Sunday, October 18, 2009

Sihir dan Satria - Bagian I

Seorang gadis melangkah di sebuah lorong panjang. Sepatu bootnya menimbulkan gema seiring langkahnya pelan tetapi pasti. Sebatang tongkat berwarna kuning menyilang di punggungnya. Angin berhembus lembut menyapa wajahnya dan memainkan rambut coklatnya yang dipotong sebahu.Wajahnya menoleh, dan matahari pagi pun lembut menyinari wajahnya yang cantik. Matanya yang berwarna kecoklatan memandang keluar melalui jendela. Bibirnya tersenyum.

 Di luar sana, melalui jendela yang lebar dan tinggi tersebut, melewati kebun bunga dan pepohonan, jauh di sebuah lapangan luas di bawah bukit di mana lorong tersebut berada,  terlihat puluhan sosok berseragam baju zirah ringan berwarna putih sedang berlatih tombak-kampak.

 Bibirnya terkembang lebar dan matanya memancarkan kebahagiaan ketika melihat sebuah sosok berambut panjang dan berjenggot pendek yang menutupi seluruh dagunya. Sosok yang paling tinggi besar di antara sosok-sosok lainnya. Tetapi sang gadis pun menghela nafas dan kemudian berjalan kembali menelusuri lorong besar dan berlangit-langit tinggi tersebut.

 Tiga orang sosok, berpakaian putih dengan motif-motif garis keemasan di ujung-ujung lengan baju dan celana panjang mereka, berjalan ke arahnya. Sang gadis berhenti, menepi dan membungkuk hormat, memeluk erat buku tebal di pelukannya.

 “Salam dan berkah, Tuan Guru Matowa!” 

 Sosok paling depan itu pun berhenti, diikuti dua sosok di belakangnya. Dia pun memandang sang gadis dan tersenyum. 

 “Salam dan berkah untukmu, Tabib Petarung Tamara Kamil!”  Tuan Guru Matowa balas membungkuk “maafkan kami terburu-buru. Teruslah berbakti pada Tuhan, Agama dan Syarikat Kesatriaan. Permisi!” Tuan Guru Matowa pun membungkuk dan berlalu, diikuti para pengikutnya.

 Tamara pun memandang kepergian Tuan Guru Matowa, kemudian melangkah kembali menyusuri lorong tersebut sampai akhirnya sampai di ujungnya. Di hadapannya terbentang sebuah ruangan yang besar beratap tinggi. Ada tiga buah pilar besar di kanan dan tiga buah pilar di kiri. Di pilar-pilar tersebut ada pahatan-pahatan rumit. Di dasar masing-masing pilar terpahat motif teratai. Di atasnya, seakan-akan mengalir ke ujung atas pilar, terpahat motif-motif ombak yang perlahan-lahan tergantikan motif-motif awan. Di ujung atas pilar, seakan-akan mengembang keluar dari dalam pilar adalah pahatan sayap-sayap yang ujung-ujungnya mengarah ke sebuah lingkaran di tengah-tengah ruangan tersebut. Sayap-sayap tersebut bak membentuk bintang bersisi enam apabila dilihat dari bawah. Lingkaran tersebut terbagi dua belas, yang di masing-masing bagian terpahat dua belas Ranung yang masing-masing melambangkan dua belas unsur pembentuk alam semesta: Api, Air, Logam, Tanah, Kayu, Angin, Dingin, Panas, Terang, Gelap, Wujud, dan Kehampaan. Di tengah-tengah lingkaran besar tersebut terdapat ukuran bulan sabit dan bintang bersisi empat, lambang Penyerahan, agama utama di Kerajaan Domarthia dan Kedaulatan Vanima.

 Di ujung ruangan besar tersebut terdapat sebuah teras tinggi yang dapat dicapai dengan dua buah tangga yang melengkung di sisi kanan dan kirinya. Di tembok di bawah pelataran tinggi tersebut terukir sebuah dua buah Ranung besar melambangkan Ilmu dan Kekuatan Niat di dinding setinggi tiga tombak. Teras yang bertangga tersebut menempel dengan teras yang selebar  ruangan utama dan berujung di tembok terdalam ruangan tersebut. Dua buah patung besar berada di teras tersebut. Kedua patung tersebut seakan-akan disatukan oleh sebuah ukiran lingkaran besar di lantai teras. Satu patung menggambarkan seorang pelajar dengan buku di satu tangannya dan wajah dan satu telunjuknya menunjuk langit, sebuah keranjang buku di punggungnya. Satu patung lain menggambarkan seorang tua bijak dengan tongkat yang menopang tubuhnya dan satu tangannya menunjuk bumi dan matanya memandang jauh ke depan.

