Monday, October 12, 2009

Jalan Emas Maut - Bagian III

Ruang itu adalah sebuah ruang yang teramat gelap. Hampir-hampir tak ada cahaya yang menerangi kecuali cahaya yang memancar dari sebuah kristal kecil yang berada di atas kepala seseorang yang sedang duduk di sebuah kursi di tengah-tengah ruang itu. Di meja di hadapannya orang itu terhampar puluhan buku yang terbuka dan beratus-ratus lembar kertas yang terhambur dan belasan alat tulis. Dia duduk dengan  tenang dan membaca dengan bantuan cahaya dari kristal yang melayang-layang di atas kepalanya. Tangannya dengan tenang membalik halaman demi halaman buku yang dibacanya. Sesekali cahaya bak pijaran kilat kecil memancar dari tangannya, menandai halaman-halaman buku itu dengan ranung-ranung kecil yang diukir oleh magisnya.  Di bawah cahaya temaram itu, tangannya pun terlihat . Tangan yang bak tulang terbalut kulit kering dengan pembuluh-pembuluh liar berseliweran dan berpendar ungu. 

Setelah beberapa lama, dia menghela nafas. Kabut ungu keluar dari beriringan dengan helaan nafasnya. Dia pun menaruh buku yang di tangannya ke meja dan berdiri. Wajahnya menjadi sejajar dengan tinggi kristal. Cahaya yang melayang-layang itu pun menerangi wajahnya yang ada di balik tudung. Dia pun langsung menggenggam kristal itu, seakan-akan tak ingin wajahnya diterangi oleh cahayanya. 

Dari wajahnya kemudian muncul dua buah cahaya ungu di rongga-rongga matanya. Dia pun melihat ke kanan dan ke kiri, seakan-akan memastikan sesuatu. Satu tangannya kemudian terangkat ke atas dan tangan lainnya mengarah ke bawah. Jari-jari telunjuknya teracungkan. 

“Vialuminaria!” sebuah suara parau dan bak dari alam lain pun bergema di ruangan itu. Satu lingkaran sihir muncul di kepalanya, dan satu lingkaran sihir lain muncul di kakinya. “Bawa aku ke menaraku!” 

Sosok itu kemudian terbungkus dalam cahaya ungu yang kemudian perlahan-lahan menghilang. Ruang itu pun kemudian kembali gelap dan sunyi. 

Seorang wanita yang sedang mengulum anggur sambil berbaring malas di peraduannya merasakan getaran magis yang dihasilkan oleh mantra sosok tersebut. Dia menggumam “pria yang tak tahu sopan santun” dan wanita itu pun tersenyum, jalang. 

Malam itu, Kuil Arkana Altenung dikunjungi oleh sesosok tamu yang datang tak diundang dan pulang tak diantar.

***

 “MYTHGARR, KAU SUDAH TAHU DAUN YANG MANA KAN?” Mythgarr mendengar Tabib Mahulae berteriak di bawah pohon dimana dia sedang memanjat. Mythgarr tak menjawab, matanya sudah menemukan daun yang dicari, daun dari sebuah benalu pohon besar tersebut. Daun tersebut berwarna merah dengan urat-urat biru. Dia pun memetik 30 lembar dari beberapa batang benalu tersebut dan menaruhnya di kantung yang diberikan oleh sang tabib. Sejurus kemudian, Mythgarr sudah melompat dan mendarat di tanah.

 “Yang ini bukan, Tuan Tabib?” Mythgarr menyerahkan kantongnya kepada Tabib Mahulae. Tabib pun membuka, melihat isinya, dan mengangguk. Mythgarr pun tersenyum lega, lalu mengambil tas besar yang tergeletak di akar pohon dan mencangklongkan dibahunya. 

 “Dengan begini kita sudah mengumpulkan semuanya.” Kata sang tabib sambil membaca daftar yang diberikan Waty dan menggaruk-garuk kepalanya “Kalau begitu…mari kembali ke karavan! Lebih cepat lebih baik, ini sudah lewat tengah hari…”

 Mythgarr mengangguk dan mengikuti sang Tabib kembali ke karavan. Di sana sudah menunggu Wayne Pierce dan rombongannya yang sedang mengitari Orc-orc yang sudah dikumpulkan di satu tempat dan diikat di kaki dan tangan mereka. Para bandit-bandit manusia juga dikumpulkan diikat ke tiga batang pohon besar. Para troll masih terlihat terkapar hitam legam.

 “Lama sekali kalian berdua” Waty berkata lalu tersenyum mengejek ke arah para orc “Orc-orc ini sampai kelaparan!” 

 Mythgarr hanya cengar-cengir dan sang tabib hanya menggaruk-garuk kepalanya. “Kami sudah mengumpulkan semua bahan-bahannya, Nona Waty!” 

 “Baiklah, kau mulai seduhlah jamunya. Aku menyiapkan mantranya.” Waty kemudian memandang Tabib Mahulae “Tolong pinjamkan tongkatmu, Tabib!”

