya sesekali menimpali. Selebihnya ia hanya tersenyum-senyum atau melihat ke luar jendela. Wayne sepertinya melihat keadaan ini.
“Mythgarr putra kawan lamaku” Wayne berkata “sebentar lagi kau bisa melihat Damarshkant jauh di bawah sana, di sisi jalan ini!”
Mythgarr, yang sedang bengong, langsung merasa kikuk akan sadarnya Wayne bahwa Mythgarr merasa tersisihkan di percakapan.
“Benar” timpal Waty “kulihat kita sudah melewati dua belokan tadi, satu belokan lagi kau dapat melihat Damarshkant secara sekilas sebelum kita mulai memasuki hutan!”
Mythgarr mengangguk, lalu melihat keluar. Di jendela mulai tampak pohon-pohon hutan yang tinggi, lalu Karavan menanjak seiring jalanan yang mulai naik, dan lalu mulai berbelok. Mata Mythgarr pun membelalak.
Di sana, jauh di bawah sana, terlihat sebuah kota yang teramat besar, dengan beberapa bangunan yang tampak luar biasa besarnya.
Waty, yang duduk di depan Mythgarr, berkata sambil menunjuk-nunjuk “Yang besar di kananmu itu Kastil Raja” Mythgarr melihat sebuah Kastil raksasa bertingkat-tingkat yang seakan-akan merangsek keluar dari sebuah bukit.
“Yang menempel di dekatnya itu, dipisahkan oleh beberapa rumah besar, adalah Akademi Suaralima, pusat ilmu sains di Domarthia!” Mythgarr bersiul kecil ketika melihat sebuah bangunan yang tampak seperti menara besar yang dikeliling oleh cincin yang terbuat dari beberapa bangunan
“Dan yang di sana, Mythgarr” Waty tersenyum dan melihat kea rah Mythgarr dengan pandangan misterius sambil menunjuk ke arah laut“ adalah Kuil Arkana Altenung!”
Mythgarr terpana begitu menyadari bahwa Kuil Arkana Altenung melayang-layang di atas permukaan laut. “Hebat! Bangunan sebesar itu…bisa melayang?”
“Ahahahaha!” Wayne tertawa membahana “kau benar-benar bocah kampung, Mythgarr!”
“Berbahaya” Carno tersenyum “bisa-bisa kau dipermainkan oleh teman-temannya Waty, hehehe!”
Waty tersenyum dan menimpali “Benar lho, Mythgarr! Kau harus hati-hati di Damarshkant! Banyak orang-orang yang berhati busuk dan berniat jahat di sana. Anak muda kekar tapi lugu sepertimu bakal sering didekati oleh orang-orang yang berniat mempergunakanmu seenaknya!”
Mata Mythgarr membelalak “Err…seperti rombongan ini?”
“WAHAHAHAHAHAHAHAHA!” Wayne tertawa terpingkal-pingkal. Carno hanya mesem-mesem, dan Waty hanya tersenyum. “Eheheheh!” Sambil menahan perutnya yang sakit karena ketawa, Wayne berkata “Kau lugu, tapi tetap waspada, ya Mythgarr? Benar, Mythgarr, tetap seperti itu, tetap waspada!”
Mythgarr mengangguk
“Kalau begitu, tetaplah waspada akan kami semua, akan rombongan ini, karena terus terang saja kan, Mythgarr anak Vinchgarr, kami orang asing bagimu!”
Mythgarr hanya tersenyum.
“Tapi sebentar lagi akan ada orang yang lebih asing lagi, dan orang-orang ini tidak segan-segan menunjukkan niat jahat mereka!”
“Bandit-bandit….” Mythgarr berkata
Wayne Pierce tersenyum “Benar sekali, Mythgarr. Kalau kau sudah bisa melihat Damarshkant di bawah sana dari jalan ini, berarti kita akan memasuki Hutan Bunga sebentar lagi.”
“Hutan Bunga…” Mythgarr menggumam.
“Sarang para Bandit, Mythgarr!” Carno berkata dengan mata melotot “dimana para karavan biasanya hanya mencoba berlari sekencang mungkin sampai keluar dari hutan!”
