Tuesday, December 21, 2010

Perubahan Hati - Bagian II

Singa bastgrad adalah salah satu jenis singa yang terbesar dan terkuat di seluruh benua Elie. Singa jenis ini mampu mengangkut seorang prajurit lengkap dengan zirah besi dan senjata-senjatanya. Karena itulah, Singa bastgrad telah menjadi tunggangan para prajurit suci. Singa bastgrad tidak diternakkan khusus untuk menjadi tunggangan prajurit suci. Para prajurit suci harus menaklukkan seekor singa bastgrad dan menjadikannya tunggangan untuk resmi menjadi seorang prajurit suci. Setelah menaklukkan seorang singa bastgrad pilihannya, prajurit suci harus berani menatap mata singa bastgrad itu dalam-dalam dan menaklukkan jiwanya dengan memberikan Mana Suci yang dimiliki sang prajurit. Setelah takluk jiwa dan raga, barulah seekor  singa bastgrad bisa dilatih menjadi tunggangan prajurit suci. Singa bastgrad akan sangat menuruti prajurit yang menjadi penunggangnya, selama prajurit suci tersebut terus secara rutin memberikan mana suci untuk menenangkan jiwa.   

Alderran adalah singa bastgrad terbesar yang pernah ditaklukkan prajurit Domarthia manapun. Yang menaklukkannya adalah, tentu saja, Daigan.

Daigan mendekat ke kandang Alderran. Singa bastgrad kesayangannya itu sedang resah, dia hilir mudik dari sisi kandang ke sisi kandang yang lain. Matanya yang merah tampak makin menyala merah. Surainya yang putih lebat berkelabatan liar ke sana kemari.. Tubuh Alderran sebesar sapi dan tinggi matanya setinggi mata Daigan. Tubuh coklat keemasan itu tampak tegang dan membuatnya terlihat makin besar dari biasanya.

Alderran berhenti di tempat begitu dia melihat Daigan. Matanya menatap tajam ke arah tuannya. Daigan balas menatap Alderran tajam.

“Ada apa, wahai singa bastgrad perkasa?” Daigan bertanya, mencoba mengerti kegelisahan Alderran.

Singa bastgrad itu menggeram dan melangkah menuju pintu kerangkeng. Satu telapaknya mencakar-cakar pintu kerangkeng.

Daigan mendekat ke tunggangannya itu, matanya tidak lepas dari mata Alderran. Tanpa ragu Daigan memasukkan kedua tangannya ke kandang Alderran untuk memegang sisi-sisi kepala singa bastgrad yang sedang resah itu. Alderran tidak menghindar ketika akan dipegang. Mereka pun saling berkontak mata. Alderran menggeram-geram dan terus mencakar-cakar pintu kerangkeng.

“Baiklah, Alderran. Aku akan mengeluarkan kamu dari sini. Tapi kamu harus tenang dan menurut padaku. Kami akan memakaikan zirah besi di tubuh dan kaki-kakimu dan pelana di punggungmu. Seperti biasa,” Daigan berkata sambil mengusap-usap sisi kepala Alderran “lalu setelah itu kamu bisa tunjukkan pada kami apa yang membuatmu resah. Alezan, tolong ambilkan kunci kerangkeng!”

Alezan pun memberikan kunci kerangkeng Alderran pada Daigan. Daigan langsung membuka kunci kerangkeng dan menuntun Alderran keluar dengan memegang surai di bagian belakang kepalanya. Alderran langsung berdiri terdiam begitu seluruh tubuhnya sudah keluar.

“Begitu, sobat. Berdirilah dengan tenang dulu di sini bersamaku. Pengasuh, tolong ambilkan zirah dan pelana Alderran!”

Para pesuruh dengan cekatan membawa pelana dan bagian-bagian zirah Alderran mengambil posisi siap memasang mereka. Zaidan memberi isyarat dengan anggukan kepada mereka untuk memasangnya. Tanpa ragu mereka kemudian memasang bagian-bagian zirah ke badan dan kaki-kaki Alderran. Satu pesuruh mendekat ke Daigan membawa pelindung kepala Alderran. Daigan mengambilnya dan memasangnya ke kepala Alderran, memastikan tali kekang yang terpasang di pelindung kepala Alderran terikat dengan baik, lalumengencangkan sabuk-sabuk pelindung kepala.

“Sobat, aku sekarang meminta kamu untuk duduk!”

Alderran dengan patuh mengambil posisi duduk. Daigan mendekat ke pembawa pelana dan mamasangnya di punggung Alderran. Daigan mengepaskannya dengan bagian zirah di punggung dan mengikat sabuk-sabuk pelana sekencang mungkin. Dia kemudian memasang sabuk penopang halberd. Setelah merasa pelana terpasang dengan baik, Daigan kemudian menaiki Alderran.

“Sekarang sobat, tunjukkan padaku apa yang membuatmu resah!”

Daigan kemudian mengayunkan tali kekang, memberi isyarat pada Alderran untuk maju. Singa bastgrad tunggangannya langsung meraung keras menggema di seluruh tempat persiapan para tentara. Singa-singa yang lain tampak resah, terpicu oleh raungan Alderran, pimpinan mereka.

“Hey, DAIGAN! APA YANG –“

Seruan Alezan tidak didengar oleh Daigan yang langsung memacu Alderran yang sudah melesat.

“PRAJURIT SUCI! IKUTI KAMI!” Daigan meneriakkan perintahnya kepada Alezan dan prajurit-prajurit suci lainnya.

Saturday, December 18, 2010

Perubahan Hati - Bagian I

Daigan Virsom  memandang pedang di tangannya bagaikan kekasih memandang yang tercinta. Perlahan-lahan dia mengusapkan kain pembersih ke mata pedang yang besarnya hampir sebesar dirinya sendiri.  Daigan Virsom mencintai pedangnya. Dia sudah mengayun pedang ini semenjak umurnya baru lima belas tahun. Semenjak dia belum menjadi Prajurit Suci. Sebelum dia menginjakkan kaki di Damarshkant. Sejak dia masih mengarungi jalan-jalan di gunung. Sebelum dia bertemu dengan gadis itu.

Daigan Virsom tersenyum. Apa yang terjadi kalau dia tidak bertemu dengan Tamara Kamil hari itu?

Sejenak dia mengenang masa-masa itu, tetapi pikiran itu langsung disingkirkan. Tugas sudah menanti. Daigan dan pasukannya diperintahkan membantu para prajurit di perbatasan Domarthia dan Ngarai Batarumpuk. Pos-pos di perbatasan makin sering mengalami gangguan dari para penghuni Jurang. Goblin-goblin di sana makin sering terlihat dan menyerang para penjaga pos dengan katapel-katapel mereka. Muncul juga laporan-laporan para pengintai tentang makin seringnya Orc berkumpul di pinggir-pinggir sungai-sungai yang menyelusuri Batarumpuk, dekat dengan pos-pos perahu penyebrangan.

Para pengintai juga mengirimkan laporan tentang munculnya makhluk-makhluk misterius. Besar tegap bagaikan Orc dan berwajah campuran kadal raksasa dan babi hutan. Mereka mengenakan zirah-zirah besi lengkap dengan duri-duri yang bermunculan di bahu, helm, dan pelindung tangan mereka. Tidak banyak yang muncul, mungkin dua atau tiga.

Perdana Menteri sudah meminta Tentara Kerajaan meningkatkan kewaspadaannya.   Antara serangan yang dialami oleh para nelayan tadi malam dan ketegangan yang meningkat di pos-pos perbatasan, pihak Kerajaan merasa ada pihak-pihak yang mulai ingin mengepung Domarthia. Prajurit Kerajaan dan Prajurit Suci diminta untuk segera memastikan keadaan di perbatasan. Benteng Penantang Nasib juga diminta untuk memberikan pendekar-pendekar mereka, terutama mereka-mereka yang berkemampuan pencari jejak dan pengintai.

Daigan menyarungkan pedangnya dan menyandingkannya di punggungnya. Dia kemudian mengambil tas dan Halberdnya dan melangkah keluar dari kamar baraknya, menuju halaman yang sudah ramai oleh persiapan para prajurit yang ditugaskan menuju Ngarai Batarumpuk. Lima Prajurit Suci, tigapuluh Prajurit Kerajaan termasuk tiga komandan, dan dua puluh tiga prajurit bayaran. Mereka semua terdiri atas manusia, Elf, Dwarf, dan Orc.

