Wednesday, December 8, 2010

Pedang dan Tenung - Bagian V

Mythgarr menguap dan meregangkan tubuhnya. Dia kemudian membuka jendela dan menghirup udara pagi. Dia terkejut ketika menyadari udara yang dihirupnya tidak sesegar udara pegunungan. Dia kemudian terkejut ketika menyadari dia berada di ketinggian dan di depannya terhampar pemandangan puluhan bangunan dan ratusan orang berlalu –lalang, meski fajar baru saja menyingsing.
  
Dia kemudian tersenyum-senyum sendiri begitu menyadari bahwa dia berada di Damarshkant, kota terbesar sekerajaan Domarthia. Mythgarr kemudian menghirup nafas panjang-panjang, menahannya, dan mengeluarkannya perlahan-lahan.
  
Mythgarr mengingat kembali interogasinya di hadapan Lurga dan para petugas di Gerbang Kota. Siapa namamu? Siapa ayahmu? Siapa ibumu? Dari mana kau mengetahui  Damarshkant? Dari jalan mana kau sampai ke Damarshkant? Naik apa kau ke Damarshkant, dan seterusnya.
  
Mythgarr menjawab semuanya dan menerangkan bahwa ia adalah Mythgarr Chromehands anak Vinchgarr Chromehands. Semua orang menarik nafas dan terdiam mendengar nama itu. Dia lalu menerangkan nama ibunya, menerangkan bahwa pedagang yang sering ke Damarshkant sering membeli peralatan dari ayahnya. Dia juga menerangkan tentang pertemuannya dengan Wayne Pierce, menaklukkan para Bandit, dan lalu memasuki Damarhskant.

Ketika ditanya apakah dia sudah mempunyai tujuan dan rencana di Damarhskant Mythgarr menjawab bahwa dia ingin mencari Vontus Mauler dan menjadi muridnya. Dia juga menerangkan bahwa dia mempunyai keahlian tempa besi dan mampu membuat pedang maupun alat-alat besi lain.

Lurga menatapnya tajam-tajam ketika menyebut Vontus Mauler dan ingin menjadi muridnya. “Vontus Mauler? Selamat mencoba!” gumamnya.
  
“Kenapa, Tuan Lurga?” tanya Mythgarr
  
“Vontus Mauler mungkin penempa pedang dan zirah terhebat se-Domarthia” jawab Lurga sambil mengacungkan pensilnya ke arah Mythgarr “tapi dia juga orang paling tertutup, dan Chromehands adalah salah satu nama yang memberi kenangan buruk padanya.”
  
Mythgarr terdiam.

“Baiklah nak Mythgarr. Semua sudah kami catat dan kami saksikan. Kalau kamu belum tahu tempat menginap, Gerbang Kota mempunyai beberapa ruang kosong di atas yang kami peruntukkan bagi para orang baru sepertimu yang belum mempunyai tempat tinggal” Lurga mengambil jeda, dan menatap Mythgarr tajam “atau orang-orang yang mencurigakan. Kamu tidak berniat jahat di kota ini bukan, Mythgarr?”
  
Mythgarr menjawab tidak dengan tegas, dan Lurga tersenyum puas dan kemudian tertawa terbahak-bahak. Dia mengatakan karena Mythgarr membuatnya tegang dan juga membuatnya terhibur. Dia tidak menjelaskan kenapa. Dia juga meminta Mythgarr memberi tanda pada beberapa lembar kertas dengan cap jempolnya dan kemudian menyuruh para petugas mengantar Mythgarr ke lantai lima dan menunjukkan kamarnya yang kosong.

Mythgarr menghirup nafas panjang-panjang, menahannya, dan mengeluarkannya perlahan-lahan. Berulang-ulang dia lakukan sampai keringat membasahi tubuhnya. Ketika tubuhnya sudah menghangat dan aliran darahnya terasa lancar, Mythgarr berhenti. Ini adalah rutinitas tiap pagi yang dia lakukan untuk menjaga kesehatan tubuhnya dan keteraturan tenaga dalamnya. Satu rutinitas lainnya adalah berlari pagi naik turun bukit di sekitar desanya, sesuatu yang sepertinya tidak mungkin dia lakukan di kota ini. Selain tidak melihat adanya jalan yang bisa dia pakai untuk lari pagi, dia pun tidak mengetahui aturan di kota ini.

 Mythgarr menutup jendela dan masuk ke bilik yang disebut petugas Gerbang Kota sebagai “kamar mandi”. Ada saluran yang mengalirkan air dari atas kepala yang disebut sebagai “pancuran”. Ada tempat duduk yang berlubang dimana Mythgarr bisa membuang hajat dan mendorongnya keluar yang disebut “kakus”. Mythgarr ingin mencoba mandi di “kamar mandi” ini. Biasanya dia melakukan semuanya di sungai.

