Monday, October 19, 2009

Sihir dan Satria - Bagian II

Tuan Rloum memegang dua papan yang berada di sisi terluar dari dua pasang papan persegi dihadapannya. Dia memegangnya di di kedua kristal yang terdapat di papan-papan tersebut. Matanya kemudian terpejam dan mulutnya pun mulai merapal mantra-mantra. Keempat kristal di dua pasang papan persegi dihadapannya pun mulai menyala dan nampak cahaya-cahaya Mana berseliweran di dalam bola-bola tersebut. Tuan Rloum kemudian melepaskan tangannya dari kristal-kristal tersebut. Nampak benang-benang energi menghubungkan antara kedua tangan sang penyihir dan kedua bola kristal tersebut. Benang-benang tersebut membesar dan bergerak bak petir-petir kecil seiring Tuan Rloum menaruh tangannya ke bagian dalam dari dua pasang papan persegi tersebut. Satu tangannya menggenggam buku dan satu tangannya lagi tertengadah. Energi-energi mana berseliweran di tangannya.

Dengan satu gerakan cepat dan tiba-tiba, Tuan Rloum menarik kedua tangannya dan hal yang ajaib pun terjadi. Buku yang diserahkan Tamara tiba- tiba terlepas halaman demi halamannya dari jilidannya dan terpisah dari sampulnya. Dengan diselubungi oleh energi-energi Mana, halaman-halaman itu pun melayang-layang di atas papan persegi tersebut.

Tuan Rloum kemudian mengayunkan satu tangannya ke atas, dan beberapa halaman pun mencuat naik di atas halaman-halaman lainnya. Kemudian dia mengayunkan satu tangan yang lain dan beberapa lembar kertas pun melayang masuk ke dalam satu pasang papan persegi yang masih kosong dan mengambang sejajar dengan halaman-halaman buku yang mencuat.

Tuan Rloum kemudian mengatupkan kedua tangannya. Lembar-lembar halaman buku yang mencuat kemudian diliputi energi berwarna ungu yang keluar dari satu kristal dan masuk ke kristal lain. Kristal-kristal di papan persegi yang mengapit kertas-kertas yang kosong kemudian menyala merah dan mulai mengalirkan energi Mana merah ke kertas-kertas tersebut.

Tamara pun menarik nafas ketika dia melihat halaman-halaman kosong tersebut mulai memunculkan tulisan-tulisan di permukaannya. Tuan Rloum tampak terus berkonsentrasi sampai halaman-halaman yang tadinya kosong tersebut mulai penuh terisi tulisan-tulisan dan gambar-gambar yang ingin disalin Tamara.

Tak lama kemudian energi-energi ungu tersebut pun perlahan-lahan meredup dan kemudian menghilang seiring makin sempurnanya salinan. Energi-energi merah pun ikut menyusul menghilang. Tuan Rloum pun kemudian mengangkat tangannya dan memegang sampul buku dan halaman-halaman salinan.

Dia pun merapal mantra selanjutnya. Halaman-halaman yang terlepas dari jilidannya kemudian terselimuti oleh energi-energi biru dan dengan cepat kembali ke dalam sampul buku dan tampak terjilid ulang dengan sempurna. Tuan Rloum kemudian tampak mengerahkan Mana dari tangannya dan buku tersebut pun tampak perlahan-lahan menghilang. Kilatan-kilatan energi Mana merambat dari tempat buku tersebut ke garis-garis di meja dan dari garis-garis di meja ke garis-garis di dinding dan dari garis-garis di dinding ke kristal besar di dinding dan kemudian melesat menghilang.

”Dan buku pun kembali ke tempatnya” Tuan Rloum menggumam, lalu menggeram sambil memegang halaman-halaman salinan dan menyerahkannya ke Tamara ”Ini salinan-salinannya, Nona Tabib!”

Tamara pun mengambil salinan-salinan tersebut ”Terima kasih, Tuan Rloum! Saya permisi dulu”

Tuan Rloum hanya menggeram, memalingkan muka, dan memejamkan matanya.

Tamara pun melangkah keluar ruangan salin buku.

No comments:

Post a Comment