Monday, December 7, 2009

Sihir dan Satria - Bagian III

Dia berjalan cepat-cepat menyusuri rak-rak buku yang bak labirin dan melangkah ke tempat Zer’Halinn berada. 

” Sudah selesai, Bunda Zer’Halinn” Tamara melapor sembari tersenyum. 

”Heee...bagus lah kalau begitu, lancar! Apa Tuan Rloum masi cuek seperti biasa?” 

”Begitu lah Bunda” Tamara mencemberutkan wajah ”kalau seperti itu terus, bisa-bisa siswa-siswa se-Damarshkant malas ke perpustakaan ini...” 

”Hehehe, yah begitulah Tuan Rloum dari dulu. Dingin dan hanya suka bermeditasi mengumpulkan Mana. Dia mengambil pekerjaan penyalin buku pun bukan karena dia penyihir rendahan, sama sekali bukan! Menyalin buku memerlukan tingkat pemahaman Sihir Arkana  yang lumayan tinggi, karena memerlukan beberapa pengubahan materi dari udara. Tuan Rloum itu mengambil pekerjaan ini karena dia tidak suka keramaian di Kuil Arkana Altenung, dan di sini dia bisa bermeditasi banyak-banyak.” 

Tamara pun mendelik sambil tersenyum ”Hebat dong....” 

Zer’Halinn pun mengerling ”Begitulah, Nona Tabib yang manis!”

”Kalau begitu Tamara permisi dulu, Bunda!” Tamara pun merundukkan kepala tanda permisi. 

”Silahkan, Nona Tabib. Tagihan akan kukirim ke Tuan Mahulae ya!?” 

Tamara pun cengar-cengir sambil berlalu.

Monday, October 19, 2009

Sihir dan Satria - Bagian II

Tuan Rloum memegang dua papan yang berada di sisi terluar dari dua pasang papan persegi dihadapannya. Dia memegangnya di di kedua kristal yang terdapat di papan-papan tersebut. Matanya kemudian terpejam dan mulutnya pun mulai merapal mantra-mantra. Keempat kristal di dua pasang papan persegi dihadapannya pun mulai menyala dan nampak cahaya-cahaya Mana berseliweran di dalam bola-bola tersebut. Tuan Rloum kemudian melepaskan tangannya dari kristal-kristal tersebut. Nampak benang-benang energi menghubungkan antara kedua tangan sang penyihir dan kedua bola kristal tersebut. Benang-benang tersebut membesar dan bergerak bak petir-petir kecil seiring Tuan Rloum menaruh tangannya ke bagian dalam dari dua pasang papan persegi tersebut. Satu tangannya menggenggam buku dan satu tangannya lagi tertengadah. Energi-energi mana berseliweran di tangannya.

Dengan satu gerakan cepat dan tiba-tiba, Tuan Rloum menarik kedua tangannya dan hal yang ajaib pun terjadi. Buku yang diserahkan Tamara tiba- tiba terlepas halaman demi halamannya dari jilidannya dan terpisah dari sampulnya. Dengan diselubungi oleh energi-energi Mana, halaman-halaman itu pun melayang-layang di atas papan persegi tersebut.

Tuan Rloum kemudian mengayunkan satu tangannya ke atas, dan beberapa halaman pun mencuat naik di atas halaman-halaman lainnya. Kemudian dia mengayunkan satu tangan yang lain dan beberapa lembar kertas pun melayang masuk ke dalam satu pasang papan persegi yang masih kosong dan mengambang sejajar dengan halaman-halaman buku yang mencuat.

Tuan Rloum kemudian mengatupkan kedua tangannya. Lembar-lembar halaman buku yang mencuat kemudian diliputi energi berwarna ungu yang keluar dari satu kristal dan masuk ke kristal lain. Kristal-kristal di papan persegi yang mengapit kertas-kertas yang kosong kemudian menyala merah dan mulai mengalirkan energi Mana merah ke kertas-kertas tersebut.

Tamara pun menarik nafas ketika dia melihat halaman-halaman kosong tersebut mulai memunculkan tulisan-tulisan di permukaannya. Tuan Rloum tampak terus berkonsentrasi sampai halaman-halaman yang tadinya kosong tersebut mulai penuh terisi tulisan-tulisan dan gambar-gambar yang ingin disalin Tamara.

Tak lama kemudian energi-energi ungu tersebut pun perlahan-lahan meredup dan kemudian menghilang seiring makin sempurnanya salinan. Energi-energi merah pun ikut menyusul menghilang. Tuan Rloum pun kemudian mengangkat tangannya dan memegang sampul buku dan halaman-halaman salinan.

Dia pun merapal mantra selanjutnya. Halaman-halaman yang terlepas dari jilidannya kemudian terselimuti oleh energi-energi biru dan dengan cepat kembali ke dalam sampul buku dan tampak terjilid ulang dengan sempurna. Tuan Rloum kemudian tampak mengerahkan Mana dari tangannya dan buku tersebut pun tampak perlahan-lahan menghilang. Kilatan-kilatan energi Mana merambat dari tempat buku tersebut ke garis-garis di meja dan dari garis-garis di meja ke garis-garis di dinding dan dari garis-garis di dinding ke kristal besar di dinding dan kemudian melesat menghilang.

”Dan buku pun kembali ke tempatnya” Tuan Rloum menggumam, lalu menggeram sambil memegang halaman-halaman salinan dan menyerahkannya ke Tamara ”Ini salinan-salinannya, Nona Tabib!”

Tamara pun mengambil salinan-salinan tersebut ”Terima kasih, Tuan Rloum! Saya permisi dulu”

Tuan Rloum hanya menggeram, memalingkan muka, dan memejamkan matanya.

Tamara pun melangkah keluar ruangan salin buku.

Sunday, October 18, 2009

Sihir dan Satria - Bagian I

Seorang gadis melangkah di sebuah lorong panjang. Sepatu bootnya menimbulkan gema seiring langkahnya pelan tetapi pasti. Sebatang tongkat berwarna kuning menyilang di punggungnya. Angin berhembus lembut menyapa wajahnya dan memainkan rambut coklatnya yang dipotong sebahu.Wajahnya menoleh, dan matahari pagi pun lembut menyinari wajahnya yang cantik. Matanya yang berwarna kecoklatan memandang keluar melalui jendela. Bibirnya tersenyum.

 Di luar sana, melalui jendela yang lebar dan tinggi tersebut, melewati kebun bunga dan pepohonan, jauh di sebuah lapangan luas di bawah bukit di mana lorong tersebut berada,  terlihat puluhan sosok berseragam baju zirah ringan berwarna putih sedang berlatih tombak-kampak.

 Bibirnya terkembang lebar dan matanya memancarkan kebahagiaan ketika melihat sebuah sosok berambut panjang dan berjenggot pendek yang menutupi seluruh dagunya. Sosok yang paling tinggi besar di antara sosok-sosok lainnya. Tetapi sang gadis pun menghela nafas dan kemudian berjalan kembali menelusuri lorong besar dan berlangit-langit tinggi tersebut.

 Tiga orang sosok, berpakaian putih dengan motif-motif garis keemasan di ujung-ujung lengan baju dan celana panjang mereka, berjalan ke arahnya. Sang gadis berhenti, menepi dan membungkuk hormat, memeluk erat buku tebal di pelukannya.

 “Salam dan berkah, Tuan Guru Matowa!” 

 Sosok paling depan itu pun berhenti, diikuti dua sosok di belakangnya. Dia pun memandang sang gadis dan tersenyum. 

 “Salam dan berkah untukmu, Tabib Petarung Tamara Kamil!”  Tuan Guru Matowa balas membungkuk “maafkan kami terburu-buru. Teruslah berbakti pada Tuhan, Agama dan Syarikat Kesatriaan. Permisi!” Tuan Guru Matowa pun membungkuk dan berlalu, diikuti para pengikutnya.

 Tamara pun memandang kepergian Tuan Guru Matowa, kemudian melangkah kembali menyusuri lorong tersebut sampai akhirnya sampai di ujungnya. Di hadapannya terbentang sebuah ruangan yang besar beratap tinggi. Ada tiga buah pilar besar di kanan dan tiga buah pilar di kiri. Di pilar-pilar tersebut ada pahatan-pahatan rumit. Di dasar masing-masing pilar terpahat motif teratai. Di atasnya, seakan-akan mengalir ke ujung atas pilar, terpahat motif-motif ombak yang perlahan-lahan tergantikan motif-motif awan. Di ujung atas pilar, seakan-akan mengembang keluar dari dalam pilar adalah pahatan sayap-sayap yang ujung-ujungnya mengarah ke sebuah lingkaran di tengah-tengah ruangan tersebut. Sayap-sayap tersebut bak membentuk bintang bersisi enam apabila dilihat dari bawah. Lingkaran tersebut terbagi dua belas, yang di masing-masing bagian terpahat dua belas Ranung yang masing-masing melambangkan dua belas unsur pembentuk alam semesta: Api, Air, Logam, Tanah, Kayu, Angin, Dingin, Panas, Terang, Gelap, Wujud, dan Kehampaan. Di tengah-tengah lingkaran besar tersebut terdapat ukuran bulan sabit dan bintang bersisi empat, lambang Penyerahan, agama utama di Kerajaan Domarthia dan Kedaulatan Vanima.