“Komandan Daigan!” Alezan menyambutnya dengan menaruh kepalan tangan di dada, memberi hormat.

“Wakil Komandan Alezan” Daigan membalas hormat dan mengangguk “bagaimana persiapan Pasukan Tempur kita?”

Alezan melaporkan seluruh Pasukan Suci, Pasukan Kerajaan, para tabib petarung, dan prajurit bayaran sudah siap. Empat kereta  kuda sudah disiapkan. Tunggangan para prajurti sudah disiapkan, kecuali satu singa bastgrad .

“Dan komandan tentu tahu siapa satu singa bastgrad yang dimaksud,” Alezan tersenyum penuh arti pada Daigan.

“Aldarran,” balas Daigan “singa bastgrad kepercayaanku. Ikut aku, Wakil Komandan!”

“Siap, Komandan!”

Monday, December 13, 2010

Pedang dan Tenung - Bagian VI

Siapa Elf perempuan tadi? Penguasa Benteng Penantang Nasib? Berarti dia memimpin seluruh prajurit bayaran di sini? Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi benak Mythgarr, mengirinya melangkah masuk ke Warung Dwarf Girang.

Warung Dwarf Girang adalah sebuah rumah makan yang lumayan besar. Di dalamnya ada enam meja bundar yang masing-masing mampu menampung tiga sampai lima pelanggan. Di ujung rumah makan di dekat dapur ada bar tempat para pelanggan duduk di kursi tinggi untuk minum-minum atau sekedar mengobrol dengan pemilik warung.

Beberapa pasang mata menatap Mythgarr ketika dia masuk, tetapi kemudian kembali ke aktivitas masing-masing. Mythgarr melangkah dengan mantap menuju bar dan kemudian duduk di sebuah kursi tinggi yang kosong. Di sebelahnya adalah seorang dwarf dan Mythgarr terkejut ketika dia melihatnya. Dwarf yang sama yang menabraknya kemarin. Di sebelah dwarf tadi ada sosok yang lebih mengejutkan lagi.

“Salam, anak muda,” perempuan Elf itu menyapanya sembari tersenyum “senang bertemu denganmu lagi secepat ini!”

“Kudengar kamu mencariku, anak muda?” Dwarf yang disebelahnya bertanya.

Kejutan demi kejutan, pikir Mythgarr. Tapi setidaknya dia telah bertemu dengan yang dicari.

“Tuan Vontus Mauler?” tanya Mythgarr penuh harap.

Dwarf tersebut terkekeh. “Lihatlah wajahmu nak, sangat mengharap kalau aku benar-benar Vontus Mauler. Baiklah, aku Vontus Mauler, apa maumu?”

“Benarkah? Benarkah anda Vontus Mauler?” Mythgarr memegang tangan Dwarf tersebut “aku Mythgarr putra Vinchgarr Chromehands, murid anda.”

“Vinchgarr Chromehands? Aku tidak punya murid bernama Vinchgarr Chromehands”

“Oh ya, dia mantan murid anda” kata Mythgarr “sekarang menjadi pandai besi di kampungku”

“Aku tidak pernah mengingat Vinchgarr Chromehands” kata Vontus Mauler.

Mythgarr terkejut. “Tapi...”

“Vontus Mauler tidak pernah mengambil murid. Itu yang kuingat” lanjut Vontus Mauler.

“Itu yang dia ingat!” kata perempuan Elf itu menegaskan sambil mengacungkan jarinya ke Mythgarr dan tersenyum sinis.  

“Lalu.....”

“Ayahmu berbohong” kata Vontus Mauler

“Berbohong” lanjut perempuan tadi.

Mythgarr spontan menggebrak meja dan mengejutkan pengunjung-pengunjung lain. Vontus Mauler hanya terdiam. Penguasa Benteng Penantang Nasib  melihatnya dengan senyum penuh ejekan.

“Hei hei, tidak boleh menggebrak meja!” kata pemilik warung makan, seorang manusia tinggi besar berjenggot panjang.

“Maaf, Tuan” kata Mythgarr sambil menahan geram lalu memandang ke arah Vontus Mauler “maksud Tuan Vontus Ayahku berbohong kepadaku? Tentang dia murid Vontus Mauler pandai besi?”

“Begitulah anak muda.”

“Maksud Tuan semua perjalananku kemari, pertarunganku dengan para bandit, dan pertarunganku dengan para Orc tadi dan perempuan ini semua sia-sia?”

“Perempuan ini?” Vontus melirik ke arah Elf yang di sebelahnya “kamu melawannya?”

“Hei, dia orang baru, akur harus menyapanya.” timpal perempuan itu.

“Setidaknya kamu terkenal sebagai anak muda yang bisa melawan ratu prajurit bayaran” lirik Vontus Mauler ke arah Mythgarr. Tidak semua sia-sia...”

Wajah Mythgarr tampak lebih menegang.

“Mengapa ayahku berbohong padaku?” tanya Mythgarr “mengapa harus mengirimku ke Damarshkant berdasarkan kebohongan? Apakah satu orang lagi yang harus kucari itu juga sebuah kebohongan?”

“Selamat datang di dunia orang dewasa, anak muda” kata pemilik warung makan “dimana kebohongan dan tipu daya merajalela. Jadi, mau minum apa?”

Darah Mythgarr menggelegak. Dia memandang pemilik rumah makan dan langsung berdiri menuju keluar.

Perempuan Elf itu terkejut. Vontus Mauler terdiam.

“Hey, hey, anak muda!” kata perempuan tadi “mau kemana kamu?”

“Nona Thellrye, biarkan dia” Vontus Mauler berkata sambil meminum dari gelasnya.

Thellrye tidak menghiraukan Vontus Mauler dan menyusul Mythgarr dan memegang pundaknya.

“Kamu mau pergi begitu saja?” 

Mythgarr menepis tangan Thellrye dan berbalik badan menghadapnya

“Maaf Nona, tapi tujuanku kemari tidak tercapai. Aku harus segera pulang dan menghadap ayahku, meminta penjelasan akan semua ini!”

“Semua ini?”

“Semua ini! Ayahku, Vontus Mauler,” Mythgarr berhenti, menatap Thellrye tajam “dan Anda, Nona!”

“Aku? Apa salahku, selain menyerangmu pagi tadi,” bela Thellrye “maaf, tapi aku tidak tahan melihat ada anak muda yang belum kukenal jalan-jalan membawa Pedang Sakti Kalajengking Kembar”

“Ini..” Mythgarr reflex memegang salah gagang pedangnya. “Ini bukan Pedang Sakti Kalajengking Kembar!”

“Jangan berbohong, anak muda! Pria yang memanggil dirinya dengan Kalajengking adalah seorang pendekar Elf yang paling terkenal dan dihormati di seluruh wilayah Vanima. Kenyataan bahwa pedang sakti yang dia bangga-banggakan ada di punggung seorang anak muda sepertimu membuat banyak Elf yang tinggal di sini gusar. Aku diminta untuk mengetesmu.” Thellrye berkata menjelaskan tindakannya “Kalajengking mengambil murid, itu sudah kuketahui. Kalajengking memberikan pedang-pedang saktinya padamu, aku sudah tahu. Siapa muridnya, siapa ayah muridnya, siapa ibu muridnya aku sudah tahu. Kalajengking memberitahukan semuanya padaku. Beritahukan aku, Mythgarr, apakah gurumu memintamu datang ke Damarshkant?”

“Eng...tidak. Guru meninggalkanku 5 bulan lalu ketika aku sudah berhasil lulus ujiannya. Ingin menyelesaikan sesuatu, katanya. Dia memintaku menjaga pedang-pedang sakti ini dan menyerahkanku kembali kepada ayah. Ayah yang menyuruhku pergi ke Damarshkant, mencoba menjadi murid Vontus Mauler, dan mencari satu orang penting lagi.”

Wajah Thellrye berubah menjadi penuh tanya “Satu orang penting lagi?”

“Aku hanya bisa mencarinya setelah menjadi murid Vontus Mauler, dan tidak boleh mengatakan kepada siapa pun siapa yang kucari sebelumnya” kata Mythgarr.

“Baiklah. Lalu Mythgarr, apakah kamu tahu kenapa Kalajengking mengangkatmu menjadi muridnya?”
Mythgarr berubah bingung. Dia baru menyadari dia tidak tahu apa alasan gurunya mengangkatnya menjadi murid.

