Saturday, October 3, 2009

Jalan Emas Maut - Bagian I

Domarthia adalah sebuah negeri yang makmur. Terletak di ujung selatan benua Elie, diapit oleh Hutan Vanima di utara dan Samudra Beku Biru di sisi-sisi lainnya. Ibukotanya bernama Damarshkant dan terletak di selatan negeri, di muara sungai Vanima. Damarshkant merupakan kota pelabuhan yang ramai dan penghubung antara benua Elie dan benua Anua di selatann. Selain kota perdagangan yang ramai, Damarshkant juga kota ilmu pengetahuan, sihir, dan kota di mana pendekar-pendekar hebat berkumpul dan menawarkan jasa mereka sebagai pendekar bayaran.

 Mythgarr tersenyum-senyum. Sudah tiga hari dia berjalan dari desa kecilnya, Desa Ural di kaki gunung Rheic di timur laut Damarshkant. Dia sedang berjalan kaki menyusuri sebuah jalan di tepi gunung menuju Damarshkant, dan dia ingin selalu bisa mengingat-ingat tentang kota yang menjadi tujuannya itu. 

 “Nak” Mythgarr mengingat ketika ayahnya mengajak berbicara malam itu “Ayah dan Ibumu berbincang-bincang beberapa hari ini mengenai dirimu. Umurmu sudah menjelang 15 tahun, sudah saatnya kau melihat dunia.”

 Mythgarr tersenyum-senyum ketika dia ingat bahwa wajahnya tersenyum senang ketika mendengar ayahnya mengatakan itu. Benar, sudah saatnya dia melihat dunia!

 “Kau sudah tumbuh menjadi pria yang tangguh, penempa besi yang baik, dan pendekar yang mempunyai ilmu tinggi. Ilmu tarung tangan kosong maupun penguasaan senjatamu cukup baik” ayahnya berkata lagi “Desa ini, desa Ural, hanyalah sebuah desa kecil di kaki gunung. Kau takkan berkembang di sini. Kau butuh meluaskan pandangan”

 Malam itu, Mythgarr hanya mengangguk sambil tersenyum dengan mata yang melebar senang.

 “Ayah mempunyai kenalan di ibu kota, di Damarshkant.” Ayahnya melanjutkan pembicaraan dengan serius “dia seorang penempa besi yang hebat, jauh lebih hebat dari Ayah ini!”

 “Haaaa, benarkah??” Mythgarr menganga “berarti dia penempa besi yang luarrrrr biasa! Ayah kan bisa menempa apa saja!” katanya sambil berteriak.

 Ayahnya menggeleng-geleng sambil tersenyum “Tentu saja dia seseoarang yang luar biasa. Dia guru Ayah!”

  “Waaaaah….”

 “Dan dialah yang harus kau cari. Namanya Vontuz Mauler. Dia seorang Dwarf.” Mythgarr terbelalak ketika mendengar dwarf “Dwarf kekar berambut perak dengan kulit berwarna tembaga.”

 “Baiklah Ayah!” Mythgarr berteriak “aku akan pergi ke Damarshkant dan bertamu Von..Von..”

 “Vontuz Mauler!” Ayahnya tersenyum “dan kau harus bisa meyakinkan dia untuk mengangkatmu menjadi muridnya! Vontuz Mauler tidak akan sembarangan mengambil murid!”

 “ Aku tidak akan mengecewakan Ayah!” Mythgarr menepuk dadanya dengan tangan mengepal “Aku juga sudah belajar menempa besi sejak kecil bersama penempa besi terhebat di kaki gunung Rheic!”

 Ayah Mythgarr hanya tersenyum lebar melihat kelakuan anaknya.

 “Baiklah kalau begitu!” Ayahnya pun menepuk pundak Mythgarr dengan kedua tangannya “ada satu lagi yang ingin Ayah bicarakan.”

 Mythgarr ingat sekali wajah ayahnya yang berubah menjadi teramat serius ketika melanjutkan pembicaraan. Selain mencari Vontus Mauler dan menimba imu penempaan senjata darinya, dia juga harus mengantar surat kepada seseorang dan harus memperkenalkan dirinya kepada orang itu sebagai Mythgarr putra Vinchgarr dan murid Kalajengking Yang Tak Terukur.

 “Penting sekali, Mythgarr, untuk bertemu orang itu!”

 “Baiklah Ayah…” Mythgarr menatap setengah heran “..akan aku sampaikan padanya…”

 “Bagus!” ayahnya kemudian tersenyum dan melepaskan tangannya dari bahu Mythgarr “kau cium bau harum itu?” 

 Mythgarr pun kemudian sadar bahwa ada bau harum masakan yang sudah menggoda mereka.

 Ayahnya kemudian berdiri “Mari makan malam!” 

 Mythgarr pun tersenyum, mengingat-ingat bahwa malam itu ibunya terus bertanya apakah Mythgarr sudah yakin akan pergi ke Damarshkant. Raut wajahnya menunjukkan kekuatiran yang tinggi. Mythgarr pun terus meyakinkan ibunya bahwa ia akan baik-baik saja.