 Di ujung ruangan besar tersebut terdapat sebuah teras tinggi yang dapat dicapai dengan dua buah tangga yang melengkung di sisi kanan dan kirinya. Di tembok di bawah pelataran tinggi tersebut terukir sebuah dua buah Ranung besar melambangkan Ilmu dan Kekuatan Niat di dinding setinggi tiga tombak. Teras yang bertangga tersebut menempel dengan teras yang selebar  ruangan utama dan berujung di tembok terdalam ruangan tersebut. Dua buah patung besar berada di teras tersebut. Kedua patung tersebut seakan-akan disatukan oleh sebuah ukiran lingkaran besar di lantai teras. Satu patung menggambarkan seorang pelajar dengan buku di satu tangannya dan wajah dan satu telunjuknya menunjuk langit, sebuah keranjang buku di punggungnya. Satu patung lain menggambarkan seorang tua bijak dengan tongkat yang menopang tubuhnya dan satu tangannya menunjuk bumi dan matanya memandang jauh ke depan.

 Di dinding di ujung dalam ruangan, di teras besar tersebut, terdapat sebuah pintu raksasa yang mempunyai dua daun pintu besar terbuat dari jati besi. Di kanan dan kiri pintu berdiri dua orang Orc tinggi besar mempergunakan baju zirah berat dan bersenjatakan tombak-kapak besar yang mempunyai kristal biru di masing-masing mata kapaknya. Di atas pintu tersebut ada sebuah papan besar berukiran dedaunan rumit dan ditengah-tengahnya bertuliskan: 

 PERPUSTAKAAN UTAMA AKADEMI FILOSOFI SUARALIMA

 Kedua daun pintu perpustakaan terbuka karena waktu berkunjung sudah dimulai. Tamara melangkah dan menaiki salah satu tangga melingkar, menyapa para penjaga dan menunjukkan kartu identitas syarikatnya. Salah seorang penjaga kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tas kulit di pinggangnya dan menaruh kartu tersebut di dalam kotak tersebut. Kristal bulat di permukaan kotak tersebut kemudian menyala hijau dan muncul tulisan yang mengambang di udara di atas kotak tersebut. Tulisan tersebut adalah:

 

TAMARA KAMIL

TABIB TARUNG TINGKAT III

SYARIKAT KESATRIAAN DAMARSHKANT

NOMOR PENDUDUK: TIDAK ADA/BAWAH UMUR

NOMOR URUT ANGGOTA SYARIKAT:001.005.03.007

PENGECEKAN: LULUS

 

 

Sang penjaga kemudian mengeluarkan kartu Tamara dan mengembalikannya sambil tersenyum.

 “Terima kasih, Tabib Tamara” katanya “anda dipersilahkan masuk. Semoga mendapat perpustakaan memberikan ilmu padamu hari ini.”

 “Terima kasih Pak Pengawal” Tamara pun balas tersenyum “semoga harimu baik selalu. Permisi.”

 Tamara pun merunduk hormat dan kemudian masuk ke dalam perpustakaan. 

 ”Wah, wah!” sebuah suara perempuan, serak-serak basah, menyapa Tamara ”nona tabib muda terkenal pagi-pagi sekali mengunjungi perpustakaanku!”

 Tamara pun tersenyum dan menyapa pemilik suara 

 ”Selamat pagi, Bunda Zer’Helinn!” 

 Bunda Zer’Helinn adalah seorang orc perempuan tinggi besar berambut merah yang mulai beruban dan mengenakan jubah merah yang menutupi bagian depan dan belakang tunik seragam perpustakaan yang berwarna kuning. Dia berdiri dibalik sebuah meja setengah lingkaran yang mengelilinginya, tempat penjaga perpustakaan bertugas. 

 ”Mau mengembalikan buku, Nona Tamara?”

 ”Benar, Bunda!” Tamara tersenyum dan menyodorkan buku yang dari tadi dipeluknya ”tolong juga salinkan halaman-halaman yang sudah kuberi ranung kecil!” 

 ”Sebentar ya, Sayang.” 

 Bunda Zer’Helinn kemudian menekan sebuah tombol dan sebuah layar cahaya muncul di hadapannya. Sebuah benda menyerupai tatakan buku kemudian keluar dari sisi meja di samping kirinya. Zer’Helinn kemudian menaruh buku tersebut di situ. Seberkas cahaya kemudian menyelubungi buku. Zer’Helinn pun memandang layar.

 ” Hmm....Seluk-Beluk Penyembuhan Goblin dan Hobbit karangan Raja Tabib Shumarr Garg” Zer’Halinn kemudian memandang Tamara dengan tatapan tajam ”sudah terlambat tiga hari!”

 Tamara pun tersenyum malu ”Iya Bunda, bukunya terlalu tebal untuk kuhapalkan. Aku kan juga harus mengemban misi dari Syarikatku, waktu yang kutubuhkan jadinya lebih panjang!”

 ”Begitu ya? Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Kalau memang begitu, sepertinya harus kupotong dari upahmu, Nona Tabib!” Zer’Halinn tersenyum sambil mengangkat satu alisnya ”Tuan Tabib Mahulae mungkin akan sedikit menceramahimu nanti”

 Tamara hanya tersenyum masam mendengarnya. 

 ”Baiklah, Nona Tabib, setelah pemeriksaan, tidak ada tambahan sihir-sihir aneh di buku ini, kecuali ranung-ranung kecil yang kau taruh di situ.” lanjut Zer’Halinn. Dia menekan satu tombol yang lain dan layar di depannya menghilang.

 Zer’Halinn mengambil buku tersebut dan menekan tombol lain lagi. Sebuah corong muncul dan Zer’Halinn berbicara melalui corong tersebut ”Tuan Rloum, tolong siapkan alat salin buku!” Zer’Halinn pun kemudian memandang Tamara ”Kau tahu kan di mana ruang salin buku?”  Tamara pun mengangguk dan mulai memasuki ruang buku perpustakaan.

 Tamara memasuki ruang buku melalui pembatas yang ada di samping Zer’Halinn. Ruang buku perpustakaan itu adalah sebuah ruangan besar setinggi 4 tombak. Di dalamnya terdapat deret demi deret buku yang tersusun rapi dalam rak-rak yang saling berjajar dan membentuk lorong-lorong. Orang yang pertama kali memasuki ruang buku perpustakaan akan berpikir bahwa ruang itu memiliki jutaan buku karena rak-rak buku yang ada seakan-akan membentuk lorong-lorong tanpa batas. Seseorang bisa tersesat di dalam ruang buku perpustakaan apabila tidak memperhatikan tanda-tanda yang dipasang.

 Tamara melangkah dengan pasti di antara rak-rak buku. Dia berbelok-belok beberapa kali dengan mantapnya sebelum sampai di depan sebuah ruangan yang cukup besar dan dindingnya memiliki beberapa kristal-kristal kecil yang dihubungkan dengan garis-garis bercahaya yang bermuara pada sebuah meja besar. 

 Seorang goblin duduk di belakang meja tersebut. Dia mengenakan jubah penyihir dan sarung tangan berwarna ungu. Pada sarung tangan menempel tiga kristal yang dihubungkan dengan garis-garis ke jarinya. Di depannya, di atas meja, terdapat empat buah kayu persegi yang berdiri berjajar dengan sisi panjangnya sejajar dengan sisi lebar meja. Masing-masing kayu memiliki sebuah kristal besar yang dihubungkan dengan garis-garis bercahaya ke meja.

 ”Selamat pagi, Tuan Rloum!” Tamara menyapa goblin tersebut ”bagaimana kabarnya?”

Tuan Rloum menggeram kecil lalu menjawab ”Selamat pagi, Nona Tabib! Kabar Rloum baik-baik saja!”

Tamara selalu merasa Tuan Rloum membencinya karena dia selalu menggeram kalau bertemu dengannya.  Tapi Tamara tetap tersenyum dan menyodorkan buku yang ada pelukannya ”Kalau boleh, saya mau menyalin beberapa halaman dari buku ini, Tuan Rloum!”

Tuan Rloum memandang tajam ke mata Tamara, lalu dengan cepat mengambil buku yang dipegangnya. 

”Berapa salinan?” Tuan Rloum bertanya sambil menatap tajam

”Cukup satu saja, Tuan Rloum” jawab Tamara sambil tersenyum dan sedikit takut-takut.

”Baiklah kalau begitu!” Tuan Rloum pun menaruh buku  tersebut di antara sepasang kayu persegi yang berada di atas meja, dengan sisi-sisi buku menghadap ke kayu persegi, dan jilidan buku berada di bawah. Tuan Rloum kemudian mengayunkan tangannya ke arah Tamara dan mengibas-ngibaskannya, menyuruh Tamara menjauh. Tamara pun mematuhi dan mundur tiga langkah.