“Waduh....” jawabnya “entahlah nona. Guru suatu hari datang ke keluargaku dan memintaku menjadi muridnya. Ayah setuju karena dia mengatakan Guru adalah kawan lamanya dan pendekar yang sudah terkenal...”

“Aku tahu alasannya” tanya Thellrye “Kamu ingin tahu alasannya?”.

“Tentu saja..” tapi Mythgarr langsung menggeleng “..sebentar, sebentar! Kenapa Nona bisa tahu?”

“Seperti yang sudah kukatakan, Kalajengking menceritakan semuanya padaku.”

“Siapa sebenarnya anda, Nona?” alis Mythgarr bertaut, curiga terpampang di wajahnya.

“Thellrye Symthee, Ratu Prajurit Bayaran dan Penguasa Benteng Penantang Nasib” Thellrye berkacak pinggang dan mengatakannya dengan penuh keanggunan dan kebanggaan.

“Dan Elf paling menyebalkan se-Vanima dan Domarthia” Vontus Mauler menimpali.

“Heh, kamu hanya iri, Vontus!” sambar Thellrye sambil memandang Vontus dengan pandangan menghina, dan kemudian berkata lagi pada Mythgarr “dan Elf paling penting se-Vanima dan Domarthia!”

“Vanima...dan Domarthia....?”

“Ya!”

Mythgarr terdiam sejenak, mencoba mencerna apa yang terjadi.

“Apakah ayahku menyuruhku ke Damarshkant juga terkait dengan anda, Nona?”

“Tidak!” jawab Thellrye tegas.

Mythgarr terdiam lagi.

“Jadi, apa kamu mau tahu alasan sebenarnya, anak muda?”

Mythgarr menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Entahlah Noa Thellrye, bagaimana aku tahu aku bisa mempercayaimu?”

“Ayo duduk” Thellrye menggamit Mythgarr dan menyuruhnya duduk di sebuah kursi yang berada di depan sebuah meja yang masih penuh orang. Mythgarr setengah hati menurut dan duduk. Thellrye mengusir orang-orang yang sedang duduk di  meja. Orang-orang itu menurut sambil menggerutu.

Thellrye kemudian duduk, mendekatkan wajahnya ke wajah Mythgarr, dan berkata sambil setengah berbisik “Kalajengking mengambilmu sebagai murid ketika umurmu sepuluh tahun, ketika kamu sudah bisa menempa sebuah pisau, ketika kamu sudah bisa mengayunkan pedang, mempelajari sedikit tenaga dalam, dan selalu gagal dalam pelajaran memanah.”

Mythgarr terkejut.

Thellrye melanjutkan “Kalajengking pertama-tama mengajarimu kelenturan dan pengaturan tenaga dalam Kanuragan, bukan ilmu silatnya.”

Mythgarr tetap diam.

“Sekarang kamu percaya padaku?”

“Baiklah Nona....”

“Sekarang kamu ingin tahu apa alasan Kalajengking mengambilmu sebagai murid?”

Mythgarr mengangguk.

“Tapi ada syaratnya”

“Apa itu?”

“Kamu harus tetap tinggal di Damarshkant!” kata Thellrye tegas “Vontus!”

“Apa?” jawab Vontus.

“Kemari kau!”

Mythgarr tampak tegang ketika Vontus dengan santainya turun dari kursi tinggi dan berpindah duduk di meja yang sama dengannya

“Ada apa, wahai Ratu Prajurit Bayaran?”

“Mythgarr, Vontus Mauler,”  tanya Thellrye “apa kamu ingin menjadikan dia muridmu?”

Vontus menatap Mythgarr tajam, lalu bertanya tentang dasar-dasar penempaan besi, pembentukan pedang, pembentukan mata tombak, tentang mata pisau dapur, mata golok. Mythgarr menjawab semua pertanyaan tersebut dan Vontus mengangguk puas. Lalu Vontus bertanya lagi

“Apakah kamu ingin menjadi pandai besi atau ingin menjadi pendekar?”

Mythgarr terdiam, dan kemudian berkata “Aku lebih ingin menjadi pendekar...”

“Pandai besi menempa besi dan baja menjadi alat-alat yang berguna. Sifat dari pandai besi adalah merubah dan mencipta. Pedang, tombak, golok, belati adalah alat-alat yang dihasilkan pandai besi. Seorang pendekar menggunakan alat-alat tersebut untuk menyerang, membela diri, melukai, membunuh. Sifatnya merusak. Dua sifat yang berbeda.” Kata Vontus Mauler “Pedang dan Tenung adalah dua alat yang dipergunakan oleh kekuasaan di mana pun di dunia ini sebagai perusak. Aku tidak ingin mengajar seorang anak muda yang ingin menjadi perusak.”

“Tapi Tuan Vontu-“

“Aku tidak ingin menjadikanmu muridku. Tapi apabila Penguasa Benteng Penantang Nasib memaksaku menjadikanmu muridku, aku akan membuatmu menjadi budakku, kamu akan kuajari apa-apa yang kuperlukan darimu, selebihnya kamu harus belajar sendiri. Mustahil kamu bisa mempergunakan keahlian bertarungmu kalau kau menjadi muridku, karena tugas seorang pandai besi bukan berada di garis depan, tapi di di tungku.” Ucap Vontus panjang lebar. Dia kemudian memandang Thellrye “bagaimana, Nona Thellrye, apakah kamu tetap memaksakan Mythgarr menjadi ‘murid’ ku?”

“Biarkan Mythgarr yang berpikir,” jawab Thellrye “tapi Mythgarr, kalau kamu lebih ingin menjadi pendekar, aku pikir lebih baik kamu bergabung dengan salah satu kelompok prajurit bayaran di Benteng.”

“Bagaimana caranya?”

“Dengarkan baik-baik. Begini caranya”

Wednesday, December 8, 2010

Pedang dan Tenung - Bagian V

Mythgarr menguap dan meregangkan tubuhnya. Dia kemudian membuka jendela dan menghirup udara pagi. Dia terkejut ketika menyadari udara yang dihirupnya tidak sesegar udara pegunungan. Dia kemudian terkejut ketika menyadari dia berada di ketinggian dan di depannya terhampar pemandangan puluhan bangunan dan ratusan orang berlalu –lalang, meski fajar baru saja menyingsing.
  
Dia kemudian tersenyum-senyum sendiri begitu menyadari bahwa dia berada di Damarshkant, kota terbesar sekerajaan Domarthia. Mythgarr kemudian menghirup nafas panjang-panjang, menahannya, dan mengeluarkannya perlahan-lahan.
  
Mythgarr mengingat kembali interogasinya di hadapan Lurga dan para petugas di Gerbang Kota. Siapa namamu? Siapa ayahmu? Siapa ibumu? Dari mana kau mengetahui  Damarshkant? Dari jalan mana kau sampai ke Damarshkant? Naik apa kau ke Damarshkant, dan seterusnya.
  
Mythgarr menjawab semuanya dan menerangkan bahwa ia adalah Mythgarr Chromehands anak Vinchgarr Chromehands. Semua orang menarik nafas dan terdiam mendengar nama itu. Dia lalu menerangkan nama ibunya, menerangkan bahwa pedagang yang sering ke Damarshkant sering membeli peralatan dari ayahnya. Dia juga menerangkan tentang pertemuannya dengan Wayne Pierce, menaklukkan para Bandit, dan lalu memasuki Damarhskant.

Ketika ditanya apakah dia sudah mempunyai tujuan dan rencana di Damarhskant Mythgarr menjawab bahwa dia ingin mencari Vontus Mauler dan menjadi muridnya. Dia juga menerangkan bahwa dia mempunyai keahlian tempa besi dan mampu membuat pedang maupun alat-alat besi lain.

Lurga menatapnya tajam-tajam ketika menyebut Vontus Mauler dan ingin menjadi muridnya. “Vontus Mauler? Selamat mencoba!” gumamnya.
  
“Kenapa, Tuan Lurga?” tanya Mythgarr
  
“Vontus Mauler mungkin penempa pedang dan zirah terhebat se-Domarthia” jawab Lurga sambil mengacungkan pensilnya ke arah Mythgarr “tapi dia juga orang paling tertutup, dan Chromehands adalah salah satu nama yang memberi kenangan buruk padanya.”
  
Mythgarr terdiam.