 Di dinding di ujung dalam ruangan, di teras besar tersebut, terdapat sebuah pintu raksasa yang mempunyai dua daun pintu besar terbuat dari jati besi. Di kanan dan kiri pintu berdiri dua orang Orc tinggi besar mempergunakan baju zirah berat dan bersenjatakan tombak-kapak besar yang mempunyai kristal biru di masing-masing mata kapaknya. Di atas pintu tersebut ada sebuah papan besar berukiran dedaunan rumit dan ditengah-tengahnya bertuliskan: 

 PERPUSTAKAAN UTAMA AKADEMI FILOSOFI SUARALIMA

 Kedua daun pintu perpustakaan terbuka karena waktu berkunjung sudah dimulai. Tamara melangkah dan menaiki salah satu tangga melingkar, menyapa para penjaga dan menunjukkan kartu identitas syarikatnya. Salah seorang penjaga kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tas kulit di pinggangnya dan menaruh kartu tersebut di dalam kotak tersebut. Kristal bulat di permukaan kotak tersebut kemudian menyala hijau dan muncul tulisan yang mengambang di udara di atas kotak tersebut. Tulisan tersebut adalah:

 

TAMARA KAMIL

TABIB TARUNG TINGKAT III

SYARIKAT KESATRIAAN DAMARSHKANT

NOMOR PENDUDUK: TIDAK ADA/BAWAH UMUR

NOMOR URUT ANGGOTA SYARIKAT:001.005.03.007

PENGECEKAN: LULUS

 

 

Sang penjaga kemudian mengeluarkan kartu Tamara dan mengembalikannya sambil tersenyum.

 “Terima kasih, Tabib Tamara” katanya “anda dipersilahkan masuk. Semoga mendapat perpustakaan memberikan ilmu padamu hari ini.”

 “Terima kasih Pak Pengawal” Tamara pun balas tersenyum “semoga harimu baik selalu. Permisi.”

 Tamara pun merunduk hormat dan kemudian masuk ke dalam perpustakaan. 

 ”Wah, wah!” sebuah suara perempuan, serak-serak basah, menyapa Tamara ”nona tabib muda terkenal pagi-pagi sekali mengunjungi perpustakaanku!”

 Tamara pun tersenyum dan menyapa pemilik suara 

 ”Selamat pagi, Bunda Zer’Helinn!” 

 Bunda Zer’Helinn adalah seorang orc perempuan tinggi besar berambut merah yang mulai beruban dan mengenakan jubah merah yang menutupi bagian depan dan belakang tunik seragam perpustakaan yang berwarna kuning. Dia berdiri dibalik sebuah meja setengah lingkaran yang mengelilinginya, tempat penjaga perpustakaan bertugas. 

 ”Mau mengembalikan buku, Nona Tamara?”

 ”Benar, Bunda!” Tamara tersenyum dan menyodorkan buku yang dari tadi dipeluknya ”tolong juga salinkan halaman-halaman yang sudah kuberi ranung kecil!” 

 ”Sebentar ya, Sayang.” 

 Bunda Zer’Helinn kemudian menekan sebuah tombol dan sebuah layar cahaya muncul di hadapannya. Sebuah benda menyerupai tatakan buku kemudian keluar dari sisi meja di samping kirinya. Zer’Helinn kemudian menaruh buku tersebut di situ. Seberkas cahaya kemudian menyelubungi buku. Zer’Helinn pun memandang layar.

 ” Hmm....Seluk-Beluk Penyembuhan Goblin dan Hobbit karangan Raja Tabib Shumarr Garg” Zer’Halinn kemudian memandang Tamara dengan tatapan tajam ”sudah terlambat tiga hari!”