Monday, October 12, 2009

Jalan Emas Maut - Bagian III

Ruang itu adalah sebuah ruang yang teramat gelap. Hampir-hampir tak ada cahaya yang menerangi kecuali cahaya yang memancar dari sebuah kristal kecil yang berada di atas kepala seseorang yang sedang duduk di sebuah kursi di tengah-tengah ruang itu. Di meja di hadapannya orang itu terhampar puluhan buku yang terbuka dan beratus-ratus lembar kertas yang terhambur dan belasan alat tulis. Dia duduk dengan  tenang dan membaca dengan bantuan cahaya dari kristal yang melayang-layang di atas kepalanya. Tangannya dengan tenang membalik halaman demi halaman buku yang dibacanya. Sesekali cahaya bak pijaran kilat kecil memancar dari tangannya, menandai halaman-halaman buku itu dengan ranung-ranung kecil yang diukir oleh magisnya.  Di bawah cahaya temaram itu, tangannya pun terlihat . Tangan yang bak tulang terbalut kulit kering dengan pembuluh-pembuluh liar berseliweran dan berpendar ungu. 

Setelah beberapa lama, dia menghela nafas. Kabut ungu keluar dari beriringan dengan helaan nafasnya. Dia pun menaruh buku yang di tangannya ke meja dan berdiri. Wajahnya menjadi sejajar dengan tinggi kristal. Cahaya yang melayang-layang itu pun menerangi wajahnya yang ada di balik tudung. Dia pun langsung menggenggam kristal itu, seakan-akan tak ingin wajahnya diterangi oleh cahayanya. 

Dari wajahnya kemudian muncul dua buah cahaya ungu di rongga-rongga matanya. Dia pun melihat ke kanan dan ke kiri, seakan-akan memastikan sesuatu. Satu tangannya kemudian terangkat ke atas dan tangan lainnya mengarah ke bawah. Jari-jari telunjuknya teracungkan. 

“Vialuminaria!” sebuah suara parau dan bak dari alam lain pun bergema di ruangan itu. Satu lingkaran sihir muncul di kepalanya, dan satu lingkaran sihir lain muncul di kakinya. “Bawa aku ke menaraku!” 

Sosok itu kemudian terbungkus dalam cahaya ungu yang kemudian perlahan-lahan menghilang. Ruang itu pun kemudian kembali gelap dan sunyi. 

Seorang wanita yang sedang mengulum anggur sambil berbaring malas di peraduannya merasakan getaran magis yang dihasilkan oleh mantra sosok tersebut. Dia menggumam “pria yang tak tahu sopan santun” dan wanita itu pun tersenyum, jalang. 

Malam itu, Kuil Arkana Altenung dikunjungi oleh sesosok tamu yang datang tak diundang dan pulang tak diantar.

***

 “MYTHGARR, KAU SUDAH TAHU DAUN YANG MANA KAN?” Mythgarr mendengar Tabib Mahulae berteriak di bawah pohon dimana dia sedang memanjat. Mythgarr tak menjawab, matanya sudah menemukan daun yang dicari, daun dari sebuah benalu pohon besar tersebut. Daun tersebut berwarna merah dengan urat-urat biru. Dia pun memetik 30 lembar dari beberapa batang benalu tersebut dan menaruhnya di kantung yang diberikan oleh sang tabib. Sejurus kemudian, Mythgarr sudah melompat dan mendarat di tanah.

 “Yang ini bukan, Tuan Tabib?” Mythgarr menyerahkan kantongnya kepada Tabib Mahulae. Tabib pun membuka, melihat isinya, dan mengangguk. Mythgarr pun tersenyum lega, lalu mengambil tas besar yang tergeletak di akar pohon dan mencangklongkan dibahunya. 

 “Dengan begini kita sudah mengumpulkan semuanya.” Kata sang tabib sambil membaca daftar yang diberikan Waty dan menggaruk-garuk kepalanya “Kalau begitu…mari kembali ke karavan! Lebih cepat lebih baik, ini sudah lewat tengah hari…”

 Mythgarr mengangguk dan mengikuti sang Tabib kembali ke karavan. Di sana sudah menunggu Wayne Pierce dan rombongannya yang sedang mengitari Orc-orc yang sudah dikumpulkan di satu tempat dan diikat di kaki dan tangan mereka. Para bandit-bandit manusia juga dikumpulkan diikat ke tiga batang pohon besar. Para troll masih terlihat terkapar hitam legam.

 “Lama sekali kalian berdua” Waty berkata lalu tersenyum mengejek ke arah para orc “Orc-orc ini sampai kelaparan!” 

 Mythgarr hanya cengar-cengir dan sang tabib hanya menggaruk-garuk kepalanya. “Kami sudah mengumpulkan semua bahan-bahannya, Nona Waty!” 

 “Baiklah, kau mulai seduhlah jamunya. Aku menyiapkan mantranya.” Waty kemudian memandang Tabib Mahulae “Tolong pinjamkan tongkatmu, Tabib!”

 “Wah, wah…” sang tabib menggaruk-garuk kepalanya “maaf…tapi kalo tongkat ini, aku tak bisa meminjamkannya…”

 Waty tampak kesal, tapi kemudian tersenyum “Kau takut aku mencemari Tongkat Kudusmu dengan mantra-mantra Arkanaku, Tabib?”

 “Begitu lah, Nona Waty” sang tabib menggaruk-garuk kepalanya “pembersihannya dari Ketakmurnian Manna Arkana sebanyak yang direncanakan akan memakan Sarikudus saya banyak sekali”

 Waty pun tersenyum kecut “Tapi…..aku tidak punya waktu banyak untuk membuat Inti Pancang Magis Lingkaran dari batang kayu yang ada di sini!”

 Sang Tabib hanya menggaruk-garuk kepalanya.

 Carno pun mendekat ke arah Wayne, dan membisikkan sesuatu ke arahnya. Wayne terlihat mengangguk-angguk.

 “Tabib Mahulae!” Wayne berteriak memanggil. Sang tabib pun membalikkan badan dan bertatap mata dengan Wayne yang memanggilnya “tolong kemarilah sebentar!”

 Tabib Mahulae pun melangkah ke arah Wayne. Lalu mereka pun tampak bercakap-cakap.

 “Lihatlah Mythgarr, salah satu orang yang memegang kekuatan sejati di Damarshkant sedang mencoba tawar-menawar dengan Abdi Tuhan!” Waty berkacak pinggang dan tersenyum sinis. Mythgarr hanya memandang percakapan Wayne, Carno, dan Tabib Mahulae.  “Beruntunglah Tabib Mahulae, Wayne Pierce bukan orang jahat” kata Waty lagi.

 “Sepertinya dia bukan…” timpal Mythgarr “dia langsung menyambutku dengan baik ketika kukatakan aku putra Vinchgarr.”

 “Vinchgarr Chromehands” Waty mendesah, lalu bertanya “apa pekerjaan ayahmu sekarang, Mythgarr?”

 “Ayahku seorang pandai besi, beliau membuat dan memperbaiki alat-alat pertanian dan peternakan serta sesekali membuat pisau-pisau dapur” jawab Mythgarr sambil tersenyum “beliau yang terbaik di seluruh kaki gunung!”

  Waty memandang Mythgarr.  Alisnya terangkat satu dan senyum sinisnya mengembang ketika pandangannya bertemu dengan pandangan Mythgarr “Pandai besi, eh? Kurasa itu cocok untuknya….” Waty mengalihkan pandangannya ke arah Wayne dan Tabib Mahulae yang masih bercakap-cakap sementar Mythgarr mengerenyitkan alisnya dan memandang Waty. Ada yang aneh di kata-kata Waty barusan, pikir Mythgarr.

 Wayne Pierce dan Tabib Mahulae terus bernegosiasi. Tabib Mahulae berkali-kali menggaruk kepalanya dan memandang-mandang tongkatnya. Wayne Pierce berkali-kali berbicara dengan Carno yang memegang selembar kertas dan pena. Carno pun berkali-kali menunjukkan sesuatu di kertas pada Wayne and Tabib Mahulae. Pada akhirnya Tabib Mahulae pun mengangguk-ngangguk. Carno menghampiri kereta kuda, masuk ke dalam, lalu beberapa saat kemudian keluar dengan membawa meja kecil dan beberapa peralatan tulis. Mereka membakar lilin, meneteskannya ke selembar kertas, dan Wayne pun menancapkan cincinnya yang terbesar ke lilin tersebut, sedangkan Tabib Mahulae menaruh ujung tongkatnya ke kertas tersebut. Ujung tersebut kemudian menyala. Tabib Mahulae and Wayne Pierce pun bersalaman

 “Nah, sepertinya mereka sudah membuat perjanjian sewa-menyewa baru…” Waty berkata.

 “Maaf, Nona Waty, tapi bukankah Nona seharusnya bagian dari perjanjian itu?” tanya Mythgarr.