“Baiklah nak Mythgarr. Semua sudah kami catat dan kami saksikan. Kalau kamu belum tahu tempat menginap, Gerbang Kota mempunyai beberapa ruang kosong di atas yang kami peruntukkan bagi para orang baru sepertimu yang belum mempunyai tempat tinggal” Lurga mengambil jeda, dan menatap Mythgarr tajam “atau orang-orang yang mencurigakan. Kamu tidak berniat jahat di kota ini bukan, Mythgarr?”
  
Mythgarr menjawab tidak dengan tegas, dan Lurga tersenyum puas dan kemudian tertawa terbahak-bahak. Dia mengatakan karena Mythgarr membuatnya tegang dan juga membuatnya terhibur. Dia tidak menjelaskan kenapa. Dia juga meminta Mythgarr memberi tanda pada beberapa lembar kertas dengan cap jempolnya dan kemudian menyuruh para petugas mengantar Mythgarr ke lantai lima dan menunjukkan kamarnya yang kosong.

Mythgarr menghirup nafas panjang-panjang, menahannya, dan mengeluarkannya perlahan-lahan. Berulang-ulang dia lakukan sampai keringat membasahi tubuhnya. Ketika tubuhnya sudah menghangat dan aliran darahnya terasa lancar, Mythgarr berhenti. Ini adalah rutinitas tiap pagi yang dia lakukan untuk menjaga kesehatan tubuhnya dan keteraturan tenaga dalamnya. Satu rutinitas lainnya adalah berlari pagi naik turun bukit di sekitar desanya, sesuatu yang sepertinya tidak mungkin dia lakukan di kota ini. Selain tidak melihat adanya jalan yang bisa dia pakai untuk lari pagi, dia pun tidak mengetahui aturan di kota ini.

 Mythgarr menutup jendela dan masuk ke bilik yang disebut petugas Gerbang Kota sebagai “kamar mandi”. Ada saluran yang mengalirkan air dari atas kepala yang disebut sebagai “pancuran”. Ada tempat duduk yang berlubang dimana Mythgarr bisa membuang hajat dan mendorongnya keluar yang disebut “kakus”. Mythgarr ingin mencoba mandi di “kamar mandi” ini. Biasanya dia melakukan semuanya di sungai.

Setelah berbasah-basah ria membasuh badannya yang kotor di kamar mandi dan membuang hajat sepuasnya, Mythgarr pun keluar kamar mandi dan mengenakan pakaian dan zirahnya, mengenakan jubahnya, mencangklong kedua pedangnya, dan menggantung tasnya di punggung.

Perutnya sudah mulai lapar.

Mythgarr kemudian keluar kamar, turun ke lantai dasar dengan menggunakan “keranjang angkat-angkat” yang bisa membawanya ke lantai dasar tanpa harus melalui tangga. Mythgarr masih merasa kagum dengan keranjang ini. Bagaimana cara kerjanya ya, pikirnya. Seorang Orc dan seorang manusia yang bersamanya di keranjang angkat-angkat sama-sama melihat-lihat sekeliling keranjang tersebut dengan terheran-heran. Dua orang lainnya tersenyum-senyum akan tingkah mereka yang kampungan. Satu orang hanya terdiam.

Enam orang tersebut kemudian melapor ke petugas jaga sebelum keluar Gerbang Kota. Masing-masing diberi secarik kertas coklat yang harus diisi oleh orang-orang yang akan menjamin mereka sebelum mereka diberikan status warga kota.
“Kak Pengawal, apa kakak tau tentang Vontus Mauler sang pandai besi?” tanya Mythgarr kepada pengawal manusia yang menjaga hari itu

“Vontus Mauler, pandai besi?” tanya pengawal itu dingin “mungkin ada di area pertukangan di Benteng Penantang Nasib. Tanya saja di rumah makan yang ada di dekat sini. Warung Dwarf Girang

Mythgarr berterima kasih dan kemudian beranjak keluar dari Gerbang Kota dan langsung diterpa oleh riuh-rendahnya Benteng Penantang Nasib.  Orc berteriak-teriak dari pinggir sungai, beberapa bahkan berkelahi sambil berlarian dari atap ke atap. Ada sebagaian dari mereka yang terjungkal ditendang lawannya dan terjatuh di jalan. Orc-orc yang di bawah kemudian melempar mereka-mereka yang jatuh kembali ke atas untuk bertarung kembali. Beberapa Elf pun tampak berlatih bertarung, mereka berlarian dan berloncatan dari atap ke atap. Beberapa manusia menonton adegan tersebut. Para Orc yang tidak punya lawan menantang mereka, tapi mereka menolak sambil tertawa-tawa. Para Orc pun terlihat menghina mereka, tapi yang dihina hanya senyum-senyum masam. Tidak terlihat adanya Dwarf di jalanan. Mungkin mereka berlatih di tempat lain. Mungkin saja di bawah tanah, pikir Mythgarr. Dwarf terkenal suka membuat terowongan di mana-mana, mungkin saja di Damarshkant pun demikian.

Mythgarr terus berjalan dan melihat beberapa karavan beriringan keluar masuk Benteng Penantang Nasib. Pandangannya dialihkan ke karavan-karavan tersebut, melihat-lihat apakah karavan Wayne Pierce ada di antara mereka. Sepertinya tidak, tapi Mythgarr tidak yakin. Dia tidak sempat menghafal karavan Wayne Pierce.

Ketika melihat-lihat karavan tersebut, Mythgarr merasakan ada tekanan hawa yang melesak ke arahnya dari belakang. Dia pun langsung memutar menghindar. Satu lagi di belakangnya, dan dia pun menghindar ke samping. Sebuah kereta kuda tepat di depan matanya dan dia pun melompat ke arah atap bangunan terdekat. Kereta kuda tersebut tetap melaju. Sebuah tekanan hawa melesak dari samping dan Mythgarr menghindar dan menangkap tangan penyerangnya dan membantingnya dan menginjaknya. Mythgarr terkejut ketika melihat penyerangnya adalah seorang Orc.  

Sebuah serangan datang dari belakang. Mythgarr melompat, salto di udara, dan kemudian menukik menuju lawannya yang menyambut tendangan Mythgarr dengan dua buah kepalan. Suara dentuman pun membahana. Lawannya pun terpelanting, terpantul-pantul dan kemudian terjungkal ke jalan. Mythgarr melayang, memutar, dan mendarat di atap. Kakinya sedikit kesemutan.

Satu orc melesat kilat bak benteng ngamuk ke arahnya. Mythgarr menatap lawannya dengan pandangan mata tajam. Ketika lawannya mengayun pukulannya, Mythgarr menangkap tangannya, menghindar ke samping, menghujamkan sikutnya ke pelipis lawan, lalu menghujamkan lututnya ke rusuk, dan kemudian melayangkan tendangan kirinya ke wajah lawan yang terlontar ke udara sambil menghindar dari satu serangan lawan lain.

Mythgarr secepat kilat merunduk, menyapu kakinya tuk menjatuhkan lawan. Lawannya melompat menghindar sembari bersalto dan menjatuhkan sebuah tendangan ke arahnya bak elang menyambar. Mythgarr menghindar dan menumpukan badannya ke satu tangan sembari melayangkan kakinya ke atas dan kemudian berputar, mencoba menendang lawannya yang dengan lincah menghindar.

Lawannya mendarat tiga tombak darinya. Mythgarr pun langsung berdiri dan melihat lawannya. Matanya terkejut ketika mendapati seorang Elf perempuan yang cantik sedang tersenyum ke arahnya.

“Lumayan, anak muda” katanya “dua orc terjengkang sampai tidak berdaya, dan kamu bisa menghindari seranganku. Siapa namamu?”

Mythgarr mengatur nafasnya.

“Maaf, tapi sebutkan dulu nama nona.”

Elf perempuan berambut hitam keunguan tersebut hnya tertawa terbahak-bahak.

“ANAK MUDA!” teriak seorang Orc di jalanan “BERI HORMAT! KAMU SEDANG MENGHADAPI PENGUASA BENTENG PENANTANG NASIB!”

“Penguasa..” tapi tak sempat Mythgarr melanjutkan pikirannya sang elf perempuan sudah di hadapannya dan melayangkan lututnya. Mythgarr menahan serangan itu, dan sebuah totokan mengarah ke dahinya. Mythgarr menghindar ke belakang dan menghindar lagi ke samping ketika sebuah sapuan kaki mengarah ke rusuknya. Mythgarr terpaksa menghindar lagi ketika lawannya menyerangnya dengan punggung tangan kanan. Mythgarr mulai kawalahan ketika lawannya meloncat berputar dan menghujamkan tendangan. Dia terpaksa melindungi diri dengan kedua tangannya. Lawannya menghujamkan dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh tendangan dengan kecepatan kilat. Mythgarr hanya bisa menangkis serangan-serangan itu dengan telapak tangannya.