 “Wah, wah…” sang tabib menggaruk-garuk kepalanya “maaf…tapi kalo tongkat ini, aku tak bisa meminjamkannya…”

 Waty tampak kesal, tapi kemudian tersenyum “Kau takut aku mencemari Tongkat Kudusmu dengan mantra-mantra Arkanaku, Tabib?”

 “Begitu lah, Nona Waty” sang tabib menggaruk-garuk kepalanya “pembersihannya dari Ketakmurnian Manna Arkana sebanyak yang direncanakan akan memakan Sarikudus saya banyak sekali”

 Waty pun tersenyum kecut “Tapi…..aku tidak punya waktu banyak untuk membuat Inti Pancang Magis Lingkaran dari batang kayu yang ada di sini!”

 Sang Tabib hanya menggaruk-garuk kepalanya.

 Carno pun mendekat ke arah Wayne, dan membisikkan sesuatu ke arahnya. Wayne terlihat mengangguk-angguk.

 “Tabib Mahulae!” Wayne berteriak memanggil. Sang tabib pun membalikkan badan dan bertatap mata dengan Wayne yang memanggilnya “tolong kemarilah sebentar!”

 Tabib Mahulae pun melangkah ke arah Wayne. Lalu mereka pun tampak bercakap-cakap.

 “Lihatlah Mythgarr, salah satu orang yang memegang kekuatan sejati di Damarshkant sedang mencoba tawar-menawar dengan Abdi Tuhan!” Waty berkacak pinggang dan tersenyum sinis. Mythgarr hanya memandang percakapan Wayne, Carno, dan Tabib Mahulae.  “Beruntunglah Tabib Mahulae, Wayne Pierce bukan orang jahat” kata Waty lagi.

 “Sepertinya dia bukan…” timpal Mythgarr “dia langsung menyambutku dengan baik ketika kukatakan aku putra Vinchgarr.”

 “Vinchgarr Chromehands” Waty mendesah, lalu bertanya “apa pekerjaan ayahmu sekarang, Mythgarr?”

 “Ayahku seorang pandai besi, beliau membuat dan memperbaiki alat-alat pertanian dan peternakan serta sesekali membuat pisau-pisau dapur” jawab Mythgarr sambil tersenyum “beliau yang terbaik di seluruh kaki gunung!”

  Waty memandang Mythgarr.  Alisnya terangkat satu dan senyum sinisnya mengembang ketika pandangannya bertemu dengan pandangan Mythgarr “Pandai besi, eh? Kurasa itu cocok untuknya….” Waty mengalihkan pandangannya ke arah Wayne dan Tabib Mahulae yang masih bercakap-cakap sementar Mythgarr mengerenyitkan alisnya dan memandang Waty. Ada yang aneh di kata-kata Waty barusan, pikir Mythgarr.

 Wayne Pierce dan Tabib Mahulae terus bernegosiasi. Tabib Mahulae berkali-kali menggaruk kepalanya dan memandang-mandang tongkatnya. Wayne Pierce berkali-kali berbicara dengan Carno yang memegang selembar kertas dan pena. Carno pun berkali-kali menunjukkan sesuatu di kertas pada Wayne and Tabib Mahulae. Pada akhirnya Tabib Mahulae pun mengangguk-ngangguk. Carno menghampiri kereta kuda, masuk ke dalam, lalu beberapa saat kemudian keluar dengan membawa meja kecil dan beberapa peralatan tulis. Mereka membakar lilin, meneteskannya ke selembar kertas, dan Wayne pun menancapkan cincinnya yang terbesar ke lilin tersebut, sedangkan Tabib Mahulae menaruh ujung tongkatnya ke kertas tersebut. Ujung tersebut kemudian menyala. Tabib Mahulae and Wayne Pierce pun bersalaman

 “Nah, sepertinya mereka sudah membuat perjanjian sewa-menyewa baru…” Waty berkata.

 “Maaf, Nona Waty, tapi bukankah Nona seharusnya bagian dari perjanjian itu?” tanya Mythgarr.

 Ada alasannya, Mythgarr, kenapa Wayne Pierce tidak menyertakan Waty Chandra dalam urusan ini.” Waty pun memandang Mythgarr dan tersenyum getir “alasan prinsip”

 Mythgarr hanya terdiam, tak tahu harus berkata apa. 

 Tabib Mahulae pun mengangkat tongkatnya, memutar-mutarnya bak baling-baling di udara, dan kemudian dengan cepat menancapkannya ke tanah. Secercah cahaya kemudian menyemburat dari ujung-ujung tongkat. Tabib Mahulae lalu mendekat dan berkata kepada Waty

 Nona Waty” katanya sambil menyerahkan Tongkat Kudusnya “Nona boleh mempergunakan Tongkat Kudus ini sebagai Pusat Sebar Lingkar Arkana untuk mantra Jajiwa Benang.”

 Waty pun mengambil tongkat tersebut dengan kedua tangannya dan sembari merunduk, seakan-akan mengambil sebuah benda pusaka. “Terima kasih, Tabib Mahulae”

 “Sekarang, Nona Waty” Tabib pun tersenyum”mari kita membuat jamu Jajiwa Benang!” Tabib Mahulae tersenyum, sembari tetap menggaruk-garuk kepalanya.

No comments:

Post a Comment