 Ada alasannya, Mythgarr, kenapa Wayne Pierce tidak menyertakan Waty Chandra dalam urusan ini.” Waty pun memandang Mythgarr dan tersenyum getir “alasan prinsip”

 Mythgarr hanya terdiam, tak tahu harus berkata apa. 

 Tabib Mahulae pun mengangkat tongkatnya, memutar-mutarnya bak baling-baling di udara, dan kemudian dengan cepat menancapkannya ke tanah. Secercah cahaya kemudian menyemburat dari ujung-ujung tongkat. Tabib Mahulae lalu mendekat dan berkata kepada Waty

 Nona Waty” katanya sambil menyerahkan Tongkat Kudusnya “Nona boleh mempergunakan Tongkat Kudus ini sebagai Pusat Sebar Lingkar Arkana untuk mantra Jajiwa Benang.”

 Waty pun mengambil tongkat tersebut dengan kedua tangannya dan sembari merunduk, seakan-akan mengambil sebuah benda pusaka. “Terima kasih, Tabib Mahulae”

 “Sekarang, Nona Waty” Tabib pun tersenyum”mari kita membuat jamu Jajiwa Benang!” Tabib Mahulae tersenyum, sembari tetap menggaruk-garuk kepalanya.

Monday, October 5, 2009

Jalan Emas Maut - Bagian II

Damarshkant adalah kota ilmu pengetahuan di mana ilmu sihir dan sains dipelajari secara seksama. Kedua ilmu tersebut diajarkan di dua tempat berbeda. Ilmu Sihir dipelajari di Kuil Arkana Altenung dan Ilmu Sains dipelajari di Akademi Filosofi Suaralima. 

Selain tempat menuntut ilmu sihir, Kuil Arkana Altenung merupakan pusat kekuatan magis di Domarthia. Kuil ini sendiri merupakan bukti kekuatan magis yang besar, karena dibangun oleh langsung oleh para penyihir yang menyusun batu demi batu, kayu demi kayu, dan besi demi besi untuk menjadi sebuah kuil besar yang kokoh. Di fondasi kuil ini terdapat sebuah bola kristal raksasa yang diletakkan di dalam kerangkeng yang terbuat dari campuran logam Mythrill. Bola kristal raksasa ini dibuat untuk menyerap sinar matahari dari langit dan uap air dari samudra di bawahnya untuk kemudian dijadikan sumber energi magis. Energi magis ini kemudian dialirkan ke seluruh kuil dan melalui Rantai Pusar dialirkan ke seluruh Damarshkant untuk dijadikan sumber energi. Energi magis ini juga diperlukan untuk mendukung satu hal yang pasti membuat orang yang pertama kali melihat Kuil Arkana Altenung tercengang: Kuil Arkana Altenung, dengan energi magis yang luar biasa, dibuat melayang di atas samudra! 

Di dalam kuil yang melayang di udara ini lah para penyihir dan murid-murid penyihir dari seluruh Domarthia berkumpul dan belajar sihir. Di dalam kuil ini pula lah mereka tinggal selama menuntut ilmu. 

Dan di dalam kuil ini pula lah, sebuah rencana hitam sedang disusun. 

*** 

Karavan Wayne Pierce terus bergerak menyusuri Jalan Emas Maut. Wayne, Carno, dan Waty terus bercakap-cakap sementara Mythgarr hanya sesekali menimpali.  Selebihnya ia hanya tersenyum-senyum atau melihat ke luar jendela. Wayne sepertinya melihat keadaan ini. 

“Mythgarr putra kawan lamaku” Wayne berkata “sebentar lagi kau bisa melihat Damarshkant jauh di bawah sana, di sisi jalan ini!” 

Mythgarr, yang sedang bengong, langsung merasa kikuk akan sadarnya Wayne  bahwa Mythgarr merasa tersisihkan di percakapan. 

“Benar” timpal Waty “kulihat kita sudah melewati dua belokan tadi, satu belokan lagi kau dapat melihat Damarshkant secara sekilas sebelum kita mulai memasuki hutan!”

 Mythgarr mengangguk, lalu melihat keluar. Di jendela mulai tampak pohon-pohon hutan yang tinggi, lalu Karavan menanjak seiring jalanan yang mulai naik, dan lalu mulai berbelok. Mata Mythgarr pun membelalak.

 Di sana, jauh di bawah sana, terlihat sebuah kota yang teramat besar, dengan beberapa bangunan yang tampak luar biasa besarnya.

 Waty, yang duduk di depan Mythgarr, berkata sambil menunjuk-nunjuk “Yang besar di kananmu itu Kastil Raja” Mythgarr melihat sebuah Kastil raksasa bertingkat-tingkat yang seakan-akan merangsek keluar dari sebuah bukit.

 “Yang menempel di dekatnya itu, dipisahkan oleh beberapa rumah besar, adalah Akademi Suaralima, pusat ilmu sains di Domarthia!” Mythgarr bersiul kecil ketika melihat sebuah bangunan yang tampak seperti menara besar yang dikeliling oleh cincin yang terbuat dari beberapa bangunan

 “Dan yang di sana, Mythgarr” Waty tersenyum dan melihat kea rah Mythgarr dengan pandangan misterius sambil menunjuk ke arah laut“ adalah Kuil Arkana Altenung!”

 Mythgarr terpana begitu menyadari bahwa Kuil Arkana Altenung melayang-layang di atas permukaan laut. “Hebat! Bangunan sebesar itu…bisa melayang?”

 “Ahahahaha!” Wayne tertawa membahana “kau benar-benar bocah kampung, Mythgarr!”

 “Berbahaya” Carno tersenyum “bisa-bisa kau dipermainkan oleh teman-temannya Waty, hehehe!”

 Waty tersenyum dan menimpali “Benar lho, Mythgarr! Kau harus hati-hati di Damarshkant! Banyak orang-orang yang berhati busuk dan berniat jahat di sana. Anak muda kekar tapi lugu sepertimu bakal sering didekati oleh orang-orang yang berniat mempergunakanmu seenaknya!”

 Mata Mythgarr membelalak “Err…seperti rombongan ini?”

 “WAHAHAHAHAHAHAHAHA!” Wayne tertawa terpingkal-pingkal. Carno hanya mesem-mesem, dan Waty hanya tersenyum. “Eheheheh!” Sambil menahan perutnya yang sakit karena ketawa, Wayne  berkata “Kau lugu, tapi tetap waspada, ya Mythgarr? Benar, Mythgarr, tetap seperti itu, tetap waspada!”

 Mythgarr mengangguk 

 “Kalau begitu, tetaplah waspada akan kami semua, akan rombongan ini, karena terus terang saja kan, Mythgarr anak Vinchgarr, kami orang asing bagimu!”

 Mythgarr hanya tersenyum.

 “Tapi sebentar lagi akan ada orang yang lebih asing lagi, dan orang-orang ini tidak segan-segan menunjukkan niat jahat mereka!”

 “Bandit-bandit….” Mythgarr berkata

 Wayne Pierce tersenyum “Benar sekali, Mythgarr. Kalau kau sudah bisa melihat Damarshkant di bawah sana dari jalan ini, berarti kita akan memasuki Hutan Bunga sebentar lagi.”

 “Hutan Bunga…” Mythgarr menggumam.

 “Sarang para Bandit, Mythgarr!” Carno berkata dengan mata melotot “dimana para karavan biasanya hanya mencoba berlari sekencang mungkin sampai keluar dari hutan!”

 “Mereka adalah kekuatan mengerikan yang membuat jalur ini begitu berbahaya. Kalau hanya bandit-bandit manusia mungkin para tentara bayaran pengawal kita ini bisa melawan mereka. Tapi mereka juga mempunyai belasan orc bersenjata lengkap dan beberapa troll!” Waty berkata sambil menatap jendela.

 “Kita sudah memasuki hutan” Carno berkata. Mythgarr mengangguk. Di luar kereta kuda, pemandangan sudah lebih gelap dan didominasi dengan batang-batang pohon yang tegak menjulang.

 “Mythgarr” Wayne Pierce berkata. Mythgarr menoleh ke arahnya dan bertemu dengan wajah serius Wayne “kami biasanya berlari sekencang mungkin untuk menghindari mereka. Mungkin mereka akan merusak atau bahkan melukai beberapa dari kita, mungkin bahkan membunuh –“

 “BANDIT!!” belum selesai Wayne berkata, ada sebuah teriakan di luar. “SIAP-SIAP BERLARI KENCANG!”

 Mata Mythgarr membelalak. Dia tersenyum. Lalu membuka pintu dan melompat keluar dari kereta kuda yang berlari kencang.

 Wayne tersenyum. “Anak pintar…”

 Mythgarr pun mendarat lalu menengok ke arah di mana Karavan melaju. Dia melihat tiga orang orc setinggi dua tombak, dengan zirah besi lengkap dan kapak-kapak sebesar perisai bersiap menghadang. Wajah mereka tertutup helm, hanya mulut mereka yang terlihat. Mythgarr bisa melihat dengan jelas sepasang taring mereka yang tumbuh memanjang. Mythgarr pun menarik nafas. Dia mulai mengatur aliran darahnya. Konsentrasinya pun ditingkatkan. Tiga helaan nafas kemudian, Mythgarr pun merasakan prananya memuncak dan seluruh otot, panca indra, dan prana indranya menguat. Dia pun merasakan keseluruhan ancaman yang ada disekitarnya. 