Setelah berbasah-basah ria membasuh badannya yang kotor di kamar mandi dan membuang hajat sepuasnya, Mythgarr pun keluar kamar mandi dan mengenakan pakaian dan zirahnya, mengenakan jubahnya, mencangklong kedua pedangnya, dan menggantung tasnya di punggung.

Perutnya sudah mulai lapar.

Mythgarr kemudian keluar kamar, turun ke lantai dasar dengan menggunakan “keranjang angkat-angkat” yang bisa membawanya ke lantai dasar tanpa harus melalui tangga. Mythgarr masih merasa kagum dengan keranjang ini. Bagaimana cara kerjanya ya, pikirnya. Seorang Orc dan seorang manusia yang bersamanya di keranjang angkat-angkat sama-sama melihat-lihat sekeliling keranjang tersebut dengan terheran-heran. Dua orang lainnya tersenyum-senyum akan tingkah mereka yang kampungan. Satu orang hanya terdiam.

Enam orang tersebut kemudian melapor ke petugas jaga sebelum keluar Gerbang Kota. Masing-masing diberi secarik kertas coklat yang harus diisi oleh orang-orang yang akan menjamin mereka sebelum mereka diberikan status warga kota.
“Kak Pengawal, apa kakak tau tentang Vontus Mauler sang pandai besi?” tanya Mythgarr kepada pengawal manusia yang menjaga hari itu

“Vontus Mauler, pandai besi?” tanya pengawal itu dingin “mungkin ada di area pertukangan di Benteng Penantang Nasib. Tanya saja di rumah makan yang ada di dekat sini. Warung Dwarf Girang

Mythgarr berterima kasih dan kemudian beranjak keluar dari Gerbang Kota dan langsung diterpa oleh riuh-rendahnya Benteng Penantang Nasib.  Orc berteriak-teriak dari pinggir sungai, beberapa bahkan berkelahi sambil berlarian dari atap ke atap. Ada sebagaian dari mereka yang terjungkal ditendang lawannya dan terjatuh di jalan. Orc-orc yang di bawah kemudian melempar mereka-mereka yang jatuh kembali ke atas untuk bertarung kembali. Beberapa Elf pun tampak berlatih bertarung, mereka berlarian dan berloncatan dari atap ke atap. Beberapa manusia menonton adegan tersebut. Para Orc yang tidak punya lawan menantang mereka, tapi mereka menolak sambil tertawa-tawa. Para Orc pun terlihat menghina mereka, tapi yang dihina hanya senyum-senyum masam. Tidak terlihat adanya Dwarf di jalanan. Mungkin mereka berlatih di tempat lain. Mungkin saja di bawah tanah, pikir Mythgarr. Dwarf terkenal suka membuat terowongan di mana-mana, mungkin saja di Damarshkant pun demikian.

Mythgarr terus berjalan dan melihat beberapa karavan beriringan keluar masuk Benteng Penantang Nasib. Pandangannya dialihkan ke karavan-karavan tersebut, melihat-lihat apakah karavan Wayne Pierce ada di antara mereka. Sepertinya tidak, tapi Mythgarr tidak yakin. Dia tidak sempat menghafal karavan Wayne Pierce.

Ketika melihat-lihat karavan tersebut, Mythgarr merasakan ada tekanan hawa yang melesak ke arahnya dari belakang. Dia pun langsung memutar menghindar. Satu lagi di belakangnya, dan dia pun menghindar ke samping. Sebuah kereta kuda tepat di depan matanya dan dia pun melompat ke arah atap bangunan terdekat. Kereta kuda tersebut tetap melaju. Sebuah tekanan hawa melesak dari samping dan Mythgarr menghindar dan menangkap tangan penyerangnya dan membantingnya dan menginjaknya. Mythgarr terkejut ketika melihat penyerangnya adalah seorang Orc.  

Sebuah serangan datang dari belakang. Mythgarr melompat, salto di udara, dan kemudian menukik menuju lawannya yang menyambut tendangan Mythgarr dengan dua buah kepalan. Suara dentuman pun membahana. Lawannya pun terpelanting, terpantul-pantul dan kemudian terjungkal ke jalan. Mythgarr melayang, memutar, dan mendarat di atap. Kakinya sedikit kesemutan.

Satu orc melesat kilat bak benteng ngamuk ke arahnya. Mythgarr menatap lawannya dengan pandangan mata tajam. Ketika lawannya mengayun pukulannya, Mythgarr menangkap tangannya, menghindar ke samping, menghujamkan sikutnya ke pelipis lawan, lalu menghujamkan lututnya ke rusuk, dan kemudian melayangkan tendangan kirinya ke wajah lawan yang terlontar ke udara sambil menghindar dari satu serangan lawan lain.