“Mereka adalah kekuatan mengerikan yang membuat jalur ini begitu berbahaya. Kalau hanya bandit-bandit manusia mungkin para tentara bayaran pengawal kita ini bisa melawan mereka. Tapi mereka juga mempunyai belasan orc bersenjata lengkap dan beberapa troll!” Waty berkata sambil menatap jendela.
“Kita sudah memasuki hutan” Carno berkata. Mythgarr mengangguk. Di luar kereta kuda, pemandangan sudah lebih gelap dan didominasi dengan batang-batang pohon yang tegak menjulang.
“Mythgarr” Wayne Pierce berkata. Mythgarr menoleh ke arahnya dan bertemu dengan wajah serius Wayne “kami biasanya berlari sekencang mungkin untuk menghindari mereka. Mungkin mereka akan merusak atau bahkan melukai beberapa dari kita, mungkin bahkan membunuh –“
“BANDIT!!” belum selesai Wayne berkata, ada sebuah teriakan di luar. “SIAP-SIAP BERLARI KENCANG!”
Mata Mythgarr membelalak. Dia tersenyum. Lalu membuka pintu dan melompat keluar dari kereta kuda yang berlari kencang.
Wayne tersenyum. “Anak pintar…”
Mythgarr pun mendarat lalu menengok ke arah di mana Karavan melaju. Dia melihat tiga orang orc setinggi dua tombak, dengan zirah besi lengkap dan kapak-kapak sebesar perisai bersiap menghadang. Wajah mereka tertutup helm, hanya mulut mereka yang terlihat. Mythgarr bisa melihat dengan jelas sepasang taring mereka yang tumbuh memanjang. Mythgarr pun menarik nafas. Dia mulai mengatur aliran darahnya. Konsentrasinya pun ditingkatkan. Tiga helaan nafas kemudian, Mythgarr pun merasakan prananya memuncak dan seluruh otot, panca indra, dan prana indranya menguat. Dia pun merasakan keseluruhan ancaman yang ada disekitarnya.
“Tiga Orc di depan. Empat Orc di kananku. Lima Orc di kiriku. Beberapa manusia tersebar di puncak pohon. Baiklah kalo begitu!”
Mythgarr pun mulai berlari melesat. Dengan kecepatan tinggi dia menyusul karavan yang sempat meninggalkannya. Empat helaan nafas, dan dia pun sudah melewati Garnos yang memacu kudanya dengan kencang.
Mythgarr pun melesak, melompat tinggi ke arah salah satu orc yang berjarak sekitar seratusan tombak di depan. Dia pun mengepalkan tangan kirinya sekencang-kencangnya, menariknya ke belakang, dan dengan penuh tenaga mengayunkannya.
Suara bak guntur pun membahana ketika pukulan Mythgarr menghantam ayunan kapak yang diayunkan dengan penuh keterkejutan oleh orc itu. Orc setinggi dua tombak itu pun kemudia terhuyung-huyung sedangkan Mythgarr mendarat dengan mulus di hadapannya. Para orc pun terkejut setengah mati, tapi Mythgarr tidak memberikan kesempatan mereka untuk menyerang. Satu tendangan keras menghantam kepala satu orc dan membuat sosok besar itu terguling-guling. Secepat kilat, Mythgarr pun berputar, melompat, dan mendaratkan satu tendangan keras lain ke kepala orc yang lain yang langsung jatuh terhujam. Mendarat, Mythgarr menghindar ayunan kapak dari salah satu orc, menangkap kapak tersebut dan memelintirnya sehingga membuat sang orc kehilangan keseimbangan dan terjengkang. Mythgarr pun mengayunkan kapak besar, dan menghantam sang Orc dengan sisi panjang dari kapak berkali-kali sampai sang orc tak tersadarkan diri. Dia kemudian melihat dua orc lain dan merasakan dengan prana indranya bahwa mereka pun sudah tak sadarkan diri.
“Ternyata cuman segini saja..”
Mythgarr pun menoleh ke arah karavan dan terkejut melihat bahwa karavan berhenti. Garnos dan tiga pengawal lainnya sedang bertarung melawan para orc.