 “Tiga Orc di depan. Empat Orc di kananku. Lima Orc di kiriku. Beberapa manusia tersebar di puncak pohon. Baiklah kalo begitu!”

 Mythgarr pun mulai berlari melesat. Dengan kecepatan tinggi dia menyusul karavan yang sempat meninggalkannya. Empat helaan nafas, dan dia pun sudah melewati Garnos yang memacu kudanya dengan kencang.

 Mythgarr pun melesak, melompat tinggi ke arah salah satu orc yang berjarak sekitar seratusan  tombak di depan. Dia pun mengepalkan tangan kirinya sekencang-kencangnya, menariknya ke belakang, dan dengan penuh tenaga mengayunkannya.

 Suara bak guntur pun membahana ketika pukulan Mythgarr menghantam ayunan kapak yang diayunkan dengan penuh keterkejutan oleh orc itu. Orc setinggi dua tombak itu pun kemudia terhuyung-huyung sedangkan Mythgarr mendarat dengan mulus di hadapannya. Para orc pun terkejut setengah mati, tapi Mythgarr tidak memberikan kesempatan mereka untuk menyerang. Satu tendangan keras menghantam kepala satu orc dan membuat sosok besar itu terguling-guling. Secepat kilat, Mythgarr pun berputar, melompat, dan mendaratkan satu tendangan keras lain ke kepala orc yang lain yang langsung jatuh terhujam. Mendarat, Mythgarr menghindar ayunan kapak dari salah satu orc, menangkap kapak tersebut dan memelintirnya sehingga membuat sang orc kehilangan keseimbangan dan terjengkang. Mythgarr pun mengayunkan kapak besar, dan menghantam sang Orc dengan sisi panjang dari kapak berkali-kali sampai sang orc tak tersadarkan diri. Dia kemudian melihat dua orc lain dan merasakan dengan prana indranya bahwa mereka pun sudah tak sadarkan diri.

 “Ternyata cuman segini saja..”

 Mythgarr pun menoleh ke arah karavan dan terkejut melihat bahwa karavan berhenti. Garnos dan tiga pengawal lainnya sedang bertarung melawan para orc. 

 Para Troll pun terlihat. Wajah mereka bak campuran antara kera dan buaya. Tubuh mereka yang besar, lebih besar dari orc, bersisik hijau dan bongkok. Mereka tampak menjijikkan dengan rambut yang sedikit dan tumbuh sembarangan dan lendir kuning yang tampak meliputi tubuh mereka. Meskipun tergolong makhluk berakal, mereka tak pernah memakai penutuh tubuh sedikitpun. Ada lima troll, dan mereka sedang berusaha merusak lima kereta kuda yang ada. Para sais dan penumpang yang ketakutan sudah diungsikan ke pinggir jalan. Mythgarr terkejut begitu meliaht Wayne, Carno, dan Waty memasang kuda-kuda melindungi penumpang yang lain.

 Mythgarr pun melesat ke arah karavan untuk mengusir para troll. Tiba-tiba panah-panah beterbangan ke arahnya, dan Mythgarr menghindar sambil menghancurkan panah-panah itu. 

 “Aku lupa dengan mereka yang ada di atas pohon!”

 “MYTHGARR!” Garnos berteriak “SELESAIKAN YANG DI ATAS POHON DULU!”

 Mythgarr mematuhi Garnos dan langsung melesat ke arah pohon-pohon, langsung merangsek ke arah di mana prana indranya merasakan adanya orang-orang. Mereka langsung mengeluarkan pedang dan belati mereka untuk menghadapi Mythgarr, tapi tetap saja mereka bukan lawannya. Dengan sekejap mata, Mythgarr melompat dari dahan ke dahan, melumpuhkan lawan-lawannya dan melucuti senjata-senjata. Mereka semua lalu berjatuhan dari pohon-pohon ke semak-semak di bawah dan senjata-senjata mereka dibuang Mythgarr ke arah karavan.

 Di bawah, Garnos dan kawan-kawan tampak kewalahan menghadapi orc-orc yang tersisa.  Tiga orc sudah terkapar di sisi sebuah kereta kuda, dan satu pengawal juga sudah terkapar di dekat kereta kuda yang lain. Tinggal tiga pengawal.

 “TUAN GARNOS! BIAR SAYA TANGANI YANG DI SINI!” Mythgarr masuk ke arena pertarungan mereka sambil berteriak. Dia mendarat di samping Garnos dan menendang selangkangan Orc yang sedang dihadapinya sampai orc itu pingsan. Tuan Garnos sekelompok lebih baik mencoba usir troll-troll itu saja”

 Garnos terdiam dan berdecak, lalu pergi ke arah troll-troll itu “KELOMPOK DARAH SINGA, IKUTI AKU!”

 Mythgarr pun melanjutkan rangsekannya ke arah Orc-orc yang lain.  Beberapa pengawal yang terkejut dan tercenung sejenak akan perintah Garnos terselamatkan oleh tindakan cepat Mythgarr. Dia menendang kepala satu orc sehingga terjengkang, lalu dengan cepat menangkap kakinya di udara, dan melemparkannya dengan penuh tenaga ke arah dua orc lain sehingga mereka kehilangan kesetimbangan.

 Mythgarr lalu melompat jauh, dan kemudian melancarkan tendangan sekuat tenaga ke arah satu orc yang kehilangan kesetimbangan tersebuat. Orc tersebut pun terdorong oleh tenaga yang luar biasa dari tendangan Mythgarr dan menyebabkan dia dan orc lain terjatuh. Mythgarr lalu melompat ke udara dengan berpijak pada orc tersebut, menarik nafas dalam-dalam di tengah-tengah melayangnya. Dia pun lalu berteriak dengan teriakan yang bak guntur, menembakkan tenaga dalam dengah dahsyat ke arah tiga orc tersebut. Tak ayal lagi, tiga orc tersebut pun pingsan seketika.

 “Baiklah!” Mythgarr menggumam “lima lagi!”

 Orang-orang masih menutup kuping mereka yang berdenging akibat teriakan Mythgarr, tapi mata mereka menunjukkan kekaguman untuk gerakan dan kekuatan Mythgarr yang luar biasa.

 “Lihat, lihat Carno!” Wayne tersenyum “luar biasa bukan, Mythgarr anak Vinchgarr ini?”

 “Andaikan aku lebih muda….” Waty tersenyum nakal sambil tetap menutup kupingnya

 “Ini kesempatan yang tak kan muncul dua kali, Tuan Wayne” Carno tersenyum penuh arti pada Wayne Pierce.

 Wayne hanya tersenyum lebar sambil tetap menutup kupingnya.

 Satu Orc yang terbesar meraung sekeras-kerasnya, lalu berlari ke arah Mythgarr. Dua Orc pun ikut meraung dan berlari ke arah Mythgarr. Orc-orc yang lain tetap bertarung dengan Garnos dan dua pengawal lain, menghalangi mereka untuk mengusir para Troll.

 Alih-alih menyongsong Orc-orc yang berlari ke arahnya, Mythgarr hanya berdiri tegak di tempat. Wajahnya berubah angkuh, dagunya terangkat dan tersenyum meremehkan.Orc yang terbesar pun terlihat kesal dan meraung sambil mengangkat kapaknya sambil terus berlari ke arah Mythgarr. Ketika sudah dekat, sang orc pun mengayunkan kapaknya dengan sekuat mungkin. Matanya membelalak ketika di matanya Mythgarr tampak menghilang. Sejurus kemudian, terdengar suara-suara raungan orc di belakangnya. Sang orc pun membalikkan badan dan melihat Mythgarr sedang menginjak-injak satu orc yang sedang terkapar. Satu orc yang lain sudah terpelanting sekitar tiga tombak dari tempat Mythgarr berada. 

 Mythgarr memegang dua kapak raksasa bekas kepunyaan para Orc yang dia kaparkan. Dia memandang orc terakhir yang tersisa dengan pandangan penuh ancaman dan dengan senyum menghina tersungging di bibirnya. Orc terakhir pun memandang Mythgarr dengan tatapan kesal dan mendengus-dengus dengan kerasnya. Mythgarr tampak tenang, mengayun-ayunkan kedua kapak itu sambil berjalan menuju orc tersebut. Orc pun tampak kebingungan, kakinya maju mundur dan matanya melihat ke kanan-kiri, seakan-akan mencari kawan. Mythgarr tetap maju dengan yakin. Sang Orc pun tampak makin ragu-ragu. Dia tetap mendengus-dengus, tapi tidak sekeras sebelumnya. Kakinya pun tampak mengambil langkah mundur.