 Mythgarr pun menatap langit pagi yang cerah “Ibu…”

 Mythgarr pun terus melangkah mengikuti jalan, menuju Damarshkant. Dia berhenti sejenak beberapa waktu kemudian ketika menemukan sebuah mata air kecil mengalir dari dinding tebing di samping jalan. Dia meminum air dan mengisi kantong air miliknya dari. Setelah beristirahat sejenak dengan duduk di samping mata air, dia pun melanjutkan perjalanannya kembali. 

 Ketika matahari menjelang naik, sebuah suara langkah-langkah kuda dan putaran roda terdengar dari belakangnya. Mythgarr pun menoleh dan melihat serombongan kereta kuda. Lima kereta kuda diiringi oleh dua penunggang kuda di depan dan dua penunggang kuda di belakang. 

 Ketika penunggang kuda yang paling depan melihat Mythgarr, dia pun memberikan isyarat berhenti dengan menaikkan tangannya dan memberhentikan kudanya. Dua penunggang kuda terdepan pun turun dan berjalan menuju Mythgarr

 Ada apa ini?” Mythgarr berpikir “apa mereka..mencurigai aku?”

  Penunggang kuda itu berpakaian hitam dengan mengenakan jubah merah yang bertudung. Masing-masing mengenakan helm yang wajah, hanya mulut dan mata mereka yang terlihat. Sebuah pedang bersarung di punggung masing-masing. Penunggang kuda ynag paling depan menarik pedangnya dan menghunus nya ke arah Mythgarr lalu berhenti berjalan. Penunggang kuda kedua menghunus pedangnya di belakang penunggang kuda pertama.

 “SEBUTKAN NAMAMU, PENGEMBARA!” Si Penunggang kuda pertama bertanya dengan kasar. Mythgarr agak kesal dengan kekasarannya, lalu menjawab.

 NAMAKU MYTHGARR ANAK VINCHGARR CHROMEHANDS!” Mythgarr ganti berteriak, dia menambah tenaga dalam di teriakannya. Para penunggang kuda itu membelalakkan mata begitu merasakan teriakan yang sarat tenaga dalam itu.

 “CHROMEHANDS KATAMU?” Penunggang kuda pertama bertanya

 “Benar Tuan.” Mythgarr menjawab, kali ini tanpa berteriak “Mythgarr Chromehands dari Desa Ural di kaki gunung Rheic” dan dia pun merunduk, tanda hormat.

 “KE MANA TUJUANMU, MYTHGARR?”

 “Ke Damarshkant, Tuan!” Mythgarr menjawab dengan tersenyum “boleh kutahu nama Tuan?”

 “APA TUJUANMU KE DAMARSHKANT?!” si penunggang kuda tidak menghiraukan pertanyaan Mythgarr

 “Bertemu Vontus Mauler dan menjadi muridnya, Tuan” Mythgarr menjawab dengan sedikit kesal tapi tetap memaksa tersenyum

 “APA KAU..”

 SUDAHLAH, GARNOS!” seseorang berteriak dari arah kereta kuda pertama, dan sesosok pria pun turun dari kereta kuda terdepan “Mythgarr anak Vinchgarr, dia bukanlah musuh kita!”

 Sosok yang turun itu adalah  seorang manusia, pria separuh baya, gagah, dengan rambut putih panjang yang disisir ke belakang. Pakaiannya berupa tunik lengan panjang berwarna hijau tua longgar dan celana panjang yang longgar pula. Kainnya tampak mahal dengan bordiran emas di sana-sini. Sebuah kalung dengan liontin besar terbuat dari emas menggantung di dadanya. Ada ukiran berupa elang di liontin itu. Dia berjalan ke arah Mythgarr, melewati para penunggang kuda, dan berhenti satu langkah di depan Mythgarr.

 “Mythgarr anak Vinchgarr!” dia tersenyum, lalu mengulurkan tangannya “namaku Wayne Pierce, pemilik karavan ini…dan kawan lama ayahmu!”

 Mythgarr terkejut, lalu tersenyum, dan membalas uluran tangan sang pria bernama Wayne Pierce ini “Terima kasih atas perkenalannya Tuan!” Mythgarr merasakan tangan yang kekar dan kuat ketika menggenggamnya.

 Mereka pun berjabat tangan “Kalau kau mau, kau boleh ikut karavan kami, Mythgarr!”

 “Tapi Tuan..” Garnos tampak protes

 Wayne mengangkat tangannya, menghentikan protes Garnos.

 “Tapi tidak gratis, Anak Vinchgarr!” Sang pria tersenyum penuh makna. Dia pun melepaskan jabat tangannya “Garnos, terangkan rute kita pada anak muda ini”

 Garnos pun menyarungkan pedangnya, melepaskan helmnya, dan mendekati Mythgarr. Garnos tampak berusia sekitar akhir dua puluh atau awal tiga puluh. Wajahnya keras dengan tatapan tajam, rambutnya hitam pendek, ada janggut kambing menjuntai di dagunya. Dia mengulurkan tangannya “Namaku Garnos!”