Para Troll pun terlihat. Wajah mereka bak campuran antara kera dan buaya. Tubuh mereka yang besar, lebih besar dari orc, bersisik hijau dan bongkok. Mereka tampak menjijikkan dengan rambut yang sedikit dan tumbuh sembarangan dan lendir kuning yang tampak meliputi tubuh mereka. Meskipun tergolong makhluk berakal, mereka tak pernah memakai penutuh tubuh sedikitpun. Ada lima troll, dan mereka sedang berusaha merusak lima kereta kuda yang ada. Para sais dan penumpang yang ketakutan sudah diungsikan ke pinggir jalan. Mythgarr terkejut begitu meliaht Wayne, Carno, dan Waty memasang kuda-kuda melindungi penumpang yang lain.
Mythgarr pun melesat ke arah karavan untuk mengusir para troll. Tiba-tiba panah-panah beterbangan ke arahnya, dan Mythgarr menghindar sambil menghancurkan panah-panah itu.
“Aku lupa dengan mereka yang ada di atas pohon!”
“MYTHGARR!” Garnos berteriak “SELESAIKAN YANG DI ATAS POHON DULU!”
Mythgarr mematuhi Garnos dan langsung melesat ke arah pohon-pohon, langsung merangsek ke arah di mana prana indranya merasakan adanya orang-orang. Mereka langsung mengeluarkan pedang dan belati mereka untuk menghadapi Mythgarr, tapi tetap saja mereka bukan lawannya. Dengan sekejap mata, Mythgarr melompat dari dahan ke dahan, melumpuhkan lawan-lawannya dan melucuti senjata-senjata. Mereka semua lalu berjatuhan dari pohon-pohon ke semak-semak di bawah dan senjata-senjata mereka dibuang Mythgarr ke arah karavan.
Di bawah, Garnos dan kawan-kawan tampak kewalahan menghadapi orc-orc yang tersisa. Tiga orc sudah terkapar di sisi sebuah kereta kuda, dan satu pengawal juga sudah terkapar di dekat kereta kuda yang lain. Tinggal tiga pengawal.
“TUAN GARNOS! BIAR SAYA TANGANI YANG DI SINI!” Mythgarr masuk ke arena pertarungan mereka sambil berteriak. Dia mendarat di samping Garnos dan menendang selangkangan Orc yang sedang dihadapinya sampai orc itu pingsan. “Tuan Garnos sekelompok lebih baik mencoba usir troll-troll itu saja”
Garnos terdiam dan berdecak, lalu pergi ke arah troll-troll itu “KELOMPOK DARAH SINGA, IKUTI AKU!”
Mythgarr pun melanjutkan rangsekannya ke arah Orc-orc yang lain. Beberapa pengawal yang terkejut dan tercenung sejenak akan perintah Garnos terselamatkan oleh tindakan cepat Mythgarr. Dia menendang kepala satu orc sehingga terjengkang, lalu dengan cepat menangkap kakinya di udara, dan melemparkannya dengan penuh tenaga ke arah dua orc lain sehingga mereka kehilangan kesetimbangan.
Mythgarr lalu melompat jauh, dan kemudian melancarkan tendangan sekuat tenaga ke arah satu orc yang kehilangan kesetimbangan tersebuat. Orc tersebut pun terdorong oleh tenaga yang luar biasa dari tendangan Mythgarr dan menyebabkan dia dan orc lain terjatuh. Mythgarr lalu melompat ke udara dengan berpijak pada orc tersebut, menarik nafas dalam-dalam di tengah-tengah melayangnya. Dia pun lalu berteriak dengan teriakan yang bak guntur, menembakkan tenaga dalam dengah dahsyat ke arah tiga orc tersebut. Tak ayal lagi, tiga orc tersebut pun pingsan seketika.
“Baiklah!” Mythgarr menggumam “lima lagi!”
Orang-orang masih menutup kuping mereka yang berdenging akibat teriakan Mythgarr, tapi mata mereka menunjukkan kekaguman untuk gerakan dan kekuatan Mythgarr yang luar biasa.
“Lihat, lihat Carno!” Wayne tersenyum “luar biasa bukan, Mythgarr anak Vinchgarr ini?”
“Andaikan aku lebih muda….” Waty tersenyum nakal sambil tetap menutup kupingnya
“Ini kesempatan yang tak kan muncul dua kali, Tuan Wayne” Carno tersenyum penuh arti pada Wayne Pierce.