 “HOAAAAAAAARGGGGHHHHH!!!!” Mythgarr pun berteriak sembari mengangkat kedua kapak raksasa dan berlari ke arah orc tersebut. Orc tersebut pun terkejut, badannya menjadi gontai, lalu dengan tiba-tiba berbalik badan dan berlari. 

 “HEY, GAK BOLEH KABUR!!” Mythgarr pun berteriak sembari melempar satu kapak raksasa ke arah orc terakhir. Tanpa ampun, kapak tersebut menghajar orc yang kabur tersebut dan membuatnya terjengkang. Mythgarr pun melesat, melompat, dan mendarat dengan kakinya menginjak kepala orc tersebut. Gagang kapak raksasa pun berkali-kali dihantamkan ke kepala orc tersebut sampai dia tidak bergerak lagi. 

 “Tidurlah sudah kau, orc!” kata Mythgarr sambil membuang kapak yang masih dipegangnya. Dia pun membalikkan badan, melihat ke arah Garnos dan kawan-kawan. Mereka berhasil mengalahkan dua orc lainnya dan mulai mengusir para troll.

 Tiba-tiba Mythgarr melihat Waty melangkah maju, tangannya ditaruh di depan, dengan api menyala-nyala di ujung-ujung jarinya. 

 “Garnos, lindungi aku!” Waty memberi perintah pada Garnos yang bersama dua pengawal lain pun mengapit Waty yang berjalan ke arah para Troll yang mulai kebingungan. Waty pun mengayunkan kedua tangannya, dan empat bola api pun beterbangan ke arah troll-troll tersebut. Satu ayunan tangan lagi, dan satu bola api mengarah ke troll terakhir. Troll-troll pun berpanikan, mencoba memadamkan api di tubuh mereka dengan sekenanya. Ada yang berguling-guling di tanah, ada yang mencoba memadamkannya dengan menepuk-nepuk tubuhnya, ada yang hanya berlari tak tentu arah.

 Waty pun memberi aba-aba pada Garnos dan dua pengawal untuk menjatuhkan para troll tersebut. Mereka pun patuh dan mulai memukuli troll-troll tersebut sampai mereka terjatuh sambil tetap terbakar. Troll-troll tersebut kemudian tak berterak lagi.

 “Pheww…” Waty pun mengusap dahinya. 

 “HAHAHAHAHAHAHA!” Tiba-tiba Wayne tertawa sekeras-kerasnya “INI BARU HEBAT! LUAR BIASA, LUAR BIASA!”

 Wayne mendekat ke Mythgarr dan memegang bahunya dengan kedua tangannya “Vinchgarr membesarkan anaknya dengan baik! Mythgarr anak Vinchgarr, kau adalah pendekar muda terhebat yang pernah kukenal!” Wayne lalu tersenyum, merentangkan tangannya, dan berkata “maukah kau jadi pengawal pribadiku?”

 Mythgarr terkejut, lalu tersenyum, dan kemudian merunduk hormat “Sebuah kehormatan, Tuan Wayne. Tapi maafkan saya, saya belum mencapai tujuan saya ke Damarshkant!”

 Wajah Wayne tampak kecewa. Mythgarr pun merunduk lagi “Sekali lagi maafkan saya Tuan Wayne!”

 Wayne hanya bisa tersenyum pahit “Oh…baiklah kalau begitu…” lalu dia mengatupkan kedua tangannya “Baiklah, baiklah! Garnos, apa yang bisa kita lalukan kepada bandit-bandit terkapar ini?”

 “Kita bunuh saja, dan buat jalan ini lebih aman, Tuan Wayne!” Garnos berkata

 “Aih aih!” Waty berkata “dah kehilangan kesempatan mendapatkan beberapa ribu keping emas?” matanya mengerling ke arah Garnos 

 “Hahahaha!” Wayne Pierce tertawa senang “Benar-benar pedagang sejati! Kau sepertinya punya ide bagus, Waty!”

 “Mungkin, Tuan Wayne, tapi aku butuh beberapa bahan-bahan untuk jamu dan mantra JajiwaBenang.Kata Waty

 “Tabib Mahulae!” Waty memanggil seseorang. Yang dipanggil pun berjalan mendekat. Seorang separuh baya, mungkin lebih tua dari Wayne Pierce. Berkacamata, berambut putih pendek, memakai jubah bertudung berwarna putih yang bergaris-garis kuning di tepi-tepinya. Di punggungnya ada sebuah tas yang tercangklong dan sebuah tongkat panjang berwarna kuning dengan garis-garis merah sepanjang tongkat sebagai motifnya.

 “Anda memanggil, Nona Waty?”sang tabib pun berkata

 “Kau tahu mantra Jajiwabenang, Tabib?”

 “ Walah walah, Nona!” sang tabib pun menggaruk-garuk kepalanya “tabib tahu itu, apakah untuk para bandit ini?”

 “Benar sekali, tabib! Kau punya bahan-bahannya?”

 “Kalo untuk sebanyak ini, tabib tidak punya…”

 “Harusnya banyak di hutan ini” Waty menimpali “Jajiwabenang cuman butuh beberapa umbi-umbian, daun pohon, dan sarang laba-laba”

 “Aku bisa mencarikan!” Mythgarr menimpali “guruku sering menyuruhku mencari umbi-umbian sepanjang mengajariku dulu.”

 “Wah, wah, Mythgarr” Waty memandang Mythgarr dengan tatapan penuh arti “kamu jadi semakin menarik saja. Apa kamu juga bisa ramu-ramuan?”

 Mythgarr nyengir “Kalo yang itu saya tidak bisa. Saya tidak pernah mengerti meskipun diajari bolak-balik oleh guruku, hehehe !”

 “Sayang sekali! Baiklah Mythgarr, kamu cari umbi-umbian yang diperlukan!” Waty pun naik ke kereta dan beberapa saat kemudian kembali dengan secarik kertas “Mythgarr, Tabib Mahulae, tolong baca ini”

 Mythgarr dan sang tabib pun membacanya. Sang tabib mengangguk-angguk sementara Mythgarr melihatnya

 “Baiklah!” tabib pun memegang pundak Mythgarr “kita bertualang sebentar!”

 Dan Mythgarr pun mengikuti langkah sang tabib yang mulai memasuki hutan.

Saturday, October 3, 2009

Jalan Emas Maut - Bagian I

Domarthia adalah sebuah negeri yang makmur. Terletak di ujung selatan benua Elie, diapit oleh Hutan Vanima di utara dan Samudra Beku Biru di sisi-sisi lainnya. Ibukotanya bernama Damarshkant dan terletak di selatan negeri, di muara sungai Vanima. Damarshkant merupakan kota pelabuhan yang ramai dan penghubung antara benua Elie dan benua Anua di selatann. Selain kota perdagangan yang ramai, Damarshkant juga kota ilmu pengetahuan, sihir, dan kota di mana pendekar-pendekar hebat berkumpul dan menawarkan jasa mereka sebagai pendekar bayaran.

 Mythgarr tersenyum-senyum. Sudah tiga hari dia berjalan dari desa kecilnya, Desa Ural di kaki gunung Rheic di timur laut Damarshkant. Dia sedang berjalan kaki menyusuri sebuah jalan di tepi gunung menuju Damarshkant, dan dia ingin selalu bisa mengingat-ingat tentang kota yang menjadi tujuannya itu. 

 “Nak” Mythgarr mengingat ketika ayahnya mengajak berbicara malam itu “Ayah dan Ibumu berbincang-bincang beberapa hari ini mengenai dirimu. Umurmu sudah menjelang 15 tahun, sudah saatnya kau melihat dunia.”

 Mythgarr tersenyum-senyum ketika dia ingat bahwa wajahnya tersenyum senang ketika mendengar ayahnya mengatakan itu. Benar, sudah saatnya dia melihat dunia!

 “Kau sudah tumbuh menjadi pria yang tangguh, penempa besi yang baik, dan pendekar yang mempunyai ilmu tinggi. Ilmu tarung tangan kosong maupun penguasaan senjatamu cukup baik” ayahnya berkata lagi “Desa ini, desa Ural, hanyalah sebuah desa kecil di kaki gunung. Kau takkan berkembang di sini. Kau butuh meluaskan pandangan”

 Malam itu, Mythgarr hanya mengangguk sambil tersenyum dengan mata yang melebar senang.

 “Ayah mempunyai kenalan di ibu kota, di Damarshkant.” Ayahnya melanjutkan pembicaraan dengan serius “dia seorang penempa besi yang hebat, jauh lebih hebat dari Ayah ini!”

 “Haaaa, benarkah??” Mythgarr menganga “berarti dia penempa besi yang luarrrrr biasa! Ayah kan bisa menempa apa saja!” katanya sambil berteriak.

 Ayahnya menggeleng-geleng sambil tersenyum “Tentu saja dia seseoarang yang luar biasa. Dia guru Ayah!”

  “Waaaaah….”

 “Dan dialah yang harus kau cari. Namanya Vontuz Mauler. Dia seorang Dwarf.” Mythgarr terbelalak ketika mendengar dwarf “Dwarf kekar berambut perak dengan kulit berwarna tembaga.”