“Cepat sekali” pikir Mythgarr “nona Elf ini mungkin secepat guruku!”.

Sang Elf menghentikan serangan kakinya dan melesak ke arah Mythgarr dengan sebuah totokan, Mythgarr menghindar kesamping. Totokan lawannya berubah lincah menjadi cengraman dan menangkap tangannya. Mythgarr mencoba melepaskan tapi sang Elf kemudian mencengkram satu tangan lainnya.

Sang Elf menguncinya di tempat dan kemudian menatapnya tajam. Mythgarr mencoba tandukan ke arah lawan tapi lawannya menghindar dan kemudian berteriak ke arah kupingnya. Mythgarr pun tersentak terkejut. Kupingnya langsung mendenging. Matanya menatap tajam ke arah lawannnya

“Teriakan itu...”

“Oh, kamu mengenal teriakan itu?” tanya lawannya

Mythgarr mengerahkan tenaganya ke tenggorokannya dan kemudian berteriak ke arah lawannya. Lawannya menghindar.

“Oh, kamu mengenal teriakan itu,” kata lawannya “Mythgarr anak Vinchgarr!”

Mythgarr terkejut. Lawannya melepaskan cengkramannya dan menghujamkan tendangan ke ulu hatinya. Mythgarr terjengkang, terguling, berputar, lalu mendarat tersimpuh.

Elf lawannya sudah berdiri di depannya

“Vontus Mauler ada di Warung Dwarf Girang, ” lawannya berkata “Mythgarr murid Kalanjengking Tak Terkalahkan!”

Lawannya kemudian tersenyum, tertawa kecil, lalu memutar badannya dan melayang “Sampai ketemu lagi, anak muda!” teriaknya.


Mythgarr berdiri, hampir tidak percaya akan apa yang terjadi. Siapa Elf itu? Dari mana dia mengetahu dirinya? Kenapa dia diserang?

Pikirannya buyar oleh teriakan-teriakan, tepuk tangan, dan siulan dari orang-orang di bawah yang sendang memandangnya.

Sepertinya mereka senang akan pertarungan tadi, pikirnya. Mythgarr menatap mereka dan tersenyum kecut. Dia kemudian melompat kembali ke jalan. Orang-orang langsung mengerubunginya.

“Hebat kamu!”

“Luar biasa!”

“Luar biasa!”

“..Gabung dengan kami!”

“...bersama Orc, berlatih!”

Mythgarr hanya mengangguk-angguk dan menolak dengan tangannya akan setiap ajakan. Dia kemudian bertanya di mana Warung Dwarf Girang. Seseorang menunjukkan sebuah papan toko besar bertuliskan “Warung Dwarf Girang” dan Mythgarr pun mengetahui ke arah mana dia harus berjalan.

Mythgarr pun memisahkan diri dari orang-orang yang mengerumuninya sambil tersenyum. Ketika mereka melepaskan dirinya, Mythgarr melangkah menuju Warung Dwarf Girang. Kejadian barusan masih memenuhi pikirannya.
Ada apa sebenarnya ini?
 

Saturday, December 4, 2010

Pedang dan Tenung - Bagian IV

Tetapi perut Tamara tiba-tiba bersuara. Dia pun memegang lengan baju Kia seraya berkata  “Aku lapar....”

‘Oh..” Kia memandang Tamara dan tersadar  “iya ya..kita kesini mencari sarapan...Ravi, apa kamu tahu tempat makan enak di sini? ”

Ravinoosh memutar badan dan memberikan isyarat tangan pada mereka untuk mengikutinya menuju sebuah rumah makan cukup besar yang mempunyai tempat makan terbuka di depan.  

Seorang wanita separuh baya mengenakan celemek dan membawa piring-piring kotor di nampan berjalan berkeliling di tempat makan. Wajahnya sumringah ketika dia melihat tiga tabib muda yang sedang berjalan menuju ke rumah makannya.

“Ravinoosh! Mari, mari masuk!” sambutnya “selamat datang di Hiu Pincang!”

“Salam, Ibu Ania!” Ravi memberi salam “Kami butuh meja untuk bertiga”

“Salam juga untukmu, Ravi sayang!” katanya tersenyum “siapa teman-temanmu ini?”

“Oh, iya Bu. Ini Tamara Kamil putri Mahulae Kamil, dan ini Tan Kia Gerda putri Doshmos Gerda’

“Salam kenal Bu” Tamara dan Tan Kia serentak memberi salam sembari menundukkan muka tanda hormat.

“Aku Ania. Senang berkenalan dengan para tabib muda teman Ravinoosh. Ravinoosh sudah bagai anak bagiku” Ibu Ania memberi hormat “Nah, mau di dalam atau di luar, nak?”

Ravi menoleh ke kawan-kawannya.

“Uh...di luar?” Kia bertanya

“Di luar. Supaya kita bisa melihat pelabuhan” jawab Tamara

Ravi kemudian menoleh kembali ke Bu Ania

“Di luar ya?” Ibu Ania tersenyum. Dia pun melihat ke sekeliling beranda. “Tunggu di sini kalau begitu ya sayang!”

Ibu Ania kemudian masuk ke dalam rumah makan dan beberapa saat kemudia keluar dengan sebuah lap dan menuju ke sebuah meja di beranda. Dia kemudian terlihat menegur lima pelanggan yang ada di sana. Mereka tidak terlihat seperti prajurit bayaran. Tiga dari mereka tampak seperti pemusik. Satu dari mereka tampak seperti penyihir. Yang terakhir adalah seorang perempuan muda, tampak lebih muda dari Tamara dan kawan-kawan. Tidak ada makanan di meja mereka, hanya beberapa botol dan gelas minuman. Dua dari mereka tampak cengar-cengir dan memohon maaf. Mereka kemudian bangkit setelah menaruh beberapa koin perak di meja yang kemudian di ambil oleh Ibu Ania.  Mereka pun melangkah keluar dan memberi anggukan hormat kepada para tabib muda ketika mereka berpapasan. Perempuan muda tadi, yang memakai pakaian yang lebih bagus, tersenyum kepada mereka bertiga. Ibu Ania kemudian mengelap dan membersihkan meja tersebut.

“Ravi, kemari, kemari!” Ibu Ania memanggil mereka dan menunjuk ke meja yang baru saja ditinggalkan. Ravi pun memberi isyarat duduk di meja tadi.

“Nah, mau pesan apa sayang?” tanya Ibu Ania

Tiga tabib muda itu pun saling berpandangan. Tamara dan Tan Kia tidak tahu apa yang ada di rumah makan di pinggir pantai ini. Mereka berdua akhirnya memandang Ravi yang sepertinya sudah kenal.

“Ummm...” Ravi berpikir “ada martabak ikan trekulu Bu?”

“Martabak ikan trekulu? Ada, ada! Kalau kalian, anak-anak manis?” tanya Ibu Ania “Ibu juga punya sop udang asam dengan kentang. Atau kalau mau makan nasi, ada nasi goreng cumi kakap. Martabak juga ada Martabak cumi atau martabak tuna”

Tamara dan Kia saling berpandangan.

“Aku nasi goreng cumi kakap saja kalau begitu, Bu Ania” pinta Tan Kia

“ Aku martabak tuna. Porsi besar ya Bu” tambah Tamara

“Wah, sepertinya kamu lapar sekali ya, nak Tamara?”

“Yah, begitulah Bu. kami bekerja sepanjang malam” timpal Ravinoosh.

“Oh, ya? Kalian merawat para korban? Terima kasih ya sudah membantu kami.” Ibu Ania berterima kasih, menaruh tangannya di dadanya ”Penghuni pelabuhan ini merasa amat tertimpa bencana begitu mengetahui banyak di antara kami yang tidak pulang.” Ibu Ania tetap tersenyum, tetapi mereka tahu kalau ia menahan sedih yang luar biasa “Lalu kalian ingin minum apa? Oh, lupakanlah, Teh Jahe buat kalian. Menghangatkan tubuh. Cuma-Cuma!”

“Terima kasih Bu” Tamara berkata “kami akan terus mencoba menyembuhkan para korban”

“Baiklah, baiklah, Ibu ke dapur dulu ya?”

Para Tabib pun menunggu. Mata mereka pun langsung mengarah ke tempat di mana kapal-kapal diperbaiki.

