Saturday, December 18, 2010

Perubahan Hati - Bagian I

Daigan Virsom  memandang pedang di tangannya bagaikan kekasih memandang yang tercinta. Perlahan-lahan dia mengusapkan kain pembersih ke mata pedang yang besarnya hampir sebesar dirinya sendiri.  Daigan Virsom mencintai pedangnya. Dia sudah mengayun pedang ini semenjak umurnya baru lima belas tahun. Semenjak dia belum menjadi Prajurit Suci. Sebelum dia menginjakkan kaki di Damarshkant. Sejak dia masih mengarungi jalan-jalan di gunung. Sebelum dia bertemu dengan gadis itu.

Daigan Virsom tersenyum. Apa yang terjadi kalau dia tidak bertemu dengan Tamara Kamil hari itu?

Sejenak dia mengenang masa-masa itu, tetapi pikiran itu langsung disingkirkan. Tugas sudah menanti. Daigan dan pasukannya diperintahkan membantu para prajurit di perbatasan Domarthia dan Ngarai Batarumpuk. Pos-pos di perbatasan makin sering mengalami gangguan dari para penghuni Jurang. Goblin-goblin di sana makin sering terlihat dan menyerang para penjaga pos dengan katapel-katapel mereka. Muncul juga laporan-laporan para pengintai tentang makin seringnya Orc berkumpul di pinggir-pinggir sungai-sungai yang menyelusuri Batarumpuk, dekat dengan pos-pos perahu penyebrangan.

Para pengintai juga mengirimkan laporan tentang munculnya makhluk-makhluk misterius. Besar tegap bagaikan Orc dan berwajah campuran kadal raksasa dan babi hutan. Mereka mengenakan zirah-zirah besi lengkap dengan duri-duri yang bermunculan di bahu, helm, dan pelindung tangan mereka. Tidak banyak yang muncul, mungkin dua atau tiga.

Perdana Menteri sudah meminta Tentara Kerajaan meningkatkan kewaspadaannya.   Antara serangan yang dialami oleh para nelayan tadi malam dan ketegangan yang meningkat di pos-pos perbatasan, pihak Kerajaan merasa ada pihak-pihak yang mulai ingin mengepung Domarthia. Prajurit Kerajaan dan Prajurit Suci diminta untuk segera memastikan keadaan di perbatasan. Benteng Penantang Nasib juga diminta untuk memberikan pendekar-pendekar mereka, terutama mereka-mereka yang berkemampuan pencari jejak dan pengintai.

Daigan menyarungkan pedangnya dan menyandingkannya di punggungnya. Dia kemudian mengambil tas dan Halberdnya dan melangkah keluar dari kamar baraknya, menuju halaman yang sudah ramai oleh persiapan para prajurit yang ditugaskan menuju Ngarai Batarumpuk. Lima Prajurit Suci, tigapuluh Prajurit Kerajaan termasuk tiga komandan, dan dua puluh tiga prajurit bayaran. Mereka semua terdiri atas manusia, Elf, Dwarf, dan Orc.

“Komandan Daigan!” Alezan menyambutnya dengan menaruh kepalan tangan di dada, memberi hormat.

“Wakil Komandan Alezan” Daigan membalas hormat dan mengangguk “bagaimana persiapan Pasukan Tempur kita?”

Alezan melaporkan seluruh Pasukan Suci, Pasukan Kerajaan, para tabib petarung, dan prajurit bayaran sudah siap. Empat kereta  kuda sudah disiapkan. Tunggangan para prajurti sudah disiapkan, kecuali satu singa bastgrad .

“Dan komandan tentu tahu siapa satu singa bastgrad yang dimaksud,” Alezan tersenyum penuh arti pada Daigan.

“Aldarran,” balas Daigan “singa bastgrad kepercayaanku. Ikut aku, Wakil Komandan!”

“Siap, Komandan!”

No comments:

Post a Comment