 “Baiklah Ayah!” Mythgarr berteriak “aku akan pergi ke Damarshkant dan bertamu Von..Von..”

 “Vontuz Mauler!” Ayahnya tersenyum “dan kau harus bisa meyakinkan dia untuk mengangkatmu menjadi muridnya! Vontuz Mauler tidak akan sembarangan mengambil murid!”

 “ Aku tidak akan mengecewakan Ayah!” Mythgarr menepuk dadanya dengan tangan mengepal “Aku juga sudah belajar menempa besi sejak kecil bersama penempa besi terhebat di kaki gunung Rheic!”

 Ayah Mythgarr hanya tersenyum lebar melihat kelakuan anaknya.

 “Baiklah kalau begitu!” Ayahnya pun menepuk pundak Mythgarr dengan kedua tangannya “ada satu lagi yang ingin Ayah bicarakan.”

 Mythgarr ingat sekali wajah ayahnya yang berubah menjadi teramat serius ketika melanjutkan pembicaraan. Selain mencari Vontus Mauler dan menimba imu penempaan senjata darinya, dia juga harus mengantar surat kepada seseorang dan harus memperkenalkan dirinya kepada orang itu sebagai Mythgarr putra Vinchgarr dan murid Kalajengking Yang Tak Terukur.

 “Penting sekali, Mythgarr, untuk bertemu orang itu!”

 “Baiklah Ayah…” Mythgarr menatap setengah heran “..akan aku sampaikan padanya…”

 “Bagus!” ayahnya kemudian tersenyum dan melepaskan tangannya dari bahu Mythgarr “kau cium bau harum itu?” 

 Mythgarr pun kemudian sadar bahwa ada bau harum masakan yang sudah menggoda mereka.

 Ayahnya kemudian berdiri “Mari makan malam!” 

 Mythgarr pun tersenyum, mengingat-ingat bahwa malam itu ibunya terus bertanya apakah Mythgarr sudah yakin akan pergi ke Damarshkant. Raut wajahnya menunjukkan kekuatiran yang tinggi. Mythgarr pun terus meyakinkan ibunya bahwa ia akan baik-baik saja.

 Mythgarr pun menatap langit pagi yang cerah “Ibu…”

 Mythgarr pun terus melangkah mengikuti jalan, menuju Damarshkant. Dia berhenti sejenak beberapa waktu kemudian ketika menemukan sebuah mata air kecil mengalir dari dinding tebing di samping jalan. Dia meminum air dan mengisi kantong air miliknya dari. Setelah beristirahat sejenak dengan duduk di samping mata air, dia pun melanjutkan perjalanannya kembali. 

 Ketika matahari menjelang naik, sebuah suara langkah-langkah kuda dan putaran roda terdengar dari belakangnya. Mythgarr pun menoleh dan melihat serombongan kereta kuda. Lima kereta kuda diiringi oleh dua penunggang kuda di depan dan dua penunggang kuda di belakang. 

 Ketika penunggang kuda yang paling depan melihat Mythgarr, dia pun memberikan isyarat berhenti dengan menaikkan tangannya dan memberhentikan kudanya. Dua penunggang kuda terdepan pun turun dan berjalan menuju Mythgarr

 Ada apa ini?” Mythgarr berpikir “apa mereka..mencurigai aku?”

  Penunggang kuda itu berpakaian hitam dengan mengenakan jubah merah yang bertudung. Masing-masing mengenakan helm yang wajah, hanya mulut dan mata mereka yang terlihat. Sebuah pedang bersarung di punggung masing-masing. Penunggang kuda ynag paling depan menarik pedangnya dan menghunus nya ke arah Mythgarr lalu berhenti berjalan. Penunggang kuda kedua menghunus pedangnya di belakang penunggang kuda pertama.

 “SEBUTKAN NAMAMU, PENGEMBARA!” Si Penunggang kuda pertama bertanya dengan kasar. Mythgarr agak kesal dengan kekasarannya, lalu menjawab.

 NAMAKU MYTHGARR ANAK VINCHGARR CHROMEHANDS!” Mythgarr ganti berteriak, dia menambah tenaga dalam di teriakannya. Para penunggang kuda itu membelalakkan mata begitu merasakan teriakan yang sarat tenaga dalam itu.

 “CHROMEHANDS KATAMU?” Penunggang kuda pertama bertanya

 “Benar Tuan.” Mythgarr menjawab, kali ini tanpa berteriak “Mythgarr Chromehands dari Desa Ural di kaki gunung Rheic” dan dia pun merunduk, tanda hormat.

 “KE MANA TUJUANMU, MYTHGARR?”

 “Ke Damarshkant, Tuan!” Mythgarr menjawab dengan tersenyum “boleh kutahu nama Tuan?”

 “APA TUJUANMU KE DAMARSHKANT?!” si penunggang kuda tidak menghiraukan pertanyaan Mythgarr

 “Bertemu Vontus Mauler dan menjadi muridnya, Tuan” Mythgarr menjawab dengan sedikit kesal tapi tetap memaksa tersenyum

 “APA KAU..”

 SUDAHLAH, GARNOS!” seseorang berteriak dari arah kereta kuda pertama, dan sesosok pria pun turun dari kereta kuda terdepan “Mythgarr anak Vinchgarr, dia bukanlah musuh kita!”

 Sosok yang turun itu adalah  seorang manusia, pria separuh baya, gagah, dengan rambut putih panjang yang disisir ke belakang. Pakaiannya berupa tunik lengan panjang berwarna hijau tua longgar dan celana panjang yang longgar pula. Kainnya tampak mahal dengan bordiran emas di sana-sini. Sebuah kalung dengan liontin besar terbuat dari emas menggantung di dadanya. Ada ukiran berupa elang di liontin itu. Dia berjalan ke arah Mythgarr, melewati para penunggang kuda, dan berhenti satu langkah di depan Mythgarr.

 “Mythgarr anak Vinchgarr!” dia tersenyum, lalu mengulurkan tangannya “namaku Wayne Pierce, pemilik karavan ini…dan kawan lama ayahmu!”

 Mythgarr terkejut, lalu tersenyum, dan membalas uluran tangan sang pria bernama Wayne Pierce ini “Terima kasih atas perkenalannya Tuan!” Mythgarr merasakan tangan yang kekar dan kuat ketika menggenggamnya.

 Mereka pun berjabat tangan “Kalau kau mau, kau boleh ikut karavan kami, Mythgarr!”

 “Tapi Tuan..” Garnos tampak protes

 Wayne mengangkat tangannya, menghentikan protes Garnos.

 “Tapi tidak gratis, Anak Vinchgarr!” Sang pria tersenyum penuh makna. Dia pun melepaskan jabat tangannya “Garnos, terangkan rute kita pada anak muda ini”

 Garnos pun menyarungkan pedangnya, melepaskan helmnya, dan mendekati Mythgarr. Garnos tampak berusia sekitar akhir dua puluh atau awal tiga puluh. Wajahnya keras dengan tatapan tajam, rambutnya hitam pendek, ada janggut kambing menjuntai di dagunya. Dia mengulurkan tangannya “Namaku Garnos!”

 Mythgarr menyambut uluran tangan itu “Namaku Mythgarr”

 Garnos pun tersenyum, agak sinis “Mythgarr, Aku bisa merasakannya dari teriakanmu tadi, tenaga dalammu lumayan juga! Berdoa saja tenaga dalammu cukup untuk membantu kita melewati para bandit-bandit Orc dan Troll di hutan di depan sana.”

 Mythgarr terbelalak.

 “Ahahahaha!” Wayne tertawa lepas “lihat wajahnya itu, Garnos. Sepertinya kau belum tahu ya, Mythgarr?”

 “Jalur ini bernama Jalur Emas Maut” Garnos berkata “Tuan Wayne Pierce ini adalah pedagang emas dan permata yang terkenal se-Domarthia. Kami baru saja keliling berdagang di kota-kota di barat laut dan di hutan Vanima dengan para Elf dan Dwarf.  Jalur ini adalah jalur satu-satunya ke Damarshkant yang bisa dilewati karavan kereta berkuda, dan di tengah-tengah jalur, tepat di kaki gunung, jalur ini melewati sebuah hutan lebat. Di sanalah bersarang bandit-bandit itu. Mereka terdiri dari beberapa manusia dan beberapa Orc serta Troll. Mereka sering membahayan karavan-karavan yang lewat!’

 “Kuharap kau cukup kuat melawan mereka, Mythgarr anak Vinchgarr” Wayne tersenyum “dari perawakanmu, dari teriakanmu yang penuh tenaga dalam, dan dari dua pedang yang tersarung di punggungmu, kau terlihat cukup kuat!”

 Wayne benar. Mythgarr memang terlihat bak pendekar perkasa. Tubuhnya tinggi besar untuk ukuran pemuda 15 tahun. Rambutnya merah membara, matanya hijau menyala, dan kulitnya coklat legam. Kedua lengannya besar, begitu juga kedua kakinya. Di balik jubah tudung coklatnya, dia mengenakan tunik dibalik zirah kulit merah gelap bermotif garis-garis kuning di sisi-sisinya. Sepatu boot berwarna merah gelap menutup kaki dan ujung celana panjangnya.

