Monday, December 13, 2010

Pedang dan Tenung - Bagian VI

Siapa Elf perempuan tadi? Penguasa Benteng Penantang Nasib? Berarti dia memimpin seluruh prajurit bayaran di sini? Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi benak Mythgarr, mengirinya melangkah masuk ke Warung Dwarf Girang.

Warung Dwarf Girang adalah sebuah rumah makan yang lumayan besar. Di dalamnya ada enam meja bundar yang masing-masing mampu menampung tiga sampai lima pelanggan. Di ujung rumah makan di dekat dapur ada bar tempat para pelanggan duduk di kursi tinggi untuk minum-minum atau sekedar mengobrol dengan pemilik warung.

Beberapa pasang mata menatap Mythgarr ketika dia masuk, tetapi kemudian kembali ke aktivitas masing-masing. Mythgarr melangkah dengan mantap menuju bar dan kemudian duduk di sebuah kursi tinggi yang kosong. Di sebelahnya adalah seorang dwarf dan Mythgarr terkejut ketika dia melihatnya. Dwarf yang sama yang menabraknya kemarin. Di sebelah dwarf tadi ada sosok yang lebih mengejutkan lagi.

“Salam, anak muda,” perempuan Elf itu menyapanya sembari tersenyum “senang bertemu denganmu lagi secepat ini!”

“Kudengar kamu mencariku, anak muda?” Dwarf yang disebelahnya bertanya.

Kejutan demi kejutan, pikir Mythgarr. Tapi setidaknya dia telah bertemu dengan yang dicari.

“Tuan Vontus Mauler?” tanya Mythgarr penuh harap.

Dwarf tersebut terkekeh. “Lihatlah wajahmu nak, sangat mengharap kalau aku benar-benar Vontus Mauler. Baiklah, aku Vontus Mauler, apa maumu?”

“Benarkah? Benarkah anda Vontus Mauler?” Mythgarr memegang tangan Dwarf tersebut “aku Mythgarr putra Vinchgarr Chromehands, murid anda.”

“Vinchgarr Chromehands? Aku tidak punya murid bernama Vinchgarr Chromehands”

“Oh ya, dia mantan murid anda” kata Mythgarr “sekarang menjadi pandai besi di kampungku”

“Aku tidak pernah mengingat Vinchgarr Chromehands” kata Vontus Mauler.

Mythgarr terkejut. “Tapi...”

“Vontus Mauler tidak pernah mengambil murid. Itu yang kuingat” lanjut Vontus Mauler.

“Itu yang dia ingat!” kata perempuan Elf itu menegaskan sambil mengacungkan jarinya ke Mythgarr dan tersenyum sinis.  

“Lalu.....”

“Ayahmu berbohong” kata Vontus Mauler

“Berbohong” lanjut perempuan tadi.

Mythgarr spontan menggebrak meja dan mengejutkan pengunjung-pengunjung lain. Vontus Mauler hanya terdiam. Penguasa Benteng Penantang Nasib  melihatnya dengan senyum penuh ejekan.

“Hei hei, tidak boleh menggebrak meja!” kata pemilik warung makan, seorang manusia tinggi besar berjenggot panjang.

“Maaf, Tuan” kata Mythgarr sambil menahan geram lalu memandang ke arah Vontus Mauler “maksud Tuan Vontus Ayahku berbohong kepadaku? Tentang dia murid Vontus Mauler pandai besi?”

“Begitulah anak muda.”

“Maksud Tuan semua perjalananku kemari, pertarunganku dengan para bandit, dan pertarunganku dengan para Orc tadi dan perempuan ini semua sia-sia?”

“Perempuan ini?” Vontus melirik ke arah Elf yang di sebelahnya “kamu melawannya?”

“Hei, dia orang baru, akur harus menyapanya.” timpal perempuan itu.

“Setidaknya kamu terkenal sebagai anak muda yang bisa melawan ratu prajurit bayaran” lirik Vontus Mauler ke arah Mythgarr. Tidak semua sia-sia...”

Wajah Mythgarr tampak lebih menegang.

“Mengapa ayahku berbohong padaku?” tanya Mythgarr “mengapa harus mengirimku ke Damarshkant berdasarkan kebohongan? Apakah satu orang lagi yang harus kucari itu juga sebuah kebohongan?”

“Selamat datang di dunia orang dewasa, anak muda” kata pemilik warung makan “dimana kebohongan dan tipu daya merajalela. Jadi, mau minum apa?”

