Tuesday, December 21, 2010

Perubahan Hati - Bagian II

Singa bastgrad adalah salah satu jenis singa yang terbesar dan terkuat di seluruh benua Elie. Singa jenis ini mampu mengangkut seorang prajurit lengkap dengan zirah besi dan senjata-senjatanya. Karena itulah, Singa bastgrad telah menjadi tunggangan para prajurit suci. Singa bastgrad tidak diternakkan khusus untuk menjadi tunggangan prajurit suci. Para prajurit suci harus menaklukkan seekor singa bastgrad dan menjadikannya tunggangan untuk resmi menjadi seorang prajurit suci. Setelah menaklukkan seorang singa bastgrad pilihannya, prajurit suci harus berani menatap mata singa bastgrad itu dalam-dalam dan menaklukkan jiwanya dengan memberikan Mana Suci yang dimiliki sang prajurit. Setelah takluk jiwa dan raga, barulah seekor  singa bastgrad bisa dilatih menjadi tunggangan prajurit suci. Singa bastgrad akan sangat menuruti prajurit yang menjadi penunggangnya, selama prajurit suci tersebut terus secara rutin memberikan mana suci untuk menenangkan jiwa.   

Alderran adalah singa bastgrad terbesar yang pernah ditaklukkan prajurit Domarthia manapun. Yang menaklukkannya adalah, tentu saja, Daigan.

Daigan mendekat ke kandang Alderran. Singa bastgrad kesayangannya itu sedang resah, dia hilir mudik dari sisi kandang ke sisi kandang yang lain. Matanya yang merah tampak makin menyala merah. Surainya yang putih lebat berkelabatan liar ke sana kemari.. Tubuh Alderran sebesar sapi dan tinggi matanya setinggi mata Daigan. Tubuh coklat keemasan itu tampak tegang dan membuatnya terlihat makin besar dari biasanya.

Alderran berhenti di tempat begitu dia melihat Daigan. Matanya menatap tajam ke arah tuannya. Daigan balas menatap Alderran tajam.

“Ada apa, wahai singa bastgrad perkasa?” Daigan bertanya, mencoba mengerti kegelisahan Alderran.

Singa bastgrad itu menggeram dan melangkah menuju pintu kerangkeng. Satu telapaknya mencakar-cakar pintu kerangkeng.

Daigan mendekat ke tunggangannya itu, matanya tidak lepas dari mata Alderran. Tanpa ragu Daigan memasukkan kedua tangannya ke kandang Alderran untuk memegang sisi-sisi kepala singa bastgrad yang sedang resah itu. Alderran tidak menghindar ketika akan dipegang. Mereka pun saling berkontak mata. Alderran menggeram-geram dan terus mencakar-cakar pintu kerangkeng.

“Baiklah, Alderran. Aku akan mengeluarkan kamu dari sini. Tapi kamu harus tenang dan menurut padaku. Kami akan memakaikan zirah besi di tubuh dan kaki-kakimu dan pelana di punggungmu. Seperti biasa,” Daigan berkata sambil mengusap-usap sisi kepala Alderran “lalu setelah itu kamu bisa tunjukkan pada kami apa yang membuatmu resah. Alezan, tolong ambilkan kunci kerangkeng!”

Alezan pun memberikan kunci kerangkeng Alderran pada Daigan. Daigan langsung membuka kunci kerangkeng dan menuntun Alderran keluar dengan memegang surai di bagian belakang kepalanya. Alderran langsung berdiri terdiam begitu seluruh tubuhnya sudah keluar.

“Begitu, sobat. Berdirilah dengan tenang dulu di sini bersamaku. Pengasuh, tolong ambilkan zirah dan pelana Alderran!”

Para pesuruh dengan cekatan membawa pelana dan bagian-bagian zirah Alderran mengambil posisi siap memasang mereka. Zaidan memberi isyarat dengan anggukan kepada mereka untuk memasangnya. Tanpa ragu mereka kemudian memasang bagian-bagian zirah ke badan dan kaki-kaki Alderran. Satu pesuruh mendekat ke Daigan membawa pelindung kepala Alderran. Daigan mengambilnya dan memasangnya ke kepala Alderran, memastikan tali kekang yang terpasang di pelindung kepala Alderran terikat dengan baik, lalumengencangkan sabuk-sabuk pelindung kepala.

“Sobat, aku sekarang meminta kamu untuk duduk!”

Alderran dengan patuh mengambil posisi duduk. Daigan mendekat ke pembawa pelana dan mamasangnya di punggung Alderran. Daigan mengepaskannya dengan bagian zirah di punggung dan mengikat sabuk-sabuk pelana sekencang mungkin. Dia kemudian memasang sabuk penopang halberd. Setelah merasa pelana terpasang dengan baik, Daigan kemudian menaiki Alderran.

“Sekarang sobat, tunjukkan padaku apa yang membuatmu resah!”

Daigan kemudian mengayunkan tali kekang, memberi isyarat pada Alderran untuk maju. Singa bastgrad tunggangannya langsung meraung keras menggema di seluruh tempat persiapan para tentara. Singa-singa yang lain tampak resah, terpicu oleh raungan Alderran, pimpinan mereka.

“Hey, DAIGAN! APA YANG –“

Seruan Alezan tidak didengar oleh Daigan yang langsung memacu Alderran yang sudah melesat.

“PRAJURIT SUCI! IKUTI KAMI!” Daigan meneriakkan perintahnya kepada Alezan dan prajurit-prajurit suci lainnya.

No comments:

Post a Comment