 Mythgarr menyambut uluran tangan itu “Namaku Mythgarr”

 Garnos pun tersenyum, agak sinis “Mythgarr, Aku bisa merasakannya dari teriakanmu tadi, tenaga dalammu lumayan juga! Berdoa saja tenaga dalammu cukup untuk membantu kita melewati para bandit-bandit Orc dan Troll di hutan di depan sana.”

 Mythgarr terbelalak.

 “Ahahahaha!” Wayne tertawa lepas “lihat wajahnya itu, Garnos. Sepertinya kau belum tahu ya, Mythgarr?”

 “Jalur ini bernama Jalur Emas Maut” Garnos berkata “Tuan Wayne Pierce ini adalah pedagang emas dan permata yang terkenal se-Domarthia. Kami baru saja keliling berdagang di kota-kota di barat laut dan di hutan Vanima dengan para Elf dan Dwarf.  Jalur ini adalah jalur satu-satunya ke Damarshkant yang bisa dilewati karavan kereta berkuda, dan di tengah-tengah jalur, tepat di kaki gunung, jalur ini melewati sebuah hutan lebat. Di sanalah bersarang bandit-bandit itu. Mereka terdiri dari beberapa manusia dan beberapa Orc serta Troll. Mereka sering membahayan karavan-karavan yang lewat!’

 “Kuharap kau cukup kuat melawan mereka, Mythgarr anak Vinchgarr” Wayne tersenyum “dari perawakanmu, dari teriakanmu yang penuh tenaga dalam, dan dari dua pedang yang tersarung di punggungmu, kau terlihat cukup kuat!”

 Wayne benar. Mythgarr memang terlihat bak pendekar perkasa. Tubuhnya tinggi besar untuk ukuran pemuda 15 tahun. Rambutnya merah membara, matanya hijau menyala, dan kulitnya coklat legam. Kedua lengannya besar, begitu juga kedua kakinya. Di balik jubah tudung coklatnya, dia mengenakan tunik dibalik zirah kulit merah gelap bermotif garis-garis kuning di sisi-sisinya. Sepatu boot berwarna merah gelap menutup kaki dan ujung celana panjangnya.

 “Bagaimana, Mythgarr anak Vinchgarr? Kau tertarik melanjutkan perjalanan bersama kami?”

 Mata Mythgarr membelalak senang “Tentu saja, Tuan Wayne! Dan sebagai pembayarannya, aku akan melawan semua bandit-bandit itu!”

 “HAHAHAHAHAHA!” Wayne Pierce tertawa membahana mendengar jawaban Mythagrr yang bersemangat. “Aku suka itu anak muda! Semangatmu hebat! Garnos, bersiaplah untuk melanjutkan perjalanan! Mythgarr, sebagai putra kawanku, kau akan duduk bersamaku di dalam karavan!”

 arnos menunduk, dan lalu berteriak-teriak memberikan aba-aba pada karavan untuk siap-siap bergerak kembali. Mythgarr mengikuti Wayne Pierce menaiki kereta kuda terdepan. Di dalam, sudah menunggu seorang wanita muda dan seorang pria yang berumur sama dengan Wayne. 

 “Duduklah Mythgarr, kuperkenalkan, dua orang kepercayaanku! Carno Surriaa dan Waty Chandra”

 Mythgarr pun bersalaman dengan mereka. Pria bernama Carno Surriaa adalah seorang pria kurus botak berkumis tipis dengan tatapan tajam. Waty Chandra adalah seorang wanita muda cantik berambut pirang dengan tatapan dan senyuman yang bisa melelehkan hati seorang pria. 

 “Carno adalah pencatat dan pemegang keuanganku yang paling dapat kupercaya. Sudah mengikutiku selama 23 tahun.” Wayne menjelaskan “Waty adalah ‘prajurit terdepan’ dalam perdaganganku. Dia menemaniku berdiplomasi dalam menaksir barang dan menawar harganya. Kedua orang ini memiliki mata yang hebat dalam bidang masing-masing!”

 “Waah…” Mythgarr tercengang.

 Wayne pun lalu mengajak mereka bercakap-cakap untuk menghabiskan waktu dalam perjalanan mereka. Dia menanyakan kabar Vinchgarr, menanyakan tentang Mythgarr, bercerita tentang perjuangannya menjadi pedagang besar. Mythgarr hanya bisa terkagum-kagum dan menjawab pertanyaan. Dia masih canggung dengan orang-orang kota. Waty pun mengkomentari bahwa Mythgarr masih terlihat lugu, dan Carno berkata bahwa mungkin Waty bisa “mengajari” sesuat pada Mythgarr, dan Wayne pun tertawa membahana. 

Mythgarr hanya bisa tersenyum-senyum. 

Karavan pun terus berlalu.

No comments:

Post a Comment