Darah Mythgarr menggelegak. Dia memandang pemilik rumah makan dan langsung berdiri menuju keluar.

Perempuan Elf itu terkejut. Vontus Mauler terdiam.

“Hey, hey, anak muda!” kata perempuan tadi “mau kemana kamu?”

“Nona Thellrye, biarkan dia” Vontus Mauler berkata sambil meminum dari gelasnya.

Thellrye tidak menghiraukan Vontus Mauler dan menyusul Mythgarr dan memegang pundaknya.

“Kamu mau pergi begitu saja?” 

Mythgarr menepis tangan Thellrye dan berbalik badan menghadapnya

“Maaf Nona, tapi tujuanku kemari tidak tercapai. Aku harus segera pulang dan menghadap ayahku, meminta penjelasan akan semua ini!”

“Semua ini?”

“Semua ini! Ayahku, Vontus Mauler,” Mythgarr berhenti, menatap Thellrye tajam “dan Anda, Nona!”

“Aku? Apa salahku, selain menyerangmu pagi tadi,” bela Thellrye “maaf, tapi aku tidak tahan melihat ada anak muda yang belum kukenal jalan-jalan membawa Pedang Sakti Kalajengking Kembar”

“Ini..” Mythgarr reflex memegang salah gagang pedangnya. “Ini bukan Pedang Sakti Kalajengking Kembar!”

“Jangan berbohong, anak muda! Pria yang memanggil dirinya dengan Kalajengking adalah seorang pendekar Elf yang paling terkenal dan dihormati di seluruh wilayah Vanima. Kenyataan bahwa pedang sakti yang dia bangga-banggakan ada di punggung seorang anak muda sepertimu membuat banyak Elf yang tinggal di sini gusar. Aku diminta untuk mengetesmu.” Thellrye berkata menjelaskan tindakannya “Kalajengking mengambil murid, itu sudah kuketahui. Kalajengking memberikan pedang-pedang saktinya padamu, aku sudah tahu. Siapa muridnya, siapa ayah muridnya, siapa ibu muridnya aku sudah tahu. Kalajengking memberitahukan semuanya padaku. Beritahukan aku, Mythgarr, apakah gurumu memintamu datang ke Damarshkant?”

“Eng...tidak. Guru meninggalkanku 5 bulan lalu ketika aku sudah berhasil lulus ujiannya. Ingin menyelesaikan sesuatu, katanya. Dia memintaku menjaga pedang-pedang sakti ini dan menyerahkanku kembali kepada ayah. Ayah yang menyuruhku pergi ke Damarshkant, mencoba menjadi murid Vontus Mauler, dan mencari satu orang penting lagi.”

Wajah Thellrye berubah menjadi penuh tanya “Satu orang penting lagi?”

“Aku hanya bisa mencarinya setelah menjadi murid Vontus Mauler, dan tidak boleh mengatakan kepada siapa pun siapa yang kucari sebelumnya” kata Mythgarr.

“Baiklah. Lalu Mythgarr, apakah kamu tahu kenapa Kalajengking mengangkatmu menjadi muridnya?”
Mythgarr berubah bingung. Dia baru menyadari dia tidak tahu apa alasan gurunya mengangkatnya menjadi murid.

“Waduh....” jawabnya “entahlah nona. Guru suatu hari datang ke keluargaku dan memintaku menjadi muridnya. Ayah setuju karena dia mengatakan Guru adalah kawan lamanya dan pendekar yang sudah terkenal...”

“Aku tahu alasannya” tanya Thellrye “Kamu ingin tahu alasannya?”.

“Tentu saja..” tapi Mythgarr langsung menggeleng “..sebentar, sebentar! Kenapa Nona bisa tahu?”

“Seperti yang sudah kukatakan, Kalajengking menceritakan semuanya padaku.”

“Siapa sebenarnya anda, Nona?” alis Mythgarr bertaut, curiga terpampang di wajahnya.

“Thellrye Symthee, Ratu Prajurit Bayaran dan Penguasa Benteng Penantang Nasib” Thellrye berkacak pinggang dan mengatakannya dengan penuh keanggunan dan kebanggaan.

“Dan Elf paling menyebalkan se-Vanima dan Domarthia” Vontus Mauler menimpali.

“Heh, kamu hanya iri, Vontus!” sambar Thellrye sambil memandang Vontus dengan pandangan menghina, dan kemudian berkata lagi pada Mythgarr “dan Elf paling penting se-Vanima dan Domarthia!”

“Vanima...dan Domarthia....?”

“Ya!”