Mythgarr secepat kilat merunduk, menyapu kakinya tuk menjatuhkan lawan. Lawannya melompat menghindar sembari bersalto dan menjatuhkan sebuah tendangan ke arahnya bak elang menyambar. Mythgarr menghindar dan menumpukan badannya ke satu tangan sembari melayangkan kakinya ke atas dan kemudian berputar, mencoba menendang lawannya yang dengan lincah menghindar.

Lawannya mendarat tiga tombak darinya. Mythgarr pun langsung berdiri dan melihat lawannya. Matanya terkejut ketika mendapati seorang Elf perempuan yang cantik sedang tersenyum ke arahnya.

“Lumayan, anak muda” katanya “dua orc terjengkang sampai tidak berdaya, dan kamu bisa menghindari seranganku. Siapa namamu?”

Mythgarr mengatur nafasnya.

“Maaf, tapi sebutkan dulu nama nona.”

Elf perempuan berambut hitam keunguan tersebut hnya tertawa terbahak-bahak.

“ANAK MUDA!” teriak seorang Orc di jalanan “BERI HORMAT! KAMU SEDANG MENGHADAPI PENGUASA BENTENG PENANTANG NASIB!”

“Penguasa..” tapi tak sempat Mythgarr melanjutkan pikirannya sang elf perempuan sudah di hadapannya dan melayangkan lututnya. Mythgarr menahan serangan itu, dan sebuah totokan mengarah ke dahinya. Mythgarr menghindar ke belakang dan menghindar lagi ke samping ketika sebuah sapuan kaki mengarah ke rusuknya. Mythgarr terpaksa menghindar lagi ketika lawannya menyerangnya dengan punggung tangan kanan. Mythgarr mulai kawalahan ketika lawannya meloncat berputar dan menghujamkan tendangan. Dia terpaksa melindungi diri dengan kedua tangannya. Lawannya menghujamkan dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh tendangan dengan kecepatan kilat. Mythgarr hanya bisa menangkis serangan-serangan itu dengan telapak tangannya.

“Cepat sekali” pikir Mythgarr “nona Elf ini mungkin secepat guruku!”.

Sang Elf menghentikan serangan kakinya dan melesak ke arah Mythgarr dengan sebuah totokan, Mythgarr menghindar kesamping. Totokan lawannya berubah lincah menjadi cengraman dan menangkap tangannya. Mythgarr mencoba melepaskan tapi sang Elf kemudian mencengkram satu tangan lainnya.

Sang Elf menguncinya di tempat dan kemudian menatapnya tajam. Mythgarr mencoba tandukan ke arah lawan tapi lawannya menghindar dan kemudian berteriak ke arah kupingnya. Mythgarr pun tersentak terkejut. Kupingnya langsung mendenging. Matanya menatap tajam ke arah lawannnya

“Teriakan itu...”

“Oh, kamu mengenal teriakan itu?” tanya lawannya

Mythgarr mengerahkan tenaganya ke tenggorokannya dan kemudian berteriak ke arah lawannya. Lawannya menghindar.

“Oh, kamu mengenal teriakan itu,” kata lawannya “Mythgarr anak Vinchgarr!”

Mythgarr terkejut. Lawannya melepaskan cengkramannya dan menghujamkan tendangan ke ulu hatinya. Mythgarr terjengkang, terguling, berputar, lalu mendarat tersimpuh.

Elf lawannya sudah berdiri di depannya

“Vontus Mauler ada di Warung Dwarf Girang, ” lawannya berkata “Mythgarr murid Kalanjengking Tak Terkalahkan!”

Lawannya kemudian tersenyum, tertawa kecil, lalu memutar badannya dan melayang “Sampai ketemu lagi, anak muda!” teriaknya.


Mythgarr berdiri, hampir tidak percaya akan apa yang terjadi. Siapa Elf itu? Dari mana dia mengetahu dirinya? Kenapa dia diserang?

Pikirannya buyar oleh teriakan-teriakan, tepuk tangan, dan siulan dari orang-orang di bawah yang sendang memandangnya.

Sepertinya mereka senang akan pertarungan tadi, pikirnya. Mythgarr menatap mereka dan tersenyum kecut. Dia kemudian melompat kembali ke jalan. Orang-orang langsung mengerubunginya.

“Hebat kamu!”

“Luar biasa!”

“Luar biasa!”

“..Gabung dengan kami!”

“...bersama Orc, berlatih!”

Mythgarr hanya mengangguk-angguk dan menolak dengan tangannya akan setiap ajakan. Dia kemudian bertanya di mana Warung Dwarf Girang. Seseorang menunjukkan sebuah papan toko besar bertuliskan “Warung Dwarf Girang” dan Mythgarr pun mengetahui ke arah mana dia harus berjalan.

Mythgarr pun memisahkan diri dari orang-orang yang mengerumuninya sambil tersenyum. Ketika mereka melepaskan dirinya, Mythgarr melangkah menuju Warung Dwarf Girang. Kejadian barusan masih memenuhi pikirannya.
Ada apa sebenarnya ini?
 

No comments:

Post a Comment