 “Bagaimana, Mythgarr anak Vinchgarr? Kau tertarik melanjutkan perjalanan bersama kami?”

 Mata Mythgarr membelalak senang “Tentu saja, Tuan Wayne! Dan sebagai pembayarannya, aku akan melawan semua bandit-bandit itu!”

 “HAHAHAHAHAHA!” Wayne Pierce tertawa membahana mendengar jawaban Mythagrr yang bersemangat. “Aku suka itu anak muda! Semangatmu hebat! Garnos, bersiaplah untuk melanjutkan perjalanan! Mythgarr, sebagai putra kawanku, kau akan duduk bersamaku di dalam karavan!”

 arnos menunduk, dan lalu berteriak-teriak memberikan aba-aba pada karavan untuk siap-siap bergerak kembali. Mythgarr mengikuti Wayne Pierce menaiki kereta kuda terdepan. Di dalam, sudah menunggu seorang wanita muda dan seorang pria yang berumur sama dengan Wayne. 

 “Duduklah Mythgarr, kuperkenalkan, dua orang kepercayaanku! Carno Surriaa dan Waty Chandra”

 Mythgarr pun bersalaman dengan mereka. Pria bernama Carno Surriaa adalah seorang pria kurus botak berkumis tipis dengan tatapan tajam. Waty Chandra adalah seorang wanita muda cantik berambut pirang dengan tatapan dan senyuman yang bisa melelehkan hati seorang pria. 

 “Carno adalah pencatat dan pemegang keuanganku yang paling dapat kupercaya. Sudah mengikutiku selama 23 tahun.” Wayne menjelaskan “Waty adalah ‘prajurit terdepan’ dalam perdaganganku. Dia menemaniku berdiplomasi dalam menaksir barang dan menawar harganya. Kedua orang ini memiliki mata yang hebat dalam bidang masing-masing!”

 “Waah…” Mythgarr tercengang.

 Wayne pun lalu mengajak mereka bercakap-cakap untuk menghabiskan waktu dalam perjalanan mereka. Dia menanyakan kabar Vinchgarr, menanyakan tentang Mythgarr, bercerita tentang perjuangannya menjadi pedagang besar. Mythgarr hanya bisa terkagum-kagum dan menjawab pertanyaan. Dia masih canggung dengan orang-orang kota. Waty pun mengkomentari bahwa Mythgarr masih terlihat lugu, dan Carno berkata bahwa mungkin Waty bisa “mengajari” sesuat pada Mythgarr, dan Wayne pun tertawa membahana. 

Mythgarr hanya bisa tersenyum-senyum. 

Karavan pun terus berlalu.

Friday, October 2, 2009

Bumi

Ini adalah kisah tentang sebuah dunia di sebuah tempat yang jauh dan di sebuah waktu yang tak terukur masanya. Sebuah dunia di mana kita bisa melihat makhluk-makhluk hidup tumbuh dan berkembang. Makhluk-makhluk hidup seperti pohon jati merah yang tumbuh diselimuti oleh tanaman selubung baja. Makhluk-makhluk hidup seperti rayap ungu yang tumbuh dan membentuk dunia mereka sendiri di antara kulit pohon jati merah dan selubung baja. Makhluk-makhluk hidup seperti wolverin hitam yang gemar merobek tanaman selubung baja dan memakan rayap-rayap ungu yang berjumlah jutaan di setiap pohon jati merah. Dan makhluk-makhluk hidup seperti beruang troll yang gemar berlari menerjang wolverin hitam yang sedang asik memakan rayap-rayap ungu.

Ini adalah kisah dunia tersebut. Dunia yang oleh penduduknya disebut Bumi. 

Penduduk-penduduk Bumi terdiri atas berbagai macam makhluk hidup. Beberapa di antara mereka adalah makhluk-makhluk berakal.

Elf yang tinggi, gemulai, lincah, menguasai Sihir Arkana, pengrajin benda-benda dari hutan, dan hidup diselubungi kerahasiaan di hutan-hutan.

Dwarf yang pendek, bertubuh kuat dan padat, gemar memanjangkan rambut dan jenggot, menguasai  Sihir Arkana dan Sihir Kudus, pengrajin benda-benda dari tambang di dalam bumi tempat mereka tinggal dan berkuasa.

Orc yang tinggi besar, bermuka bak gorilla, bertaring besar, gemar bertarung, dan tinggal di padang-padang rumput dan rawa-rawa.

Gnome yang pendek (sependek Dwarf tapi tidak sepadat dan sekuat mereka), gemar berkelana dan berdagang, dan menguasai sejarah peradaban-peradaban di bumi.

Goblin yang bertubuh kecil-kecil, pintar-pintar, tetapi liar apabila sudah berkumpul antar sesama mereka dan lebih liar lagi apabila merasa terganggu oleh kelompok-kelompok lain. 

Dan yang terakhir, makhluk berakal terakhir, adalah Manusia. Manusia yang tidak mempunyai fitur wajah yang istimewa, tidak mempunyai kekuatan yang istimewa, tidak mempunyai akal yang istimewa, dan tidak mempunyai kemampuan sihir yang istimewa. Yang istimewa dari manusia dan terus-menerus membuat tercengang para Elf, Dwarf, Orc, Gnome, dan Goblin adalah kemampuan belajar dan beradaptasi mereka. Manusia juga cepat sekali berkembang biak, jauh lebih cepat dari para Elf dan Dwarf. Seorang Elf bisa bertemu dengan tiga-empat generasi manusia. Kecepatan mereka berkembang biak dan kemampuan mereka beradaptasi pada akhirnya membuat mereka mampu membentuk wilayah-wilayah kekuasaan di hampir seluruh bumi.

Dan kemampuan mereka berkembang biak dengan cepat juga seringkali membuat mereka bersinggungan dengan yag lain. Sejarah dipenuhi oleh kerajaan-kerajaan manusia yang terbentuk dengan cepat dan saling berperang satu sama lain atau menyerang wilayah-wilayah Elf atau Dwarf dan seringkali berperang dengan para Orc

Perang besar terakhir yang disulut oleh para manusia adalah Perang Padang Tandus Garthjaw, dimana Kerajaan Domarthia yang dipimpin oleh raja waktu itu, Raja Taktara Crimson, berperang dengan puluhan ribu tentara dan ratusan penyihir melawan tentara-tentara dan penyihir-penyihir kegelapan yang dipimpin oleh Raja-Penyihir Morgjalarot. Kerajaan-kerajaan Elf, Dwarf, dan Gnome membantu Domarthia, sedangkan suku-suku Orc dan kawanan-kawanan Goblin diperalat oleh Morgjalarot.

Perang Garthjaw adalah perang termegah yang pernah tercatat. Pedang dan Tombak saling beradu di darat, sementara sihir-sihir dan Naga-naga berseliweran di udara. Dentingan logam-logam berpadu dengan kilatan-kilatan cahaya sihir. Raungan para Naga yang saling menggigit, mencakar, dan beradu muntahan api menambah megahnya perang. Senjata-senjata besar dari kedua belah pihak membelah Garthjaw dan menimbulkan api dan retakan tanah di mana-mana. Perang berlangsung hanya tiga hari, tetapi ribuan tentara Domarthai dan sekutu-sekutunya musnah, dan banyak penyihir-penyihir hebat dari kedua kubu yang tewas disertai dengan meledaknya Mana-mana Magis mereka di mana-mana. Padang Tandus Garthjaw berubah menjadi kolam darah. Mayat bergelimpangan di mana-mana merubahnya menjadi kuburan masal. Mana-mana magis liar yang menyeruak keluar dari para penyihir yang tewas merubahnya menjadi tempat yang amat berbahaya.

Ketika perang berakhir dan Raja-Penyihir Morgjalarot berhasil disegel di tengah-tengah Padang Tandus Garthjaw oleh Tiga Belas Pembela, Seluruh peradaban makhluk-makhluk berakal guncang karena para jendral, pemikir, dan penyihir-penyihir hebat banyak yang gugur di perang ini. Sihir, yang menjadi pemacu pertumbuhan peradaban, juga sepakat untuk dibatasi.  Rasa percaya antar makhluk berakal juga semakin berkurang. Kerajaan-kerajaan manusia mengalami kemunduran karena para makhluk lain semakin tidak ingin berdagang dengan mereka. Domarthia yang besar dan gagah terbelah-belah menjadi belasan kerajaan dan wilayah-wilayah kecil. Dinasti Crimson menjadi melemah, tetapi tradisi keagamaan mereka yang kuat tetap membuat mereka dipercaya oleh penduduk wilayah Domarthia yang tersisa untuk menjadi pemimpin.

Keadaan ini bertahan selama seribu tahun lamanya.

Ini adalah kisah tentang mereka-mereka yang berada di persimpangan nasib seribu tahun setelah Neraka Garthjaw berakhir.