Thursday, December 2, 2010

Pedang dan Tenung - Bagian III

“Lihat, lihat!” Kia menunjuk-nunjuk kayu-kayu yang berterbangan.

“Kerajaan bergerak cepat...” gumam Ravi “Perdana Menteri sepertinya tidak ingin kerajaan kekurangan pangan laut...”

“Iya...” Tamara menimpali sambil terus terkagum.

Tanpa sadar mereka menghentikan langkah, terdiam mengagumi peristiwa di depan mata mereka. Teriakan-teriakan orang-orang yang lewat menyadarkan Kia yang kemudian menarik lengan baju Tamara

“Ayo kita cepat ke pelabuhan, aku takut kita kehabisan tempat makan!”

Tamara dan Ravi mulai melangkah kembali mengikuti Kia. Jalanan menuju pelabuhan seakan-akan penuh oleh energi keramaian. Para tukang kayu, pandai besi, dan ahli membuat kapal lalu lalang dari dan ke pelabuhan. Tampak pula prajurit-prajurit bayaran berlari-lari kesana kemari. Wajah mereka tampak tegang. Tidak ada yang memperhatikan tiga tabib muda itu. Tidak ada yang ingin bertegur sapa kecuali sesama mereka.

Ketika mendekati pelabuhan, Tamara melihat alasan kenapa mereka begitu tegang. Di atas tumpukan tiga kotak kayu tampak sosok paling penting kedua di Damarshkant. Rambutnya yang hitam keunguan tergerai tertiup angin pantai. Gerak tubuhnya tegas dan lincah, jari-jemarinya bergerak cepat menunjuk ke sana-kemari, memberi isyarat panggilan, memberi instruksi kepada para pekerja dan prajurit yang sedang bekerja keras di pelabuhan. Teriakan-teriakannya keras dan tanpa kompromi. Meski mengenakan sosok itu mengenakan topeng, Tamara dapat merasakan bahwa matanya tajam menghujam, menegaskan bahwa dialah yang paling berkuasa di pelabuhan pagi ini. Zirah kulit yang dikenakan dan pedang raksasa yang menyilang di punggungnya membuatnya lebih berwibawa. Dialah Elf perempuan yang paling ditakuti di Damarshkant. Dia lah Sang Perdana Mentri.

Dan Sang Perdana Mentri sibuk mengatur para pekerja dan prajurit di sana. Para pekerja menggotong-gotong dan mengukur-ukur kayu yang kemudian ditaruh di sebuah alat pemotong. Alat itu dipergunakan untuk memotong kayu-kayu sesuai arahan yang diminta oleh para pembuat kapal. Pembuat kapal membuat garis-garis di kayu dengan pensil magis. Garis-garis magis itu kemudian dibaca oleh sensor magis alat pemotong kayu yang kemudian memotong sesuai garis-garis tersebut. Satu alat pemotong bisa memotong lima kayu sekaligus. Seorang penyihir menjaga alat pemotong supaya tetap bekerja dengan menyuplai energi magis ke sebuah bola di badan alat pemotong. Sang penyihir juga berusaha untuk menjaga supaya gerak alat pemotong tidak liar. Tamara menghitung ada lima alat pemotong sedang bekerja, diawasi oleh lima penyihir. kayu-kayu yang telah dipotong diangkut oleh gerobak keledai ke arah kapal-kapal yang akan diperbaiki.

kapal-kapal yang hancur tetapi masih bisa mendarat di pelabuhan diangkat ke darat tadi malam oleh derek-derek yang ada di sana. Penyihir-penyihir berada di sekitar kapal-kapal tersebut, berkonsentrasi memperbaiki kapal. Ada penyihir yang menyusuh ulang bagian-bagian kapal supaya kayu-kayu hancur bisa disatukan untuk dipasang kembali di bagian-bagian kapal. Kayu-kayu di bagian kapal yang berlubang dicopot, melayang-layang di udara untuk diurai oleh sinar-sinar magis yang kemudian menyatukan kembali menjadi satu bagian kayu yang utuh.  Penyihir lain mengangkat kayu-kayu yang dibawa oleh gerobak keledai dan menyerahkannya ke pembuat kapal yang akan memasangkannya di bagian-bagian kapal yang memerlukannya: lambung, dek, tiang-tiang kapal. Kayu-kayu hasil daur ulang kemudian ditaruh dan dibawa oleh gerobak keledai ke pembuat kapal dan pemotong kayu.

Tiga sekawan tabib muda tak bisa melepaskan mata mereka dari aktivitas tersebut. Pemandangan sibuk nan magis yang ada di depan mereka telah membuat mereka melupakan rasa lapar dan lelah.

Tuesday, November 30, 2010

Pedang dan Tenung - Bagian II

Tamara berdiri dan memandang sekitar, mencari-cari Tabib Mahulae. Langkahnya kemudian diayunkan ke arah ayahnya yang sedang memberi obat pada seorang yang tampak seperti prajurit.

“Ayah” Tamara memanggil “ananda pamit pulang dulu”.

Tabib Mahulae membaringkan dan menyelimuti sang prajurit, kemudian berdiri memandang Tamara.

“Ya, Nak, pulanglah. Istirahatlah”

Tamara kemudian mencium tangan ayahandanya. Tabib Mahulae mencium kening anaknya. Tamara kemudian mengambil tas dan tongkat sihirnya dan melangkah keluar dari ruang perawatan. Sembari melangkah, tak lupa dia menyapa para tabib lain dan  pamit pada mereka. Tamara keluar bersamaan dengan dua tabib lain yang  juga menginginkan istirahat setelah malam yang panjang.

 “Selamat Pagi, Ravi, Kia” Tamara menyapa mereka ramah.

“Met pagi, Tam” jawab Ravinoosh pendek.

“Selamat Pagi, Tam” Tan Kia menjawab berbarengan dengan Ravinoosh.

Ravinoosh adalah seorang tabib laki-laki muda berambut jabrik coklat kemerahan, berkulit pucat dan mengenakan bandana kuning pertanda tabib pendekar di lehernya. Wajahnya tidak istimewa, matanya pun terlihat kuyu, tetapi genggamannya pada tongkat tabibnya menandakan seorang yang kuat. Tan Kia adalah tabib perempuan muda yang berperawakan menarik dengan rambut hitam yang panjang sepinggang, diikat dengan bandana kuningnya. Wajahnya cerah menarik dengan mata hitam yang sipit. Tan Kia juga seorang tabib petarung, dan dia membawa tongkatnya menyilang di punggungnya.  Mereka berdua adalah rekan satu angkatan Tamara.

“Kalian mau sarapan dulu?” tanya Ravinoosh, dengan gaya acuh tak acuh.

“Ide bagus, Ravi” timpal Kia “tempat biasa?”

Tamara hanya diam ketika Kia menatapnya, mencari persetujuannya. Tempat biasa mereka adalah sebuah warung makan yang cukup ramai, tidak jauh dari situ. Warung makan yang juga dekat dengan Madrasah Pertabiban Damarshkant. Tamara biasanya tidak menolak ajakan untuk makan bersama teman-temannya, tapi hari ini rasanya berbeda. Rasanya dia ingin sarapan di pantai.

“Aku ingin sarapan di kedai Pak Danu....” Tamara mengusulkan.

“Di tepi pantai dekat pelabuhan itu?” tanya Kia “uh....penuh kelasi kan?”

“Ide yang lumayan” jawab Ravinoosh. “sarapan di temani sinar matahari pagi langsung dan angin pantai.....”

“Iya” Tamara mulai berjalan ke arah pantai “rasanya ingin lebih banyak terkena sinar matahari pagi hari ini...”

“Ya ya” Kia mengikuti langkahnya dengan berat hati “oke lah kalau begitu...”

“Oke..oke...”  Ravi mengiringi langkah mereka berdua dari belakang. Genggamannya tetap kokoh di tongkatnya.

Mereka berjalan bertiga ke arah pelabuhan. Matahari sudah setengah tampak di ufuk, sinarnya sudah mulai menyemburat ke langit yang sedikit berawan. Pagi ini Damarshkant tampak hiruk-pikuk, lebih dari biasanya. Gerobak-gerobak berisikan tukang-tukang dan peralatan-peralatan mereka tampak lalu lalang dengan terburu-buru. Yang tampak mencolok adalah rombongan tukang kayu dan kayu-kayu mereka yang memenuhi jalan menuju pelabuhan. Prajurit-prajurit Damarshkant tampak mengawal mereka.

