Ini adalah kisah tentang sebuah dunia di sebuah tempat yang jauh dan di sebuah waktu yang tak terukur masanya. Sebuah dunia di mana kita bisa melihat makhluk-makhluk hidup tumbuh dan berkembang. Makhluk-makhluk hidup seperti pohon jati merah yang tumbuh diselimuti oleh tanaman selubung baja. Makhluk-makhluk hidup seperti rayap ungu yang tumbuh dan membentuk dunia mereka sendiri di antara kulit pohon jati merah dan selubung baja. Makhluk-makhluk hidup seperti wolverin hitam yang gemar merobek tanaman selubung baja dan memakan rayap-rayap ungu yang berjumlah jutaan di setiap pohon jati merah. Dan makhluk-makhluk hidup seperti beruang troll yang gemar berlari menerjang wolverin hitam yang sedang asik memakan rayap-rayap ungu.
Ini adalah kisah dunia tersebut. Dunia yang oleh penduduknya disebut Bumi.
Penduduk-penduduk Bumi terdiri atas berbagai macam makhluk hidup. Beberapa di antara mereka adalah makhluk-makhluk berakal.
Elf yang tinggi, gemulai, lincah, menguasai Sihir Arkana, pengrajin benda-benda dari hutan, dan hidup diselubungi kerahasiaan di hutan-hutan.
Dwarf yang pendek, bertubuh kuat dan padat, gemar memanjangkan rambut dan jenggot, menguasai Sihir Arkana dan Sihir Kudus, pengrajin benda-benda dari tambang di dalam bumi tempat mereka tinggal dan berkuasa.
Orc yang tinggi besar, bermuka bak gorilla, bertaring besar, gemar bertarung, dan tinggal di padang-padang rumput dan rawa-rawa.
Gnome yang pendek (sependek Dwarf tapi tidak sepadat dan sekuat mereka), gemar berkelana dan berdagang, dan menguasai sejarah peradaban-peradaban di bumi.
Goblin yang bertubuh kecil-kecil, pintar-pintar, tetapi liar apabila sudah berkumpul antar sesama mereka dan lebih liar lagi apabila merasa terganggu oleh kelompok-kelompok lain.
Dan yang terakhir, makhluk berakal terakhir, adalah Manusia. Manusia yang tidak mempunyai fitur wajah yang istimewa, tidak mempunyai kekuatan yang istimewa, tidak mempunyai akal yang istimewa, dan tidak mempunyai kemampuan sihir yang istimewa. Yang istimewa dari manusia dan terus-menerus membuat tercengang para Elf, Dwarf, Orc, Gnome, dan Goblin adalah kemampuan belajar dan beradaptasi mereka. Manusia juga cepat sekali berkembang biak, jauh lebih cepat dari para Elf dan Dwarf. Seorang Elf bisa bertemu dengan tiga-empat generasi manusia. Kecepatan mereka berkembang biak dan kemampuan mereka beradaptasi pada akhirnya membuat mereka mampu membentuk wilayah-wilayah kekuasaan di hampir seluruh bumi.
Dan kemampuan mereka berkembang biak dengan cepat juga seringkali membuat mereka bersinggungan dengan yag lain. Sejarah dipenuhi oleh kerajaan-kerajaan manusia yang terbentuk dengan cepat dan saling berperang satu sama lain atau menyerang wilayah-wilayah Elf atau Dwarf dan seringkali berperang dengan para Orc.
Perang besar terakhir yang disulut oleh para manusia adalah Perang Padang Tandus Garthjaw, dimana Kerajaan Domarthia yang dipimpin oleh raja waktu itu, Raja Taktara Crimson, berperang dengan puluhan ribu tentara dan ratusan penyihir melawan tentara-tentara dan penyihir-penyihir kegelapan yang dipimpin oleh Raja-Penyihir Morgjalarot. Kerajaan-kerajaan Elf, Dwarf, dan Gnome membantu Domarthia, sedangkan suku-suku Orc dan kawanan-kawanan Goblin diperalat oleh Morgjalarot.
Perang Garthjaw adalah perang termegah yang pernah tercatat. Pedang dan Tombak saling beradu di darat, sementara sihir-sihir dan Naga-naga berseliweran di udara. Dentingan logam-logam berpadu dengan kilatan-kilatan cahaya sihir. Raungan para Naga yang saling menggigit, mencakar, dan beradu muntahan api menambah megahnya perang. Senjata-senjata besar dari kedua belah pihak membelah Garthjaw dan menimbulkan api dan retakan tanah di mana-mana. Perang berlangsung hanya tiga hari, tetapi ribuan tentara Domarthai dan sekutu-sekutunya musnah, dan banyak penyihir-penyihir hebat dari kedua kubu yang tewas disertai dengan meledaknya Mana-mana Magis mereka di mana-mana. Padang Tandus Garthjaw berubah menjadi kolam darah. Mayat bergelimpangan di mana-mana merubahnya menjadi kuburan masal. Mana-mana magis liar yang menyeruak keluar dari para penyihir yang tewas merubahnya menjadi tempat yang amat berbahaya.
Ketika perang berakhir dan Raja-Penyihir Morgjalarot berhasil disegel di tengah-tengah Padang Tandus Garthjaw oleh Tiga Belas Pembela, Seluruh peradaban makhluk-makhluk berakal guncang karena para jendral, pemikir, dan penyihir-penyihir hebat banyak yang gugur di perang ini. Sihir, yang menjadi pemacu pertumbuhan peradaban, juga sepakat untuk dibatasi. Rasa percaya antar makhluk berakal juga semakin berkurang. Kerajaan-kerajaan manusia mengalami kemunduran karena para makhluk lain semakin tidak ingin berdagang dengan mereka. Domarthia yang besar dan gagah terbelah-belah menjadi belasan kerajaan dan wilayah-wilayah kecil. Dinasti Crimson menjadi melemah, tetapi tradisi keagamaan mereka yang kuat tetap membuat mereka dipercaya oleh penduduk wilayah Domarthia yang tersisa untuk menjadi pemimpin.
Keadaan ini bertahan selama seribu tahun lamanya.
Ini adalah kisah tentang mereka-mereka yang berada di persimpangan nasib seribu tahun setelah Neraka Garthjaw berakhir.

No comments:
Post a Comment