Wayne hanya tersenyum lebar sambil tetap menutup kupingnya.
Satu Orc yang terbesar meraung sekeras-kerasnya, lalu berlari ke arah Mythgarr. Dua Orc pun ikut meraung dan berlari ke arah Mythgarr. Orc-orc yang lain tetap bertarung dengan Garnos dan dua pengawal lain, menghalangi mereka untuk mengusir para Troll.
Alih-alih menyongsong Orc-orc yang berlari ke arahnya, Mythgarr hanya berdiri tegak di tempat. Wajahnya berubah angkuh, dagunya terangkat dan tersenyum meremehkan.Orc yang terbesar pun terlihat kesal dan meraung sambil mengangkat kapaknya sambil terus berlari ke arah Mythgarr. Ketika sudah dekat, sang orc pun mengayunkan kapaknya dengan sekuat mungkin. Matanya membelalak ketika di matanya Mythgarr tampak menghilang. Sejurus kemudian, terdengar suara-suara raungan orc di belakangnya. Sang orc pun membalikkan badan dan melihat Mythgarr sedang menginjak-injak satu orc yang sedang terkapar. Satu orc yang lain sudah terpelanting sekitar tiga tombak dari tempat Mythgarr berada.
Mythgarr memegang dua kapak raksasa bekas kepunyaan para Orc yang dia kaparkan. Dia memandang orc terakhir yang tersisa dengan pandangan penuh ancaman dan dengan senyum menghina tersungging di bibirnya. Orc terakhir pun memandang Mythgarr dengan tatapan kesal dan mendengus-dengus dengan kerasnya. Mythgarr tampak tenang, mengayun-ayunkan kedua kapak itu sambil berjalan menuju orc tersebut. Orc pun tampak kebingungan, kakinya maju mundur dan matanya melihat ke kanan-kiri, seakan-akan mencari kawan. Mythgarr tetap maju dengan yakin. Sang Orc pun tampak makin ragu-ragu. Dia tetap mendengus-dengus, tapi tidak sekeras sebelumnya. Kakinya pun tampak mengambil langkah mundur.
“HOAAAAAAAARGGGGHHHHH!!!!” Mythgarr pun berteriak sembari mengangkat kedua kapak raksasa dan berlari ke arah orc tersebut. Orc tersebut pun terkejut, badannya menjadi gontai, lalu dengan tiba-tiba berbalik badan dan berlari.
“HEY, GAK BOLEH KABUR!!” Mythgarr pun berteriak sembari melempar satu kapak raksasa ke arah orc terakhir. Tanpa ampun, kapak tersebut menghajar orc yang kabur tersebut dan membuatnya terjengkang. Mythgarr pun melesat, melompat, dan mendarat dengan kakinya menginjak kepala orc tersebut. Gagang kapak raksasa pun berkali-kali dihantamkan ke kepala orc tersebut sampai dia tidak bergerak lagi.
“Tidurlah sudah kau, orc!” kata Mythgarr sambil membuang kapak yang masih dipegangnya. Dia pun membalikkan badan, melihat ke arah Garnos dan kawan-kawan. Mereka berhasil mengalahkan dua orc lainnya dan mulai mengusir para troll.
Tiba-tiba Mythgarr melihat Waty melangkah maju, tangannya ditaruh di depan, dengan api menyala-nyala di ujung-ujung jarinya.
“Garnos, lindungi aku!” Waty memberi perintah pada Garnos yang bersama dua pengawal lain pun mengapit Waty yang berjalan ke arah para Troll yang mulai kebingungan. Waty pun mengayunkan kedua tangannya, dan empat bola api pun beterbangan ke arah troll-troll tersebut. Satu ayunan tangan lagi, dan satu bola api mengarah ke troll terakhir. Troll-troll pun berpanikan, mencoba memadamkan api di tubuh mereka dengan sekenanya. Ada yang berguling-guling di tanah, ada yang mencoba memadamkannya dengan menepuk-nepuk tubuhnya, ada yang hanya berlari tak tentu arah.