Kia mendehem begitu melihat para prajurit itu. Dia menyikut-nyikut Tamara.

“Apaan sih, Kia?” Tamara tampak tersenyum

“Itu tuuuh....Prajurit..”

“Emangnya kenapa dengan prajurit?” Tamara tampak berusaha mengacuhkan, tetapi wajahnya tampak memerah.

“Kaptenmu tersayang itu lo...” Kia cekikikan “dia ikut gak?”

“Ndak tau ya....” Tamara mesem-mesem.

“Daigan Virsom..” Ravi menimpali “bukan tugasnya Prajurit Pengawal Suci untuk mengawal hal-hal semacam ini..”

Tan Kia pun menimpuk Ravinoosh. “Dasar gak asik!”

Ravi hanya mengusap-usap kepalanya sembari menatap Kia datar.

Ketika mereka semakin mendekati pantai, tampak semburat sinar-sinar magis berseliweran dari arah pelabuhan. Kayu-kayu tampak beterbangan. 

Friday, November 26, 2010

Pedang dan Tenung - Bagian I

Tamara Kamil menghela nafas dan mengeluarkannya. Rasa lelah mulai menghampiri tubuhnya. Daya penyembuhannya mulai berkurang. Meskipun demikian, tangannya tetap cekatan membalut luka-luka nelayan yang sedang ditanganinya. 

“Tamara” Tabib Mahulate berdiri di belakangnya “Istirahatlah setelah kau menangani yang satu ini. Hanya tertinggal 6 korban lagi, biarkan aku dan tabib-tabib lain yang menangani”

“Baiklah, Ayah” Tamara berkata sembari menyelesaikan simpul pembalut serapi dan seerat mungkin.

Tengah malam tadi, dua belas kapal nelayan kembali dari usaha mereka memancing ikan di perairan selatan Damarshkant. Sebagian besar dari kapal-kapal tersebut mengalami kerusakan berat. Layar mereka tercabik-cabik. Badan-badan kapal terkoyak-koyak di sana-sini. Delapan puluh tiga nelayan, empat penyihir, dan enam petarung yang ikut bersama mereka terluka ringan dan berat. Dua belas  nelayan, dua penyihir, dan  lima petarung tewas di laut. Dari tujuh puluh kapal nelayan yang berlayar dari seluruh pantai-pantai Kerajaan Domarthia malam itu, hanya empat puluh tiga kapal nelayan yang kembali. Puluhan orang terluka, puluhan lain tewas di laut.

Pagi harinya, Para nelayan yang selamat dan bisa bercerita menunjukkan raut muka ketakutan dan keputusasaan. Dari kalimat-kalimat mereka yang terbata-bata menceritakan, para Tabib Petarung dan Pengawal Kerajaan menyimpulkan bahwa ada gerombolan monster laut yang menyerang mereka. Tidak ada kapal-kapal dari negeri lain yang menyerang mereka. Para penyihir dan petarung bayaran yang sudah sering mengawal para nelayan mengatakan bahwa mereka tidak pernah melihat monster-monster yang menyerang mereka. Laporan tentang gurita raksasa yang mampu meremukkan sebuah kapal dan mengeluarkan api dari paruhnya, tentang makhluk setinggi Troll yang berkepala hiu, bertangan barakuda, dan mampu melawan semua petarung yang terhebat, dan tentang makhluk raksasa setinggi tembok kota Damarshkant yang tidak mempan oleh serangan mantra-mantra para penyihir dan peluru-peluru meriam. Tentang betapa mereka harus mengerahkan seluruh kekuatan kristal arkana di mesin kapal mereka untuk melarikan diri. Dan tentang betapa monster-monster itu tampak melepaskan mereka ketika Kuil Arkana Altenung sudah tampak di depan mata.

Para penjaga pelabuhan malam pun tak ayal lagi langsung membunyikan kentongan dan memanggil para prajurit penjaga kota dan para tabib dan tabib petarung. Bahu-membahu mereka menurunkan para awak kapal dari kapal mereka masing-masing dan sesegera mungkin mencoba menyembuhkan mereka. Mereka yang terluka ringan dan berat tetapi masih bisa hidup hanya diberikan pembalut luka dan tablet penyembuh. Mereka yang terancam nyawanya langsung diangkat ke kereta-kereta melayang khusus pasien dan langsung dibawa ke kuil para tabib. Berkat tangan cekatan para prajurit dan para tabib, semua yang pulang malam itu bisa terselamatkan. Bencana di laut tidak berulang di daratan.

Tamara memandang pasien-pasiennya. Enam orang awak kapal terdiri atas manusia dan orc, seorang prajurit sewaan Orc, dan seorang penyihir Elf.

“Terima kasih, anak muda” penyihir Elf tersebut berkata pada Tamara ketika dia menatap “terima kasih sudah menyembuhkan Elf ini. Terima kasih sudah melepaskan diri ini dari mimpi buruk.”

Tamara tersenyum “Sama-sama, Tuan Elf. Namaku Tamara, siapa nama anda?” Tamara bertanya dengan penuh hormat. Bukan hanya karena Elf yang tampak seusia manusia berumur tiga puluhan hampir pasti mempunyai umur lebih dari seratus dua puluh tahun, tetapi memang karena para tabib dan tabib petarung diharuskan bersikap sopan. Itu bagian dari tugas mereka.

“Namaku Retess” kata sang Elf tersebut pelan. Dia kemudian menatap ke arah lain, menatap dengan pandangan yang kosong dan berkata “Retess dari hutan Vanima.......”

“Baiklah Tuan Retess, beristirahatlah. Tenangkanlah tubuh anda dan kumpulkan kembali mana anda. Pengawal Kota akan mulai menanyai mereka-mereka yang selamat dan sudah sehat kembali nanti siang.”

“Selamat......ya...aku selamat....”

“Beristirahatlah, Tuan Retess”

“Baiklah, Tabib Tamara” Retess pun memejamkan mata “selamat tidur”

Retess pun tampak langsung terlelap.

Damarshkant - Bagian VII

“Kenapa, anak muda, ini pertama kalinya kamu melihat cara Orc melatih renang anak-anak mereka?”  Tanya pengawal Orc.

“Sepertinya…” Jawab Mythgarr sembari tetap bengong.

“Ayo anak muda, sekarang kita harus terus berjalan. Waktu sudah hampir habis”

Mythgarr terus mengikuti Pengawal Orc sembari terus melihat ke kanan-kiri dengan hati-hati. Dia tidak pernah melihat Orc, tentu saja Dia terkejut dengan banyaknya Orc di Benteng Penantang Nasib.

“Ayah selalu berkata Orc adalah biang perang “ lamunnya “tapi di kota manusia ini kok banyak Orc?”

Mythgarr mengesampingkan pikirannya dan terus berjalan mengikuti sang Pengawal Orc sambil terus melihat-lihat kanan-kiri. Melihat jembatan-jembatan besar yang terbentang menghubungkan pohon-pohon raksasa yang ada. Tampak Elf-elf ramping berlalu-lalang di jembatan-jembatan itu, saling mengunjungi rumah mereka yang dibangun menempel dengan pohon-pohon, seakan-akan rumah mereka bak benalu yang tumbuh dari pohon.

“Mengagumkan!”

Tiba-tiba Mythgarr merasakan ada yang menatapnya tajam. Sambil tetap berjalan, dia pun mencari-cari dan menemukan seorang elf perempuan muda menatapnya lekat-lekat dari sebuah jembatan di antara pohon-pohon. Dia menatap balik tapi kemudian menabrak Pengawal Orc yang berhenti berjalan.

“Hati-hati, anak muda. Menabrak seorang Orc bisa berbahaya di kota ini.” Kata Pengawal Orc dengan tatapan tajam.

“Eh, hehehe” Mythgarr hanya bisa nyengir sambil mengusap-ngusap kepalanya “maaf”

“Kita sudah sampai!” Kata pengawal Orc.

“Sampai?”

“Ini tujuan kita” pengawal Orc menunjuk sebuah bangunan di depan mereka.

Mythgarr memandang sekeliling dan menyadari bahwa mereka berada tepat di bawah landasan dinding besar yang mengelilingi kota. Dia kemudian menatap bangunan yang ditunjukkan oleh Pengawal Orc.  