Mythgarr terdiam sejenak, mencoba mencerna apa yang terjadi.

“Apakah ayahku menyuruhku ke Damarshkant juga terkait dengan anda, Nona?”

“Tidak!” jawab Thellrye tegas.

Mythgarr terdiam lagi.

“Jadi, apa kamu mau tahu alasan sebenarnya, anak muda?”

Mythgarr menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Entahlah Noa Thellrye, bagaimana aku tahu aku bisa mempercayaimu?”

“Ayo duduk” Thellrye menggamit Mythgarr dan menyuruhnya duduk di sebuah kursi yang berada di depan sebuah meja yang masih penuh orang. Mythgarr setengah hati menurut dan duduk. Thellrye mengusir orang-orang yang sedang duduk di  meja. Orang-orang itu menurut sambil menggerutu.

Thellrye kemudian duduk, mendekatkan wajahnya ke wajah Mythgarr, dan berkata sambil setengah berbisik “Kalajengking mengambilmu sebagai murid ketika umurmu sepuluh tahun, ketika kamu sudah bisa menempa sebuah pisau, ketika kamu sudah bisa mengayunkan pedang, mempelajari sedikit tenaga dalam, dan selalu gagal dalam pelajaran memanah.”

Mythgarr terkejut.

Thellrye melanjutkan “Kalajengking pertama-tama mengajarimu kelenturan dan pengaturan tenaga dalam Kanuragan, bukan ilmu silatnya.”

Mythgarr tetap diam.

“Sekarang kamu percaya padaku?”

“Baiklah Nona....”

“Sekarang kamu ingin tahu apa alasan Kalajengking mengambilmu sebagai murid?”

Mythgarr mengangguk.

“Tapi ada syaratnya”

“Apa itu?”

“Kamu harus tetap tinggal di Damarshkant!” kata Thellrye tegas “Vontus!”

“Apa?” jawab Vontus.

“Kemari kau!”

Mythgarr tampak tegang ketika Vontus dengan santainya turun dari kursi tinggi dan berpindah duduk di meja yang sama dengannya

“Ada apa, wahai Ratu Prajurit Bayaran?”

“Mythgarr, Vontus Mauler,”  tanya Thellrye “apa kamu ingin menjadikan dia muridmu?”

Vontus menatap Mythgarr tajam, lalu bertanya tentang dasar-dasar penempaan besi, pembentukan pedang, pembentukan mata tombak, tentang mata pisau dapur, mata golok. Mythgarr menjawab semua pertanyaan tersebut dan Vontus mengangguk puas. Lalu Vontus bertanya lagi

“Apakah kamu ingin menjadi pandai besi atau ingin menjadi pendekar?”

Mythgarr terdiam, dan kemudian berkata “Aku lebih ingin menjadi pendekar...”

“Pandai besi menempa besi dan baja menjadi alat-alat yang berguna. Sifat dari pandai besi adalah merubah dan mencipta. Pedang, tombak, golok, belati adalah alat-alat yang dihasilkan pandai besi. Seorang pendekar menggunakan alat-alat tersebut untuk menyerang, membela diri, melukai, membunuh. Sifatnya merusak. Dua sifat yang berbeda.” Kata Vontus Mauler “Pedang dan Tenung adalah dua alat yang dipergunakan oleh kekuasaan di mana pun di dunia ini sebagai perusak. Aku tidak ingin mengajar seorang anak muda yang ingin menjadi perusak.”

“Tapi Tuan Vontu-“

“Aku tidak ingin menjadikanmu muridku. Tapi apabila Penguasa Benteng Penantang Nasib memaksaku menjadikanmu muridku, aku akan membuatmu menjadi budakku, kamu akan kuajari apa-apa yang kuperlukan darimu, selebihnya kamu harus belajar sendiri. Mustahil kamu bisa mempergunakan keahlian bertarungmu kalau kau menjadi muridku, karena tugas seorang pandai besi bukan berada di garis depan, tapi di di tungku.” Ucap Vontus panjang lebar. Dia kemudian memandang Thellrye “bagaimana, Nona Thellrye, apakah kamu tetap memaksakan Mythgarr menjadi ‘murid’ ku?”

“Biarkan Mythgarr yang berpikir,” jawab Thellrye “tapi Mythgarr, kalau kamu lebih ingin menjadi pendekar, aku pikir lebih baik kamu bergabung dengan salah satu kelompok prajurit bayaran di Benteng.”

“Bagaimana caranya?”

“Dengarkan baik-baik. Begini caranya”

No comments:

Post a Comment