Tetapi perut Tamara tiba-tiba bersuara. Dia pun memegang lengan baju Kia seraya berkata “Aku lapar....”
‘Oh..” Kia memandang Tamara dan tersadar “iya ya..kita kesini mencari sarapan...Ravi, apa kamu tahu tempat makan enak di sini? ”
Ravinoosh memutar badan dan memberikan isyarat tangan pada mereka untuk mengikutinya menuju sebuah rumah makan cukup besar yang mempunyai tempat makan terbuka di depan.
Seorang wanita separuh baya mengenakan celemek dan membawa piring-piring kotor di nampan berjalan berkeliling di tempat makan. Wajahnya sumringah ketika dia melihat tiga tabib muda yang sedang berjalan menuju ke rumah makannya.
“Ravinoosh! Mari, mari masuk!” sambutnya “selamat datang di Hiu Pincang!”
“Salam, Ibu Ania!” Ravi memberi salam “Kami butuh meja untuk bertiga”
“Salam juga untukmu, Ravi sayang!” katanya tersenyum “siapa teman-temanmu ini?”
“Oh, iya Bu. Ini Tamara Kamil putri Mahulae Kamil, dan ini Tan Kia Gerda putri Doshmos Gerda’
“Salam kenal Bu” Tamara dan Tan Kia serentak memberi salam sembari menundukkan muka tanda hormat.
“Aku Ania. Senang berkenalan dengan para tabib muda teman Ravinoosh. Ravinoosh sudah bagai anak bagiku” Ibu Ania memberi hormat “Nah, mau di dalam atau di luar, nak?”
Ravi menoleh ke kawan-kawannya.
“Uh...di luar?” Kia bertanya
“Di luar. Supaya kita bisa melihat pelabuhan” jawab Tamara
Ravi kemudian menoleh kembali ke Bu Ania
“Di luar ya?” Ibu Ania tersenyum. Dia pun melihat ke sekeliling beranda. “Tunggu di sini kalau begitu ya sayang!”
Ibu Ania kemudian masuk ke dalam rumah makan dan beberapa saat kemudia keluar dengan sebuah lap dan menuju ke sebuah meja di beranda. Dia kemudian terlihat menegur lima pelanggan yang ada di sana. Mereka tidak terlihat seperti prajurit bayaran. Tiga dari mereka tampak seperti pemusik. Satu dari mereka tampak seperti penyihir. Yang terakhir adalah seorang perempuan muda, tampak lebih muda dari Tamara dan kawan-kawan. Tidak ada makanan di meja mereka, hanya beberapa botol dan gelas minuman. Dua dari mereka tampak cengar-cengir dan memohon maaf. Mereka kemudian bangkit setelah menaruh beberapa koin perak di meja yang kemudian di ambil oleh Ibu Ania. Mereka pun melangkah keluar dan memberi anggukan hormat kepada para tabib muda ketika mereka berpapasan. Perempuan muda tadi, yang memakai pakaian yang lebih bagus, tersenyum kepada mereka bertiga. Ibu Ania kemudian mengelap dan membersihkan meja tersebut.
“Ravi, kemari, kemari!” Ibu Ania memanggil mereka dan menunjuk ke meja yang baru saja ditinggalkan. Ravi pun memberi isyarat duduk di meja tadi.
“Nah, mau pesan apa sayang?” tanya Ibu Ania
Tiga tabib muda itu pun saling berpandangan. Tamara dan Tan Kia tidak tahu apa yang ada di rumah makan di pinggir pantai ini. Mereka berdua akhirnya memandang Ravi yang sepertinya sudah kenal.
“Ummm...” Ravi berpikir “ada martabak ikan trekulu Bu?”
“Martabak ikan trekulu? Ada, ada! Kalau kalian, anak-anak manis?” tanya Ibu Ania “Ibu juga punya sop udang asam dengan kentang. Atau kalau mau makan nasi, ada nasi goreng cumi kakap. Martabak juga ada Martabak cumi atau martabak tuna”
Tamara dan Kia saling berpandangan.
“Aku nasi goreng cumi kakap saja kalau begitu, Bu Ania” pinta Tan Kia
“ Aku martabak tuna. Porsi besar ya Bu” tambah Tamara
“Wah, sepertinya kamu lapar sekali ya, nak Tamara?”
“Yah, begitulah Bu. kami bekerja sepanjang malam” timpal Ravinoosh.
“Oh, ya? Kalian merawat para korban? Terima kasih ya sudah membantu kami.” Ibu Ania berterima kasih, menaruh tangannya di dadanya ”Penghuni pelabuhan ini merasa amat tertimpa bencana begitu mengetahui banyak di antara kami yang tidak pulang.” Ibu Ania tetap tersenyum, tetapi mereka tahu kalau ia menahan sedih yang luar biasa “Lalu kalian ingin minum apa? Oh, lupakanlah, Teh Jahe buat kalian. Menghangatkan tubuh. Cuma-Cuma!”
“Terima kasih Bu” Tamara berkata “kami akan terus mencoba menyembuhkan para korban”
“Baiklah, baiklah, Ibu ke dapur dulu ya?”
Para Tabib pun menunggu. Mata mereka pun langsung mengarah ke tempat di mana kapal-kapal diperbaiki.

No comments:
Post a Comment