 Tamara pun tersenyum malu ”Iya Bunda, bukunya terlalu tebal untuk kuhapalkan. Aku kan juga harus mengemban misi dari Syarikatku, waktu yang kutubuhkan jadinya lebih panjang!”

 ”Begitu ya? Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Kalau memang begitu, sepertinya harus kupotong dari upahmu, Nona Tabib!” Zer’Halinn tersenyum sambil mengangkat satu alisnya ”Tuan Tabib Mahulae mungkin akan sedikit menceramahimu nanti”

 Tamara hanya tersenyum masam mendengarnya. 

 ”Baiklah, Nona Tabib, setelah pemeriksaan, tidak ada tambahan sihir-sihir aneh di buku ini, kecuali ranung-ranung kecil yang kau taruh di situ.” lanjut Zer’Halinn. Dia menekan satu tombol yang lain dan layar di depannya menghilang.

 Zer’Halinn mengambil buku tersebut dan menekan tombol lain lagi. Sebuah corong muncul dan Zer’Halinn berbicara melalui corong tersebut ”Tuan Rloum, tolong siapkan alat salin buku!” Zer’Halinn pun kemudian memandang Tamara ”Kau tahu kan di mana ruang salin buku?”  Tamara pun mengangguk dan mulai memasuki ruang buku perpustakaan.

 Tamara memasuki ruang buku melalui pembatas yang ada di samping Zer’Halinn. Ruang buku perpustakaan itu adalah sebuah ruangan besar setinggi 4 tombak. Di dalamnya terdapat deret demi deret buku yang tersusun rapi dalam rak-rak yang saling berjajar dan membentuk lorong-lorong. Orang yang pertama kali memasuki ruang buku perpustakaan akan berpikir bahwa ruang itu memiliki jutaan buku karena rak-rak buku yang ada seakan-akan membentuk lorong-lorong tanpa batas. Seseorang bisa tersesat di dalam ruang buku perpustakaan apabila tidak memperhatikan tanda-tanda yang dipasang.

 Tamara melangkah dengan pasti di antara rak-rak buku. Dia berbelok-belok beberapa kali dengan mantapnya sebelum sampai di depan sebuah ruangan yang cukup besar dan dindingnya memiliki beberapa kristal-kristal kecil yang dihubungkan dengan garis-garis bercahaya yang bermuara pada sebuah meja besar. 

 Seorang goblin duduk di belakang meja tersebut. Dia mengenakan jubah penyihir dan sarung tangan berwarna ungu. Pada sarung tangan menempel tiga kristal yang dihubungkan dengan garis-garis ke jarinya. Di depannya, di atas meja, terdapat empat buah kayu persegi yang berdiri berjajar dengan sisi panjangnya sejajar dengan sisi lebar meja. Masing-masing kayu memiliki sebuah kristal besar yang dihubungkan dengan garis-garis bercahaya ke meja.

 ”Selamat pagi, Tuan Rloum!” Tamara menyapa goblin tersebut ”bagaimana kabarnya?”

Tuan Rloum menggeram kecil lalu menjawab ”Selamat pagi, Nona Tabib! Kabar Rloum baik-baik saja!”

Tamara selalu merasa Tuan Rloum membencinya karena dia selalu menggeram kalau bertemu dengannya.  Tapi Tamara tetap tersenyum dan menyodorkan buku yang ada pelukannya ”Kalau boleh, saya mau menyalin beberapa halaman dari buku ini, Tuan Rloum!”

Tuan Rloum memandang tajam ke mata Tamara, lalu dengan cepat mengambil buku yang dipegangnya. 

”Berapa salinan?” Tuan Rloum bertanya sambil menatap tajam

”Cukup satu saja, Tuan Rloum” jawab Tamara sambil tersenyum dan sedikit takut-takut.

”Baiklah kalau begitu!” Tuan Rloum pun menaruh buku  tersebut di antara sepasang kayu persegi yang berada di atas meja, dengan sisi-sisi buku menghadap ke kayu persegi, dan jilidan buku berada di bawah. Tuan Rloum kemudian mengayunkan tangannya ke arah Tamara dan mengibas-ngibaskannya, menyuruh Tamara menjauh. Tamara pun mematuhi dan mundur tiga langkah.

No comments:

Post a Comment