Waty pun memberi aba-aba pada Garnos dan dua pengawal untuk menjatuhkan para troll tersebut. Mereka pun patuh dan mulai memukuli troll-troll tersebut sampai mereka terjatuh sambil tetap terbakar. Troll-troll tersebut kemudian tak berterak lagi.
“Pheww…” Waty pun mengusap dahinya.
“HAHAHAHAHAHAHA!” Tiba-tiba Wayne tertawa sekeras-kerasnya “INI BARU HEBAT! LUAR BIASA, LUAR BIASA!”
Wayne mendekat ke Mythgarr dan memegang bahunya dengan kedua tangannya “Vinchgarr membesarkan anaknya dengan baik! Mythgarr anak Vinchgarr, kau adalah pendekar muda terhebat yang pernah kukenal!” Wayne lalu tersenyum, merentangkan tangannya, dan berkata “maukah kau jadi pengawal pribadiku?”
Mythgarr terkejut, lalu tersenyum, dan kemudian merunduk hormat “Sebuah kehormatan, Tuan Wayne. Tapi maafkan saya, saya belum mencapai tujuan saya ke Damarshkant!”
Wajah Wayne tampak kecewa. Mythgarr pun merunduk lagi “Sekali lagi maafkan saya Tuan Wayne!”
Wayne hanya bisa tersenyum pahit “Oh…baiklah kalau begitu…” lalu dia mengatupkan kedua tangannya “Baiklah, baiklah! Garnos, apa yang bisa kita lalukan kepada bandit-bandit terkapar ini?”
“Kita bunuh saja, dan buat jalan ini lebih aman, Tuan Wayne!” Garnos berkata
“Aih aih!” Waty berkata “dah kehilangan kesempatan mendapatkan beberapa ribu keping emas?” matanya mengerling ke arah Garnos
“Hahahaha!” Wayne Pierce tertawa senang “Benar-benar pedagang sejati! Kau sepertinya punya ide bagus, Waty!”
“Mungkin, Tuan Wayne, tapi aku butuh beberapa bahan-bahan untuk jamu dan mantra JajiwaBenang.” Kata Waty
“Tabib Mahulae!” Waty memanggil seseorang. Yang dipanggil pun berjalan mendekat. Seorang separuh baya, mungkin lebih tua dari Wayne Pierce. Berkacamata, berambut putih pendek, memakai jubah bertudung berwarna putih yang bergaris-garis kuning di tepi-tepinya. Di punggungnya ada sebuah tas yang tercangklong dan sebuah tongkat panjang berwarna kuning dengan garis-garis merah sepanjang tongkat sebagai motifnya.
“Anda memanggil, Nona Waty?”sang tabib pun berkata
“Kau tahu mantra Jajiwabenang, Tabib?”
“ Walah walah, Nona!” sang tabib pun menggaruk-garuk kepalanya “tabib tahu itu, apakah untuk para bandit ini?”
“Benar sekali, tabib! Kau punya bahan-bahannya?”
“Kalo untuk sebanyak ini, tabib tidak punya…”
“Harusnya banyak di hutan ini” Waty menimpali “Jajiwabenang cuman butuh beberapa umbi-umbian, daun pohon, dan sarang laba-laba”
“Aku bisa mencarikan!” Mythgarr menimpali “guruku sering menyuruhku mencari umbi-umbian sepanjang mengajariku dulu.”
“Wah, wah, Mythgarr” Waty memandang Mythgarr dengan tatapan penuh arti “kamu jadi semakin menarik saja. Apa kamu juga bisa ramu-ramuan?”
Mythgarr nyengir “Kalo yang itu saya tidak bisa. Saya tidak pernah mengerti meskipun diajari bolak-balik oleh guruku, hehehe !”
“Sayang sekali! Baiklah Mythgarr, kamu cari umbi-umbian yang diperlukan!” Waty pun naik ke kereta dan beberapa saat kemudian kembali dengan secarik kertas “Mythgarr, Tabib Mahulae, tolong baca ini”
Mythgarr dan sang tabib pun membacanya. Sang tabib mengangguk-angguk sementara Mythgarr melihatnya
“Baiklah!” tabib pun memegang pundak Mythgarr “kita bertualang sebentar!”
Dan Mythgarr pun mengikuti langkah sang tabib yang mulai memasuki hutan.