Sebuah bangunan besar yang menempel tepat ke dinding kota dan seakan-akan menjadi satu dengan gerbang besar yang menjadi penghubung antara kota dan dunia luar. Bukan, bukan menjadi satu, bangunan ini  lah gerbang itu sendiri. Bangunan sendiri terdiri atas 5 lantai yang masing-masing lantai setinggi 10 kaki. Di tengah-tengah bangunan adalah pintu gerbang kota yang menjulang tinggi, setinggi puluhan kaki. Di atas gerbang sendiri ada 2 lantai bangunan tersebut yang tampak seperti bangunan pos penjaga gerbang. Bangunan itu sendiri tampak tumbuh dari dinding sekitar 10 kaki ke depan, dan selain gerbang hanya mempunyai satu buah pintu dengan daun pintu besar di mana orang lalu lalang.

“Selamat datang di Gerbang Utama Kota Damarshkant, anak muda” kata pengawal Orc “seharusnya kamu mengantri di sana”

Mythgarr mengalihkan pandangan ke arah yang ditunjuk pengawal Orc dan melihat antrian orang-orang.

“Tapi kamu adalah tamu seorang yang terhormat di kota ini, jadi ikuti aku!” kata pengawal Orc sambil mendekati pintu bangunan tersebut. Seorang Elf mencegah mereka masuk dan menyuruh mereka mengantri. Pengawal Orc kemudian menyapa Elf tersebut seakan-akan mereka berkawan baik dan kemudian membisikkan sesuatu. Elf yang mencegah mereka memandang Mythgarr sembari mendengarkan bisian pengawal Orc. Dia kemudian memandang pengawal Orc dengan tatapan tidak percaya, tetapi pengawal Orc tetap terus berbicara. Sang Elf kemudian mengangkat bahunya, mengatakan sesuatu pada pengawal Orc, dan kemudian berbalik arah.

“Anak muda” pengawal Orc memberi isyarat pada Mythgarr untuk masuk “ayo masuk!”

“Hey!” seorang manusia yang mengantri terdepan tampak marah “apa-apaan ini, Orc? Mau kurang ajar kamu? Ikut mengantri dong!”

Sejurus kemudian belasan yang mengantri pun ikut-ikutan mengamuk. Elf yang tadi mencegah mereka pun kemudian berteriak “Tamu kerajaan, tamu kerajaan, saudara-saudara, jadi tenanglah! Dia tamu kerajaan!”

Pengawal Orc menarik Mythgarr dan memaksanya masuk, tidak menghiraukan mereka-mereka yang mengantri. 

“Apa maksudnya....tamu kerajaan.....” tanya Mythgarr

“PENGAWAL ORC!” teriak seseorang “APA-APAAN KAMU INI??”

“Tuan Lurga!” pengawal Orc tampak tersenyim melihat yang berteriak “senang bertemu denganmu!”

Seseorang yang dipanggil Lurga adalah seorang Dwarf yang sedang bergegas setengah berlari menuju mereka. Langkahnya tegas dan keras; seakan-akan seluruh gedung bergetar karenanya. Wajahnya yang keras itu terlihat tidak bersahabat karena marah yang jelas terlihat di wajahnya. Ketika mendekati pengawal Orc, dia tiba-tiba melompat dan mendorong pengawal Orc sampai jatuh. Kakinya pun dijejakkan di atas dada pengawal Orc, dan telunjuknya menuding-nuding di wajah pengawal yang jatuh itu.

“SUDAH KUKATAKAN BERKALI-KALI PADA KALIAN ORC!” telunjuknya bergoyang hebat di wajah Pengawal Orc “TIDAK ADA PENGECUALIAN”

Mythgarr bersumpah bahwa dia melihat hujan di wajah Pengawal Orc yang tetap tersenyum.

Lurga kemudian nampak mulai tenang

“Pengawal Orc” katanya “Aku mengetahui bahwa kamu adalah Orc paling berdedikasi di seantero Damarshkant ini!”

“Terima kasih, Tuan Lurga”

“Katakan alasanmu!” wajah Lurga seakan-akan ingin mengiris Pengawal Orc dengan matanya.

Pengawal Orc memberi isyarat dengan jari-jarinya supaya Lurga mendekat. Lurga melihat sejenak, kemudian mendekatkan wajahnya ke Pengawal Orc yang kemudian membisikkan sesuatu.

Mythgarr melihat Lurga menoleh kepadanya, matanya membelalak, kemudian menatap Pengawal Orc kembali. Kemudian dia melangkah ke arah Mythgarr. Pengawal Orc berdiri dengan melentingkan tubuhnya dan mendarat di kakinya dengan mulus.

“Anak muda” Lurga berkata padanya “apakah kamu putra dari Finchgarr Chromehands?”

“Benar, Tuan Dwarf”

“Panggil aku Lurga”

“Baik, Tuan Lurga”


“Apakah kamu kenal dan ikut menyelamatkan Tuan Wayne Pierce?”

Mythgarr pun mengangguk “Benar Tuan Lurga”

Lurga kemudian menggeram kecil dan mendesah.

“Ikut aku, Mythgarr putra Finchgarr”

“Baiklah, anak muda” Pengawal Orc menepuk pundak Mythgarr “sampai di sini dulu. Tuan Lurga akan mengurusmu sekarang”

Mythgarr pun menjulurkan tangannya dan berjabat tangan dengan Pengawal Orc “Terima kasih sudah membawaku berjalan-jalan di kota, Tuan Pengawal”

“Sama-sama” Pengawal Orc tersenyum dan melepaskan jabatannya “sekarang, ikutilah Tuan Lurga”

Mythgarr mengangguk, membalikkan badan, kemudian mengikuti Tuan Lurga ke mejanya.

Pengawal Orc membalikkan badan, melangkah, kemudian menggumam

“Sudah dimulai”

Saturday, March 27, 2010

Damarshkant - Bagian VI

“Hey Manusia! Jangan bengong di tengah jalan!” sebuah suara berat berteriak dari balik gerobak “orang lagi ramai di sini!”

Mythgarr pun menoleh sambil tersenyum kikuk dan memegang kepalanya sambil agak merunduk “Maaf, Tuan, Maaf” katanya. Sebuah mata garang menatapnya. Wajahnya tersebut tampak jelas penuh meski penuh ditutupi oleh alis, kumis dan janggut tebal. Rambut hitam panjangnya dikepang tiga di belakang dengan bondol-bondol besar.  Janggutnya pun demikian, dikepang tiga dengan bondol-bondol yang lebih kecil. Rambut di kanan-kiri wajahnya hanya diikat biasa. Cincin-cincin emas besar tampak ada di antara bondol-bondol di kepang dan ikatan rambutnya. Sebuah kapak hitam besar tergantung di punggungnya.

“Hgh” Dwarf tersebut mendengus berlalu mendorong gerobaknya.

Mythgarr terbengong sejenak, sebelum dia menghindar dari Orc yang menenteng-nenteng bawaan di pikulan dan elf yang membawa panah-panah dan busur-busur di rombong besar terbuat dari kayu. Lalu Pengawal Orc menepuk bahunya.

“Jangan terlalu terpaku, anak muda!” katanya “di kota besar ini kita harus terus bergerak atau terlindas! Ayo kita harus mengambil jalan pintas kalau ingin tepat waktu!” katanya sambil kemudian melompat tinggi ke atap sebuah rumah.

Mythgarr pun mengikutinya melompat meski penuh tanya. Pengawal Orc pun kemudian melompat jauh, melayang ke sebuah atap rumah lain sambil menyebrangi sungai. Mythgarr pun ikut melompat dan melayang. Pengawal Orc kemudian melayang melewati jembatan yang tergantung dari pohon ke pohon, dan Mythgarr pun mengikutinya. Pengawal Orc kemudian melayang dan mendarat di jalan besar di pinggir sungai yang tidak seramai yang alin, dan Mythgarr pun mengikutinya.

Pengawal Orc hanya terdiam dan memandang Mythgarr yang mendarat. Dia pun kemudian berjalan kembali, dan Mythgarr pun mengikutinya. Dia lalu melanjutkan melihat kanan-kiri, melihat-lihat ke tepi sungai, ke bangunan-bangunan yang terbuat dari batu dan tanah di kanan-kiri jalan, ke pohon-pohon besar dan sosok-sosok ramping yang berjalan dari pohon ke pohon melalu jembatan-jembatan, dan Orc-orc besar yang menyeret-nyeret anak-anak mereka ke tepi sungai dan melemparnya ke aliran yang deras.

“HEEEEEEEEEE???”