Thursday, December 2, 2010

Pedang dan Tenung - Bagian III

“Lihat, lihat!” Kia menunjuk-nunjuk kayu-kayu yang berterbangan.

“Kerajaan bergerak cepat...” gumam Ravi “Perdana Menteri sepertinya tidak ingin kerajaan kekurangan pangan laut...”

“Iya...” Tamara menimpali sambil terus terkagum.

Tanpa sadar mereka menghentikan langkah, terdiam mengagumi peristiwa di depan mata mereka. Teriakan-teriakan orang-orang yang lewat menyadarkan Kia yang kemudian menarik lengan baju Tamara

“Ayo kita cepat ke pelabuhan, aku takut kita kehabisan tempat makan!”

Tamara dan Ravi mulai melangkah kembali mengikuti Kia. Jalanan menuju pelabuhan seakan-akan penuh oleh energi keramaian. Para tukang kayu, pandai besi, dan ahli membuat kapal lalu lalang dari dan ke pelabuhan. Tampak pula prajurit-prajurit bayaran berlari-lari kesana kemari. Wajah mereka tampak tegang. Tidak ada yang memperhatikan tiga tabib muda itu. Tidak ada yang ingin bertegur sapa kecuali sesama mereka.

Ketika mendekati pelabuhan, Tamara melihat alasan kenapa mereka begitu tegang. Di atas tumpukan tiga kotak kayu tampak sosok paling penting kedua di Damarshkant. Rambutnya yang hitam keunguan tergerai tertiup angin pantai. Gerak tubuhnya tegas dan lincah, jari-jemarinya bergerak cepat menunjuk ke sana-kemari, memberi isyarat panggilan, memberi instruksi kepada para pekerja dan prajurit yang sedang bekerja keras di pelabuhan. Teriakan-teriakannya keras dan tanpa kompromi. Meski mengenakan sosok itu mengenakan topeng, Tamara dapat merasakan bahwa matanya tajam menghujam, menegaskan bahwa dialah yang paling berkuasa di pelabuhan pagi ini. Zirah kulit yang dikenakan dan pedang raksasa yang menyilang di punggungnya membuatnya lebih berwibawa. Dialah Elf perempuan yang paling ditakuti di Damarshkant. Dia lah Sang Perdana Mentri.

Dan Sang Perdana Mentri sibuk mengatur para pekerja dan prajurit di sana. Para pekerja menggotong-gotong dan mengukur-ukur kayu yang kemudian ditaruh di sebuah alat pemotong. Alat itu dipergunakan untuk memotong kayu-kayu sesuai arahan yang diminta oleh para pembuat kapal. Pembuat kapal membuat garis-garis di kayu dengan pensil magis. Garis-garis magis itu kemudian dibaca oleh sensor magis alat pemotong kayu yang kemudian memotong sesuai garis-garis tersebut. Satu alat pemotong bisa memotong lima kayu sekaligus. Seorang penyihir menjaga alat pemotong supaya tetap bekerja dengan menyuplai energi magis ke sebuah bola di badan alat pemotong. Sang penyihir juga berusaha untuk menjaga supaya gerak alat pemotong tidak liar. Tamara menghitung ada lima alat pemotong sedang bekerja, diawasi oleh lima penyihir. kayu-kayu yang telah dipotong diangkut oleh gerobak keledai ke arah kapal-kapal yang akan diperbaiki.

kapal-kapal yang hancur tetapi masih bisa mendarat di pelabuhan diangkat ke darat tadi malam oleh derek-derek yang ada di sana. Penyihir-penyihir berada di sekitar kapal-kapal tersebut, berkonsentrasi memperbaiki kapal. Ada penyihir yang menyusuh ulang bagian-bagian kapal supaya kayu-kayu hancur bisa disatukan untuk dipasang kembali di bagian-bagian kapal. Kayu-kayu di bagian kapal yang berlubang dicopot, melayang-layang di udara untuk diurai oleh sinar-sinar magis yang kemudian menyatukan kembali menjadi satu bagian kayu yang utuh.  Penyihir lain mengangkat kayu-kayu yang dibawa oleh gerobak keledai dan menyerahkannya ke pembuat kapal yang akan memasangkannya di bagian-bagian kapal yang memerlukannya: lambung, dek, tiang-tiang kapal. Kayu-kayu hasil daur ulang kemudian ditaruh dan dibawa oleh gerobak keledai ke pembuat kapal dan pemotong kayu.

Tiga sekawan tabib muda tak bisa melepaskan mata mereka dari aktivitas tersebut. Pemandangan sibuk nan magis yang ada di depan mereka telah membuat mereka melupakan rasa lapar dan lelah.

No comments:

Post a Comment